
Dua keluarga berbeda dengan persoalan berbeda. Di Aceh, Cut sedang bergulat memperebutkan hak asuh dengan mantan mertuanya sedangkan di pulau Jawa, Rendra sedang berkutat dengan berbagai pemikirannya saat faktor utama yaitu komunikasi antara pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh terputus oleh satu pihak.
Ya, sudah beberapa hari ini Cut tidak memperdulikan pesan atau panggilan dari Rendra. Ia fokus pada sang putra dengan ketakutan yang terus menghinggap di kepalanya jika Iskandar akan diambil oleh sang mantan mertua. Persidangan terus berlanjut dan konflik keluarga tidak bisa dihindari. Mantan mertuanya terlibat perang saudara dengan Mak Cek Siti dan Pak Cek Amir. Mereka adalah saudara kandung tapi Mak Cek Siti tidak bisa membiarkan abang kandungnya merebut putra dari keponakan suaminya.
“Siti, seharusnya kamu tidak membiarkan ini terjadi. Kamu sudah menghancurkan hubungan persaudaraan kita. Orang tua kita pasti sangat kecewa dan sedih di dalam kubur melihat kita berseteru seperti ini karena kamu lebih memilih pria itu untuk merawat cucu kami, cucumu sendiri. Pria asing lalu dibawa ke tempat jauh. Apa kamu tahu, cucu kita bisa saja dipukul atau dibentak suatu saat nanti. Dia itu tentara sudah pasti sikapnya keras sama seperti saat mereka bertugas dulu di sini. Kalau sampai nanti terjadi sesuatu sama Iskandar, kamu yang harus bertanggung jawab, Siti!”
Dua keluarga bertemu saat menghadiri sidang pagi ini. Sebelumnya, mereka sudah lebih dahulu melakukan mediasi hingga tiga kali pertemuan. Tapi sampai sekarang belum juga menemukan titik temu dari kedua belah pihak. Semua tetap pada pendiriannya ditambah dengan segala pertimbangan yang seakan berpihak pada Cut selaku ibu kandung membuat peluang menang lebih besar. Namun, pihak mantan mertua Cut justru melampirkan laporan medis tentang kondisi Cut pada hakim hingga mengharuskan dr Guney selaku dokter yang menangani Cut turut dipanggil ke persidangan.
“Maafkan kami karena sudah membuat Dokter terseret ke dalam masalah ini.” Pak Cek Amir meminta maaf mewakili keluarga. Beliau sebenarnya ingin mengakhiri ini dengan baik-baik tapi pihak abang iparnya justru tidak mau. Mereka akan mengakhiri ini jika Iskandar diserahkan pada mereka dan itu mustahil untuk dilakukan.
“Sebagai seorang dokter, Saudara pasti tahu betul kondisi tergugat. Apa benar jika kondisi tergugat seperti yang dilaporkan oleh penggugat?”
Dr Guney menarik nafas dalam, “Kondisi saudari Cut cukup baik seperti hasil yang saya serahkan ke pada Bapak Hakim. Sebulan sekali, Cut tetap menjalani pemeriksaan rutin hingga dinyatakan sembuh total dengan hasil foto yang dilakukan setiap enam atau satu tahun sekali.”
__ADS_1
“Apakah memungkinkan jika Saudari tergugat menggendong atau mengurus bayi berumur setahun lebih tersebut?” tanya hakim kembali.
“Sangat mungkin karena kondisi yang dialami oleh Cut bukan penyakit bawaan. Sejauh ini progresnya sangat baik dari sebelumnya. Semakin hari kondisinya semakin baik, Pak Hakim."
Setelah mendengar keterangan dari dr Guney, pengadilan akhirnya memutuskan untuk membacakan hasil sidang minggu depan. Dan setelah menunggu selama seminggu dalam keadaan tegang, kalut, gelisah hingga benar-benar melupakan telepon dari sang calon suami.
“Apa kamu tega memisahkan kami dengan Iskandar? Suatu hari nanti dia akan bertanya padamu tentang kami. Dan apa kamu akan mengatakan jika kamu lebih memilih pria lain dari pada kakek-neneknya?” Ibu Murni datang bersama keluarganya.
Walaupun masalah perebutan hak asuh Iskandar sudah bergulir ke meja hijau. Mereka tetap melakukan pendekatan secara pribadi dengan datang ke rumah Mak Cek Siti. Mereka juga kerap menjemput Iskandar untuk dibawa bermain. Cut dengan hati lapang membiarkan mereka membawa Iskandar karena dia memang tidak berniat memisahkan Iskandar dengan mereka. Ibu Murni menatapnya dengan tatapan tidak suka terhadap Cut.
Cut yang sedang bermain dengan Iskandar hanya mendengar dalam diam semua yang dikatakan oleh mantan ibu mertuanya. Mak Cek Siti sudah berangkat ke kantor sedangkan Faris dan Intan sudah ke sekolah. Hanya tinggal Cut dan Iskandar yang berada di rumah. Mantan mertuanya memang sengaja datang saat Mak Cek Siti tidak di rumah untuk memudahkan mereka mempengaruhi Cut.
Cut melirik mantan bapak mertua yang sedang bermain dengan Iskandar. Mereka tampak bahagia. “Lihat mereka! Apa kamu tega memisahkannya?”
__ADS_1
Ibu Murni menggenggam tangan Cut lembut, “Tolong, Nak. Kami sangat menyayangimu dan juga Iskandar. Ibuk tidak tahu apa yang akan terjadi jika Iskandar pergi dari kami. Di sisa umur kami, tolong berikan Iskandar untuk kami. Julie dan Adi juga sangat menyayanginya. Iskandar tidak akan kekurangan apapun bersama kami.”
“Nak, tolong pikirkan kembali. Apakah calon mertuamu tidak keberatan jika kamu membawa anakmu bersama kalian? Seorang ibu pasti menginginkan cucunya sendiri bukan anak dari suami sebelumnya. Sangat jarang kalau ada orang tua yang rela menerima cucu dari suami pertama menantunya. Pikirkanlah, Cut. Kamu seorang ibu. Apa kamu akan membiarkan Iskandar merasakan sikap acuh mereka yang dipanggilnya kakek dan nenek? Dia pasti akan bertanya padamu, Cut? Kenapa kakek neneknya bersikap begitu? Apa mereka tidak menyayanginya? Saat itu, apa yang akan kamu jawab? Apa kamu akan mengatakan jika mereka bukan kakek neneknya? Lalu bagaimana perasaanya?”
Cut dilema, semua yang dikatakan oleh mertuanya masuk akal dan semakin membebani pikirannya. Di saat yang sama, Rendra juga sedang gelisah memikirkan nasib cintanya. Kegelisahannya mengenai Cut sudah terjawab setelah berbicara dengan Mak Cek Siti karena Cut enggan bicara padanya. Maka setelah bermimpi buruk yang tidak seperti biasanya, Rendra langsung menghubungi telepon rumah Mak Cek Siti. Dari beliaulah, Rendra mendapatkan semua info tentang apa yang sedang terjadi di sana hingga Cut mengabaikannya.
“Gugup banget, Kak. Kayak sedang menghadap komandan ya?” goda Reni.
“Biasa saja.” Balas Rendra.
Kedua orang tuanya turun lalu mengambil posisi di depan sang putra. Bapak Wicaksono menetapa lekat sang putra yang terlihat percaya diri dan mantap mengambil jalan ini.
“Kapan kita akan berangkat?”
__ADS_1
***