
Aku menceritakan semua yang telah aku lalui dari pertama hingga pada akhirnya aku ditemukan oleh mereka di dalam gua bersama Teuku. Aku juga menceritakan tentang sosok Khalid yang berteman dengan almarhum Bang Ilham termasuk tujuannya menyuruh orang tua almarhum Jannah untuk menculikku. Tidak ada yang kulebihkan atau kukurangkan karena aku tidak tahu di mana harus mengurang atau menambah.
Pria bernama Wahyu tersebut juga bertanya bagaimana situasi markas mereka, senjata dan aku terkejut ketika dia menyebutkan dua nama dan yang satu pernah aku temui. “Bang Siregar?” ulangku ketika dia bertanya tentang pria yang berprofesi sebagai wartawan stasiun TV swasta di Jakarta.
Pak Wahyu mengangguk, “Malam pertama saya tiba di sana, saya sempat berbicara sebentar dengan beliau. Tapi hanya sebentar, setelah itu saya langsung dipanggil ke dalam tenda.”
“Apa beliau sudah ditemukan?” tanyaku penasaran.
“Belum, saat kami menyerang Kampung Uteun mereka yang berada di hutan sudah lari lebih dulu. Jadi kami tidak menemukan apa pun lagi saat tiba di sana. Jadi kamu juga tidak bertemu dengan teman Bang siregar yang bernama Ferry?”
“Jangan menggeleng, ucapkan dengan kata karena alat perekam itu tidak bisa merekam gerakan tubuhmu. Dia hanya merekam suaramu.”
“Tidak, saya tidak pernah bertemu dengan teman Bang Siregar yang bernama Ferry tersebut.”
“sebenarnya yang kami cari itu mereka. Bang Siregar dan teman kameramennya yang bernama Ferry. kami tidak menemukan mereka justru kamu yang kami temukan. Bagaimana kondisimu sekarang? Apa kamu akan kembali ke Kampung Sagoe lagi?”
“Saya sudah pulih. Kapan saya bisa kembali ke Kampung Sagoe lagi?”
“Sepertinya itu hal yang tidak mungkin untuk saat ini. Kamu dan kedua orang tuamu mungkin akan di tempatkan di sekitar wilayah militer karena permintaan seseorang.” aku terkejut mendengarnya.
“Untuk sementara cukup di sini. Saya rasa kamu perlu banyak istirahat. Saya tidak mau Rendra mengamuk kalau membuat kamu kelelahan dengan pertanyaan-pertanyaan saya.”
“Apa Khalid sudah tertangkap?” sepertinya aku salah bertanya. Buktinya, ketiga pria berbaju loreng itu kembali menatapku dengan tatapan menyelidik.
“Belum, Rendra sedang mencarinya hari ini. Kenapa kamu ingin tahu tentangnya?” pria yang tadinya sudah bangkit dari duduknya kini kembali menduduki bangku tersebut.
“Saya hanya ingin tahu. Karena saya takut jika dia belum ditangkap. Satu lagi, apa pemilik rumah tempat saya ditemukan juga ditangkap?”
__ADS_1
“Mereka mertua dari Khalid. Dan kamu bisa selamat karena kemarahan seorang ibu yang tidak ingin putrinya dimadu.”
“Apa Kak Halimah juga ditangkap?”
“Dia tidak ada di sana. Orang tuanya mengatakan jika ia sudah beberapa hari pergi bersama suaminya ke hutan. Mereka tidak bisa mengeluarkanmu dari gua karena anak buah calon suamimu terus berjaga di sekitar kampung.”
“Apa saya boleh menjenguk merek?”
“Nanti saya tanyakan dulu sama atasan. Jika dibolehkan nanti kami akan menjemput kamu.”
“Terima kasih.”
“Istirahatlah! Kami permisi dulu.” aku mengangguk kecil. Setelah merapikan barang-barangnya mereka langsung pergi. Tak lama setelah kepergian mereka, Umi dan Abu juga Teuku masuk ke kamar.
“Bagaimana, Cut? Apa yang mereka tanyakan? Kapan kita bisa kembali ke Kampung?” pertanyaan beruntun dari Umi yang terlihat cemas.
“Sudahlah, yang terpenting saat ini kesembuhan kamu dulu. Kita ikuti saja peraturan mereka yang penting kita bersama. Abu belum siap jika harus berpisah lagi dengan kalian.”
“Apa kamu menceritakan semuanya?” tanya Umi kembali.
Aku mengangguk pelan, “Sebenarnya yang mereka cari itu para wartawan dari TV Jakarta yang di sandera oleh orang-orang Khalid. Orang-orang Khalid sudah lebih dahulu lari sebelum para tentara itu tiba. Jadi mereka tidak menemukan para sandera malah menemukan Cut. Itu pun karena Teuku yang terus menangis. Jika suara bom itu tidak mengejutkan Teuku yang lagi tidur mungkin saat ini kami masih di dalam gua itu.”
“Ini semua kehendak Allah. Doa kami, kerabat serta warga kampung yang tulus selalu kami panjatkan kepada Allah SWT. Kami meminta, berharap supaya Allah membuka jalan untukmu dan Teuku.” ucap Abu.
“Iya Abu, Cut tidak pernah berhenti mengucap syukur untuk kesempatan hidup yang kedua kalinya ini. Jika dulu, Cut tidak terlalu takut karena ada Umi dan Abu di samping Cut tapi kemarin Cut sangat takut. Cut hanya berdua dengan Teuku. Tidak ada yang bisa Cut lakukan selain menangis dan berdoa memohon keselamatan dari berbagai mara bahaya yang mungkin menimpa kami di sana. Cut tidak bisa membayangkan jika Khalid berhasil menemukan kami. Dia laki-laki yang sangat kasar, Abu, Umi. Dia sangat menakutkan, Cut tidak tahu nasib Kak Limah saat menjadi istrinya.”
“Sudahlah, jangan berpikir terlalu jauh. Kita doakan saja semoga dia mendapat hidayah lalu sadar dan menyerahkan diri pada aparat pemerintah. Apa yang bisa diharapkan dari pemberontakan ini. Keadilan apa yang mereka cari dengan mengangkat senjata. Bukan keadilan yang didapat melainkan nyawa orang-orang yang tidak bersalah ikut melayang akibat ulah mereka.”
__ADS_1
“Apa dia belum tertangkap?” tanya Umi.
“Bapak tadi mengatakan belum. Mereka masih mencarinya.”
“Cut hanya takut, Umi. Jika keluar dari sini terus dia masih mencari Cut. Cut takut bertemu kembali sama dia.” Aku sudah menangis dalam pelukan Umi. Setelah beberapa hari dirawat di sini baru kali ini aku meluapkan perasaanku pada mereka. Selama ini aku belum bercerita dan mereka juga tidak menanyakan apa-apa padaku.
Umi mengusap-usap punggungku dengan lembut dan itu sangat menenangkan. “Kamu adalah gadis yang kuat dan semua orang mengakuinya. Dokter dan para perawat juga mengatakan jika kamu gadis yang kuat. Kamu dan Teuku adalah manusia yang kuat yang sanggup bertahan berhari-hari di dalam gua sempit itu. Mereka sangat bangga padamu dan Teuku. Jadi, hilangkan ketakutanmu sekarang. Kita berada di tempat yang insya Allah aman dari pria itu.”
“Abu, Umi ada yang Cut belum beritahukan pada kalian.” Abu dan Umi menatapku lekat.
“Nama Teuku sebenarnya Teuku Muhamad Fikri.” Abu dan Umi tersenyum kecil dan itu membuat aku bingung. “Kami sudah tahu. Bukankah sebelumnya kita sudah bertemu mereka, apa kamu tidak ingat?” ucap Abu.
“Terus kenapa Abu tidak mencegah Cut memberikan nama lain?” tanyaku penasaran.
"Karena nama yang kamu berikan juga tidak kalah bagus dari nama yang diberikan oleh orang tuanya."
"Bang Ilham dan istrinya pasti marah karena nama anaknya Cut ganti.”
“Banyak hal yang harus dia pertanggungjawabkan di dalam kubur. Teuku juga baik-baik saja dengan nama itu bahkan dia lebih pintar ditambah dengan nama Rendra.” entah mengapa aku merasa kata-kata Abu seperti mengandung sindiran halus yang tertuju untukku. Ingin rasanya aku perjelas namun urung kulakukan begitu melihat senyum kecil Abu dan Umi yang mengandung banyak arti.
“Kedua orang tuaku memang unik.” batinku.
***
LIKE...LIKE...LIKE...
__ADS_1