CUT

CUT
Bapak Petrus dan Ibu Martini...


__ADS_3

Tiga pasang suami istri turun dari mobil hotel tepat di depan pintu gerbang sebuah rumah yang terlihat tidak terurus itu. Beberapa kali Shinta menekan bel tapi tidak ada yang keluar dari rumah orang tuanya.


Shinta akhirnya mau berdamai dengan orang tua yang sudah berperan penting dalam kehancuran hubungannya dengan Faisal. Karena mereka yang tidak memberi restu dan menghubungi orang tua Faisal di belakangnya hingga Faisal tidak diizinkan oleh mereka untuk menerima dirinya jika kabur. Padahal saat itu, ia sudah siap untuk pindah keyakinan mengikuti Faisal supaya bisa menikah dengan pria yang dicintainya namun apa daya, Faisal memilih mendengarkan perkataan Pak Fahri dan Buk Murni karena ancaman orang tuanya.


“Cari siapa, Buk?” tanya seorang gadis yang baru keluar dengan motornya dari rumah sebelah.


“Pak Petrus.” Jawab Shinta.


“Oh, Pak Petrus sudah tiga hari dirawat di rumah sakit.”


Shinta mulai resah, “Pak Petrus sakit apa? Di rumah sakit mana?”


“Kalau tidak salah di rumah sakit Kasih Maria. Kalau penyakitnya saya tidak tahu. Sudah setengah tahun ini Bapak sering keluar masuk rumah sakit karena sakit paru-paru dan jantung. Saya jalan dulu, Buk, Pak, sudah telat ke kampus.”


“Iya, terima kasih.”


Mereka langsung kembali menuju mobil lalu Shinta segera mencari alamat rumah sakit yang dimaksud.


“Semoga aku tidak telat, Pa.”


“Semoga, Ma.”


Mereka bergegas menuju pusat informasi lalu setelah mendapatkan informasi letak kamar orang tuanya, Shinta hampir setengah berlari menuju ke sana tanpa peduli pada Toni dan anak menantunya. Pikirannya hanya tertuju pada sang ayah yang sedang terbaring sakit.


Shinta langsung masuk begitu melihat kamar tempat ayahnya berada. Benar saja, pria tua dengan badan yang sudah ringkih itu terbaring lemah di atas brankar  rumah sakit. Di samping sang ayah, ibunya sedang khusuk membaca alkitab.


“Ma, Pa.”


Shinta berhambur dalam pelukan ibunya lalu memeluk sang ayah sekilas karena tidak memungkinkan untuk memeluknya dengan erat. Ayahnya sudah memakai alat bantu pernapasan tapi masih mengenali dirinya. Terbukti dari air mata yang jatuh dari sudut matanya saat melihat sang putri yang sudah lama pergi meninggalkan mereka.


Suara sang ayah tidak jelas lagi tapi tangannya terangkat sebelah. Shinta langsung menggenggam tangan ayahnya erat dengan air mata berlinang.


“Maafkan aku, Pa, Ma.” Ucap Shinta memeluk tubuh ibunya. Ibu Martini sudah sesenggukan melihat anaknya kembali dalam keadaan sehat.


“Pa, Ma, aku mau mengenalkan keluargaku. Ini, Toni. Suamiku. Ini Dita beserta suaminya Dika. Dia anakku dengan Faisal. Dia baru saja menikah dengan sahabat Iskandar anak dari Faisal dan mantan istrinya terdahulu. Dita juga sudah memeluk Islam mengikuti suaminya.” Mendengar itu, Bapak Petrus dan Ibu Martini kelihatan tidak suka. Bapak Petrus langsung membuang muka saat Dita dan Dika menyalaminya tangannya.


“Jangan membenci anakku, Pa, Ma. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti yang kalian lakukan padaku.”


“Ma,” panggil Toni lembut namun sarat makna.


“Ini Tiara sama suaminya, Doni. Dia putriku dengan Toni. Dan itu anak mereka yang belum lama lahir.” Saat melihat tanda salib di leher anak Tiara, Ibu Martini tersenyum senang dan mata Dita berhasil menangkap kejadian miris tersebut.


“Ternyata aku tidak diterima!” bisik Dita pada suaminya.


“Kita tetap harus menghormati mereka.” Balas Dika.


Setelah berbicara panjang lebar dengan dokter, Shinta meminta izin untuk membawa orang tuanya ke Jakarta pada Toni. Pria itu pun langsung menyetujuinya. Hari itu juga Shinta langsung mengurus kepindahan sang ayah ke Jakarta bersama keluarganya.


Sesampainya mereka di Jakarta, Shinta masih mendampingi ayahnya di rumah sakit bersama sang suami. Sementara Ibu Martini dibawa oleh Tiara ke rumahnya. Ibu Martini sudah cukup tua untuk melakukan kegiatan sehari-hari dan selama berada di rumah Tiara, hanya Dita yang mengurus segala keperluannya karena Tiara sibuk mengurus anak sementara Doni pergi bekerja. Dika sendiri memilih pergi ke Bali untuk menyampaikan surat pengunduran dirinya dan mengambil beberapa barang di sana. Dika sendiri merasa berat meninggalkan istrinya di sana apalagi nenek mertuanya terlihat sekali tidak menyukai Dita karena pindah keyakinan.

__ADS_1


“Mas, bagaimana? Apa kamu bertemu dengan wanita itu?” tanya Dita melalui panggilan video sesaat setelah Dika sampai di tempat kosnya.


“Tidak, Sayang. Aku hanya bertemu pak manajer lalu memberikan surat pengunduran  kita. Beliau juga tidak banyak bertanya mungkin karena Papa sudah bicara lebih dulu dengan pemilik hotel.”


“Terus kamu kapan pulang ke Jakarta?”


“Kenapa, rindu ya?”


“Iya. Mana ada pengantin baru yang tidak saling rindu.”


“Apalagi belum merasakan nikmat surga.” Lanjut Dika membuat Dita tersipu. Mereka memang belum melalukan malam pertama sampai sekarang karena kondisi yang belum tenang. Setelah pernikahan, mereka harus melanjutkan perjalanan kemudian berakhir di Jakarta dengan kondisi kakek mertua sakit parah. Lalu Dika harus ke Bali untuk memberikan surat pengunduran dirinya dan mengambil barang-barang miliknya di rumah kos.


“Mas, cepat pulang ya!”


“Besok pagi, insya Allah.”


“Bagaimana Nenek? Apa beliau sudah makan?” Dita mengangguk pelan. Ada gurat kesedihan yang tergambar dari wajah istrinya.


“Sabar ya! Menghadapi orang tua memang begitu. Kamu masih syukur tidak perlu menghadapi mertua. Tapi kalaupun almarhum ibuku masih ada, beliau pasti akan menyayangi kami.” Dita tersenyum. Kata-kata Dika selalu berhasil menghiburnya.


“Jaga Nenek baik-baik ya! Berikan kasih sayang dan perhatian tulus untuknya. Suatu hati nanti, beliau pasti akan mengenang semua perhatianmu. Balas keburukan dengan kebaikan walaupun itu sulit. Aku percaya kamu kuat seperti Mama Shinta. Lihatlah, bagaimana Mama memaafkan orang tuanya dan sekarang malah merawat mereka dengan baik. Kamu juga harus begitu, ingat! Perbedaan keyakinan bukan alasan untuk kita membenci mereka.”


“Iya, Mas. Aku akan memperhatikan Nenek dan Kakek dengan baik. Besok langsung pulang ya!”


“Iya, Sayang.”


Tanpa mereka sadari, Ibu Martini mendengar semua perbincangan mereka di balik pintu. Wajah Ibu Martini mendadak sendu mengingat semua pembicaraan cucunya.


“Mas, sebentar ya! Ada yang mengetuk pintu.”


“Iya, Mas juga mau tidur dulu ya! Assalamualaikum.”


“Walaikumsalam.” Dita menyimpan ponselnya lalu bergegas membuka pintu.


“Nenek!”


“Boleh Nenek masuk?”


“Silakan, Nek!” Dita membuka pintu semakin lebar mempersilakan neneknya masuk. Ibu Martini duduk di tepi ranjang. Ia mengamati kamar cucunya yang baru menikah.


“Nenek butuh sesuatu?” tanya Dita ikut duduk di samping sang nenek.


“Tidak. Nenek hanya ingin bicara sama kamu. Apa kamu bahagia?”


Walaupun sedikit heran, Dita menjawab dengan senyum lalu menganggukkan kepala. “Kenapa Nenek bertanya begitu?”


“Nenek dan Kakek dulu melalukan kesalahan pada Mamamu. Saat kami tinggal berdua, menua bersama, kami mulai merenungi arti kehadiran anak dan cucu. Kakekmu pernah ingin mencari kalian tapi urung dilakukan karena kami malu pada perbuatan kami di masa lalu.” Ibu Martini mulai berlinang air mata.


“Nenek senang karena Mamamu tidak mengikuti jejak kami. Mamamu juga memiliki suami yang bijaksana. Kamu dan adikmu juga mendapatkan suami yang baik. Semoga kalian bahagia ya!” ucap Ibu Martini tulus lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam bajunya.

__ADS_1


“Ini hadiah untuk pernikahanmu. Untuk adikmu sudah Nenek berikan tadi.” Sebuah cincin emas di berikan Ibu Martini ke tangan Dita. Gadis itu tersenyum lalu memeluk sang nenek erat.


Sementara di rumah kos, Jenny yang baru mengetahui kalau Dika sudah mengajukan pengunduran dirinya bergegas mendatangi rumah kos pria itu. Silvia sebagai pemilik kos langsung menghadang Jenny dengan gagang sapu apalagi dia memang tidak menyukai gadis itu dari pertama Dika kos di sana. Dika yang sedang tidur pun terusik karena suara gaduh di luar kamar sampai ia bangkit lalu terkejut melihat dua wanita saling berkacak pinggang.


“Ada apa ini?” tanyanya begitu keluar menghampiri ke dua wanita tersebut.


“Sayang, kenapa kamu mengundurkan diri tiba-tiba? Ada hubungan apa kamu gadis murahan itu? Mana dia? Aku akan membuat perhitungan dengannya.” Tanya Jenny menggebu-gebu.


“Jaga mulutmu, Jen. Dia istriku!”


“Apaaaa? Sejak kapan?” tanyanya tidak percaya.


“Kamu menikah sama siapa, Dik?” tanya Silvia penasaran.


“Sama Dita, Kak. Gadis yang kos di samping kamarku.”


“Kamu coblos dulu ya, Dik?” pertanyaan nyeleneh itu keluar dari mulut Silvia.


“Apa? Kamu sudah tidur sama dia, Dik?” Jenny tidak kalah panik.


“Iya, Kak. Dia istriku ya pasti aku tiduri. Mana mungkin aku menikah buat melihat dia sebagai pajangan. Ada-ada saja kamu Jen.”


“Kamu jahat, Dik. Aku cinta banget sama kamu tapi kamu malah nikah sama wanita murahan itu.”


“Kamu pasti bertemu dengan lelaki yang lebih baik dari aku, Jen.”


“Berarti kamu tidak kos lagi di sini ya?” tanya Silvia.


“Iya, Kak. Besok aku akan mengembalikan kunci kamar pada Kakak juga kamar Dita.”


“Kalian tinggal di mana?”


“Untuk sementara tinggal di rumah adiknya Dita, Kak. Karena Neneknya sudah sepuh tidak ada yang rawat.”


Jenny pergi dengan mulut runcing menahan kesal. Setelah kepergian Jenny, Dika kembali ke kamarnya untuk membereskan barangnya lalu barang sang istri di kamar sebelah.  


Sementara di Aceh, Kak Julie tengah bersiap untuk melakukan ibadah umrah dengan sang ayah. Mereka akan melakukan ibadah umrah berdua saja tapi bergabung dengan beberapa jamaah dari kampung lain.


“Julie, apa semua sudah siap?” tanya Pak Fahri antusias.


“Sudah, Pak. Tenang saja! Bapak kelihatan semangat sekali.”


“Pasti, Bapak punya doa istimewa sesampai di depan Kabah nanti.” Ucap Pak Fahri mengundang rasa penasaran Kak Julie.


“Oh ya? Kalau boleh tahu, doa apa itu?”


“Rahasia!”


 

__ADS_1


***


Ada yang mau tebak???


__ADS_2