
Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. para sahabat till jannah dengan setia mendampingi Reski hingga mengantarnya ke meja penghulu di mana Abah sudah menunggunya. Walau sudah mengucapkan ijab kabul kemarin tapi Reski tetap saja deg-degan. Sementara sang istri masih menunggunya di dalam kamar ditemani oleh Husna dan Nurul.
“Kenapa kalian menolak dijodohkan dengan sahabat Mas Ki?” tanya Ana dibalik cadarnya.
“Ciee…Mas Ki.” Ejek Nurul disambut tawa kecil oleh Husna.
“Kami menyukai sahabat Mas Kimu yang keluar saat itu.” Ucap Husna. Kening Ana seketika berkerut. “Mas Iskandar dan Mas Dika?” Nurul dan Husna kompak mengangguk.
“Setahuku Mas-“
“Iya, kami juga tahu kalau Mas Iskandar baru saja menikah dan Abah yang jadi saksinya. Lalu kenapa? Pria bisa menikah lebih dari satu.” Jawab Nurul.
“Itu kalau dia mau tapi ini? Dia malah keluar dan Mas Dika? Dia juga ikut keluar kemarin.” Sambung Ana kembali.
“Iya, aku juga tahu. Tapi aku sukanya sama Mas Dika mana bisa nikah sama yang lain. Apa jadinya kalau aku sedang tidur dengan suamiku justru aku memikirkan Mas Dika. Sama aja aku sedang berbuat dosa. Jadi, lebih baik aku tidak menerima perjodohan kemarin.” Nurul dan Ana saling mengangguk.
“Apa yang kamu suka dari Mas Kimu itu? Kenapa kamu langsung menyetujuinya?” tanya Husna penasaran.
Ana tampak berpikir sesaat, “Aku hanya yakin pada pilihan Abah karena Abah pasti akan memilih yang terbaik untuk putrinya. Dan Alhamdulillah, Mas Ki memang yang terbaik. Aku baru tahu kalau Mas Ki lulusan S2 Kairo dan sekarang menjadi dosen di salah satu kampus Islam. Mas Ki juga bilang nanti kami akan bertetangga dengan Mas Iskandar dan Istrinya di komplek perumahan dosen.”
“Kalian tahu? Mas Ki juga hafal alqur’an. Semalam setelah pulang dari mesjid, kami saling menyambung ayat bersama dan itu indah sekali.” Husna dan Nurul seketikan menelan ludahnya dengan susah.
“Masih berpikir tentang pria lain? Sedangkan kualitas mereka sama. Mas Is itu menempuh pendidikan yang sama dengan Mas Ki juga Mas Ari dan Mas Dwi yang dijodohkan dengan kalian kemarin. Hanya Mas Dika yang tidak karena Mas Dika sudah keluar dari pesantren setelah lulus tingkat pertama.” Ana menjelaskan seraya menatap kedua saudaranya.
“Apa kalian mau menyesal sekarang? Tapi kembali lagi ke ucapan kalian tadi, bagaimana mau menikah jika hati kalian justru mengingat Mas Dika dan Mas Is.” Ujar Ana kembali.
“Iya. Aku tidak bisa menikah dengan pria lain sampai perasaanku pada mereka hilang.” Lirih Nurul diangguki Husna.
Ummi datang memberitahukan jika Ana sudah boleh keluar karena ijab kabul telah selesai. Husna dan Nurul mendampingi Ana keluar hingga bertemu dengan Mas Kinya. Nurul dan Husna sempat melirik pria yang telah ditolaknya kemarin sekilas. Hati memang susah berdusta, saat kita tersadar, semuanya sudah terlambat. Para pria itu bahkan tidak menatap mereka.
Layaknya pesta pernikahan di rumah-rumah yang lain hanya saja jika di tempat-tempat lain disediakan organ tunggal atau diundang penyanyi tapi di rumah Abah tidak. Hanya salawat dan kasidah dari para santri yang mengiringi acara pesta penikahan Ana dan Reski. Teman-teman Reski naik ke atas paanggung menyumbangkan beberapa lagu khas timur tengah. Sementara Dika yang tidak menguasai bahasa Arab memilih menjadi penikmat sambil merekam aksi ketiga sahabatnya.
“Lagu ini kami persembahkan untuk sahabat till jannah kami Reski dan istrinya Uswatun Hasanah. Ini adalah kisah cinta yang penuh dengan kelembutan dan kemesraan dalam naungan kasih ilahi.” Ucap Iskandar. Lalu mereka melantunkan bait demi bait hingga para tamu terkesima dengan kemerduan suara ketiga pria tersebut. Di balik tirai, Nurul dan Husna semakin diliputi rasa menyesal tatkala Ari dan Dwi mengambil alih suara yang membuat perasaan di hati mereka tiba-tiba membuncah. Ari mendekati Reski lalu menyerahkan mikrofon ke tangan sahabatnya.
“Nyanyikan bait cinta untuk bidadari surgamu!”
Reski mengetahui dengan benar bait cinta yang dimaksud langsung tersenyum dan menendangkan bait-bait cinta itu dengan syahdu seraya sebelah tangannya menggenggam lembut tangan Ana. Sang istri tersipu malu lalu menundukkan wajahnya saat Reski dengan penuh penghayatan menyanyikan lagu tersebut seraya menatap mesra manik matanya.
“Ana uhibbuka fillah.” Ucap Reski setelah mengakhiri bait cintanya sambil menatap sang istri.
Persta pernikahan Reski memang sangat khidmat walaupung sederhana dengan persiapan seadanya tapi sangat terkesan di hati para tamu yang menghadarinya. Berbeda dengan persta pernikahan Iskandar, persiapan yang matang justru terkesan hambar karena drama yang dibuatnya. Aisyah tidak menikmati pestnya sendiri karena masih syok dan berbegai pertanyaan yang belum menemukan jawabanya. Sementara Aisyah juga tidak bisa menikmati karena tidak percaya diri dengan penampilannya saat itu sehingga membuat Aisyah menatap kesal pada suami hingga ia mematikan ponselnya sampai hari ini.
Iskandar sudah menelepon kembali setelah subuh tapi sayangnya ponsel Aisyah malah mati. Iskandar menghubungi Mama Ayu dan beliau menyampaikan alasan Aisyah mematikan ponselnya karena ia ingin beristirahat sambil memulihkan perasaannya tanpa gangguan dari pria berstatus suami. Iskandar tergelak mendengar penuturan sang ibu sambung saat itu.
“Kamu benar-benar ingin balas dendam rupanya.” Batin Iskandar setelah menutup teleponnya saat itu.
Pesta pernikahan Reski dan Ana akhirnya selesai tepat jam satu siang karena jumlah tamu undangan juga tidak banyak. Abah hanya mengundang beberapa kerabat melalui telepon karena acara yang mendadak. Untuk para tetangga, Abah sudah meminta Pak RT untuk mengumumkan untuk mempersingkat waktu.
Sementara di rumah dinas, Anugrah tengah mengajarkan beberapa gerakan Jujitsu pada Wulan di atas karpet. Sebelum mempraktekkan langsung, Anugrah sudah lebih dulu memperlihatkan video Jujitsu pada Wulan.
__ADS_1
“Kamu yakin aku bisa? Badanku tidak sekuat mereka.” Wulan terlihat ragu. Saat ini posisi Wulan sedang berada di bawah Anugrah.
“Kamu harus yakin pada kekuatanmu sendiri. Saat kamu terdesak, kekuatanmu akan muncul dengan sendirinya. Itu adalah instin manusiawi yang terdapat dalam diri kita. Sama seperti binatang, di saat terdesak seekor kelinci yang imut pun bisa mengalahkan lawannya dengan menggingit. Manusia juga begitu dan insting saja tidak cukup. Olahraga ini akan mendukungmu di saat terdesak.”
Tatapan keduanya terkunci, ini adalah pertama kalinya mereka berada dalam jarak sedekat ini setelah kesembuhan Wulan. “Para pemerkosa itu sudah pasti akan menyerang kamu dengan posisi begini, bukan? Aku rasa kamu pernah menonton film sebelumnya. Ini adalah gerakan yang sering terjadi pada kasus perkosaan dan pada pasangan suami istri yang tengah bercinta.”
Deg…
Penjelasan Anugrah terlalu jelas untuk mereka yang sedang berada di posisi ini. “Siap?”
Wulan tersadar dari lamunannya kemudian mengangguk pelan. Sesekali Anugrah hampir hilang kontrol saat posisi keduanya begitu dekat seperti saat Wulan mengunci leher Anugrah yang saat itu berada di dada Wulan. Wulan dengan semangatnya sementara Anugrah? akal sehatnya hampir saja hilang hingga dia harus menpuk pundak Wulan sebanyak tiga kali sebagai tanda dia minta berhenti. Kuncian Wulan begitu kuat di lehernya membuat Anugrah hampir kehilangan nyawa.
“Kamu niat banget mau menghajarku ya?” sindir Anugrah.
“Kamu bilang harus fokus dan semangat!” balas Wulan.
Mereka kembali melanjutkan beberapa gerakan dasar dan lagi-lagi keduanya terlibat dalam suasana canggung saat Wulan harus membuka pahanya lebar-lebar dan Anugrah berada di dalamnya dengan tangan Anugrah yang memegang pinggulnya. Posisi ini sangat mirip orang bercinta.
“Jangan berlatih ini dengan pria lain, mengerti?” Wulan mengangguk.
“Semua yang kamu pelajari tidak akan berguna kalau kamu tidak sadar. Jangan katakan pada siapa pun jika kamu memiliki kemampuan ini. Tetaplah waspada pada siapa saja termasuk sama teman wanitamu. Sikap iri selalu mendominasi manusia dan dari sikap iri itu timbul kebencian yang berakhir dengan kamu dijebak. Pasang pegaman pada ponselmu! Jangan menerima tamu laki-laki atau perempuan di tempat tinggalmu nanti. Ingat, yang dijebak narkoba itu karena terlalu percaya dengan makhluk berstatus teman.”
“Iya, ini mau diteruskan atau bagaimana?” tanya Wulan menyadarkan Anugrah jika posisi ini sangat tidak menenangkan untuk keduanya.
Mereka terus melanjutka latihan hingga sore. Kemudian malam hari setelah makan malam, Wulan kembali mengemas pakaiannya dalam satu koper. Dia duduk menatap beberapa pakaian yang dibelikan oleh mertuanya saat ada acara.
“A,” panggilnya saat melihat Anugrah keluar dari kamarnya.
“Kalau aku pakai kerudung bagaimana? Kak Aisyah pernah mengatakan jika memakai pakaian tertutup bisa mengurangi tindakan asusila yang mungkin terjadi. Aku ingin tampil pertama kali di sana sudah dalam keadaan tertutup. Aku juga merasa nyaman dan tidak perlu takut dengan pakaian yang mungkin mereka siapkan nantinya.” Wulan menatap Anugrah yang tengah melirik pakaiannya.
“Ayo!”
Tanpa banyak tanya, Wulan mengikuti Anugrah yang sudah berada di dalam mobil. Anugrah membawa Wulan ke sebuah pusat perbelanjaan. Keduanya langsung menuju ke sebuah toko yang khusus menjual pakaian muslim wanita.
“Pilihlah!” Wulan mengangguk kecil lalu menyusuri pakaian-pakaian gamis di sana dengan berbagai model. Anugrah mengambil satu persatu pakaian yang menurutnya menarik dan cocok untuk Wulan tanpa sepengetahuan Wulan yang dari tadi hanya melihat baju-baju di pajangan. Bagaimana Wulan mau memilih jika saat mendekati baju tersebut mata Wulan langsung melotot. Harganya membuat Wulan terus berjalan dengan harapan menemukan pakaian dengan harga dibawah dua ratus ribu. Wulan sepertinya lupa jika saat ini ia berada di sebuah toko pakaian gamis bermerk.
“Maaf, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang pramuniaga.
Wulan tersenyum kikuk. Bagaimana ia mengatakan jika sedang mencari baju seratus ribuan sedangkan sebuah jilbab segi empat saja harganya sampai dua ratus ribu.
“Maaf, Mbak. Di sini tidak ada baju yang harganya di bawah 200 ribu ya?” tanyanya setengah berbisik.
Pramuniaga itu tersenyum lalu menggeleng pelan. “Sudah selesai? Atau masih ada lagi?” tanya Anugrah menghampiri mereka.
“Em, A. Aku kurang suka modelnya. Kita cari di tempat lain saja boleh?” Mata pramuniaga tadi terbelalak mendengar perkataan Wulan. Bagaimana bisa dia mengatakan seperti itu sementara yang datang ke situ adalah para istri pejabat dan orang-orang kaya.
“Baiklah, kamu tidak mau memilih jilbabnya?” tanya Anugrah lagi. Wulan kembali menggeleng, “Baiklah! Ayo,” Wulan langsung berjalan keluar sampai dia menyadari jika Anugrah tidak ada di sampingnya. Saat menoleh ke belakang, mata Wulan langsung melotot melihat Anugrah menentang banyak paper bag di tangannya.
“K-kamu membeli apa sebanyak ini?” Wulan tiba-tiba menjadi bodoh.
__ADS_1
Anugrah menggelengkan kepalanya, “Ayo jalan atau kamu mau mencari di toko lain? Aku sudah pilihkan baju dan jilbab buat kamu. Kalau masih kurang, kita cari di toko lain.”
“I-ini buat aku?”
“Hem, ayo! ini pegang sebagian!” Anugrah menyerahkan beberapa paper bag ke tangan Wulan. “Masih mau ke toko lain?”
“T-tidak. Ini saja sudah banyak.”
“Baiklah!”
Setelah puas berbelanja, Anugrah kembali membawa Wulan ke warung mie ayam yang dulu pernah ia datangi. Entah kebetulan atau tidak, saat mereka masuk ke dalam, pria yang dulu berbicara dengan mereka juga ada di sana.
“Wah, Neng sudah sembuh ya?” ucapan pertama yang lolos dari mulut pria itu.
Anugrah menggenggam tangan Wulan lalu mengajak Wulan untuk duduk di sampingnya. “Alhamdulillah sudah sembuh, Pak.” Jawab Anugrah menatap tajam pria tersebut.
“Pilihan kamu untuk berpakain tertutup memang tepat. Lihat saja, kamu berpakaian begini saja, pria itu sudah memandangmu penuh nafsu.” Bisik Anugrah membuat Wulan menatapnya dengan tatapan takut.
“Sampai kapan Bapak menatap istri saya?” Ucap Anugrah menatap tajam pria itu sambil mengacungkan garpu ditangannya. Mendadak pengunjung warung mie ayam itu merasakan hawa yang kurang mengenakkan.
Pesanan mereka tiba lalu dengan sigap Wulan langsung memakan mie di depannya. Ia ingin keluar dari sana secepatnya. Ia takut pria itu terus memperhatikannya.
“Pelan-pelan saja! Pria itu sudah pergi.” Wulan langsung menatap ke meja pria itu dan ternyata bangkunya sudah kosong. Setelah menghabiskan waktu setengah jam di dalam warung mie ayam, mereka kembali ke mobil dan saat hendak membuka pintu mobil, seseorang langsung menyerangnya. Jiwa tentara Anugrah memang tidak pudar walaupun tidak lagi turun ke medan tempur. Ia bisa menghidar hingga serangan perkelahian itu tidak bisa dihindari. Wulan menjerit saat melihat Anugrah terlibat perkelahian hingga para pengunjung mie ayam dan orang-orang sekitar berkumpul untuk menyaksikan perkelahian tersebut.
“Kenapa kalian diam saja? Pisahkan mereka atau panggilkan polisi!” jerit Wulan namun tidak ada siapa pun yang peduli. Mereka hanya merekam dengan kamera sambil terus berbisik sampai bunyi sirine polisi terdengar. Penjual mie ayam tersebut yang menghubungi polisi karena kasihan dengan Anugrah. Polisi berhasil meringkus pria tersebut lalu meminta Anugrah dan Wulan untuk ke kantor.
Setelah memberikan keterangan lalu mendengarkan para saksi, Anugrah dibebaskan itu juga karena Anugrah menunjukkan KTAnya.
“Apa kita ke rumah sakit saja?” tanya Wulan khawatir.
“Tidak perlu. Aku hanya memar sedikit. Tinggal dikompres dengan es batu.”
“Tapi kamu terkena pukulan. Kamu harus diperiksa dokter.”
“Tidak perlu, Wulan. Aku baik-baik saja.” ucap tegas Anugrah.
Mereka tiba di rumah tepat jam sebelas malam. Begitu masuk ke rumah, Wulan langsung menyiapkan es batu untuk Anugrah.
“Pakai ini!” Wulan menyerahkan dua kantung es batu ke tangan Anugrah. Pria itu tidak membantah, ia mengambil lalu merebahkan dirinya di sofa seraya menaruh es batu di wajahnya. Sementara Wulan sedang membongkar kembali pakaian yang sudah dimasukkan dalam koper.
“A, baju-baju lama ku dibuang saja ya?” tanyanya berdiri di ambang pintu.
“Biar aku yang buang. Kamu masukkan saja semua baju-baju yang aku belikan tadi. Pakaian lamamu biar aku buang sekalian dengan barang-barang yang tidak diperlukan lagi. Setelah kamu pergi, aku juga akan pulang kembali ke rumah Papa.”
“A,”
“Hem,”
“Terima kasih!”
__ADS_1
***
Selamat berakhir pekan...