
Kebahagian yang Cut rasakan tidak bertahan lama. Keluarga dari mantan suaminya kembali mendatangi rumah Mak Cek Siti selepas magrib. Acara pertunangan sendiri sudah selesai selepas zuhur.
“Bang, Kak, bisa kan menunggu sampai besok? Iskandar tidak dibawa kemana-mana, tenang saja!” keluh Mak Cek Siti.
“Kami hanya mau kepastian dari Cut, Siti. Kami tidak akan mengganggu lagi tapi perasaan sayang dan rindu membuat kami tidak tahan untuk membawa pulang Iskandar ke rumah kami.” sahut Ibu Murni.
“Terus kalian akan memisahkan ibu dan anak? Iskandar itu masih bayi, dia masih butuh ibunya.”
“Tapi dia juga cucu kami, Siti. Keturunan kami yang sah dunia akhirat.”
“Saya tahu, Bang. Tapi biarkan dia bersama ibunya. Cut juga tidak melarang kalian untuk bertemu kan? Kalian bahkan bebas membawanya bermain keluar. Apa selama ini Cut melarang kalian?”
“Itu karena Cut masih tinggal di sini. Setelah menikah nanti, dia pasti akan mengikuti suaminya dan Iskandar juga akan dibawa. Maka dari itu kami meminta Iskandar untuk tinggal bersama kami. Belum lagi nanti jika Cut punya anak kembali dari suaminya. Apa kamu yakin, suaminya akan adil dengan Iskandar? Sudah pasti dia lebih menyayangi anak-anaknya dari pada Iskandar.” Cecar Ibu Murni.
“Semua itu belum terjadi dan Kak Ni sudah berpikiran seperti itu. Itu juga tidak adil untuk Rendra. Dia berhak mendapat kepercayaan kita, Kak. Kita lihat dulu, kalau memang seperti itu, kita bisa bawa kembali Iskandar ke sini.”
Pak Cek Amir dan abang iparnya tidak banyak mengeluarkan kata. Mereka hanya mendengar apa saja yang keluar dari mulut para istri. Sementara Bang Adi dan Kak Julie sedang berada di lantai atas rumah bersama Cut.
“Apa kamu masih memiliki perasaan pada Fais?” tanya Kak Julie.
“Entahlah, Kak. Cut hanya takut untuk memikirkan semuanya saat ini. Cut sebenarnya belum siap dan masih takut tapi-“
“Tapi apa?” tanya Bang Adi.
“Cut pernah menerimanya walau setelah itu kami harus terpisah lagi. Dia kembali menagih jawaban dulu yang belum terucap.”
“Hati kamu bagaimana?” tanya Kak Julie kembali.
Cut menggeleng, “Dikhianati itu sakit kak. Setiap saat selalu terbayang semua yang Cut lakukan dan semua sikap manis yang ternyata penuh dusta. Sakit sekali rasanya, Kak.”
__ADS_1
Cut memegangi dadanya, ada sesak setiap kali peristiwa itu muncul. Bang Adi memberikan kode mata ke arah Kak Julie supaya tidak membahas masalah itu lagi.
“Maafkan kami! Seharusnya dari awal kami menghentikan pernikahan ini. Kami sempat berpikir jika setelah menikah denganmu, dia akan berubah dan memutuskan hubungan dengan wanita itu. Ternyata, mereka malah bermain dibelakangmu.”
“Tapi-“
Kak Julie menjeda ucapannya sembari menatap Cut. “Tapi, tolong jangan bawa Iskandar. Ibuk sangat terpukul kehilangan Faisal, hanya Iskandar lah yang mampu menjadi penyemangatnya lagi. Maaf, bukannya kami kejam memisahkan ibu dan anak tapi Kakak juga tidak sanggup melihat Ibuk kembali bersedih. Kamu tahu sendiri kan bagaimana Ibuk menyayangi Iskandar? Dari awal, memang itu yang menjadi tujuan utamanya. Makanya, Ibuk meminta Faisal menikah. Dan anak itu malah menuruti kemauan mereka tanpa pikir panjang.” Sedih bercmpur kesal, begitulah yang tersirat dari ucapan Kak Julie.
Perdebatan panjang tidak membuahkan hasil hingga malam semakin larut. Mereka mengakhiri perdebatan yang tidak membuahkan hasil itu tepat jam 10 malam. Itupun karena ayah mertua Cut yang memaksa istrinya untuk pulang.
Mak Cek Siti memang tidak ingin mengalah pada kakak iparnya. Ia sendiri seorang ibu dan tidak akan sanggup juga jika menghadapi kondisi seperti Cut. Bagi seorang ibu, anak adalah segalanya. Begitu juga dengan Cut. Walau, ia harus menahan diri setiap kali melihat wajah Iskandar yang sangat mirip dengan Faisal.
Hari-hari terakhir Rendra bertugas di Aceh menjadi hari yang melelahkan. Banyak laporan serta penyerahan tugas yang harus ia selesaikan. Sampai, sehari menjelang kepulangan, Rendra berhasil mencuri waktu untuk bertemu sang wanita pengisi hati.
“Assalamualaikum,”
“Walaikumsalam,” suara riuh serentak dari dalam rumah.
“Dokter?”
Pemilik manik mata hazel itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Rendra yang baru datang. “Kami juga mengundang dr Guney sebagai ucapan terima kasih karena sudah merawat Cut selama ini.” ucap Mak Cek Siti.
Cut membantu hal-hal kecil seperti mengambil sendok atau menaruh lauk pauk dalam piring. Sementara Intan sudah duduk manis sambil memangku Iskandar. Sadar atau tidak, manik mata hazel itu sesekali mencuri pandang ke arahnya. Dan tentu saja kejadian itu tertangkap oleh mata Rendra. Sebuah senyum kecil terbit ketika menyadari apa yang tengah berlaku saat ini.
Puk…
Dr Guney terkejut saat sebelah tangan Rendra menepuk bahunya. “Masih dibawah umur!”
Mata keduanya bertemu sepersekian detik. “Saya bukan pedofil!”
__ADS_1
Rendra tergelak membuat seisi rumah menatap heran padanya. Sementara dr Guney sudah menatapnya dengan tajam.
“Kamu yakin Cut tidak akan berubah pikiran?”
Ide jahil tiba-tiba terbesit di kepala dr Guney. “Dokter tidak perlu takut, dia itu sudah saya ikat dengan tali tak kasat mata. Kemana saja dia pergi, hanya saya yang selalu berada di hatinya.” Rendra mencoba bersikap sombong tapi hatinya ikut goyah. Bagaimanapun, Cut sedang dalam keadaan rapuh dan kecewa dalam waktu bersamaan. Rendra takut jika Cut akan berubah pikiran dan pernikahan mereka akan batal kembali.
Puk…
“Hhahah”
Suara tawa dr Guney menggema. Dia yang tidak pernah tertawa lepas di depan orang lain tapi kali ini justru melupakan imej yang melekat padanya selama ini. Tentu saja tawa dr Guney mengandung ledekan yang membuat Rendra memberikan tatapan tajamnya. Seakan tidak peduli, dr Guney tertawa hingga matanya berhadapan dengan sepasang mata yang sedang memandangnya dengan tatapan aneh.
“Apa yang lucu, Dokter?”
Seketika tawa dr Guney langsung berhenti lalu menatap pemilik mata itu. “Sedang mendengar cerita lucu yang disampaikan oleh Rendra.”
“Ohh…cerita lucu apa?” Tanya Intan penasaran.
“Jangan dengarkan! Dokter ini hanya salah minum obat. Karena itu dia salah pengucapan.” Sela Rendra dengan tatapan tajam matanya.
Mereka makan dengan nikmat lalu setelah makan, Rendra langsung meminta izin pada Mak Cek Siti dan Pak Cek Amir.
“Jangan pulang malam-malam dan Rendra, bawa pulang seperti semula!”
Rendra mengangguk lalu keduanya menaiki mobil menuju tempat yang sudah Rendra siapkan. Dia ingin membuat perpisahan yang romantis dan penuh privasi berdua dengan Cut.
“Ki-kita kemana?” tanya Cut sedikit tergagap.
Bukan tanpa sebab Cut sedikit khawatir, karena Rendra adalah tipe pria yang penuh kejutan hingga sulit untuk memahaminya.
__ADS_1
“Saya tidak mau kecolongan lagi dengan meninggalkanmu untuk kesekian kalinya.”
***