
Minyak yang disiram dalam bara kini telah menjadi apii yang membara dan siap melalap sekitarnya. Begitu juga dengan bara yang sudah disiram dengan bensin oleh Risma di hati Reni. Perdebatan penuh emosi akhirnya tidak terelakkan. Reni marah besar setelah mendengar perkataan Risma yang penuh provokasi itu akhirnya menemui sang ayah kembali di ruang kelaurga.
“Apa maksud kamu mengatakan Tante akan pulang ke Aceh? Kamu mau mengusir Tante dari rumah ini, heh? Apa belum cukup warisan yang diberikan Papaku sampai kamu mau rebut rumah ini juga? Ternyata ibumu licik juga sampai mengajarkan anak-anaknya untuk meraup harta orang tuaku.”
“Reni!!!” bentak Rendra penuh emosi.
“Pa, lihat! Kakak udah berani membentak aku hanya karena anak dan istrinya. Yang aku bilang itu benar, Kak. Apa tujuan Anugrah mengatakan jika aku harus kembali ke Aceh? Itu adalah cara dia mengusirku secara halus. Dia juga berani bertindak tidak sopan dengan keluarga Om Wahyu dengan mengusirnya seperti mengusirku. Apa pikiran Kakak sudah ditutupi oleh cinta buta pada istri kampung Kakak itu?”
Reni semakin menjadi, kemarahannya sulit dihentikan sementara Rendra sudah tersulut emosi mendengar setiap perkataan yang menyudutkan istri di depan orang banyak. Sementara Bapak Wicaksono tidak bisa berkata apa-apa. Beliau terlalu syok melihat pertikaian antara anak-anaknya saat ini.
“Hei, kamu baru lahir kemaren tapi sudah berani mengatur-ngatur rumah ini. Ini rumah orang tuaku bukan rumahmu. Berhenti berlagak seakan kamu yang punya rumah ini. Orang tuaku masih hidup saja kamu sudah berani menagih warisan. Kami saja sebagai anak tidak pernah terpikir sampai ke sana. Bagus sekali didikan ibumu, heh?”
Anugrah melihat kemarahan tantenya seperti sedang melihat layar televisi. Tantenya sedang berapi-api dan kalau dia melawan sekarang pasti tidak akan masuk.
“Kek, ayo masuk. Sudah waktunya Kakek istirahat.” Ajak Anugrah pada sang kakek namun justru mendapat cibiran dari sang tante. “Setelah mendapat warisan kamu jadi lebih perhatian dengan Kakek. Cih, tidak ibunya tidak anaknya pandai sekali menjilat.”
“Reni!!!” teriak Rendra.
“Cukup!!!!!” suara Bapak Wicaksono menggema di dalam rumah. Semua terdiam saat sang komandan utama mulai bersuara.
“Kenapa kamu marah-marah begini? Bukannya yang dikatakan Anugrah benar kalau kamu memang harus kembali ke Aceh? Lalu di mana salahnya Anugrah?” tanya Bapak Wicaksono pada sang putri.
“Pa, dia udah mengusir aku secara halus. Untuk apa dia menagatakan itu kalau bukan untuk mengusirku? Aku ini sudah dewasa tahu kapan harus pulang dan kapan bisa tinggal di rumah orang tuaku. Kenapa dia yang sibuk? Dia hanya cucu di rumah ini. Dan dia juga ikut mengusir Om Wahyu.”
“Sudah, yang dikatakan Anugrah itu benar. Om memang ingin pulang karena kalian sudah ada di sini. Jangan dipermasalahkan lagi. Anugrah juga masih muda, masih banyak yang harus dia pelajari.” Uap Om Wahyu menengahi.
“Makasih Om atas pengertiannya. Selanjutnya urusan Kakek biar aku yang urus sama Papa. Bagaimanapun tugas anak laki-laki adalah menjaga orangg tuanya sementara anak perempuan adalah ikut suaminya. Benarkan, Om?” Reni semakin menjadi saat mendengar perkataan Anugrah seperti sedang meledeknya.
“Dasar anak tidak tahu diri, kamu. Mulutmu sama seperti otak ibumu yang tidak disekolahkan!”
“Tante, cukup!!!” kali ini Anugrah yang membentak Reni dengan suara yang menggelegar di dalam rumah.
“Tante pikir selama ini aku tidak tahu kebohongan apa saja yang sudah Tante dengar dari mulut Tante Risma tentang hubungan antara Almarhum nenek dan Mamaku? Aku memang lebih muda dari Tante tapi pikiranku sudah cukup dewasa untuk menilai baik dan buruk. Bukan seperti Tante yang sudah tua tapi masih mudah terhasut sama berita hoax.”
Reni kelihatan gelisah sementara Bapak Wicaksono dan Rendra justru penasaran dengan perkataan Anugrah.
__ADS_1
“Tante Risma selalu menjadi bayang-bayang nenek saat masih hidup untuk mengatur-ngatur Mama. Bahkan, Mama selalu diam saat Nenek mengumpatnya setelah Tante Risma memperlihatkan foto ciumanku saat SMA. Sekarang saat nenek sudah tidak ada, Tante Risma mencoba menghasut Tante Reni untuk ikutan membenci Mama? Dan bodohnya Tante Reni karena percaya saja dengan omongan Tante Risma. Apa Tante Reni gak tahu kalau Tante Risma itu berusaha mendekati Papa lagi? Tante Risma berusaha merusak hubungan Papa dan Mama. Membuat seolah Papa sedang berselingkuh padahal yang suka berselingkuh itu Tante Risma sendiri makanya diceraikan Papa.” Anugrah menatap sinis pada Risma yang sudah getir ditempatnya.
“Papa juga, apa gak bisa menilai wanita yang tulus atau wanita yang ada maunya? Katanya penjantan tangguh tapi menilai sikap seorang mantan istri saja tidak bisa. Makanya, Papa diselingkuhi karena Papa -, ya tahu sendiri lah.”
“Sekarang, Tante Reni mau menghancurkan hubungan darah antara Tante dan Papa hanya karena Tante Risma? Apa Tante tidak sakit hati saat Kakak yang katanya Tante sayangi justru selingkuh dibelakang Kakak Tante?”
“Buat Nenek Risna, Mamaku itu orang kaya di Aceh jadi dia tidak perlu harus mencuri perhiasan almarhum ibu mertuanya. Aku tidak menyangka mulut nenek sangat tajam lebih tajam dari pedang. Mamaku tidak sehina itu sampai harus mencuri perhiasan Nenek. Kakek Wahyu, maaf kalau Kakek harus mengetahui sifat asli dari istri dan putri yang sangat Kakek banggakan ini. Mulut mereka lebih busuk dari pada sampah. Dan lebih baik lagi jika kalian tidak menemui Kakek dan Papaku lagi. Berhenti menghubungi Papaku malam-malam, Tante! Kalau kesepian, lebih baik cari pasangan jangan menggangu suami orang!”
Muka Bapak Wahyu merah padam, ia melirik anak dan istrinya dengan tajam. “No, aku minta maaf karena tidak tahu apa yang telah terjadi antara istri dan anakku dengan keluargamu. Aku benar-benar minta maaf pada kalian. Aku malu mendengar ini semua. Perbuatan mereka lebih busuk dari sampah. “Maaf ya, Nak. Ren. sampaikan permohonan maaf kami pada istrimu, Ren. Om benar-benar malu. Om rasanya lebih baik mati dari pada mengetahui perbuatan mereka yang sangat rendah dan hina ini. Om gagal mendidik istri dan anak, Om. Maafkan keluarga Om, Ren.”
“Ayo, pulang!” ucap tegas Bapak Wahyu pada istri dan putrinya.
Setelah kepulangan mereka, semua mata kini menatap Reni sang tante yang sedari tadi menundukkan kepalanya. “Ada yang mau kamu katakan pada Kakakmu, Reni?” tanya Bapak Wicaksono.
Reni mengangkat wajahnya lalu, “Maaf, Kak. Aku sudah menuduh Kakak dan Kak Cut yang bukan-bukan.” Ungkap Reni penuh penyesalan.
“Mama ada di rumah kalau Tante mau minta maaf.” Ledek Anugrah.
“Dek!” panggil sang papa.
“Makanya lain kali cari tahu dulu sebelum menuduh. Kalau begini kamu sudah mempermalukan diri sendiri.” nasehat Rendra.
“Jadikan ini pelajaran, ke depan kamu akan bertemu lagi dengan berbagai kejadian yang belum pernah kamu hadapi. Jangan tergesa-gesa dalam menerima apa pun yang dikatakan oleh orang lain maupun orang terdekat denganmu. Tidak selamanya orang terdekat kita memiliki hati yang baik. Bisa jadi, hatinya lebih busuk dari orang terjauh kita. Mengerti?” Reni mengangguk pelan.
“Dek, dari mana kamu dapat semua info ini?”
Gleg…
Anugrah tidak mungkin mengatakan sumber terpecayanya. “Rahasia, Pa.” jawab Anugrah santai lalu berjalan menuju dapur. Rendra menggelengkan kepala melihat tingkah putra bungsunya. Ia tidak menyangka anak yang kemarin baru menangis seakan hidupnya telah berhenti saat lamarannya gagal kini kembali menjadi anak yang ceria seakan kegagalan kemarin tidak pernah terjadi.
“Bibik, makasih infonya. Ini, buat jajan sama Kang Bakso!” bisik Anugrah di dapur bersama si bibik yang selama ini menjadi informannya.
Reni meminta maaf pada Cut sebelum pulang ke Aceh. Cut sedikit bingung karena adik iparnya meminta maaf sambil terisak. Padahal mereka hanya akan berpisah jarak itupun tidak selamanya. Mereka akan bertemu jika salah satu dari mereka ada waktu. Rendra dan Anugrah tidak menceritakan masalah yang terjadi kemarin pada Cut. Anugrah tidak mau ibunya bersedih dan kecewa. Hanya Iskandar yang mengetahui perihal tersebut. Ketiga pria berbeda usia itu kompak dalam hal menjaga hati wanita yang paling mereka cintai itu tidak sakit dan sedih.
Setelah berunding dengan Riko dan Reni akhirnya diputuskan jika Rendra lah yang akan tinggal bersama sang ayah di rumah tersebut. Karena rumah tersebut lebih besar dari pada rumah mereka. Anugrah sendiri langsung bertanya, “Apakah Kakak boleh ikut tinggal di sini? Kalau Kakek atau Tante keberatan maka aku juga tidak akan tinggal di sini.”
__ADS_1
Iskandar sontak menatap sang adik yang begitu lantang dalam rapat keluarga bersama sang kakek. “Apa selama ini Kakek membenci Kakakmu? Coba tanyakan pada Kakakmu apa Kakek pernah membencinya?” sang kakek justru bertanya balik pada Anugrah.
Anugrah menatap Iskandar untuk meminta jawaban, Iskandar hanya menggeleng pelan. “Kakek itu baik. Selama di pondok sering mengirim jajan. Saat belajar di Yaman dan Mesir, Kakek juga sering mengirim uang.”
Semua mata menatap sang kakek yang hanya terkekeh kecil mendengar cucu sambungnya mengumbar kebaikannya selama ini.
“Sudah hilang pahala Kakek karena kamu bilang.”
“Yang penting bukan Kakek yang umbar sendiri.” sinis Anugrah.
“Kenapa saat aku pendidikan, Kakek tidak pernah mengirim apa-apa?”
Nah, sekarang semua mata menatap Anugrah tidak percaya. Ternyata Anugrah juga mengharapkan yang sama.
“Jangan serakah, kamu sudah dapat warisan.” Ketus Bapak Wicaksono.
Hahaahha…
Reni sang Tante tertawa kencang. “Rasain! Makanya jangan ngatain orang tua. Gak enak kan?” Reni sampai sakit perut menertawakan Anugrah. Melihat sang tante yang sedang menertawainya, Anugrah hanya bisa mencebbikkan bibir. Cut terharu mengetahui jika papa mertua ternyata memperhatikan putranya selama ini. Soal perhiasan peninggalan almarhum Ibu Yetti, Bapak Wicasono memberikan khusus untuk anak perempuannya sedikit lebih banyak. Sementara sisanya diberikan pada ke dua menantu yaitu istri Rendra dan istri Riko.
Bapak Wicaksono juga telah mengurus pembagian warisan yang tersisa termasuk rumah yang ditempatinya saat ini. Rumah dan tanah itu jatuh ke tangan Riko setelah Bapak Wicaksono meninggal karena hanya Riko yang belum memiliki rumah sementara Rendra dan Reni masing-masing sudah memiliki rumah. Sementara Rendra dan Reni hanya mendapat kebun teh yang kisaran harganya sama seperti harga tanah dan rumah tersebut. Semua dibagi rata termasuk anak dari Riko. Perhiasan untuk Reni dilebihkan karena di sana ada bagian untuk anak-anaknya. Mereka tidak mendapat warisan berupa tanah tapi Bapak Wicaksono memberikan warisan berupa perhiasan peninggalan sang istri. Semua menerima dengan suka cita. Tidak ada yang bertengkar atau kurang puas dengan itu. Riko sendiri tidak sudah sukses dengan bisnisnya di jakarta. Dan untuk pulang ke Jawa agak sulit jadi dia tidak mempermasalahkan rumah tersebut asal semua surat-surat sudah berubah atas namanya.
“Kamu baik-baik saja, Kan?” tanya Rendra pada Iskandar saat melihat anaknya hanya diam saja.
“Baik, Pa.”
“Maaf, karena Kakek tidak memberikanmu warisan seperti yang lain.” Iskandar tersenyum, “Kakek sudah lebih dulu memberikan warisannya untukku, Pa.”
Rendra menatap Iskandar sedikit terkejut. Iskandar tersenyum, Kakek sudah mendepositkan uang di bank untukku jauh-jauh hari.”
“Berapa?”
“Haah….” Iskandar dan Rendra kompak terkejut lalu menoleh ke belakang.
***
__ADS_1
Bantu Cut dengan TIDAK SKIPP IKLAN...
Makasih....