CUT

CUT
Halimah...


__ADS_3

“Bapak tidak mau kabur dari sini?” Tanyaku pada Bang Siregar.


Dia tersenyum kecil, “Saya tidak bisa kabur. Ada teman saya yang juga ikut di sandera. Kenapa kamu mau kabur?”


“Saya tidak mau menikah dengan Khalid. Orang tua saya juga tidak setuju.”


“Apa kamu sudah punya pria lain?” Aku menatapnya. Dia tersenyum, sepertinya dia bisa menangkap kebingungan dari wajahku. Bagaimana tidak bingung jika ditanya tentang pria lain. Jelas-jelas aku pernah dilamar oleh pria lain selain Khalid. Walaupun sampai sekarang tidak ada berita apa-apa dari dia.


“Keluar dari hutan ini kamu akan melihat rawa yang cukup luas. Kamu bisa melewati rawa tersebut dengan memutar jauh ke sisi kanan. Setelah itu kamu akan menjumpai sebuah kampung kecil dan di sana juga banyak anggota mereka. Jangan berharap bertemu tentara karena kampung itu masuk zona hitam yang kebanyakan didiami oleh para pemberontak dengan keluarganya. Kemungkinan, kalian akan menikah di sana esok hari.”


“Bapak hafal betul daerah ini ya?”


“Saya sudah sering keluar masuk hutan untuk bertemu dengan petinggi mereka tapi baru kali ini saya di sandera. Kamu bisa selamat jika menyebut nama abangmu saat bertemu para pemberontak.” Aku terkekeh, “Ternyata nama abangku bisa lebih penting dari nama nabi saat sekarang ya?”


“Iya, bahkan di rumah-rumah warga di kecamatan atau kabupaten, mereka yang memiliki anggota keluarga yang berprofesi sebagai tentara atau polisi maka pemilik rumah tersebut bisa tenang dan tidak akan diperiksa jika ada kontak senjata. Hanya dengan menempelkan bingkai foto kerabat yang memakai pakaian dinas, para penghuni rumah sudah bisa tenang karena tidak ada tentara yang mengganggu mereka lagi.” Lanjut Bang Siregar.


“Tapi, saya tidak menjamin kamu selamat sampai ke sana. Karena malam hari begini banyak binatang buas berkeliaran. Apalagi jika kamu berlari, anjing-anjing yang ada di sekitar sini akan menggonggong dan mereka pasti mengejar kamu.” Aku terdiam menatap Bang Siregar dengan raut wajah putus asa.


Niatku untuk kabur sirna sudah. Tapi apa aku akan menyerah di sini? Apa aku selemah itu? Sepertinya tidak. Bahkan nenek moyangku adalah seorang perempuan pemberani yang memimpin pasukan untuk mengusir penjajah. Kenapa aku sebagai penerusnya menjadi lemah dan putus asa? Tidak, aku adalah gadis Aceh yang tidak akan menyerah pada kekejaman dan kelemahan. Walaupun harus bersimbah darah aku harus pulang. Jika tidak dalam keadaan hidup maka mati pun tidak masalah, yang penting aku tidak mau berzina dengan lelaki itu.


“Mereka akan terus berjaga sepanjang malam, apa kamu yakin bisa kabur?” Lagi-lagi Bang Siregar menggoyahkan tekadku. “Apa ada cara lain untukku menghindari pernikahan paksa ini?” Aku berbalik tanya dan hanya dibalas galengan kepala.

__ADS_1


Khalid datang menyuruhku untuk membawa Rendra masuk ke tenda. Sepertinya dia memantauku dari jauh. Hal yang aku takutkan adalah dia akan menjaga tendaku sepanjang malam. Maka jika hal tersebut terjadi, musnah sudah harapanku untuk lari dari sini.


“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Khalid ketika aku sudah memasuki tenda.


“Banyak, cerita-cerita beliau saat bertugas sebagai wartawan.” Jawabku dengan nada ketus.


“Tidurlah, besok kita akan turun ke kampung bawah untuk ijab kabul. Kamu dan Fikri harus banyak istirahat karena besok kita akan berjalan kaki menuju ke sana!”


Aku menidurkan Rendra di pelukanku. Anak ini sepertinya benar-benar istimewa. Dia bisa beradaptasi dengan keadaan apa pun. Dia tidak rewel ketika hanya bisa makan pisang rebus. Bahkan dia meminta yang masih mentah namun sudah matang untuk dimakan. Aku menciumnya berkali-kali. Dia adalah semangatku, kebahagiaanku serta teman perjalanan yang menyenangkan.


Tepat seperti dugaanku, Khalid menyuruh anak buahnya untuk berjaga di sekitar tenda dan niatku untuk kabur gagal sudah.


Keesokan harinya...


“Kenapa kamu tidak membiarkannya tidur saja. Dia terlihat menggemaskan saat tidur.” Ucap Halimah yang baru datang membawa pakaian untukku.


Aku memperhatikan wajahnya yang terlihat lelah dan menyimpan kesedihan. “Maaf karena aku, Kak Limah jadi kena marah.” Dia tersenyum lalu mengambil Rendra dari gendonganku. “Ganti pakaianmu dulu lalu makan! Biar aku yang menjaganya.” Aku menuruti Kak Limah lalu melihat baju yang dia berikan.


“Cuma itu yang paling bagus yang aku punya. Itu juga baju yang aku pakai untuk menikah.” Aku kaget lalu menatap wanita yang terus mengusap pipi Rendra yang sedang tidur. “Kak Limah sudah menikah?” Dia menganggukkan kepala lalu tersenyum.


“Sudah punya anak? Terus suami Kakak di mana?” Rentetan pertanyaan itu keluar bebas dari mulutku.

__ADS_1


“Aku belum punya anak, lebih tepatnya aku menikah hanya untuk teman tidur suamiku bukan untuk menjadi ibu dari anaknya.” Aku bingung namun enggan bertanya lebih lanjut. Guratan kesedihan jelas terpancar di wajah perempuan itu. “Sudahlah, kamu segera ganti baju, aku juga akan turun ke sana bersamamu.”


“Kak Limah ikut akan ikut bersama kami?” Wanita itu menganggukkan kepalanya.


Setelah berganti baju aku segera keluar dari tenda. Aku dan Kak Limah duduk bersama menikmati pisang rebus lagi. “Makan yang banyak supaya kamu kuat. Siapa tahu kamu nanti ingin lari.” Aku menatap wanita yang sedang tersenyum kepadaku dengan perasaan bingung. “Kenapa Kakak bilang begitu?”


“Bukankah kamu bilang tidak ingin berzina? Jadi aku pikir kamu akan lari dari pernikahan ini.”


“Apa Kakak tahu jalan untuk lari?” Wanita ini malah terkekeh mendengar pertanyaanku. Aku menatapnya penuh curiga. Satu hal yang baru kusadari, dia adalah anggota inong balee. Tidak mungkin dia membantuku kabur dari sini.


“Kakak ingin menjebakku?” Dia menatapku dengan sorotan mata yang sulit kuartikan. “Apa kamu bisa menjaga rahasia?” Dia malah bertanya balik padaku.


Aku mengangguk kecil, “Aku adalah istri Bang Khalid dan baju yang kau pakai adalah baju yang sama saat aku menikah dengannya.” Mataku membulat sempurna diiringi mulut yang menganga. Berita apa ini? Sungguh ini di luar dugaanku. “Jika kamu berniat lari, aku akan membantu. Bagaimanapun aku tidak suka jika Bang Khalid menikah lagi karena aku masih sanggup melayaninya kapan saja yang dia mau.”


“Bagaimana caranya?” Tanyaku.


“Nanti akan kukatakan saat tiba di kampung bawah.”


Aku menatap serius wanita di depanku yang terus tersenyum menatap Rendra. Apa yang wanita ini rencanakan? Lingkungan dan pengalaman mengajarkanku untuk tidak terlalu cepat percaya pada orang. Seperti kejadian Jannah yang mendadak dekat dan sering bermain ke rumahku dengan alasan tidak punya teman padahal ada misi lain yang dia jalankan. Aku ikut terbawa saat Jannah tertangkap. Dan sekarang apa yang wanita ini rencanakan terhadapku? Aku mesti hati-hati. Sekarang, aku mulai takut.


***

__ADS_1


LIKE...LIKE...LIKE...


__ADS_2