CUT

CUT
Pertama Bertemu...


__ADS_3

Hari ini untuk pertama kalinya Cut dan Faisal bertemu secara langsung. Acara tersebut berlangsung di rumah Mak Cek Siti. Keluarga Cut sudah datang lebih dulu untuk membantu persiapan berupa makan siang bersama.


 


Mak Cek Siti menjadi seksi paling sibuk dalam perhelatan acara ini. Ia bahkan membeli pakaian indah untuk Cut pakai saat menemui Faisal pertama kali. Saat ini, Intan sedang menemani Cut yang sedang dirias di sebuah kamar. Acara ini tidak bersifat resmi karena tidak ada agenda lamaran di dalamnya.


 


“Aku yakin Bang Fais pasti terpana melihat Kak Cut.” goda Intan.


 


“Iya. Kalau Kakak jadi laki-laki pasti akan jatuh cinta sama kakak kamu ini!” sahut Mawar seorang perias laki-laki dengan suara dan tingkahnya yang gemulai.


 


“Iya...iya...aja lah ya....” cibir Intan lalu kembali melihat Cut yang tengah menatap dirinya dalam cermin.


 


“Inikah yang diinginkan oleh setiap gadis? Penampilan ini sungguh indah? Apakah dia laki-laki yang berhak menatapku hari ini hingga nanti? Apakah aku sedang merayunya untuk memilihku? Bagaimana jika dia melihatku dalam tampilan lain? Apakah dia masih tetap memilihku? Ya Allah, hamba merasa seperti sedang menipunya dengan penampilan ini.” jiwa Cut menolak untuk melakukan semua ini namun, ia tidak mampu menolak apa yang disuruh oleh Mak Cek Siti.


 


Sepotong kenangan di masa lalu saat ia bertemu dengan Rendra tiba-tiba muncul. Tanpa sadar, Cut menarik sudut bibirnya ketika kenangan itu mengingatkannya pada penampilan gadis kampung dengan yang memakai baju, sarung, jilbab dan sandal jepit. ia bahkan tidak memakai bedak ataupun lipstik seperti saat ini.


 


“Kenapa dia bisa mencintai bahkan melamarku yang berpenampilan buruk seperti itu?” tanya Cut dalam hatinya.


 


Tok...tok...


 


“Dara baroe, linto baro sudah sampai, Kak Cut sudah siap?” tanya Faris dengan senyum manisnya.


 


Deg...


 


Cut merasa dadanya tiba-tiba sesak. “Tenang aja, calonmu tidak akan menggigit kalau belum sah. Ya kan, Tan?” goda Mawar.


 


“Ihhhhh...Bang Mawar. Kayak udah pernah aja.”


 

__ADS_1


“Udah dong. Makanya makan yang banyak biar cepat besar!” ejek Mawar kembali.


 


Perdebatan keduanya baru berakhir ketika Mak Cek Siti bersama Umi datang menjemput Cut. Ketiganya turun disusul oleh Intan bersama Mawar dari belakang. Mak Cek Siti membawa Cut mendekati orang tua Faisal.


 


“Ini calon menantu Kakak dan Abang, bagaimana?” Gurau Mak Cek Siti.


 


Cut menyalami penuh takzim kedua orang tua tersebut. Lalu beralih pada kakak perempuan Faisal. Dan saat abang Faisal mengulurkan tangan, Cut hanya membalas dengan sedikit anggukan kepala yang membuat tawa seisi rumah. Sementara abang Faisal terpaksa mengarahkan tangannya ke belakang kepala.


 


“Bukan mahram!” ucap Mak Cek Siti.


 


“Nah, yang ini calon suami kamu. Salam dikit saja, kalian belum sah!” goda Mak Cek Siti yang berhasil mempermalukan kedua calon pengantin tersebut. Keduanya hanya saling mengangguk pelan. Faisal berhasil mencuri pandang sementara Cut memilih menunduk karena malu yang amat sangat.


 


“Keduanya sudah kita pertemukan. Dari kami sekeluarga serta Faisal sendiri sudah menyetujuinya jauh-jauh hari. Jadi, bagaimana dengan Teungku sekeluarga? Apakah Teungku sekeluarga menerima pinangan kami?” tanya Ayah Faisal.


 


“Bang, kita kan sepakat untuk mempertemukan mereka dulu. Kalau keduanya mau baru kita lanjutkan.” sela Mak Cek Siti.


 


 


“Ayahhh.” panggil kakak dan abang Faisal serentak.


 


Melihat tingkah kedua saudara Faisal membuat penghuni rumah tertawa. Di sela-sela pembicaraan, Faisal selalu berhasil curi-curi pandang.


 


“Saya dan istri menyerahkan semua keputusan pada Cut. Dia yang akan menjalani rumah tangga ini. Bagaimana, Cut? Apa kamu menerima pinangan Faisal?” tanya Abu.


 


Cut menunduk lalu mengangguk pelan.


 


“Alhamdulillah.” Ucap seisi rumah penuh syukur.

__ADS_1


 


“Jawaban sudah kami dapat. Bagaimana kelanjutannya. Hari ini seharusnya bukan acara pinangan dan kami tidak membawa buah tangan untuk calon mantu. Bagaimana kalau kita buat acara pertunangan lagi minggu depan?” tanya Ibu Faisal.


 


“Sebelumnya saya ingin mengucapkan rasa terima kasih karena Bapak dan Ibu menerima putri kami dengan baik dan mulia. Namun, keadaan kami saat ini tidak memungkinkan untuk membuat acara pinangan kembali mengingat tempat tinggal kami hanya di ruko. Kami juga tidak mau merepotkan Siti dan Amir terus menerus. Menurut pendapat saya, karena kedua anak kita sudah setuju. Bagaimana kalau kita tentukan saja kapan tanggal akadnya?” usul Abu yang membuat kedua orang tua Faisal tersenyum lebar.


 


“Maaf, Ayah, Ibu. Kenapa kita tidak memberikan waktu untuk mereka bicara berdua? Mereka harus mengenal satu sama lain. Bagaimana mereka bisa menikah jika bicara saja tidak pernah? Ini bukan jaman Siti Nurbaya. Maaf kalau saya tidak sopan, tapi kita tidak boleh egois. Kita harus pikirkan mereka. Mungkin ada yang perlu mereka bicarakan tanpa kehadiran kita, ya kan Fais?” ucap Kakak Faisal.


 


“Benar kata Kak Juli, Yah. Biarkan mereka bicara, bertemu tanpa ada kita layaknya anak muda sekarang. Jangan bilang kalau Ayah dan Ibu takut Faisal berubah pikiran?” tambah Abang Faisal yang bernama Juliadi.


 


Kedua orang tua Faisal hanya bisa menghela nafasnya. Mak Cek Siti lagi-lagi harus mengurutkan kening bersama Ibu Faisal akibat ulah kedua anaknya yang mereka anggap sudah terpapar pikiran ala barat.


 


“Faisal ikuti kata Ayah dan Ibu saja.” semua mata tertuju pada si pemilik suara yang dari tadi memilih diam. Senyum penuh kebanggaan terpancar jelas di wajah Bapak Fahri dan Ibu Murni. Sementara kakak dan abangnya kompak mencibir aksi Faisal tersebut.


 


“Karena linto sudah setuju, maka acara hari ini kita anggap sebagai acara pinangan resmi. Tapi kami minta maaf yang sebesar-besarnya pada keluarga Teungku karena seharusnya kami datang membawa tanda sebagai bukti keseriusan pinangan kami.” ucap Ayah Faisal.


 


Tiba-tiba, Ibu Faisal bangun dari duduknya berpindah ke hadapan Cut. “Maafkan Ibu karena tidak membawa buah tangan untuk calon menantu. Anggap saja ini adalah tanda yang Faisal berikan sebagai bukti dia telah mempersuntingmu.” ucap Ibu Faisal seraya melepaskan sebuah cincin emas yang ia pakai lalu menyematkan di jari manis Cut.


 


“Pas sekali.” ucap Ibu Faisal sambil tersenyum lalu memeluk sang calon mantu.


 


Cut tanpa sadar menatap ke arah Faisal dan tepat saat itu juga Faisal juga menatapnya dengan senyuman manis.


 


Acara diakhiri dengan makan siang bersama. Atas usul Kak Juli, para anak muda memilih makan di lantai atas dengan alasan ingin mengenal adik ipar mereka lebih dekat.


 


“Intan....tunjukkan keahlian kita!” bisik Kak Juli.


***


*Linto dalam bahasa Aceh berarti pengantin pria

__ADS_1


*Dara baro berarti pengantin wanita


LIKE...KOMEN...yang banyak ya....


__ADS_2