
“Ada apa kemari?” tanya Anugrah pada Tiara.
Ya, gadis yang mengunjungi rumahnya adalah Tiara.
“Ini! Aku hanya ingin menjenguk dan mengucapkan terima kasih secara langsung.” Tiara memberikan sebuah cake cokelat ke tangan Anugrah.
“Aku terima, sekarang pulanglah!”
Tiara mengangguk lalu membalikkan badan meninggalkan rumah Anugrah.
“Temannya mana? Mama sudah buatkan minum.” Tanya Cut yang baru datang membawakan minuman.
“Sudah pulang, Ma. Sudah malam juga ngapain dia lama-lama di sini.” Ketus Anugrah lalu pergi meninggalkan sang ibu dengan cake yang Tiara bawa.
“Kamu gak makan?” tanya Cut pada sang putra yang hendak memasuki kamarnya.
“Aku gak suka manis.” Teriak Anugrah dari dalam kamarnya.
Di dalam mobilnya, Tiara yang datang bersama supir hanya bisa merengut sedih saat kedatangannya kurang diterima oleh Anugrah.
“Itu pacarnya Non, ya?” tanya si Mamang yang sudah lama menjadi supir di keluarga Tiara.
“Bukan, Mang. Dia yang belain aku saat dibuli kemarin.”
“Anak tentara pasti berani seperti bapaknya.”
“Iya, Mang.”
Di kamarnya, sepasang suami istri sedang berbincang sesuatu yang baru menurut mereka seraya tersenyum-senyum aneh.
“Cantik tidak, Ma?” tanya sang suami.
“Cantik, manis dan imut. Mama suka.” Jawab sang istri ikut tersenyum.
“Mama suka aja tidak cukup. Anak kita suka tidak?”
Cut dan Rendra sedang senang karena ini pertama kalinya mereka kedatangan seorang gadis yang berhubungan dengan sang putra.
“Gak terasa kita sudah tua ya, Ma?” Rendra merebahkan kepalanya dalam pangkuan sang istri.
“Kita harus mulai bersiap dengan kenakalan mereka selanjutnya, Pa. Makanya, Abang jangan bertingkah kayak anak muda lagi. hidup lurus saja dan berikan kesempatan pada yang muda untuk menikmati masanya.”
“Maksudnya apa ya? Papa gak ngerti.” Cut mencibir pertanyaan sang suami.
“Papa masih sering bertemu Mbak Risma?”
Rendra menatap lekat sang istri, “Kamu masih cemburu? Kami pernah bertemu di rumah Mama. Selebihnya tidak. Abang dan dia juga kerja mana sempat kami bertemu.”
“Jadi kalau sempat kalian pasti bertemu?”
“Dek, udah ya! Nanti Anugrah dengar dan mulai menempeli Abang lagi. gak lucu kalau anak SMA seperti dia menempeli ayahnya karena takut didekati wanita lain. Abang bukan artis, Sayang.”
__ADS_1
Cut tergelak, Rendra memang sangat tersiksa saat Anugrah beraksi dengan menempeli dirinya tidak lepas-lepas bahkan sampai mengikuti ayahnya ke kantor. Rendra juga masih terbayang ketika teman kantornya tertawa saat mendengar alasan Anugrah menempeli dirinya kemanapun. Bukannya menasehati sang anak tapi mereka justru memberi dukungan sehingga Anugrah menjadi lebih bersemangat menempeli ayahnya. Hanya saat SMA saja, Anugrah sudah sedikit berkurang dalam menempeli ayahnya lantaran jam pulang sekolah yang cukup lama hingga sore. Hilanglah kesempatan untuknya menempeli sang ayah.
“Iskandar apa kabar ya?” tanya Cut sendu.
Selama ini, Iskandar sangat jarang berbicara dengannya. Saat Cut menelepon kadang hpnya tidak aktif dan saat ditanya jawaban Iskandar selalu,
“Tadi lagi ada kelas, Ma.”
“Lagi di perpustakaan, Ma.”
“Habis dari ruang dosen, Ma.”
Iskandar pernah menghubungi ibunya sesekali tapi durasi pembicaraan mereka sangat singkat. Banyak sekali yang ingin Cut ceritakan tapi Iskandar cendrung mengakhiri lebih dulu pembicaraan mereka. Hingga rasa rindu di hati sang ibu tidak terlampiaskan dengan semestinya. Tanpa Cut ketahui, Iskandar selalu tahu apa saja berita mengenai keluarganya dari sang adik. Iskandar sendiri memiliki alasan khusus kenapa saat ini dia sangat gila belajar. Dia ingin pulang dengan sebuah kebanggaan untuk ibunya. Dia ingin melewati batasnya sebagai anak sambung dari papanya.
“Maaf, Ma. Is harus berjuang lebih keras di sini. Is sangat merindukan Mama tapi saat ini biarlah rindu ini yang menjadi penyemangat untuk Is bertahan di sini.”
Hari berlalu berganti hari hingga masa skorsing untuk Anugrah, Arash dan kedua temannya selesai. Mereka kembali ke sekolah untuk pertama kalinya setelah diskor. Telinga Anugrah semenjak bangun tidur sampai hendak berangkat terus saja gatal dan merah karena nasehat ibunya tentang,
“Jangan berkelahi lagi. Kalau ada yang buli segera lapor guru. Jangan hadapi sendiri!” Peringatan itu terus diucapkan oleh sang Mama sampai ia menghilang dalam mobil sang ayah.
“Yang Mama bilang itu tidak semuanya salah. Tapi, kadang kita sebagai laki-laki juga perlu unjuk kemampuan supaya tidak mudah tertindas.” Kali ini Anugrah mengernyit heran menatap sang papa yang sedang mengemudi.
“Jangan bilang sama Mama. Papa ini laki-laki dan lebih parah dari kamu juga pernah Papa lakukan saat SMA.
“Jangan coba-coba melakukannya jika kamu tidak mau melihat Papa marah!” Anugrah mencolos.
Keinginannya kandas sebelum terlaksana. Sudah lama dia ingin ikut geng motor tapi mau minta dibelikan motor saja dia belum berani.
“Jangan berantem!” ucap Rendra sekali lagi mengingatkan sang putra walaupun ia tahu jika kata ‘jangan’ itu sama dengan ‘boleh’ pada telinga anak-anak saat ini.
Semua yang dilarang menjadi menarik bagi remaja yang masih labil dan sedang mencari jati diri seperti Anugrah. Makanya, dari pada melarang lebih baik mengamati dan membimbing. Anugrah terus berjalan menyusuri lorong menuju kelasnya. Tiga orang yang paling ia tidak sukai sudah berdiri di depan kelasnya dengan penuh kesombongan.
“Cih, ternyata yang melawan kita kemarin hanya seorang anak papi. Aku penasaran apakah dia masih memaskai popok atau boxer doraemon?” sindir Arash saat Anugrah hendak melewati mereka.
Anugrah tidak peduli, ia terus berjalan memasuki kelas. “Hei, kamu siswi kelas satu. Urusan kita belum selesai ya!”
Arash bersama kedua temannya pergi meninggalkan Tiara yang ketakutan dengan ancaman Arash tadi. Dengan gugup dan langkah berat, ia memasuki kelas dan wajah pertama yang ia cari adalah wajah Anugrah. Tiara langsung sumringah melihat penolongnya hadir di kelas hari ini.
“Ini!” Tiara menyerahkan kotak bekal yang ia buat khusus untuk Anugrah karena sudah membelanya.
Anugrah menatap sekilas pada gadis yang sedang menunduk lalu pada kotak bekal itu.
“Aku sudah makan.” ucap Anugrah kembali mengabaikan gadis itu.
Satu hal yang membuat Anugrah tidak menyukai teman wanita adalah karena dia yang terlalu menyayangi ibunya. Dia tidak mau memberikan kasih sayang selain pada ibunya. Tanpa Anugrah ketahui bahwa sifat suka pada lawan jenis akan hadir dengan sendirinya tampa ia duga. Mungkin untuk saat ini, Anugrah belum merasakan perasaan itu atau yang biasa disebut masa puber. Anugrah masih merasa dirinya sebagai anak SD yang belum terpikirkan untuk berpacaran apalagi saat berbalas pesan dengan kakaknya. Dia kerap mendapat nasehat untuk menjauhi perbuatan zina termasuk pacaran.
Selama menjadi mahasiswa hati Iskandar mulai terbuka. Banyak hal yang ia peroleh termasuk dalam menjalin hubungan antara sesama manusia. Dia mulai membangun kembali hubungannya dengan sang adik. Mahasiswa Indonesia banyak yang mengikuti kajian-kajian keagamaan yang dipimpin oleh seorang tokoh agama yang berasal dari Indonesia. Dari sanalah, Iskandar mendapat banyak petuah selain dari isi kitab dan buku yang ia pelajari.
“Ilmu yang kamu miliki akan diminta pertanggung jawabannya kelak di akhirat. Oleh sebab itu, manfaatkan ilmu tersebut untuk saling mengingatkan untuk sesama. Tidak perlu jauh-jauh, mulai saja dulu dari orang-orang terdekat seperti keluarga, kakak, adik dan teman. Satu amal dari kamu mampu merubahnya maka selama ia mengamalkan ilmu tersebut maka pahalanya akan mengalir untuk kamu juga.”
Hubungan yang dulunya dipenuhi dengan kebencian kini di saat mereka sudah beranjak dewasa. Hubungan itu perlahan membaik dipenuhi dengan berkah dan kasih sayang yang Allah SWT tumbuhkan dalam hati ke duanya.
__ADS_1
Hari berlalu namun kebencian dari sebagian orang masih terus bersemayam di hati mereka yang bebal. Anugrah yang sedang menikmati mie ayam di kantin tiba-tiba didatangi oleh Arash cs. Anugrah tetap santai walaupun teman-temannya memilih pindah dari sana.
“Urusan kita belum selesai, ayo kita ketemu di luar sekolah!” ajak Arash.
“Sorry, Kak. Aku tidak bisa!” Arash menahan kesal, dia tidak menerima penolakan apalagi dari adik letingnya.
“Loe takut?” sindir Gery.
“Tidak!”
“Terus kenapa loe gak mau ketemu di luar? Oh, gue lupa kalo kita lagi ngajakin anak papi ketemuan. Pasti dia dilarang papinya main.” Sahut Dimas mencoba memprovokasi namun sayangnya tidak berhasil.
Anugrah menyelesaikan makannya lalu meninggalkan Arash cs yang terlihat memendam kesal padanya.
“Gimana, Rash?” tanya Dimas menatap kepergian Anugrah.
“Kita cari cara lain.”
Setelah kejadian kemarin, sekolah semakin ketat mengawasi para siswa selama dalam lingkungan sekolah. Citra sekolah mereka yang selalu disiplin harus dipertahankan jangan sampai dirusak oleh segelintir siswa. Tekad itulah yang selama ini teguh diperjuangkan oleh kepala sekolah hingga namanya dikenal sebagai kepala sekolah terbaik se-tingkat nasional.
Sebagai siswa baru, Anugrah cukup terbilang berani menjalani hari-harinya di sekolah tersebut. Bahkan ia tidak memerlukan tema untuk hanya sekedar ke kantin dimana banyak kakak leting yang mendominasi.
Bugh…
“Hei, kamu anak baru? Kalo jalan pake mata!” bentak Mauren yang merupakan siswa kelas tiga pada Tiara.
“Maaf, Kak. Aku udah jalan hati-hati cuma kakak saja yang tidak lihat.” Tiara membela diri.
“Berani ya kamu sama kami? Kamu gak tahu kami siapa?” Mauren menarik kerah seragam Tiara hingga membuat Tiara mendongak menahan perih di lehernya.
“Memangnya siapa kamu?” tanya Anugrah yang sudah berdiri di belakang Mauren.
Mauren dan ke dua temannya serentak berbalik badan dan –
Pandangan Mauren yang tadinya bengis serta penuh amarah tiba-tiba berubah.
“Wow, adik leting tampan penakluk Arash cs. Hai, sepertinya kita harus kenalan secara resmi.” Ucap Mauren lembut lalu mendekati sang adik leting.
Anugrah menatap tajam pada Tiara yang masih berdiri di sana, “Tunggu apa lagi, sana masuk kelas!!!”
Tiara terlonjak kaget dan Mauren serta dua temannya juga ikut merasakan hal yang sama. Bahkan, wajah Anugrah terlihat memerah hingga membuat dua teman Mauren yang bernama Renata dan Leni bergidik ngeri.
“Serem amat,” bisik Leni.
Sementara Mauren justru tersenyum senang menatap penuh arti pada sang adik kelas.
“Jadikan aku pacarmu!!!”
***
__ADS_1