
Waktu seakan terhenti bagi sebagian orang yang tidak siap menerima kenyataan. Beberapa dari mereka mengalami gangguan jiwa setelah kehancuran Aceh saat itu.
“Kiamat…”
“Kiamat…”
Seorang pasien laki-laki di ruang rawat rumah sakit mulai meracau lalu berlari keluar sambil meneriaki kata-kata ‘kiamat’. Jiwanya terlalu rapuh untuk menerima kenyataan hingga membuat jiwanya terganggu.
Anak-anak adalah jiwa yang paling rentan menerima kenyataan saat ini hingga para relawan memusatkan perhatian lebih kepada mereka. Diluar dugaan, anak-anak tersebut justru lebih kuat dari orang-orang dewasa. Mereka dengan mudah beradaptasi dengan keadaan ditambah banyaknya teman-teman yang senasib dengan mereka dalam satu tenda. Berbagai alat tulis, buku cerita, buku mewarnai diberikan relawan untuk menghibur mereka di bawah tenda pengungsian.
Setiap hari mereka akan ditemani oleh para relawan untuk bermain, bercerita hingga menggambar. Beberapa dari mereka ada yang terlihat berbeda. Anak-anak tersebut hanya duduk memeluk lutut sambil melihat teman-temannya bermain. Salah satunya ialah Teuku Rendra Muhammad Nur. Ya, bocah cilik itu berhasil selamat karena ikut berlari mengikuti orang-orang.
Pagi naas itu, ia sedang bermain di salah satu rumah temannya. Kehidupan anak-anak di kampung lamkot memang sangat menyenangkan. Setiap pagi Minggu, mereka akan bermain sepuasanya baik di rumah atau di lapangan yang tidak jauh dari sana. Setelah sarapan pagi, Rendra langsung menuju rumah temannya. Abu sedang memberi pakan bebek dan ayam di kandang belakang. Hanya Umi yang melihatnya pergi bersama teman-temannya yang lain.
“Sudah makan, Rendra?” tanya Umi saat sang cucu hendak pergi mengikuti teman-temannya.
“Sudah, Mak Nek. Abang pergi main ya?”
“Iya, jangan jauh-jauh!”
Semenjak usianya bertambah, Abu, Umi maupun Mae sudah memanggilnya dengan panggilan ‘Abang’ sebagai pertanda dia sudah besar. Sepeninggalan Rendra, Cut keluar bersama sang anak di gendongannya sambil menyuapi makan untuk Iskandar seperti biasa. Matanya masih sembab tapi ia tidak mau mengurung diri di kamar. Cut memilih untuk bermain bersama Iskandar di depan sambil memperlihatkan bebek dan ayam peliharan orang tuanya.
__ADS_1
Ketika anak dalam gendongannya asyik dengan bebek dan ayam, ia justru sedang melamun memikirkan sang suami dengan segala kebohongan dan pengkhianatannya. Walaupun berusaha tegar di depan kedua orang tuanya, ia tetap saja rapuh dan hancur. Berbagai kenangan bersama Faisal terukir indah dulu tapi kini justru menjadi goresan yang sangat melukainya.
Goncangan dahsyat dari dalam tanah menyadarkannya dari lamunan berkempanjangan. Ia menyeka air matanya lalu menatap sekelilinga. Ia terduduk seraya berucap tasbih memegangi tanah. piring ditangannya sampai jatuh ke tanah akibat goncangan yang begitu menakutkan. Abu segera berlari ke luar kandang dalam keadaan sempoyongan.
Sementara itu, Umi yang sudah terduduk di tanah terus memanggil sang suami, “Abu, si Abang di rumah temannya. Bagaimana ini?”
Setelah gempa berakhir, Abu segera mencari Rendra ke rumah temannya namun Rendra justru tidak berada di sana. Tetangga Abu yang merupakan orang tua dari teman Rendra tersebut mengatakan jika Rendra dan putranya telah dibawa oleh sang suami pergi memancing di sungai. Ini bukan pertama kalinya Rendra dibawa oleh tetangganya. Selama ini, Rendra selalu diajak jika mereka pergi karena putra mereka dan Rendra berteman baik.
Ditambah dengan status Rendra sebagai anak yatim di kampun Lamkot. Banyak warga yang sangat menyayanginya. Tidak jarang, di saat bermain Rendra sering mendapat uang jajan atau makanan ringan pemberian para warga yang melihatnya. Abu masih belum tenang memikirkan Rendra hingga berinisiatif mendatangi sungai tempat warga biasa memancing.
“Abu jemput Rendra dulu, tetap diluar jangan kemana-mana sampai Abu pulang. Assalamualaikum.”
Abu mengucap salam lalu mengayuh sepeda menuju sungai yang tidak jauh dari rumah mereka. sepeninggalan Abu yang baru beberapa menit, teriakan warga akhirnya terdengar oleh Umi dan Cut yang masih berada di luar rumah. Teriakan itu terus terdengar di setiap mulut orang-orang yang berlari seperti dikejar anjing.
“Air laut naik….”
“Air laut naik….”
Umi dan Cut keluar dari pekarangan rumah lalu melihat banyaknya warga yang berhamburan di jalan dan yang lebih mengagetkan adalah sebuah kapal besar seperti sedang mengejar orang-orang yang berlari tersebut. Akhirnya, gelombang air laut berwarna hitam dan terasa panas yang ternyata bernama Tsunami menerjang mereka dengan segala apa yang ada di depannya.
Amukan ombak tersebut berhasil memisahkan ibu dan anak dalam gendongan. Jerit tangis meminta tolong seakan sia-sia karena semuanya dalam kondisi yang sama. Hanya keajaiban Allah yang mempu menyelamatkan mereka. seperti yang terjadi pada Iskandar.
__ADS_1
Bayi yang terlepas dalam dekapan ibunya itu mengalami hal yang sulit dipercaya akal. Ia digendong oleh seorang nenek tua tampa terkena luka sedikitpun. Tidak ada yang bisa menceritakan kejadian ganjil tersebut tapi begitulah cara Allah yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Tidak ada yang tahu siapa dan dari mana nenek itu berasal. Mae sendiri yang sedang kalut saat itu karena memikirkan Abu sekeluarga juga tidak memperhatikan sosok tersebut dengan serius. Ia hanya ingin membantu menenangkan bayi kecil yang sedang menangis. Mae sendiri tidak menyangka jika bayi yang berada dalam gendongannya adalah si kecil Iskandar.
“Kenapa kamu tidak main?” tanya seorang gadis kecil seusia Rendra. Ia selamat bersama sang ibu. Ayah dan kedua kakaknya belum ditemukan.
Rendra hanya menatap teman sebayanya itu sambil menggelengkan kepala. Pikirannya terus terngiang tentan peristiwa naas hari itu. Di depan matanya, ia melihat Abu terbawa air, ayah dari temannya juga terbawa air. Dan yang lebih menyakitkan adalah ia tidak bisa menolong temannya saat keduanya terbawa air. Ia selamat setelah ditarik oleh seorang laki-laki dari atas toko lantai dua sementara temannya tidak tertolong.
Hari-hari terasa berat bagi mereka yang merasakan langsung apa yang terjadi saat gempa dan tsunami menerjang Aceh pada pagi Minggu. Hari-hari berikutnya juga masih terasa berat bagi mereka yang masih hidup karena pada memori di otak manusia terlalu susah untuk dihapus. Bagi mereka yang tidak sanggup, maka rumah sakit jiwa akan menjadi tempat selanjutnya tapi bagi mereka yang sangup tentu akan menjadi pembelajaran yang sangat berharga.
Begitu juga dengan konflik yang sudah bertahun-tahun terjadi di Aceh. Pada akhirnya, Allah sebagai sang pencipta memberikan pelajaran bagi mereka dan kali ini apa yang Allah berikan berhasil membuat mereka menurunkan egonya dengan diakhirnya perang bersenjata di Aceh setelah bertahun-tahun tidak berhasil menemukan titip temu.
Sebuah keajaiban di balik kesedihan yang seharusnya sangat disyukuri oleh segenap warga namun rasanya ini seperti terlambat. Kenapa harus menunggu kemurkaan sang pencipta dulu baru mereka sadar?
Perdamaian yang dulu sempat mustahil terjadi tapi dengan kehendak Allah SWT. Akhirnya, perdamaian itu terwujud. Walaupun di beberapa tempat masih terdengar sesekali letusan senjata api hingga akhirnya mereka mencapai kesepakatan damai yang di tanda tangani oleh petinggi kedua belah pihak di luar negeri.
Lagi-lagi mata dunia kembali ke Aceh dimana dengan segala kekuatannya, Aceh masih tetap seperti zaman Belanda yang sulit untuk dijajah. Tidak ada kata kalah bagi para pemberontak yang sebenarnya hanya menuntut keadilan atas daerah mereka. Pihak pemberontak sepakat untuk menyerahkan seluruh senjata untuk dimusnahkan di depan umum tapi tidak dengan Khalid.
"Mereka berhasil mengelabui kalian tapi tidal denganku!"
__ADS_1
***