
Acara tahlilan telah selesai sampei hari ke tiga. Para keluarga masih ada yang menetap di sana tak terkecuali keluarga Risma. Keluarga Rendra sendiri memilih pulang karena di sana juga ada Reni dan Riko. Dia juga ingin menikmati waktu bersama kedua anaknya yang baru pulang apalagi Anugrah hanya endapat cuti selama 12 hari. Cut merasa tenang dan senang saat sang suami memutuskan untuk pulang. Dia tidak sanggup harus berhadapan dengan Risma dan ibunya yang seperti mengawasi dirinya saat melakukan apa pun.
Ada yang berbeda dengan Anugrah, setelah pertemuan kemarin dengan Tiara. Dia terus memikirkan kata-kata Doni dan si tante girang tentang pernikahan.
“Ada apa? Sepertinya kamu lagi ada masalah.” Tanya Rendra pada sang anak yang terus melihat ponselnya.
Iskandar keluar dari kamar lalu ikut bergabung dengan sang papa dan adiknya. Dari arah dapur, Cut membawa satu piring kue basah yang baru ia buat.
“Untuk teman ngobrol.” Ucap Cut lalu duduk di samping Anugrah.
“Ayo cerita! Kami belum mendengar banyak hal dari kalian setelah sampai kemarin. Ini saatnya kalian bicara sama kami.” Pinta Rendra.
“Kakak Is lebih dulu. S2 udah, haji juga udah. Selanjutnya apa? Jangan bilang mau lanjut S3. Papa sama Mama juga mau disalatkan seperti kamu menyalatkan nenek.”
“Paaaa.” Protes Iskandar dan Anugrah berberangan.
“Itu adalah kenyataan. Kita semua akan menuju ke sana. Jadi apa tujuan kamu setelah ini, Is?” tanya Rendra kembali.
“Is sudah dipanggil untuk wawancara di kampus islam negeri, Pa, Ma. Mungkin sekitar satu minggu lagi Is akan ke sana.”
“Bagus, kalau itu Papa setuju karena dekat. Mama juga setuju kan?” tanya Rendra pada sang istri.
“Iya, Mama setuju.”
“Terus, apa kamu sudah punya calon dan ingin menikah?”
Gleg…
Anugrah menatap papanya, “Belum punya calon dan belum berencana untuk menikah saat ini, Pa. Is mau mempersiapkan diri dulu.”
“Bagus. Sekarang giliran kamu, Dek. Kamu sudah terikat tugas dan satu-satunya yang bisa kamu lakukan setelah ini adalah menikah. Apa kamu akan melamar pacar SMAmu itu? Dia cukup cantik untuk mendapat yang lebih tampan dari kamu.” Rendra tanpa sadar sudah menyiram bensin ke atas bara. Kini, api itu mulai menyala.
“Aku pengen lamar dia, Papa sama Mama setuju?” tanya Anugrah ragu.
“Setuju. Anaknya baik, Papa juga udah kenal dengan Mamangnya. Kelihatan sekali kalau Mamangnya merawat dia dengan baik. Tanyakan padanya kapan kami bisa bertemu orang tuanya?”
“Benar, Pa?” Rendra mengangguk lalu Anugrah langsung menghubungi Tiara yang saat itu ternyata sedang bersama kedua orang tuanya yang baru kembali dari luar kota. di sana juga ada kakak Tiara yang sedang libur kuliah.
“Sampai kapan orang tuamu ada di rumah?” tanya Anugrah melalui sambungan telepon.
“Senin sudah kembali ke kota mereka. Kenapa?”
“Keluargaku ingin melamarmu. To-“
“Apa? Kamu serius, A?” belum selesai Anugrah bicara, Tiara langsung menyela ucapannya.
“Siapa, Sayang?” suara seorang perempuan terdengar sampai ke telinga Anugrah.
“Katakan kalau sama ibumu kalau keluargaku ingin melamarmu nanti malam.”
“Apa???” lagi-lagi Tiara terlonjak kaget.
“Ada apa sih? Siapa yang menelepon?” sang ibu yang penasaran akhirnya mendekat dan mengambil ponsel milik sang putri.
“Hallo, ini dengan siapa?”
__ADS_1
Gleg…
Anugrah menelan salivanya dengan susah. “Selamat sore, Tante. Saya Anugrah pacarnya Tiara. Keluarga saya ingin menemui Tante sekeluarga. Saya ingin melamar Tiara, Tante.” Walau agak gugup, Anugrah yang sudah kebelat nikah itupun memberanikan dirinya untuk berbicara dengan ibu dari Tiara.
“Pekerjaanmu apa?” bukan jawaban yang Anugrah terima melainkan wawancara.
“Saya seorang tentara berpangkat pratu, Tante.”
“Kenal di mana dengan Tiara?”
“Kami teman satu kelas saat SMA, Tante. Jadiannya waktu kelas tiga.”
“Ouh…teman tapi menikah rupanya. Datanglah nanti malam, saya tunggu!”
“Baik Tante, terima kasih.”
“Emm,,,”
Tuttt…..
Anugrah menatap satu persatu anggota keluarganya. “Nanti malam, Ibunya menunggu kita.” Lirih Anugrah ragu-ragu.
“Oke, bersiaplah. Setelah magrib kita berangkat. Ma, Ayo beli bingkisan. Kita tidak bisa membawa banyak karena ini cukup dadakan.” Cut menggandeng tangan sang suami mesra meninggalkan ke dua putra mereka.
Anugrah kembali mendudukkan dirinya di dekat sang kakak. “Kamu pacaran waktu SMA?”
Yang Anugrah takutkan akhirnya terjadi. Iskandar sering berpesan supaya ia tidak pacaran saat sekolah tapi kini kejujurannya pada calon ibu mertua justru menjadi petaka untuknya.
“Pernah sih-“ sahut Anugrah terpotong saat dia menghitung jari jemarinya.
“Gak sampe sepuluh kali, Kak. Itupun cium sekilas doang. Gak lebih, gak sama saat aku terkena obat perangsang dulu. Jujur aja, Kak. Setelah kejadian itu, aku suka susah tidur. Pikiranku suka mengingat-ingat kejadian itu dan ujung-ujungnya aku berakhir di kamar mandi.”
“Kamu sudah yakin 100% untuk menikahinya?”
“Yakin, Kak. Dia selalu ada saat suka dan dukuku saat sekolah dulu. Dia tipe cewe setia, Kak. Makanya aku gak ragu. Bahkan saat kami sudah jauh begini, dia masih setia sama aku.”
“Bagaimana agamanya?”
Gleg…
Satu hal yang belum Anugrah sampaikan pada keluarganya. “Dia Kristen, Kak.” Lirih Anugrah dan seperti yang sudah diprediksikan oleh instingnya jika sang kakak akan bereaksi.
“Bagaimana kalian menikah jika keyakinan saja sudah beda? Kakak kan sudah pernah bilang kalau kamu menikah harus dengan wanita seiman. Itu penting untuk keturunan kamu nantinya. Jangan ikut gaya moderen seperti sekarang. Bebas menikah walau beda agama yang penting saling cinta. Mau jadi apa rumah tanggamu nantinya? Apa kesatuan kalian mengizinkan pernikahan beda agama? Apa orang tua kita setuju?” Iskandar mengusap kasar wajahnya.
Sementara Anugrah juga bingung harus bereaksi bagaimana. “Dia pasti mau masuk islam, Kak. Kami saling mencintai. Dia pasti mau mengikuti aku.”
“Kalau dia mau lalu orang tuanya? Apa mereka akan setuju? Belum tentu, Dek.”
Di saat Iskandar terus menjelaskan perihal pernikahan berbeda keyakinan, Anugrah justru tersenyum menatap sang kakak. Sesuatu yang tidak Iskandar sadari adalah ini pertama kalinya dia memanggil Anugrah dengan panggilan ‘Dek’
Bagi yang lain mungkin itu sepele tapi tidak bagi Anugrah. Dia sudah menantikan ini sejak lama. Sementara di rumahnya, Tiara juga sedang menjalani sidang darurat bersama Mamang di depan keluarganya.
“Kalian sudah tidur bareng?” tanya sang ibu.
__ADS_1
“Tidak, Ma. Kami hanya ciuman itupun hanya sekilas. Dia dari keluarga baik-baik, Ma. Ayahnya seorang tentara.”
“Kaamu yakin mau menikah dengannya?”
“Yakin, Ma. Walaupun mendadak tapi Rara sangat mencintai A.”
“Sudah, Ma. Memang kita sudah sampai di mana anak perempuan kita diambil orang. Kita harus rela, tidak selamanya mereka akan bersama kita.”
“Mang, kamu juga tahu Tiara pacaran? Kenapa tidak memberitahukan saya?” sang ibu belum puas mengamuk.
“Maaf, Nya. Tapi saya selalu mengawasi Non Tiara. Dan Anugrah itu memang anak yang baik serta sopan. Ayahnya juga baik, kami bahkan sudah pernah makan bubur bersama. Padahal saya sudah mengatakan jika saya ini hanya sopirnya Non Tiara tapi Pak Rendra tetap mengajak saya makan bersama. Dari situ, saya yakin jika Non Tiara sudah menadapatkan pria yang baik.”
Kedua orang tua Tiara sepertinya mulai tertarik setelah mendengar penjelasan si Mamang. Sang ibu melirik ke arah dapur. Istri dari si Mamang sedang menyiapkan beberapa kudapan untuk menyambut tamu dadakan mereka nanti malam.
“Dita, kamu kapan mengenalkan kami pada pacarmu?” tanya sang ibu melirik putri sulungnya yang masih asik menatap ponsel miliknya.
“Aku belum berniat menikah, Ma. Biarkan saja Tiara yang menikah lebih dulu. Kalian jangan pikirkan aku!” ketus Anindita kakak dari Tiara.
Malam mulai menjelang, keluarga Rendra sudah bersiap dengan seragam batiknya. Iskandar dan Anugrah tampak bersinar malam ini. Namun rasa gugup tidak lekang dari wajah Anugrah apalagi kedua orang tuanya sudah mengetahui jika calon menantu berbeda keyakinan dengan mereka.
“Siap?” tanya Rendra.
“Siap, Pa.”
Anugrah mengambil alih kemudia, ia butuh tempat untuk menetralisir kegugupannya. Di sebelah, sang kakak sudah kembali tenang setelah mengomel panjang kali lebar untuk pertama kalinya. Sementara di jok belakang, sepasang suami istri yang tidak muda lagi hanya bisa tersenyum menikmati perjalanan mereka untuk bertemu sang calon besan.
“Tante Risma gak ganggu Papa lagi kan?” Anugrah berusaha mencairkan keheningan tapi dia salah pilih topik.
“Kamu kalau gugup ya gugup aja jangan bawa-bawa nama orang lain apalagi seret-seret nama Papa.” Sahut Rendra kesal sementara sang istri justru tergelak.
“Selingkuh itu kalau dua-duanya mau. Tapi kalau wanitanya saja yang mau tapi si pria tidak membuka jalan. Ya tidak akan berhasil, begitu juga sebaliknya. Papa kamu hanya menganggap teman tapi sayanganya Tante Risma menginginkan lebih. Dan Papa kamu harus disadarkan dulu baru tahu jika pertemanan yang dia anggap itu hanya kedok bagi Tante Risma untuk terus menempeli Papa kalian. Untung saja, Anugrah berhasil menghalau semua aksi Tante Risma hingga dia sadar kalau perbuatannya hanya sia-sia belaka.” Cut menjelaskan panjang lebar.
“Ini juga jadi pembelajaran buat kalian nanti. Pertahankan pasangan yang memang ingin bertahan dengan kalian tapi lepaskan jika pasangan kalian ingin lepas. Jangan memaksa pasangan untuk terus bertahan karena bisa jadi pasangan kalian sudah menemukan yang lebih baik dari kalian. Jangan berpaku pada satu orang, di luar sana masih banyak yang lebih baik. Pasangan yang selingkuh menandakan jika dia tidak bahagia dengan kalian makanya dia mencari yang lain. Jadi lepaskan pasangan kalian jika dia ketahuan selingkuh.”
“Itu sebabnya Mama masih mempertahankan Papa? Karena Papa bisa meyakinkan Mama jika Papa tidak selingkuh?” tanya Anugrah.
“Iya. Dan sebagai seorang istri, Mama tahu jika Papa kalian selingkuh atau tidak. Tapi, kedekatan papa kalian dengan Tante Risma tetap tidak dibenarkan. Mama pasti marah dan cemburu jika Papa kalian melakukan itu lagi.”
“Pa, Mama curhat tuh!”
Cup…
Rendra memberikan ciuman panas untuk membungkam mulut sang istri.
“Pa, Jangan pamer kemesraan depan kami!”
Mobil memasuki pekarangan rumah Tiara, “Kayaknya kamu udah hafal banget ya rumahnya?” sindir Rendra yang hanya disenyumin oleh Anugrah
Sepasang suami istri sudah berdiri di pintu menyambut mereka. Cut yang sudah berada di depan pintu bersama keluarganya dibuat terkejut dengan sosok di depan matanya saat ini.
“Dia???”
***
Ayo tebak, Siapa yang Cut lihat???
__ADS_1