
Kediaman Faisal…
“Nak, jadi bagaimana tentang pernikahan Iskandar dan Aisyah? Apakah jadi atau tidak?” tanya Ibu Murni pada sang putra dan menantunya.
“Insya Allah, Buk. Iskandar akan membicarakan ini lagi dengan keluarganya dan mengenai Aisyah, Iskandar sudah menyiapkan kejutan spesial bersama Dita.
“Jadi kapan itu akan dilaksanakan?”
“Sabar, Buk. Karena kejutan untuk Aisyah melibatkan Dita jadi kita harus menunggu Dita pulang libuan bersama ibunya.”
“Aneh sekali wanita itu tiba-tiba mengajak putrinya pegi liburan. Ponsel Dita juga tidak aktif.” Celutuk Kak Julie.
Iskandar menemui Dita seminggu lalu namun sayang rumah itu kosong. Hanya Mamang yang ada di sana bersama istrinya. Dari mereka, Iskandar mendapatkan info tentang kepergian Dita dan ibunya. Dan mereka juga yang memberitahukan jika Dita sudah tidak memegang ponsel lagi.
“Nak, belikan Dita ponsel baru! Kasihan dia.” Seru Ibu Murni pada Fais.
“Iya, Buk. Nanti setelah Dita kembali, Fais akan membelikannya ponsel baru.”
“Berikan juga uang saku untuknya! Biarpun nasapnya bukan kamu tapi anggap saja sebagai sedekah.”
“Kalau Shinta tahu bisa mengamuk.” Sela Kak Julie.
“Iya, Buk. Fais tidak bisa sembarangan memberi untuk Dita. Shinta itu keras dan dia pasti marah kalau tahu Fais memberikan anaknya uang dan barang.”
“Ya sudah, Iskandar kapan kemari? Ibu ingin bertemu. Julie, telepon Iskandar suruh kemari.” Kak Julie melihat jam di pergelangan tangannya.
“Jam segini Iskandar sedang mengajar, Buk. Biarkan dia menyelesaikan tugasnya. Kita jangan mengganggunya. Dia juga punya tanggung jawab. Kalau dia senggang pasti ke sini menjenguk Ibuk dan Bapak.” Sifat orang tua memang begitu, semakin tua semakin rindu kasih sayang dan perhatian. Semakin sering ingin bersama anak dan cucu karena merasa hidup semakin pendek dan ajal yang sudah mendekat padahal, yang tua belum tentu mati lebih dulu. Berapa banyak anak dan pemuda yang lebih dulu meninggal dari pada orang tua yang kelihatan sudah mendekati tapi ajal tidak kunjung datang.
“Teuku mana? Apa dia jadi menikah dengan gadis bercadar itu?” Ibu Murni sudah bertemu dengan Anggia. Mereka juga menerima Anggia walaupun masalahnya saat ini adalah restu dari Cut dan itu yang belum Teuku dapatkan. Bukannya Cut tidak memberi restu tapi Teuku memang belum bertemu dengan Mak Ceknya sama sekali. Selain karena Teuku sibuk di rumah sakit, Cut juga tidak berada di rumah. Setelah menginap di rumah dinas Anugrah, Rendra tiba-tiba ingin membawa Cut jalan-jalan selama seminggu untuk membuat hati istrinya kembali ceria dan bahagia.
“Untuk masalah Teuku, kalau bisa kalian jangan ikut campur. Walaupun kalian merawatnya tapi dia tetap bukan bagian keluarga kita. Kalau aku jadi Cut juga akan kecewa karena dia yang lebih berhak mengurusi Teuku bukan kita.” Sahut Kak Julie.
“Saya sudah memutuskan perjanjian perjodohan Teuku dengan sahabat saya. Tapi yang saya tahu, ternyata Teuku masih berhubungan dengan Anggia. Seperti yang Kak Julie ucapkan, saya tidak berhak menjodohkannya karena saya bukan keluarganya.” Sahut Ayu mengiyakan.
Di saat mereka sedang asyik mengobrol, Teuku dan Iskandar terlihat memasuki ruang keluarga bersamaan. Wajah kedua pria tersebut terlihat lelah dan setelah menyalami semua anggota keluarga kecuali Ayu yang bukan mahramnya, Iskandar langsung pergi ke dapur mencari air dingin.
Hari ini dia mengajar sepenuh hari akibat mengejar ketertinggalannya selama pergi mengunjungi Aisyah.
“Istirahat saja di kamar kalau kamu capek!” seru Fais.
“Bentar, Pa. aku hanya pengen rebahan begini.”
__ADS_1
“Kamu juga, pergi bersihkan diri dulu! Kamu baru dari rumah sakit.”
“Aku sudah mandi sebelum pulang, Pa.” Teuku juga kelihatan lelah. Hari ini dia melakukan tiga operasi dan pikirannya juga lelah memikirkan Mak Ceknya yang tiba-tiba sulit ditemui. Sebenarnya tidak sulit hanya saja Teuku datang di waktu yang tidak tepat. Apalagi saat Rendra mengetahu dari sang Bibik jika pria itu mendatangi rumahnya, Rendra langsung mengajak Cut pergi dengan alasan ingin liburan. Padahal ia sengaja menjauhkan Cut dari Teuku untuk memberi pelajaran pada pemuda itu.
Bukan sekali Teuku ke rumah Rendra, dua jam setelah Rendra dan Cut berangkat, Teuku kembali ke sana dan lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan.
“Is, apa kamu tidak bisa membantuku bertemu dengan Mamamu?” tanya Teuku di depan keluarganya.
“Ck, Mamaku siapamu?” Sinis Iskandar. Dia sudah tahu semuanya dari sang adik. Tentu saja, Anugrah adalah pelapor yang sangat ia percaya. Walaupun Anugrah tidak memiliki darah yang sama dengannya tapi kepercayaannya terhadap Anugrah sangat besar.
“Is, jangan begitu! Bagaimanapun juga dia itu sepupumu.” Fais mencoba membantu tapi sayang, bagi Iskandar, ibunya adalah segalanya.
“Maaf, Pa. Aku tidak mentolerir siapapun yang berbuat jahat pada Mama termasuk Papa. Maaf, Nek, Kek, Is harus bicara terus terang begini. Is tidak mau bermuka dua seolah tidak terjadi apa-apa. Is kemari karena Nenek dan Kakek bukan karena Papa. Is menghormatinya sekedar tapi untuk Mama? Is akan pasang badan termasuk kalau harus melakukan seperti yang Anugrah lakukan. Is dan Anugrah selama ini menjaga Mama dengan baik. Jangan sampai karena kehadiran dia, Mama menjadi sedih dan kecewa. Pantang bagi kami melihat Mama sedih. Termasuk Papa Rendra, dia sangat menyayangi Mama makanya Papa mengajak Mama liburan supaya Mama senang kembali seperti sebelumnya.”
“Is pulang dulu, Nek, Kek. Is tidak bisa lama karena besok mengajar pagi. Assalamualaikum,” ucap Iskandar lalu mencium kembali tangan penghuni rumah kecuali Ayu dan Teuku. Untuk Teuku, hanya tatapan tajam yang ia berikan.
“Oh satu lagi, untuk pernikahanku, Mama dan Papa Rendra yang akan mengambil alih. Nenek, Kakek dan Tante bisa bergabung tapi aku minta maaf tidak menerima Papa dan Tante Ayu. Is akan mengirimkan undangan sebagai tamu untuk Papa dan Tante Ayu. Assalamualaikum.”
Fais menunduk, kata-kata putranya begitu tajam dan menusuk. “Sabar, Mas.”
“Ck, kamu mesti bersyukur! Setidaknya dia masih memanggilmu ‘Papa’ dan menghormatimu serta mau memelukmu saat ia tahu kamu ayahnya. Itu semua didikan wanita yang kamu khianati dan lihat didikan yang kalian berikan pada dia. Jangankan mencium tangan wanita yang dulu bertaruh nyawa untuknya, menyapanya saja tidak. Keangkuhan macam apa yang kau pertahankan? Tanpa wanita itu, kau sudah menjadi mayat mengikuti orang tuamu.” Sinis Kak Julie.
“Ck, baik dari segi pendidikan tapi tidak dengan adab dan rasa balas budi. Apa dia sudah tahu, bahkan dengan semua yang ia miliki tidak akan mampu membeli apa yang dilakukan Cut dulu. Dari pertama aku mengenalnya, saat itu aku menyesali keputusan keluarga kita yang menikahkanmu dengan Cut. Dia gadis baik yang salah mendapat jodoh. Ibu dan Bapak membanggakanmu tapi apa? mendidik anak orang saja kau tidak mampu. Andai Iskandar yang kamu didik, entah apa jadinya anak itu sekarang.”
Ibu Murni terdiam bersama Bapak Fahri. Perkataan putrinya memang benar, mereka tidak mengenal anak sendiri. Selama ini hanya Fais yang mereka banggakan karena menuruti semua keinginan mereka termasuk menerima perjodohan tapi apa yang terjadi setelah itu? Kehancuran!
Di dalam kamarnya, Teuku kembali terngiang setiap perkataan tajam Iskandar, Kak Julie bahkan Anugrah. Ia tidak pernah merasa seburuk ini sebagai manusia.
Setelah sampai di rumah, Iskandar langsung menghubungi ibunya yang ternyata belum tidur. “Kamu ini sudah dibilang jangan mengganggu masih saja telepon malam-malam.” Bukan suara sang ibu malah papanya yang mengomel.
“Assalamualaikum, Pa, Ma.” Sindir Iskandar.
“Walaikumsalam, ada apa telepon malam-malam? Makanya nikah biar kamu ada teman bicara seperti adekmu.”
“Papa kenapa jadi cerewet begitu, Ma? Hati-hati, Ma. Jangan lupa baca ayat kursi siapa tahu-“
“Kamu pikir Papa kesambet jin?”
“Pa, udah ah. Aku mau bicara sama anakku dulu.” Sela Cut mengambil ponsel di tangan suaminya.
“Anakmu juga anakku, Ma. Biarpun dia bukan dari cebongku, tapi dia aku rawat dari bayi. Jangan bilang dia bukan anakku! Awas kamu, Ma. Malam ini gak akan aku lepas.” Iskandar menyugar rambutnya ke belakang. Entah apa yang menjangkiti papanya hingga sekarang mulut papanya jadi seperti ibu-ibu komplek.
__ADS_1
“Ada apa, Nak?” tanya Cut lembut.
“Mama masih lama di sana?”
“Ngapain nanya-nanya? Kamu itu udah besar bukan bayi yang perlu susu lagi.”
“Ma, udah ya! Assalamualaikum.”
Tutttt….
Iskandar tidak tahan dengan mulut papanya saat ini. Lantas ia menghubungi sang adik. “Assalamualaikum, Kak.”
“Walaikumsalam, kamu sudah menghubungi Mama?”
“Gak usah, Kak. Aku gak tahu kenapa tapi Papa cerewet sekali. Aku menghubungi Mama tadi pagi dan karena tidak kuat mendengar omelan Papa langsung aku putuskan.”
“Dek, Teuku mau ketemu Mama. Bagaimana menurutmu?”
“Aku tidak mau Mama sedih lagi, Kak. Kalau dia mau bersimpuh di kaki Mama silakan temui tapi kalau mau sekedar menyapa, minta maaf lalu minta restu sebaiknya tidak perlu.”
“Em, Kak ada yang mau aku bicarakan. Apa kita bisa bertemu?” tanya Anugrah.
“Ada apa? Kenapa tidak lewat telepon saja?”
“Tidak bisa, Kak.”
“Em, kalau begitu lusa aku ada waktu. Nanti tentukan saja tempatnya!”
“Baik, assaamualaikum.”
“Walaikumsalam.”
Tuttt….
“Semoga waktunya tepat.”
***
Selamat awal bulan....
__ADS_1