CUT

CUT
Rindu Ini Menyesakkan...


__ADS_3

POV Author...


 


Setahun berjalan terasa cepat bagi mereka yang memiliki banyak kegiatan setiap harinya. Bagi mereka yang senggang, setahun terasa berjalan seperti siput. Bagi Cut Zulaikha, setahun berjalan tanpa terasa. Hari-harinya dipenuhi dengan berbagai kegiatan di luar ruko.


 


Usaha Abu juga semakin maju dengan banyaknya barang di dalam toko serta pelanggan yang semakin ramai. Kini, Abu juga sudah memiliki seseorang yang dapat membantunya melayani pelanggan. Dia adalah Mae. Bocah yatim piatu yang kini sudah beranjak remaja. Abu tidak sengaja bertemu dengan salah satu warga kampungnya yang menjadi kernet truk kelapa dari kabupatennya ke Kota Banda.


 


Pemuda itu bernama Leman. Dia bebas pergi ke mana saja selama konflik karena kekurangan salah satu anggota tubuhnya. Dia menderita polio saat kecil sehingga susah berjalan. Banyak yang menyayanginya, bahkan para tentara sekalipun sering memberikan dia uang ataupun makanan. Dan sekarang dia menjadi kernet truk kelapa dari kabupaten menuju kota Banda.


 


Dari dia juga Abu mendapatkan kabar jika ibu Mae sudah meninggal tiga bulan yang lalu. Abu kemudian meminta Leman untuk mengajak Mae ke Kota Banda kalau Mae mau. Di sinilah Mae sekarang. Ia ikut tinggal bersama Abu di ruko. Bocah yang kini jadi yatim piatu itu pun bahagia karena dari dulu Abu sekeluarga sangat perhatian padanya. Dan yang lebih membuatnya senang adalah kehadiran Rendra kecil. Rendra sendiri sangat menyukai Mae yang banyak bicara dan pandai bergurau.


 


“Bang Mae, beli jajan.” ucap Rendra.


 


“Abuuuu....Dek Rendra minta jajan.” teriak Mae dari lantai bawah.


 


Teriakan Mae seakan sudah biasa bagi Abu sekeluarga. Saat Abu sedang makan siang di atas, Mae menjaga toko sampai Abu turun.


 


“Ambil saja duitnya di laci, jangan teriak-teriak begitu.” jawab Umi dari tangga yang dibalas senyuman tanpa dosa dari kedua bocah dengan umur yang berbeda.


 


“Dek Rendra mau beli apa?”


 


“Lupuk.”


 


“Kerupuk? Berarti uang ting aja ya?” Mae memberikan satu koin uang lima ratus rupiah, namun langsung mendapat gelengan kepala dari Rendra.

__ADS_1


 


“Dua.” ucap Rendra.


 


“Alamak, kamu ini masih kecil sudah pandai hitung uang. Baguslah, sebentar lagi kamu bisa jadi bos di sini menggantikan Abu.


 


Percakapan keduanya tidak pernah berlangsung singkat. Rendra kecil tumbuh dengan baik dan sangat aktif bicara serta bergerak. Abu dan Umi terkadang bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan olehnya. Hanya Mae saja yang mampu menjawab semua pertanyaan yang terkadang jawabannya hanya asal saja. Begitulah Rendra, pelan tapi pasti dia menjalani hidupnya dengan baik dan bahagia tanpa rasa takut seperti dulu.


 


Dia mendapat limpahan kasih sayang yang tidak ternilai dari orang di sekelilingnya. Tak terkecuali dari paman dan bibinya. Ketiga anak Pak Cek Amir juga sangat menyayanginya bahkan dia sering dibawa ke kolam renang oleh mereka.


 


Seperti sore ini, Cut dan Rendra yang sedang menunggu jemputan dari sepupunya di depan toko harus mendengar permintaan dari Mae yang juga ingin ikut berenang.


 


“Bolehlah Kak Cut, boleh ya, kasihanilah anak yatim piatu ini. Masak Dek Rendra aja yang diajak, Mae kan mau juga belajar berenang biar tambah pintar.” Mae merengek di samping Cut dengan berbagai ekspresi yang membuat Rendra tertawa lucu.


 


 


“Iya, Mae salah bilang tadi. Kan bagus juga kalau bikin tinggi jadi Mae tidak kesusahan lagi kalau mau panjat kelapa atau rambutan di rumah Kak Cut.” untuk sesaat, Cut terdiam. Kenangannya akan rumah dan kampung halamannya kembali muncul.


 


“Memangnya masih berbuah rambutannya?” tanya Cut. Selama ini dia jarang berbicara dengan Mae masalah kampungnya. Setiap hari mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing dan di malam hari juga tidak sempat berbicara banyak hal.


 


“Masihlah Kak Cut. Malah tambah banyak buahnya. Tiap berbuah, Mae yang jaga rumah Kak Cut. Biar buahnya tidak dimakan tupai. Lihat, bagaimana baiknya Mae. Jadi, ajak Mae ya!”


 


“Sudah, bawa saja dia sekali. Siapa tahu dia bisa tumbuh lebih tinggi lagi.” ucap Abu.


 


“Mau naik apa, Abu? Cut dibonceng sama Razi. Faris sama Intan, kalau ajak Mae mau naik di mana dia?”

__ADS_1


 


“Mae, kamu naik becak saja ya!” dengan cepat Mae mengangguk kegirangan.


 


Sore itu, mereka menikmati berenang bersama dengan bahagia. Ketiga anak manusia tertawa lepas menikmati kebebasan tanpa rasa takut dan sedih. Masa lalu mereka menjadi catatan kelam yang pernah tertoreh di benak masing-masing.


 


Sementara itu, di sebuah rumah nan jauh di pulau Jawa sana. Seorang pemuda tengah menikmati masa-masa senggangnya dengan melamun di dekat jendela kamarnya. Sudah dua bulan lebih ia kembali dari Aceh. Tapi seakan jiwanya masih tertinggal di sana. Sebuah foto tergenggam erat ditangannya. Hatinya sedih dibalut rindu. Keinginannya untuk membawa sang kekasih untuk hidup bersama kandas dalam hitungan jam.


 


Perasaannya menggantung tidak jelas. Jawaban yang seharusnya didengar kini entah masih bisa di dengar kembali. Meski memiliki alamatnya, namun tidak bisa pergi untuk mencari karena Aceh masih berstatus darurat militer. Ia juga tidak bisa ke sana secara pribadi karena akan menimbulkan dugaan lain dari kesatuan.


 


“Rindu ini menyakitkan, Cut. Apa kabar kamu? Ingin sekali bisa bertemu kamu. Sepertinya, hanya keajaiban yang dapat mempertemukan kita kembali. Hufftttt... kapan Aceh akan damai? Apa kalian tidak lelah mengangkat senjata? Sejujurnya, kami sudah lelah dengan perang yang sudah bertahun ini.”


 


“Kakak baik-baik saja kan? Jangan melamun sore-sore nanti setan lewat.” Reni sang adik memasuki kamar Rendra.


 


“Sudahlah Kak, lupakan saja gadis itu. Kakak kan pria, biasanya pria selalu berpikir secara logis. Dan secara logika saja kakak dan dia itu tidak mungkin berjodoh. Kalaupun jodoh itu hanya keajaiban. Sampai kapan Kakak menunggu keajaiban itu datang. Sementara umur Kakak bertambah terus. Cuma Kakak yang masih lajang dari teman-teman seangkatan, apa Kakak tidak kasihan sama bapak dan ibu yang sudah ngebet ingin gendong cucu.”


 


“Mau aku kenalkan sama teman-teman aku? Banyak juga kok yang cantik-cantik.” merasa diabaikan, sang adik pun memutuskan keluar dari kamar sang kakak. Rendra hanya bisa menghela nafasnya. Apa yang dikatakan oleh adiknya memang tidak salah, namun hatinya sudah sangat terpaut dengan Cut. Bagaimana dia menikahi wanita lain jika hatinya saja sudah dipenuhi oleh Cut.


 


“Ya Tuhan, apa kami pertemukanlah kami walau hanya sekali. Saya ingin mendengar jawaban darinya supaya hati ini tidak berat melangkah.” sepucuk doa terbesit dikala langit mulai senja.


 


“Rindu ini terasa menyesakkan dada, apa saya pernah terbesit di hati atau pikiran kamu walau hanya sekali, Cut. Saya sangat merindukanmu dan akan terus merindukanmu.”


 


***


LIKE...LIKE...LIKE...

__ADS_1


__ADS_2