
Hari ini, keluarga besar Cut akan pulang ke Kampung Sagoe untuk kedua kalinya. Pak Cek Amir juga ikut untuk melihat tanah kelahirannya sekaligus menyerahkan hak waris pada cucunya yang sudah lama hilang yaitu Teuku. Ayu yang mengetahui rencana tersebut meminta pada suaminya untuk ikut serta. Ia juga ingin melihat kampung dari Teuku. Faisal mengiyakan keinginan sang istri dan dengan mengendarai salah satu mobil Bang Adi, dia pergi mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Iskandar.
“Tempatnya bagus dan sejuk ya, Pa?” Ayu sangat antusias.
“Sangat cocok untuk healing dari rasa penat dan tertekan akibat pekerjaan.” Ucap Ayu kembali. sepanjang perjalanan, ia terus memperhatikan dengan saksama setiap sudut yang menampilkan hijaunya lembah gunung Seulawah.
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam, mereka tiba di kampung. Cut tersenyum senang saat melihat kuburan abangnya terawat rapi karena setelah kepulangannya beberapa tahun silam. Ia sudah meminta pada tetangga kampungnya untuk merawat kuburan Almarhum Bang Ilham dan setiap enam bulan sekali Cut akan mengirimkan sejumlah uang untuk orang tersebut.
Setelah memberi salam, mereka berdiri melingkar menatap tiga batu nisan. “Akhirnya kamu bisa menziarahi kuburan orang tua serta abangmu.” Entah apa yang Teuku rasakan saat itu. hati dan pikirannya tiba-tiba berhenti. Ia terduduk seraya menatap nama yang tertera di batu nisan satu persatu. Air matanya tiba-tiba keluar, hatinya yang kosong dan hampa kini seperti terisi dengan sendirinya. Teuku tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
“Apa ini yang jawaban dari hatiku yang hampa selama ini? Apa mereka selalu menunggu kedatanganku ke sini? Ya Allah, maafkan hamba yang durhaka ini. Papa, Mama, Abang, maafkan aku karena baru sekarang aku mengunjungi kalian. Kenapa aku jadi sangat ingin bertemu kalian? Kenapa tiba-tiba aku sangat merindukan kalian? Ya Allah, pertemukan aku dengan orang tua serta adikku walaupun hanya dalam mimpi.” Air mata Teuku sudah tidak terbendung. Ia terisak dalam pergolakan batinnya sendiri. Rendra memeluknya erat.
“Om, aku sangat ingin bertemu mereka.”
Rendra hanya bisa menepuk lembut punggung Teuku. Ia juga tidak bisa berbuat banyak. “Berikan selalu doa-doa terbaikmu untuk mereka. Doa anak yang saleh akan selalu dijabah oleh Allah.” Ucap Cut menasehati keponakannya. Iskandar kembali memimpin doa lalu setelah dari sana, Cut meminta suaminya untuk mengunjungi makam sahabatnya. Rendra mengiyakan, mereka kembali menaiki mobil lalu sampailah mereka di rumah Miftah. Terlihat sekali bagaimana rumah itu terurus walaupun sederhana.
“Assalamualaikum,” ucap mereka serentak.
“Walaikumsalam. Eh, Kak Cut ya?”
“Iya. Saya datang ingin ziarah ke kubur Miftah.” Ucap Cut seraya menyerahkan satu plastik berisi gula, sirup dan kue kering yang dibawanya khusus untuk penghuni rumah miftah.
“Iya, silakan!”
Di samping kubur Miftah, ada kuburan ibunya yang beberapa tahun lalu meninggal dan dikubur tepat di samping kubur sang anak sesuai dengan permintaannya.
“Ini sahabat Tante. Dia dibunuh oleh para pemberontak saat itu karena menjalin cinta dengan anggota Om Rendra.” Cut menjelaskan pada Teuku.
“Dan setelah kejadian yang almarhumah Miftah alami, tidak ada lagi gadis di kampung ini yang berani berdekatan dengan tentara termasuk Tantemu.” Lanjut Rendra. Iskandar kembali membacakan doa-doa saat berzirah kubur lalu setelah itu, Cut berpamitan pada penghuni rumah dan setelah itu, Pak Amir mengajak mereka menuju area persawahan.
“Ini adalah sawah kakek kalian dan kami sudah membaginya. Saat itu, Tantemu meminta sawah itu disewakan saja untuk orang kampung yang mau dan hasilnya disuruh sumbangin atas nama orang tuamu. Karena sekarang kamu sudah pulang, Kakek akan menyerahkan warisan ini ke tanganmu karena ini adalah hakmu dan juga sepetak tanah di Kota Banda juga menjadi hakmu.” Ucap Pak Cek Amir pada Teuku.
“Em, Kek. Biar begitu saja. Aku juga setuju dengan usul Tante Cut. Biarkan hasil dari lahan ini menjadi amal jariyah untuk Kakek, Nenek dan keluargaku.” Ujar Teuku membuat semua orang tersenyum.
“Selain sawah, kalau kita berjalan kaki kamu akan bertemu dengan satu hektar ladang yang sekarang sedang ditanami cengkeh. Ladangnya juga disewakan pada orang kampung sini dan uanganya selalu diberikan pada Kakek.”
__ADS_1
“Wah, Kakak tajir juga ya?” bisik Aisyah pada sang kakak yang sekarang sudah menjadi kakak sepupu iparnya.
“Iya, pulang-pulang tajir.”
“Kayaknya kamu lebih cocok jadi juragan tanah dari pada dokter.” Mereka tertawa kecil mendengar celutukan Faisal.
Selesai memperlihatkan harta warisan untuk Teuku Rendra Muhammad Nur, mereka langsung kembali ke Kota Banda karena besok akan ada acara memperingati peristiwa bersejarah dalam kehidupan masyarakat Aceh yaitu peristiwa gempa dan tsunami.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, di beberapa tempat diadakan zikir serta tablik akbar untuk mengenang musibah besar itu sebagai bentuk introspeksi diri bagi setiap masyarakat yang masih diberi kehidupan sampai saat ini.
Dari pagi, keluarga Cut sudah bersiap untuk pergi ke kuburan massal tempat yang diyakini dikuburnya jenazah Abu dan Ummi. Faisal dan istrinya juga ikut bersama mereka. Masih ada satu hal yang mengganjal di hati Faisal sampai detik ini yang belum pernah ia katakan pada siap pun termasuk istrinya.
Begitu mereka sampai di sana ternyata sudah banyak warga yang menpadati area kuburan massal tersebut. mereka memberi salam lalu menggelar selembar tikar yang sudah dibawa dari rumah. Iskandar kembali memimpin doa untuk kakek dan neneknya.
“Abu, Ummi, maafkan kesalahan Faisal yang sudah menyakiti hati Cut, Abu dan Ummi. Maaf karena baru sekarang Faisal ke sini untuk meminta maaf. Kesalahan Faisal pada Abu, Ummi dan Cut lah yang membuat Faisal tidak memiliki anak lagi sampai sekarang. Faisal sudah menyia-nyiakan anak dan istri Fais sebelumnya dan anak dari Shinta yang tidak mendapat keadilan karena keegoisan Faisal. Kesalahan Faisal sangat besar pada Abu dan Ummi. Harusnya Faisal mengembalikannya dengan baik seperti saat pertama kali Faisal membawanya keluar dari rumah Abu dan Ummi. Faisal justru tidak memulangkannya dengan tangan Faisal sendiri. Ketahuilah Abu, Umi, Cut terlalu berharga untuk Faisal yang hina ini. Sekarang, putri Abu dan Ummi sudah berbahagia dengan lelaki terbaik. Sekali lagi, Maafkan Faisal, Abu dan Ummi.” Sebelah tangan Ayu mengusap punggung suaminya. Ia tahu jika suaminya sedang menahan tangis di balik kaca mata hitamnya.
“Kakek, Nenek, hari ini Is membawa istri. Is ingin mengenalkannya pada Abu dan Ummi. Doakan pernikahan kami, Kakek, Nenek.” Batin Iskandar.
“Pa, Is sama Aisyah ingin pergi ke tempat di mana Papa dan Mama menemukan Aisyah. Apa Papa dan Mama berkenan mengantar kami?” pinta Iskandar pada Faisal dan Ayu saat keluar dari area kuburan massal.
“Kamu ingin ke sana?” Aisyah mengangguk lemah.
“Kalau begitu kita semua ikut juga.” ucap Teuku.
Dua buah mobil kembali meluncur membelah jalanan menuju Aceh Jaya. Lagi-lagi mereka terkesima dengan keindahan laut yang terlihat dari jalan yang melintasi di atas gunung. Sesampainya mereka di sana, barak yang dulu digunakan untuk menampung pengungsi sudah tidak ada. Satu-satunya tempat yang bisa mereka kunjungi adalah pusat pemerintahan yang mendata semua orang-orang hilang. Tapi begitu mereka sampai di sana, harapan untuk menemukan keluarga Aisyah semakin mendekati kata tidak mungkin. Apa lagi ini sudah bertahun dan rasanya sangat tidak mungkin untuk menemukan mereka.
Ayu meninggalkan sebuah foto di sana tapi salah satu pegawai menyarankan jika Ayu bisa memasang foto itu di koran harian daerah Aceh. Dengan begitu kemungkinan untuk menemukan keluarga Aisyah semakin besar. Aisyah hampir kehilangan semangatnya apalagi saat mendengar ucapan pegawai pemerintah itu.
“Maaf tapi mencari keluarga saat kejadian tsunami itu seperti mencari jarum dalam jerami. Coba saja Kakak tanyakan pada siapa saja yang pernah melewati masa itu. Bahkan anak sendiri bisa ragu untuk kita akui saat melihat berapa banyak bayi yang terpisah dengan keluarga mereka dan sampai sekarang tidak mungkin tidak ada yang tahu siapa keluarganya.” Ucap pegawai tersebut sebelum mereka keluar dari sana.
“Sabar ya!” Iskandar mencoba menguatkan istrinya.
Faisal dan Ayu akhirnya mengunjungi penerbit koran yang ada di sana. Berbekal foto saat Aisyah bayi, pegawai di sana setuju membantu untuk menerbitkan foto tersebut. Aisyah sedikit optimis setelah mendengar kata-kata penyemangat dari pegawai di kantor tersebut. Mereka kembali setelah siang setelah mengunjungi banyak tempat.
“Sabar dan terus berdoa ya!” ucap Iskandar lembut pada istrinya. Mereka sedang merebahkan tubuh di atas ranjang. Sudah dua hari mereka melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain.
__ADS_1
“Mas, aku akan mencoba ikhlas kalau mereka ternyata sudah dipanggil yang kuasa.”
“Itu yang terbaik, Sayang.”
“Mas, kamu tidak menghubungi Dita. Apa kabarnya gadis itu?”
“Ai, bagaimana kalau ada yang mengatakan jika dia orang tuamu. Apa kamu akan langsung percaya?”
“Mama sudah mengatakan semuanya untuk mengantisipasi hal itu, Mas. Ada cara termudah untuk mengetahui orang itu benar-benar orang tuaku atau bukan.”
“Baiklah. Mas percaya padamu.”
“Ai, mau liburan ke pulau Sabang?”
“Pulau Sabang?” tanya Aisyah kembali.
“Iya. Pulaunya cantik tidak kalah dengan Bali hanya saja ini masih alami tidak seperti Bali.” Iskandar memperlihatkan hasil penelusurannya di internet tentang Pulau Sabang di ponselnya. Aisyah tersenyum senang, “Indah ya, Mas.”
“Bagaimana, kamu mau ke sana?”
“Jauh?”
“Tidak, hanya sekitar satu jam naik kapal fery.”
“Kita ajak yang lain juga, Mas.”
“Baiklah. Nanti Mas katakan pada semuanya termasuk Papa Faisal dan Mama Ayu.”
Di saat mereka tengah merencanakan liburan selanjutnya, sang adik justru harus dirawat setelah luka-luka dibadannya diketahui oleh Dokter Merlyn.
“Dokter, ini hanya luka kecil.”
“Saya tahu tapi ini harus diobati.” Saat ini, Anugrah tidak bisa protes lagi karena bajunya sudah terbuka dan badannya sudah dibalut dengan perban di bagian pinggang dan bahunya. Lengannya juga ada yang luka terus di bagian kepala.
“Kita tidak sedang bermain film laga hingga luka yang kamu bilang kecil ini tidak perlu diobati. Apa kamu tahu jika luka ini tidak diobati dengan benar akan terjadi infeksi. Kamu bukan Tom Cruise!”
__ADS_1
“Sudah, A. Terima saja nasibmu!”
***