CUT

CUT
Buah Keuranji....


__ADS_3

Setelah mengunjungi kuburan massal, mereka sempat diajak berkeliling oleh Farris atas permintaan Rendra.


“Di situ dulu Papa maksa Mama kalian nikah?” ucap Rendra saat mobil mereka melintasi tempat bersejarah di pesisir pantai yang indah itu.


“Mama terpaksa menikah sama Papa?” tanya Anugrah penasaran.


Selama perjalanan, Anugrah lah yang paling heboh dibanding Iskandar sampai celutukan Faris membuat penumpang mobil terkejut dan penasaran. “Datarnya kayak Bang Fais banget ya, Kak?”


Cut tersenyum, “Sama persis.” Jawab Cut seketika membuat Anugrah kembali heboh. “Aku penasaran ingin melihat wajah papa Kakak. Aku yakin Papa Fais itu tampan. Selera Mama kan selalu begitu. Kalau Papaku tidak tampan, Mama pasti tidak mau.”


“Papamu juga Papa kakakmu!” tegas Rendra.


“Kalau begitu Papa Fais jadi Papaku juga.” Balas Anugrah.


“Kalau Papa Fais ada, dia tidak akan mau punya anak cerewet sepertimu.” Balas Rendra kembali.


Entah ia harus senang atau sedih melihat putra bungsunya sudah kembali ceria. Tapi mengahadapi rasa penasaran Anugrah cukup melelahkan juga untuknya.


Sesekali mereka mampir untuk membeli beberapa jajanan pinggir jalan khas Aceh. Kue-kue tradisional serta beberapa jenis buah yang baru mereka lihat membuat Anugrah dan Iskandar tergiur untuk mencobanya.


“Aku pernah lihat foto buah ini pada salah satu temanku yang berasal dari Aceh. Namanya-?” Iskandar tampak berpikir. “Keranji, Nak. Nama buah ini buah keranji.” Ucap salah satu penjual tersebut.


“Kita seperti membawa dua bocah ya?” celutuk Rendra pada Cut dan Fais yang menonton ke dua putra-putranya berbincang sambil memilih serta bertanya cara memakan buat keuranji tersebut.


“Belinya gak usah banyak-banyak!” larang Cut.


“Nenek sama Kakek gak mau, Om? Biar sekalian.” Tanya Iskandar pada Farris.


“Kalian saja! Mereka tidak mau. Mama kalian saja tidak mau.” Iskandar memberikan selembar uang sepuluh ribuan lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang.


“Aku pengen mandi ke pantai, Om. Kapan kita pergi?” tanya Anugrah antusias.


“Kamu bilang penasaran sama Papa Fais? Kita berkunjung dulu ke rumah kakek dan nenek. Mereka juga mertua dari Tante Reni.” Jawab Rendra. Untuk sejenak suasana di dalam mobil sedikit tenang karena ke dua putra mereka sedang sibuk memakan buah keuranji.


“Sepertinya Anugrah sudah sedikit teralihkan dari masalahnya ya, Ma?” bisik Rendra pada sang istri.


“Semoga saja, Pa. Mama tidak tega melihatnya sedih terus. Syukurlah, Iskandar memiliki ide cemerlang.” Balas Cut.


“Mama sama Papa ngapain bisik-bisik? Ngomongin aku kan?” tanya Anugrah yang langsung membuat orang tuanya tersenyum kecil.


Di saat keluarga Cut sedang berbahagia, di kediaman orang tua Rendra. Risma dan ibunya sedang menyalakan api kompor di hati Bapak Wicaksono dan anak perempuannya. “Belum kering kuburan Mamamu, mereka sudah jalan-jalan ke Aceh. Benar-benar tidak tahu suasana.” Celutuk Ibu dari Risma.


“Apa mereka sudah menghubungimu, Ren?” tanya Risma pada Reni.

__ADS_1


“Belum, aku juga tidak sempat tanya. Bang Adi juga belum mendarat di Aceh jadi belum ada kabar.” Keluh Reni yang sedang menunggu kabar dari sang suami yang lebih dulu pulang ke Aceh karena urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.


“Kamu harus tegur Rendra sesekali. Bagaimana bisa dia meninggalkan ayahnya yang masih berduka hanya untuk menemani istri dan anak-anaknya jalan-jalan.” Ibu Risma semakin memanas-manasi keadaan. Sementara Bapak Wicaksono hanya terduduk lesu tidak menganggapi apa-apa.


“Ren, lebih baik kamu hubungi kakakmu!” seru Ibu dar Risma.


Seolah terfrovokasi oleh seruan yang dilontarkan oleh ibu dari Risma, Reni langsung menghubungi sang kakak seraya menjauh dari ayahnya.


“Hallo, kakak kapan pulang?”


Rendra mengernyit heran, “Kenapa? Aku baru sampai.”


“Kakak kok tega tinggalin Papa yang lagi berduka? Apa Kakak lebih mementingkan istri kakak dari pada Papa kita yang sedang membutuhkan kehadiran anak-anaknya di sini?”


“Reni! Apa-apaan ini kamu menghubungiku lalu menceramahiku seperti ini.”


“Kak,-“


Tuttt…..


Semua penumpang mobil seketika terdiam mendengar suara sang komandan yang naik beberapa oktaf. Tidak pernah sekalipun mereka mendengar suara tinggi sang ayah yang seperti ini.


“Ada apa, Pa?” tanya Anugrah penasaran.


“Lihatkan? Begitulah dulu permainan Cut dalam menyingkirkan posisi almarhum Mama dari samping anak laki-lakinya. Dia pandai sekali berakting hingga Rendra begitu percaya pada istrinya itu. Hanya sama aku, Mama bisa bercerita segala hal tentang perilaku kakak iparmu yang licik itu.” Reni yang sudah lama tidak pulang tentu dia tidak tahu banyak hal yang sudah terjadi antara ibunya dengan sang kakak ipar.


“Mama tidak pernah cerita selama ini.”


“Mana mungkin Mama cerita sama kamu. Beliau tidak mau membuatmu resah dan banyak pikiran di sana. Kamu tinggal terlalu jauh jadi Mama lebih memilih untuk bercerita padaku yang selalu dekat dengannya. Apa kamu tahu jika sakitnya Mama juga ada kaitannya dengan kakak iparmu? Mama terlalu banyak memikirkan kakakmu sampai beliau tertekan. Mamamu sudah lama tidak pernah mengunjungi rumah kakakmu karena tidak nyaman dengan istrinya. Apalagi, istri kakakmu yang licik itu jutsru mempengaruhi Anugrah untuk melawan neneknya. Bayangkan saja bagaimana perasaan Mama saat datang ke sana? Mama seperti orang asing di rumah putranya sendiri.”


“Aku tidak menyangka jika Kak Cut seperti itu.”


“Jangan menilai orang dari penampilan luarnya saja, Ren. Makanya kamu harus tetap di sini untuk mengawasi gerak gerik kakak iparmu. Apa kamu sudah menyimpan perhiasan ibumu dengan baik. Jangan sampai itu berpindah pada istri kakakmu nanti. Kamu hanya bisa gigit jari sebagai anak kandungnya.”


Reni menahan marah dan mulai tersulut emosi mendengar banyak cerita dari Risma yang selama ini tidak ia ketahui. Ia terlalu sibuk dengan urusan rumah tangganya sampai lupa dengan ibunya yang berada jauh di seberang pulau.


“Assalamualaikum,” ucap mereka ketika sampai di depan pintu kediaman Bapak Fahri dan Ibu Murni.


“Walaikumsalam,” jawab seorang perempuan yang memakai daster dengan usia hampir sebaya dengan Cut.


“Pembantu Mak Wa,” bisik Faris di telinga Cut.


“Mak Wa sama Pak Wa ada, Kak?” tanya Faris.

__ADS_1


“Ouh, Ada. Ayo masuk!”


Cut mengingat setiap jengkal rumah tersebut dalam memorinya. Rumah ini tidak berubah hanya saja warna cat dindingnya yang sudah berganti. Perabotan rumah tangganya juga sudah banyak yang berubah serta tata letak barang-barang sudah tidak seperti dulu. Sepasang suami istri itu menatap tamu mereka satu persatu. Mereka sedang menonton televisi di ruang keluarga.


“Buk, Pak, ada Faris sama Wati gak tahu yang lainnya.”


Cut menghampiri Ibu Murni lalu mencium tangan mantan ibu mertuanya itu. “Ini Cut, Buk.” Ibu Murni dan Pak Fahri terkejut. Bagaimana tidak terkejut jika setelah sekian lama mereka baru bertemu lagi. terakhir melihat mantan menantunya adalah saat pernikahan Reni dan Bang Adi.


Semua yang datang bersalaman bergantian dengan sepasang suami istri tersebut. “Ini Iskandar?”


Mata seorang ibu memang tidak akan pernah berdusta. Ibu Murni masih memegang erat tangan sang cucu yang kini sudah dewasa. “Kamu sangat mirip ayahmu.” Air mata itu luruh juga. Ibu Murni dan Pah Fahri terharu sekaligus sedih saat menatap jelamaan putranya dalam sosok sang cucu. Ibu murni menarik Iskandar dalam pelukannya. Rasa bersalah karena telah mengusir sang anak malam itu belum hilang dalam diri mereka. Sara penyesalan itu datang terlambat bahkan doa-doa selalu mereka panjatkan dengan harapan dapat bertemu lagi dengan sang anak.


Tidak ada yang tidak terharu melihat bagaimana pemandangan di depan mereka saat ini. Pemandangan yang sangat menyesakkan dada. Bapak Fahri juga memeluk sang cucu dengan erat. Iskandar merasa bahagia, ternyata selama ini dia begitu diharapkan oleh kakek dan neneknya. “Banyak cucu yang telah lahir tapi kamu adalah yang teristimewa. Kamu adalah cucu kami tersayang dari dulu sampai sekarang. Maafkan karena kami tidak pernah menjengukmu selama ini. Kami sudah tidak bisa pergi jauh-jauh lagi apalagi harus naik pesawat. Maafkan kami, Nak.” Ucap Pak Fahri terisak dalam pelukan sang cucu.


Kini giliran Anugrah yang bersalaman dengan sang nenek, “Aku gak dipeluk juga, Nek?” celutuk Anugrah yang mendapat pukulan kecil di lengannya. Ibu Murni tertawa pelan lalu memeluk Anurgrah sekilas. Rendra mendekat, “Maaf, Ma karena baru sekarang bisa membawa pulang cucu, Mama.” Ucap Rendra seraya mencium tangan Ibu Murni.


“Terima kasih karena sudah merawat dan menjaganya dengan baik sampai dia dewasa.” Ucap tulus Ibu Murni lalu memeluk Rendra.


“Tidak, Ma. Rendra sempat membuang Iskandar ke pesantren karena sering berantem di sekolah.” Guaru Rendra memecah suasana.


“Kamu harus berterima kasih pada Papamu. Kalau kamu tidak dibuang ke pesantren, apa jadinya kamu sekarang? Lihatlah kamu sekarang begitu tampan dan sudah bergelar ‘haji’” semua orang tergelak mendengar gurauan Ibu Murni.


Di saat mereka bercerita banyak hal, Anugrah justru sedang melapiaskan rasa penasarannya. Ia sedang membuka album foto yang masih tersisa setelah terkena tsunami. Ia membandingkan wajah Faisal dengan kakaknya. “Pantas saja Kakak tampan, Papa Fais ternyata tampan juga bahkan lebih tampan dari Kakak. Wow, selera Mama tidak kaleng-kaleng.” Celutuk Anugrah yang membuat semua orang menoleh padanya.


“Kamu memang benar, Papa kakakmu itu memang tampan tapi sayang, entah di mana dia sekarang? Apa masih hidup atau sudah tiada? Tidak ada yang tahu.” Ucap Ibu Murni sendu.


“Kalian menginap di sini, ya? Kalian mau makan apa? Biar Nenek minta Kak Wati untuk masak atau kita beli sate saja, mau?” tawar sang nenek.


“Sate? Sate apa? sate Madura atau Sate Padang?” tanya Anugrah.


“Sate Mateng. Nanti biar Om Faris yang beli.”


“Aku ikut!” sela Anugrah.


“Aku juga!” sahut Iskandar.


BapakFahri menyerahkan uang seratus ribuan untuk membeli sate. “Papa gak mau ikut? Nanti penasaran, lho.” Goda Anugrah. Rendra berdiri lalu mengikuti putranya. Ia membiarkan istrinya untuk berbicara banyak hal dengan sang mantan mertua.


“Papa gak takut Mama kembali mengenang masa-masa indah dengan Papa Fais?”


***


Up jam 04.29 pagi....

__ADS_1


__ADS_2