CUT

CUT
Status Istri Tentara...


__ADS_3

“Apa rencanamu selanjutnya?” untuk pertama kalinya mereka duduk berdiskusi tentang masa depan  bersama di ruang tamu rumah dinas.


“Aku ingin menerima tawaran dari temanmu, apa kamu bisa membantuku menghubunginya?” Anugrah menatap istri rasa orang asing di depannya.


“Untuk hidup kamu tidak bisa mengandalkan hanya dari penghasilan nyanyi di café. Bukan aku meremehkan gajimu di sana tapi realistis saja saat ini semua butuh uang. Bahkan setelah kita bercerai, kamu harus mencari kontrakan dan sebagainya.”


“Iya, aku tahu.” Lirih Wulan.


“Begini saja, bagaimana kalau kita bercerai setelah kamu benar-benar siap secara keuangan? Dengan begitu kamu masih bisa tinggal di sini dan secara status kamu juga akan sedikit terlindungi, bagaimana?”


“Aku juga tidak bisa melepasmu begitu saja. Orangg tuaku sudah berjanji pada ibumu dan aku juga tidak mau melanggar janjiku padanya.” Lanjut Anugrah.


“Baiklah, aku setuju.”


“Karena kamu sudah sembuh walaupun belum bisa lari maraton, mulai besok aku akan menempati kamar sebelah. Sebelum ke café temanku, kita pergi beli tempat tidur satu lagi untukku. Apa kamu keberatan?”


“Tidak.”


“Terima kasih, A.” Langkah kaki Anugrah terhenti saat ia hendak menuju dapur. Ia menoleh ke belakang. “Itu tanggung jawabku, tidak perlu berterima kasih.” Ucapnya lalu kembali berjalan menuju dapur.


Wulan sudah dinyatakan sembuh dan kondisinya sudah mengalami peningkatan yang cukup signifikan walaupun seperti Anugrah katakan. Dia belum bisa lari maraton tapi dia sudah bisa berjalan dan melakukan aktifitas ringan dengan kakinya sendiri.


Keesokan harinya setelah makan siang, Anugrah dan Wulan langsung pergi ke toko perabotan rumah tangga. Berhubung mereka mencari tempat tidur untuk Anugrah jadi waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama. Sempat terjadi kesalah pahaman di sana saat pegawai toko mengira jika mereka sedang mencari ranjang untuk pengantin baru.


“Maaf, Mbak. Kami pengantin usang.” Seloroh Anugrah membuat sang pegawai terkejut.


“Mas sama Mbak mencari model seperti apa?”


“Untuk anak laki-laki, Mbak.”


“Ouh, untuk anaknya? Wah, baru kali ini saya bertemu pasangan seawet Mas dan Mbak. Udah punya anak tapi badannya bagus-bagus begini.” Ucap pegawai yang berpikir kalau Anugrah membeli tempat tidur untuk anaknya.


Saat berjalan ke luar, mata Anugrah melirik sebuah toko. Ia pun teringat sesuatu lalu mengajak Wulan ke sana.


“Selamat siang, Mas, Mbak. Mau cari Hp merek apa?”


“Aku beli yang standar saja ya?”


“Hah?” Wulan terkejut.


“Aku beliin yang standar saja ya?”


“Kamu mau beli Hp buat aku?”


“Hem, Mbak, tolong yang merek camcung terbaru ya!” pinta Anugrah pada pegawai di toko ponsel bermerek dari Korea itu.


Pegawai tersebut memperlihatkan beberapa contoh dan list harganya pada Anugrah. Setelah melihat-lihat sebentar, “Aku beli yang harganya lima jutaan aja ya?”


“Hah?”


“Tolong, Mbak! Yang ini saja.”


Wulan seperti belum sadar dari apa yang barusan ia dengar. Sebelum kecelakaan, ia hanya memiliki ponsel merek negara panda yang harganya hanya sejutaan. HPnya sudah hancur kala itu dan selanjutnya ia tidak pernah memegang Hp lagi bahkan keinginan untuk membelinya saja tidak. Tapi hari ini, Anugrah malah membelikannya Hp yang katanya standar dengan harga lima jutaan yang ia sendiri tidak mampu membelinya. Apalagi untuk Hp, lebih baik uangnya ia simpan.


“Ayo!” ajakan Anugrah membuat Wulan terkejut lalu kembali berjalan menuju parikiran.

__ADS_1


Mobil melaju dalam kecepatan sedang diiringi suara musik. Sementara para penumpangnya memilih diam tanpa kata hingga mereka tiba di salah satu café.


“Selamat datang, Mas Bro. Akhirnya penantianku berakhir juga.” Ucap  teman Anugrah yang bernama Danu.


“Terima kasih, Wulan. Semoga kita dapat bekerja sama dengan baik ya! Ayo, duduk dulu!”


“Mau minum apa?” tanya Danu.


“Yang dingin, Dan.”


“Es lemon tea?” keduanya mengangguk. Ia segera meminta pelayan café untuk membutkan pesanannya. Sementara Anugrah sedang melihat-lihat suasana café yang cukup romantis dan hangat.


“Jadi istrimu sudah sembuh benar, A?”


“Seperti yang kamu lihat tapi dia belum bisa mengangkat yang berat-berat atau lari maraton.” Danu tertawa kecil.


“Apa ada kontraknya?” tanya Anugrah.


“Aku sudah buatkan, sebentar!”


“Apa yang kamu rasakan?” tanya Anugrah.


Sejujurnya ini pertama kali untuk Wulan terjun ke dunia nyanyi sendirian. Ia takut, cemas dan gugup tapi ia tidak mungkin mengatakannya pada Anugrah tentang kegundahannya saat ini. Anugrah membaca surat perjanjian kontrak yang diserahkan oleh Danu secara saksama. Di sana juga tertera jadwal kerja serta besaran gaji yang akan di peroleh Wulan.


“A, maaf ini aku mau tanya. Apa istri tentara bisa kerja seperti ini?” Anugrah tersenyum, “Sebenarnya tidak boleh. Istri tentara punya aturan ketat apalagi menyangkut keluar rumah dan pulang malam. Tapi untuk istriku ada pengecualian.”


“Hebat banget ada pengecualian. Bukannya di sana semua aturan berlaku sama bagi setiap anggota?” Anugrah tersenyum kecil, dia tidak mungkin mengatakan alasan kenapa Wulan berbeda.


“Kamu tenang saja, aku pastikan Wulan akan selalu hadir mengisi tugasnya di cafému.”


“Tiga juta?” tanya Wulan hampir tidak percaya.


“Kenapa? Kurang ya?” tanya Danu bingung. Sebagai pengusaha, dia sudah meobservasi dan mengevaluasi terlebih dahulu tentang besaran gaji yang harus dia keluarkan untuk setiap karyawannya.


“B-bukan itu. Ini cukup besar untuk aku yang pemula. Aku takut tidak bisa memberikan kinerja yang maksimal.”


Danu tersenyum, “Aku yakin kamu bisa! Kamu hanya belum terbiasa. Mau coba sekarang?” Wulan menatap Anugrah seakan meminta persetujuan. Pria itu pun mengangguk pelan.


Sore itu, Anugrah kembali dibuat terkagum-kagum dengan merduanya suara Wulan walaupun awalnya Wulan tampak ragu saat memegang mikrofon tapi setelah itu ia langsung bisa menguasai diri.


“Istrimu luar biasa, A.” Anugrah hanya tersenyum simpul mendengar Danu memuji Wulan didepannya. Beberapa pengunjung bertepuk tangan setelah Wulan selesai membawakan sebuah lagu. Dan saat iya hendak duduk, seorang pengunjung pria langsung menemui Danu yang masih duduk di meja yang sama dengan Anugrah.


“Maaf, Mas pemilik café ini ya?” tanya pria tersebut.


“Iya, Mas. Saya yang punya café ini. Kenapa, Mas?” jawab Danu bangun dari duduknya.


“Saya berniat melamar pacar saya di sini esok malam. Dan saya mau Mbak ini yang menyanyi untuk acara lamaran saya, bagaimana?” Danu menatap Wulan dan Anugrah bergantian.


Otak bisnisnya tentu saja sudah menghitung pendapatan yang akan masuk untuk acara itu. Anugrah mengangguk dan Danu langsung menyetujuinya. Pria itu tersenyum senang lalu setelah mengucapkan terima kasih ia langsung kembali ke mejanya.


“Apa aku bilang, kamu memang membawa keberuntungan untuk caféku.”


Setelah puas berbincang mengenai pekerjaan baru Wulan, mereka memutuskan untuk pulang. Wulan dan Anugrah kembali terdiam satu sama lain di dalam mobil hingga setelah melaksanakan salat magrib bersama, Anugrah baru mengajak Wulan bicara serius.


Wulan melihat Anugrah sedang membongkar ponselnya di ruang tamu. “Ada apa?” tanya Wulan karena tadi Anugrah mengajaknya bicara.

__ADS_1


“Ini kartu SIM dan memorimu di Hp lama. Maaf karena selama ini, aku memasukkannya dalam ponselku tanpa izinmu. Kalau tidak begitu, kartu SIMmu akan mati. Ini sudah aku masukkan kembali ke ponsel barumu. Tenang saja, aku tidak pernah membuka semua pesan dan galeri fotomu.” Anugrah menyerahkan ponsel baru yang tadi dia beli ke tangan Wulan.


“Terima kasih. Aku akan menggantikannya jika sudah punya uang nanti.”


“Aku membelikannya karena ponsel lamamu rusak gara-gara kutabrak. Tidak perlu kamu ganti karena aku sedang menggantikan kerugianmu akibat perbuatanku.”


“Baiklah!” Anugrah bangun dari duduknya hendak ke dapur tapi tangannya ditahan oleh Wulan.


“Apa benar tidak apa-apa kalau aku kerja di café? Statusku masih jadi istri tentara.”


“Tidak apa-apa. Komandanku tahu bagaimana hubungan kita.”


“Baiklah. Aku akan mengumpulkan uang secepat mungkin untuk bisa menyewa kamar kontrakan dan kita bisa langsung bercerai.”


“Em,” Anugrah melanjutkan langkahnya menuju dapur. Sesekali, ia menarik nafasnya dalam-dalam untuk menetralisir perasaannya yang tidak bisa ia jelaskan.


Di kediaman Faisal, Teuku yang sudah berdamai dengan masa lalu kini sedang memasukkan pakaiannya dalam koper. Ia akan pindah ke rumah Cut dan Rendra. Foto-foto itu seakan menyadarkannya bahwa di sanalah tempatnya. Sementara Ayu terlihat bersedih dengan keputusan Teuku. “Papa sudah mengatakan jika Mama harus bersiap, kan? Setelah mengetahui keluarganya, dia pasti akan kembali pada mereka dan kita tidak punya hak untuk melarangnya.”


“Mama hanya belum terbiasa, Pa. Pasti rasanya aneh saat dia tidak bersama kita lagi.”


“Papa juga, Ma. Tapi seperti yang Papa katakan tadi. Kita tidak punya hak untuk mencegahnya berkumpul dengan keluarga kandungnya.”


“Dia memang seharusnya pulang ke rumah Cut!” sela Kak Julie.


Teuku turun menenteng kopernya. “Mungkin sekarang aku harus menggatikan panggilanku untuk kalian. Terima kasih karena kalian sudah merawat dan menyekolahkanku sampai seperti ini. Aku tidak akan melupakan jasa kalian. Aku minta maaf kalau selama ini aku banyak berbuat salah dan membuat kalian kecewa. Sekali lagi terima kasih, Tante, Om.”


Ayu langsung memeluk Teuku. Tangisnya pecah dalam pelukan Teuku. Faisal sendiri tidak kuasa menahan sedih tapi inilah kenyataan yang harus ia dapatkan. Faisal menarik istrinya untuk melepaskan Teuku. “Kamu akan tetap kerja di rumah sakit kan?” tanya Faisal.


“Tentu, aku tidak mau menyia-nyiakan ilmuku dan uang yang kalian keluarkan untuk menyekolahkanku walaupun aku kecewa karena Om Faisal menutupi asal usul keluargaku. Aku permisi, assalamualaikum.” Ucap Teuku lalu pergi setelah mencium tangan Faisal, Ayu, Ibu Murni, Pak Fahri dan Tante Julie.


Air mata yang tertahan kini jatuh juga. Teuku tidak kuasa menahan air matanya saat ia sampai di dalam mobil.


“Maafkan aku, Om, Tante dan terima kasih!”


Sementara di kediaman Rendra, Iskandar sedang duduk bersama kedua orang tuanya sambil menunggu kedatangan Teuku.


“Pa, kenapa selama ini Papa tidak pernah menunjukkan foto dan video itu pada Mama?” tanya Cut. Ya, selain foto, Rendra juga memiliki video yang direkam oleh salah satu anggotanya tanpa Cut sadari saat itu. Bahkan, ia juga memiliki video saat bertugas di kampung Cut dulu.


“Papa tidak mau membuat Mama sedih dengan melihat video itu makanya Papa simpan rapat-rapat. Dan ternyata baru sekarang barang itu keluar dari persembunyiannya.”


“Mama bahagia?” tanya Rendra sementara Iskandar persis seperti lalat tak dianggap di sana.


“Senang banget, Pa. Makasih ya!”


“Belum jadi istri udah cium-cium, apaan itu?” cibir sang lalat yang tak dianggap.


“Mama kamu cantik dan menggoda. Pesonanya susah dilewatkan.” Balas Rendra tidak mau kalah.


“Ma, Mama kenapa minta Wulan untuk meninggalkan Anugrah?” Rendra terkejut dan langsung menatap sang istri.


“Lalu sampai kapan mereka mempermainkan pernikahan itu? Apa kamu berpikir rumah tangga mereka normal? Dua-duanya saling menyiksa. Apa kamu tahan melihat adikmu selamanya terikat dengan pernikahan tidak normal itu? Biarkan mereka berpisah dan mencari kebahagian mereka masing-masing.” Tegas Cut.


***


Pagi...bagi VOTE dong...

__ADS_1


__ADS_2