CUT

CUT
Kamu Kapan???


__ADS_3

POV Cut...


 


Hari-hari yang kulalui saat ini seperti mengingatkanku akan kehidupan di kampung saat itu. Roda kehidupan yang kualami sekarang seperti tidak bergerak mengikuti waktu. Abu dan Umi menjagaku dengan sangat ketat bahkan lebih terkesan seperti dikurung. Aku yang dulu bisa pergi ke berbagai tempat, mengajar bahkan bekerja kini, semuanya hilang seperti aku yang hilang dari hidup mereka hampir setahun lalu.


 


Ruko adalah duniaku saat ini. Tempat di mana aku menghabiskan hari-hariku di sini. Pekerjaanku adalah membantu Abu berjualan bersama Mae. Terkadang aku bermain bersama Rendra yang sudah semakin besar.


 


Hilangnya aku dari kehidupan mereka ternyata menyisakan trauma yang mendalam. Itulah mengapa mereka melarangku keluar dari ruko. Senyuman kedua orang tuaku mungkin lebar tapi hati mereka terus saja gelisah memikirkan nasibku.


 


Pak Cek Amir dan Mak Cek Siti juga ikut-ikutan melarangku bepergian. Bahkan untuk menikmati sepiring mie di warung terdekat saja aku sudah tidak bisa. Setiap aku menginginkan sesuatu, Mae selalu membelikan kecuali barang-barang yang menyangkut urusan perempuan. Umi atau Intan akan membantuku untuk membelinya.


 


Penjara tanpa pagar tidak selalu menyedihkan. Hari-hariku disibukkan dengan berjualan. Seakan mengerti atau mendapat saran dari Dokter Widia yang selama ini mendampingiku. Abu membuat sebuah meja di depan ruko lalu memintaku berjualan kue, mie dan nasi bungkus di pagi hari.


 


Hari-hariku tidak lagi dihabiskan dengan waktu yang sia-sia. Aku bersemangat menunggu esok dengan semua kue-kue yang aku buat. Hari-hari penuh kesibukan berlalu begitu cepat untukku.


 


Meja kecil kini bertambah dengan sebuah rak kaca di sampingnya. Kue-kue yang dulu aku buat bersama Umi juga semakin bertambah dengan kue-kue yang ditaruh oleh orang lain. Aku semakin sibuk sampai jam tidurku semakin sedikit karena di saat orang lain sudah tidur aku justru bangun untuk memasak.


 


Jam 3 pagi aku sudah bangun dibantu Mae. Untuk urusan gaji, aku juga memberikan gaji yang sesuai dengan pekerjaannya. Beberapa bulan berjalan, dia semakin pandai dalam membuat kue. Umi mengajarinya dengan telaten mengingat dia seorang anak laki-laki.


 


Dia berhasil membuat beberapa kue seperti bakwan, bingkang, bada hingga timphan. Jam 9 malam di ruko kami sudah sepi. Penghuni ruko sudah tertidur semua. Aku bisa membayar uang pinjaman dari Abu untuk membeli kulkas dari hasil penjualan kue serta nasi pagi. Aku juga membuat es lilin berbagai rasa serta es batu.


 


Beberapa tentara masih terlihat di area pasar. Mereka juga sering membeli makananku. Aku melayani mereka sama seperti yang lain. Tidak ada lagi ketakutan yang menyiksa di hati. Aku sudah berusaha hidup tanpa berhubungan dengan mereka maupun para pemberontak.


 


Mengenai Khalid, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya setelah kami berpisah saat menaiki becak terpisah saat itu. Aku berjualan hanya sampai jam 10 pagi. Setelah itu aku akan membantu Umi memasak atau mencatat apa saja yang aku perlukan untuk besok. Hal yang sangat aku syukuri adalah tempat tinggalku yang berada di dalam area pasar sehingga aku tidak membutuhkan waktu lama untuk berbelanja. Aku hanya perlu ke toko seberang atau toko sebelah.


 


Beberapa barang seperti daun pisang atau pisang malah langsung di antar ke toko oleh penjualnya karena aku sudah menjadi pelanggan tetap mereka.


 


“Saya menyukaimu!”


 


“Abang menyukaimu!”


 


“Apa kamu bersedia menjadi istri Abang?”


 


Kata-kata itu tidak bisa dihindari selama statusku masih melajang. Kumbang datang silih berganti. Kadang mereka langsung hinggap di bunga. Kadang, mereka hinggap di dahan. Semua Abu terima dengan baik namun, keputusan akhir selalu menjadi hakku.


 

__ADS_1


Selama enam bulan terakhir aku larut dalam kesibukan membuatku melupakan bagaimana manisnya perasaan suka.


 


“Kamu sudah cocok jadi istri.”


 


Pria pedagang ikan, pedagang sayur, anak pedagang kelontong, pegawai negeri bahkan tentara. Tapi, apa yang menahanku?


 


Jawabannya tidak ada. Tidak ada yang dapat menahan perasaan hati mereka begitu juga dengan perasaanku.


 


Abu dan Umi tidak memaksaku untuk menerima mereka. Mengingat apa yang pernah terjadi dengan Razi dan Ridwan. Abu dan Umi sangat berhati-hati begitu juga denganku. Sudah cukup, aku melihat orang-orang meninggal karena berdekatan denganku. Seperti penyakit, aku adalah gadis yang harus mereka hindari tapi perasaan seseorang tidak bisa diarahkan sesuka hati pemiliknya.


 


Bagaimana denganku?


 


Apakah perasaanku baik-baik saja?


 


Entah. Seperti itulah jawabanku.


 


“Cut, aku sudah bertunangan. Kamu kapan?”


 


 


“Cut, jangan menolak mereka. Orang-orang tua mengatakan kalau kita menolak 3 laki-laki maka setelah itu kita akan susah dapat jodoh.”


 


Pertanyaan dan nasehat-nasehat dengan mengatas namakan para sepuh yang entah dari mana asalnya selalu menghampiriku. pertanyaan seperti itu semakin merusak gendang telinga ketika aku harus menghadiri acara pertunangan, pernikahan atau turun tanah anak penduduk pasar.


 


Bukan aku saja tapi kedua orang tuaku juga harus mendengar pertanyaan itu. Berbeda dengan Mae. Dia mendapat tugas tambahan dari beberapa orang untuk menyampaikan surat mereka kepadaku.


 


“Kamu dapat upah berapa untuk mengantar surat mereka?” tanyaku setiap kali dia menyerahkan surat entah dari laki-laki mana.


 


Sambil tersenyum, dia menjawab. “Lumayan Kak Cut buat beli jajan. Tapi, Mae tidak minta. Mereka kasih sendiri. Rezeki tidak boleh ditolak.”


 


“Ya...ya...ya...”


 


Aku mengacuhkan surat tersebut. “Kenapa? Kamu mau membacanya?” tanyaku saat melihat Mae menatap surat tersebut.


 


“Boleh, Kak Cut? Sekalian Mae mau belajar siapa tahu nanti Mae mau mengirim surat juga untuk gadis yang Mae suka.”

__ADS_1


 


“Buka saja! Tapi ingat, kalau kamu suka sama perempuan harus bilang sama Abu dan Umi ya!”


 


“Iya, Kak Cut. Mae buka ya?”


 


Secepat kilat Mae membuka lalu membaca surat tersebut penuh penghayatan. Aku tersenyum geli melihat ekspresinya. Selama ini, dia selalu memberikan surat dari berbagai pria di luar sana. Jika dia mengenal pria tersebut maka ia akan mengatakan siapa pemilik surat lengkap dengan biodata keluarganya. Untuk pertama kalinya ia penasaran dengan isi surat tersebut.


 


“Kak Cut, suratnya Mae taruh di mana?”


 


“Sudah selesai bacanya? Bagaimana? Apa pendapatmu?”


 


“Kurang menarik. Orangnya sih ganteng tapi isi suratnya tidak seperti wajahnya.”


 


“Memangnya apa isi surat itu?”


 


“Dia mengajak Kak Cut menikah. Kalau dia laki-laki harusnya datang langsung ke sini bertemu dengan Abu dan Umi bukannya menulis lewat surat.” aku tersenyum kecil mendengar perkataannya.


 


“Kamu robek kecil-kecil lalu masukkan dalam tempat sampah ya!” titahku.


 


“Iya.”


 


Seperti itulah Mae yang sudah beranjak remaja. Jika bersekolah mungkin usianya sudah SMA. Namun, ia tidak mau bersekolah dengan alasan lebih enak berjualan. Dia ingin mengumpulkan uang lalu membuka toko sendiri mengikuti jejak Abu.


 


“Hmmm...Kak Cut...” panggilnya ragu-ragu.


 


“Apa?”


 


“Kak Cut menunggu Bang Rendra ya?”


 


Deg...


 


 


***


LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...

__ADS_1


__ADS_2