
“Bukankah dalam Islam, seorang laki-laki bisa menikahi lebih dari satu wanita?” tanya Mala dengan tatapan seakan sedang menantang Khalid.
Sudut bibir Khalid tertarik kecil mendengar ucapan sang gadis yang sepertinya enggan menyerah. “Apa kamu siap dimadu? Saya tidak yakin kamu mau berbagi suami dengan wanita lain.”
“Kalau Abang tidak percaya, ayo kita menikah sekarang?” ucap Mala lantang seakan semua yang ia katakan begitu mudah untuk dijalani.
Khalid menatap Mala seakan tidak percaya dengan kata-kata yang keluar begitu saja dari mulutnya.
“Bagaimana jika saya menikahi kamu dan tiga gadis lain di kampung ini di waktu yang sama, apa kamu mau?” tantang Khalid.
“Tidak masalah. Yang penting Mala bisa menikah sama Abang. Mala sudah lama menyukai Abang dan semakin hari rasa suka Mala semakin besar.”
Khalid menatap lekat wajah cantik di depannya. Mala ibarat bunga yang sudah mekar dengan keharuman yang memancar. Kulitnya berwarna coklat dengan rambut panjang sepinggang serta hidung mancung dengan bibir tebal khas wanita India. Alis tebal berwarna gelap dengan mata sayu dan bulu mata panjang semakin menambah nilai kecantikan yang ia miliki.
Seorang laki-laki normal mana pun tanpa terkecuali Khalid pasti memiliki penilaian yang sama saat melihat Mala. Seperti saat ini, jiwa laki-laki Khalid tentu sangat membara saat di depannya berdiri seorang gadis manis ditambah dengan aroma cengkeh dalam bakul yang ia pegang.
“Pulanglah!” Khalid mundur lalu memutus tatapan mereka. Ia kembali memungut kelapa tanpa peduli lagi dengan Mala.
“Kenapa Abang menghindar?” tanya Mala penasaran.
“Pulanglah!”
“Tapi Abang belum memberikan jawaban.”
“Pulanglah! Nanti kamu akan tahu jawabannya di rumah.”
Senyuman indah kembali terbit di bibir Mala seiring langkahnya berjalan pelan meninggalkan Khalid. Sementara di rumah Keuchik Banta sedang terlibat pembicaraan serius dengan sang istri.
“Tidak enak rasanya jika kita meminang sementara Abu Syik sudah meminang terlebih dahulu.” Keuchik Banta memberikan pengertian kepada sang istri.
__ADS_1
“Seharusnya dari dulu kita meminang Khalid, Abu malah tidak peduli sama sekali pada putri kita.”
“Bukan tidak peduli, Umi. Tapi Abu merasa tidak enak. Abu tidak mau Khalid beranggapan jika pinangan kita sebagai bentuk tagihan pembayaran untuk mereka tinggal.”
“Tidak ada yang memikirkan seperti itu, Abu saja yang mengada-ngada. Sekarang, dia sudah dipinang oleh Abu Syik. Kita bisa berbuat apa? Tidak mungkin kita meminta supaya Ceudah dijadikan istri ke dua. Apa kata orang-orang kampung nanti.”
Tanpa mereka sadari, tiga pasang mata sedang mendengar pembicaraan mereka dari tempat yang berbeda. Cut yang selama ini tidak pernah mencuri dengar pembicaraan orang tua tersebut kini malah ikut-ikutan gara-gara paksaan oleh Putro Tari.
Dari sudut rumah yang lain Khalid tanpa sadar ikut mendengar pembicaraan Keuchik Banta bersama istrinya. Dari dalam kamar, Ceudah juga ikut mendengarkan.
“Jadi bagaimana, Abu? Umi rasa Abu Syik tidak keberatan jika Khalid juga menikahi putri kita.”
“Sudahlah, Umi. Kita tidak boleh memaksa Khalid untuk menikahi Ceudah. Dia bukan Husna yang bisa kita paksa untuk menikah. Khalid tidak memiliki kewajiban untuk mengikuti kemauan kita. Husna lebih berhak malah tidak mau pulang setelah tahu akan dijodohkan.”
“Kita sudahi saja pembicaraan ini. Abu tidak mau anak-anak ataupun Khalid mendengar pembicaraan kita. Sebentar lagi dia pulang. Lebih baik Umi siapkan makanan. Dia pasti sudah kelaparan setelah memanjat kelapa.”
“Kak Cut mau ke mana?” teriak Tari saat dari jendela.
“Sebentar, Kak Cut lupa mengambil barang.” bohong Cut.
Di bawah pohon jati tidak jauh dari pinggir pantai, Khalid duduk seraya menatap laut. Banyak hal yang ia pikirkan selama ini.
“Kapan Abang mau membawa saya ke kota?” Khalid tersentak dari lamunannya.
Setelah sekian lama, baru kali ini ia mendengar Cut kembali memanggilnya ‘Abang’. Berbagai harapan muncul apalagi Cut kini duduk di sampingnya tanpa segan. Khalid memutus tatapannya, ia kembali menatap laut dengan seutas senyum di wajahnya.
“Besok kita berangkat, nanti sore saya akan bicara sama Bang Mayed supaya kita bisa ikut boatnya.”
__ADS_1
Cut terpaku dengan pikiran serta perasaan aneh. “Abang ingin pergi juga dari sini?”
“Iya.”
“Kenapa? Abang tidak mau menikahi mereka?”
Khalid menatap wanita yang sudah lama mengisi hatinya dengan kening berkerut. “Sekalinya kamu bicara malah ingin tahu banyak. Jangan terlalu larut dalam urusan orang-orang di sini. Abang membawa kamu kemari supaya tidak dibawa sama pria itu. Bukan untuk mencampuri urusan orang di sini.”
“Cut sudah bilang tidak akan menikah dengan tentara itu. Yang penting Cut pulang ke tempat Abu dan Umi. Tapi, bagaimana dengan Abang? Apa Abang akan meninggalkan mereka begitu saja? Mereka sangat berharap Abang menikahi putri mereka.”
“Kamu sendiri? Apa yang kamu harapkan dari Abang?” tantang Khalid yang membuat Cut tersenyum kaku.
“Bawa Cut pulang! Andai orang-orang kampung di sini tidak tahu kalau Cut sakit pasti dari dulu Cut sudah kembali ke kota. Ini semua gara-gara Abang.”
“Semua ini untuk keselamatan kamu sendiri. Berapa kali Abang harus jelaskan jika hubungan kalian itu bisa berbahaya buat keluarga kamu. Apa kamu tidak menyadari? Pemberontak itu bukan Cuma Abang. Setiap warga yang dekat dengan tentara tidak akan luput dari pantauan mata-mata pemberontak. Kalau hubungan kalian aman, kenapa tentara itu harus menyamar menjadi orang gila hanya untuk menemui Abu di ruko?”
“Hah.... Rendra jadi orang gila?”
“Ck...jadi namanya Rendra?”
Cut menelan salivanya saat tanpa sadar menyebut nama Rendra begitu saja di depan Khalid.
“Cut, Abang terima kalau kamu tidak mau menikah sama Abang tapi jangan sama tentara. Mereka itu jahat. Abang tahu tidak semua begitu sama halnya dengan kami. Tidak semua dari kami juga begitu. Tapi, melihat bagaimana Ilham dan keluarganya meninggal, teman-teman yang selama ini sudah berjuang susah payah. Bagaimana mereka menyiksa Halimah. Memperkosanya secara bergilir secara biadab. Bagian mana dari hati Abang yang bisa mengatakan jika mereka baik? Kamu mungkin hanya melihat sisi baik saat mereka bertugas di kampung. Yang lebih parah ketika mereka mengambil satu persatu para ayah di tengah malam dengan kata-kata “Kami pinjam Bapak sebentar,” pada istri dan anak-anak di rumah. Lalu suami atau ayah mereka tidak pernah kembali. Apa itu namanya meminjam?”
“Bukannya orang-orang Abang juga melakukan hal yang sama?”
Khalid menghela nafasnya sesaat. “Cut, ada banyak hal tentang kami yang tidak kamu tahu. Para pejuang seperti kami ada beberapa kelompok. Ada yang benar-benar berjuang untuk kepentingan Aceh ada juga untuk kepentingan mereka sendiri dengan mengatas namakan kami. Pekerjaan mereka adalah meneror warga, meminta-minta sumbangan untuk perjuangan dan kadang-kadang mereka juga membunuh atau menculik. Mereka sering disebut ‘Cantoei’”
***
LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...
__ADS_1