
“Kak, aku udah sampai. Kakak di mana?” tanya Dita via telepon seluler milik Dika.
“Aku sudah tunggu di depan mobil di depan pintu keluar.” Dita segera mengajak Dika menemui sang kakak.
Iskandar menatap sang adik sedarah yang baru keluar bersama seorang pria. Pandangan Iskandar tiba-tiba berubah saat menatap pria yang berjalan di samping Dita. Ia bahkan mengabaikan teriakan Dita dan memilih fokus pada pria itu.
Dika juga melakukan hal yang sama. Keduanya berhadapan seolah sedang menelisik wajah masing-masing.
“Kak, ini Dika. Dia yang menolongku kabur.”
“Mas, ini Kakakku! Namanya Iskandar.”
“Sahabat till jannah!” ucap keduanya bersamaan lalu mereka langsung berpelukan seperti dua insan kekasih hingga membuat Dita kebingungan. Mata mereka mulai basah diliputi rasa haru dan bahagia karena sudah lama Iskandar berharap bisa bertemu lagi dengan Dika.
“Aku mencarimu ke alamat yang kau tinggalkan tapi mereka bilang kamu sudah ke Jakarta.” Ucap Iskandar tanpa melepaskan pelukannya hingga membuat banyak mata tertuju pada mereka.
“Kalau kalian tidak ingin dibilang penyuka pisang lebih baik lepaskan pelukan kalian sebelum video kalian ini viral.” Celutuk Dita yang mulai tidak nyaman dengan tatapan orang-orang. Keduanya menyeka sudut mata mereka yang basah lalu tergelak bersama.
“Jadi ini adik kamu?”
“Ya bisa dikatakan begitu. Nanti aku ceritakan. Jadi pria penolong itu kamu? Hebat juga kamu bisa membawa kabur anak dokter terkenal.”
“Kebetulan aku juga cuti jadi ya sudah aku bantu saja. Aku juga bingung kenapa mau mmbantu dia tapi inilah hikmahnya mungkin. Allah SWT sudah mengatur pertemuan ini untuk kita. Bagaimana kabar sahabat yang lain? Kalian sudah sukses semua sekarang ya?”
“Ayo, nanti kita lanjut cerita sekalian aku mau membawamu menemui mereka.” Ketiganya meninggalkan bandara.
Dalam perjalanan, Iskandar menghubungi Ari, ia memberi kode pada Dita dan Dika untuk tidak berbicara.
“Assalamualaiku, Ri.”
“Walaikumsalam, Is. Ada apa?”
“Kamu di mana?”
“Aku di mess, kamu?”
“Lagi di jalan menjemput Dita. Oh ya, teman-teman mana?”
“Ada nih, semua lagi ngumpul. Entah apa yang terjadi, hari ini pada kompak ngumpul di mess.”
“Ouh baguslah. Sebentar lagi aku ke sana setelah mengantar Dita.”
“Oke.”
Setelah mengakhiri panggilannya, Iskandar menatap Dika dengan seutas senyum. “Kamu terlihat berbeda, Dik. Jauh lebih tampan.” Puji Iskandar.
“Kamu juga! terlihat berwibawa. Kamu kerja di mana?”
“Aku mengajar di salah satu kampus sama yang lain juga. Jadi kamu kerja di hotel?”
“Em, saat ke Jakarta aku kerja serabutan lalu bertemu teman dan dia ngajak aku ke Bali. Katanya, di Bali kita bisa menemukan pekerjaan yang tidak menuntut ijazah tinggi. Ya sudah, aku ikut ke sana dan bekerja sebagai tukang bersih-bersih di hotel itu lalu berbekal dari situ aku ikut ujian paket hingga bisa menaikkan jabatan di hotel menjadi karyawan yang agak bagusan dikit kerjanya. Lalu, Dita ini adik bagaimana? Setahuku, adikmu laki-laki. Apa dia sudah alih fungsi?”
“Yeee…enak saja bilang alih fungsi. Memangnya aku hutan? Kami itu saudara seayah hanya beda status saja. Kakak anak halal dan aku anak haram.”
Uhukkk…
Dika tersedak minumannya, ia menatap Iskandar yang sedang fokus menyetir. “Nanti aku ceritakan sekalian aku kenalkan dia pada kalian. Tapi sebelum itu, Ta, kamu gak punya penutup kepala gitu? Teman-temanku laki-laki semua.” Tanya Iskandar melirik Dita yang hanya memakai baju kaos dan celana jeans.
“Aku kabur gak bawa apa-apa, Kak. Duit juga Cuma sejuta dikasih sama Mama. Itupun gara-gara aku bilang di depan Mas Dika kalau aku tidak punya uang. Biar Mama gak malu makanya dia ngasih duit sama ponsel.”
__ADS_1
“Coba buka tas ranselku! Di situ ada kain bali, pakai saja kalau mau. Masih baru juga.” Dita membuka tas ransel milik Dika lalu menemukan apa yang ia cari.
“Mas, ini oleh-oleh ya? Aku gak mau merepotkan Mas lagi. Kita berhenti di toko aja buat beli mukena biar sempurna kalau kain ini nutupinnya gak sempurna.”
“Di situ ada mukena Bali juga, ambil saja buat kamu satu.”
“Nanti istri Mas Dika marah kalau aku ambil mukenanya.”
“Kamu udah nikah, Dik?” tanya Iskandar terkejut.
“Belum, aku tidak mungkin mengajak adikmu kalau aku sudah menikah.”
“Pacar ada kan? Tinggal di Bali tapi tidak punya pacar rasanya mustahil deh, Mas. Betul kan, Kak?”
Iskandar kembali menatap Dika sekilas, “Cewe bali itu suka produk luar bukan produk lokal, Mbak.”
“Eh, jangan panggil Mbak dong Mas. Aku kan lebih muda dari kalian. Panggil Dita saja walaupun usiaku sudah 29 tahun dan aku belum juga punya kekasih yang mau mengajakku menikah.” Keluh Dita yang duduk di jok belakang.
“Kok kamu jadi curhat?” protes Iskandar.
“Ya sudah, jadi istri aku saja mau gak?”
“JANGAN!!!” teriakan Iskandar membuat Dika mengernyit heran. Sementara Dita langsung tahu alasan sang kakak melarang temannya.
“Aku kristen, Mas. Kita tidak bisa menikah karena beda keyakinan.”
Hening…
Ehem,,,
Dika berdehem meemcahkan keheningan yang sempat terjadi. “Kenapa jadi seserius ini? Aku juga belum berniat untuk menikah.”
“Iya, aku tinggal satu rumah dengan sahabat kita. Ta, pakai mukenamu!”
“Mas, izin ya!” ucap Dita lalu mengambil mukena warna merah marun dalam tas Dika.
“Ini bawahannya pakai juga?” tanya Dita bingung.
“Tidak usah.” Jawab Iskandar.
“Jadinya penampilanku ini atasnya malaikat bawahnya setan ya?” sarkas Dita pada dirinya sendiri.
“Kalau kamu tidak nyaman, ya pakai saja bawahannya!” saran Dika.
“Nanti aku dikira mau salat.” Balas Dita sementara Iskandar hanya menggeleng pelan sampai mobil berhenti di sebuah rumah.
Mereka turun lalu, “Assalamulaikum.” Ucap ketiganya kompak. Saking kompaknya, Iskandar dan Dika sampai terkejut mendengar Dita juga ikut memberi salam.
“Kenapa? Apa aku juga tidak boleh memberi salam?” tanya Dita kesal.
“Boleh tapi jangan marah kalau mereka tidak menjawab salammu.”
Iskandar langsung masuk diikuti oleh Dika. “Is, kamu sama siapa?” Ari dan ketiga sahabat till jannah yang sedang rebahan di ruang tamu langsung bangun melihat dua orang asing di depan mereka.
“Kalian tidak mengenal dia? Coba lihat baik-baik!” pinta Iskandar pada teman-temannya. Dika tersenyum manis kepada teman-temannya. Rasanya detik itu juga ia ingin memeluk erat mereka satu persatu.
“Kamu bisa menebak mereka?” tanya Iskandar pada Dika.
“Ari, Reski dan Dwi. Apa aku benar?” Iskandar mengangguk kecil.
__ADS_1
“Is, dia?” tanya Ari lalu berjalan pelan dan langsung memeluk pria itu.
“Aku berdoa bahkan di depan Ka’bah supaya kita bertemu lagi. Aku senang kita bisa bertemu lagi. Kami sangat merindukanmu.” Ucap Ari terisak diikuti oleh Reski dan Dwi. Mereka berpelukan bersama lalu Iskandar ikut memeluk mereka. Lima sahabat till jannah itu akhirnya bertemu dalam formasi lengkap.
Dita tersenyum haru melihat kelima laki-laki muda itu berpelukan. “Kak, aku peluk juga boleh?”
“TIDAK!!!” Iskandar langsung bersuara dengan lantang membuat ke empat pemuda yang tadinya larut dalam perasaan haru tiba-tiba melerai pelukan menatap seorang gadis yang memakai mukena marun itu.
“Dia siapa?” tanya Ari.
Walaupun mereka sudah pernah bertemu Dita tapi kali ini berbeda. Penampilan Dita dengan mukena membuat mereka tidak sadar jika gadis itu adalah Dita.
“Perkanalkan, aku istrinya Mas Dika.”
Uhukkk….
Mata Iskandar melotot melihat Dita menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan mereka namun sahabat till jannah itu hanya menatap tangan Dita lalu menatap Dika seakan meminta penjelasan.
Dikan menurunkan tangan Dita, “Istriku tidak akan berjabat tangan dengan pria lain kecuali yang halal untuknya.” Bisik Dika membuat Dita meremang. Sementara Iskandar yang melihat tingkah keduanya membuat ia harus berdehem. Bagaimanapun Dita adalah adiknya, ia tidak mau melihat yang aneh-aneh dari keduanya.
“Dia Dita bukan istri Dika.”
“Adek kamu, Is?” Tanya Ari terkejut.
“Ya Allah, alhamdulillah sudah membuka hati gadis ini hingga dia menemukan hidayahmu. Selamat ya! Akhirnya kamu memilih keyakinan yang sama dengan kakakmu.” Ujar Dwi yang membuat Ari dan Reski ikut berucap syukur sementara Iskandar dan Dika hanya bisa geleng-geleng kepala. Sementara Dita dengan lantang dan latah justru mengaminkan ucapak Dwi.
Mereka duduk di ruang tamu dengan pintu terbuka. Dita yang tadinya bahagia kini mulai merasa tidak nyaman saat mukena yang dia pakai mulai terasa gerah dan membuatnya kesulitan untuk duduk dengan nyaman. Dita yang sedang memaikan ponselnya beberapa kali mengubah posisi duduknya karena letih.
“Is, pinjam sarung!” pinta Dika pada temannya. Iskandar tidak bertanya, ia langsung mengambil sarung di kamar lalu memberikannya pada Dika.
“Ganti pakai ini biar kamu nyaman!” Dika memberikan sarung itu pada Dita membuat si objek terkejut sekaligus senang.
“Kak, aku tukar tambah aja ya sama Mas Dika. Kakak itu jadi kakak tidak peka, malah Mas Dika yang lebih peka sama aku. Kakak ini gimana sih?” gerutu Dita hendak berdiri menggantikan sarunnya.
“Jangan di sini, pergi ke kamar kakakmu!” sela Dika kembali. Dita langsung pergi dengan seutas senyum manis sementara ke empat sahabat till jannah kompak menatap penuh tanya ke arah Dika.
“Kak, aku tidur ya! Kalian lanjutkan saja temu kangennya.” Ucap Dita dari balik pintu. Dia ingin rebahan sebentar di kamar para dosen.
Iskandar memesan beberapa menu untuk makan siang mereka. Mereka bercerita banyak hal sampai akhirnya Dika menanyakan tentang Dita pada Iskandar dan tentu saja Iskandar menceritakan semuanya pada Dika sang sahabat.
“Kamu menyukainya?” selidik Reski membuat Dika tersenyum kecil.
“Sudahlah! Aku hanya ingin tahu karena Dita mengatakan dia kristen. Makanya aku penasaran.” Kilah Dika.
“Kalau suka pun tidak masalah ya kan, Is?” tanya Ari.
“Em, aku no komen. Kalian tahu sendiri hubungan ibunya dengan keluargaku bagaimana. Kalau kamu mau serius dengan dia tentunya kamu tahu sendiri bagaimana hukumnya kan? Apalagi kamu bilang sudah bertemu ibunya. Kamu bisa nilai sendiri tapi kalau nyalimu kuat ya silakan. Tapi aku tidak yakin dia mau pindah mengikuti agama kita. Adiknya saja putus dengan adikku karena tidak mau pindah.” Jelas Iskandar panjang lebar.
Dika tidak menjawab, ia mencoba mencerna dan tujuannya saat ini juga bukan untuk menjalin hubungan dengan siapapun tapi dia senang berada di samping Dita. Baginya, Dita adalah gadis yang menarik karena Dika merasa mudah akrab dengannya. Sementara selama ini, Dika tidak pernah mencoba menalin hubungan dengan gadis manapun.
“Dik, ayahmu masih ada?” Dika mengangguk lemah.
“Dia masih hidup dan sudah lima tahun ini mengidap strok. Tujuan kepulanganku selain untuk ziarah ke makam ibuku, aku juga ingin menjenguknya. Dia dirawat oleh keluarganya saat ini.”
“Kami ikut ke rumahmu ya?” pinta mereka kompak. Lagi-lagi Dika tersenyum kecil seraya mengangguk. Tanpa mereka sadari, Dita yang mengintip di balik pintu tersenyum tidak kalah manis saat melihat senyuman Dika yang membuatnya sangat ingin memeluk pria itu.
“Aku ikut!”
***
__ADS_1
Happy weekend...🙃