
Semua anggota keluarga kecuali Intan dan Iskandar berkumpul menikmati makan siang. Cut salah tingkah sendiri saat menyadari jika Rendra sedang menatapnya. Sementara dr Guney yang berada di samping Cut terus membantu pasiennya mengambil makanan yang bisa di makan oleh Cut. Dr Guney melayani Cut seperti anak kecil hingga membuat Rendra harus menahan rasa cemburu yang amat dalam.
Rendra tidak boleh egois dalam keadaan seperti ini. Cut lebih membutuhkan dr Guney dari dirinya. Sementara Pak Cek Amir dan Mak Cek Siti hanya bisa saling mengkode dengan mata melihat keponakan mereka dicemburui oleh seorang pria. Mak Cek Siti dan Pak Cek Amir sudah merestui jika nanti Rendra dan Cut menikah. Bahkan setelah mendengar semua kejadian yang menimpa rumah tangga Cut, Rendra masih mau menikahi Cut. Selama ini, Rendra selalu datang walau hanya sebentar untuk menjenguk Iskandar.
Rumah itu sudah seperti rumahnya sendiri untuk Rendra. Bahkan saat Iskandar sakit, Rendra langsung mendatanginya. Tidak jarang, ia juga menemani Iskandar bahkan menenangkannya dalam gendongan. Rendra jatuh hati pada Iskandar sama seperti dulu ia jatuh hati pada Rendra Muhammad Nur. Ia juga kerap bercerita bagaimana saat Rendra kecil bersamanya dulu. Sekilas, wajah Iskandar terlihat mirip dengan Rendra kecil dikarenakan wajah sang ibu dan almarhum Ilham memiliki kemiripan yang kuat.
“Assalamualaikum…”
Suara salam dari Kak Julie dan Bang Adi terdengar dari pintu. “Apa masih ada sisa untuk kami, Mak Cek?” gurau Adi lalu mendudukkan diri di samping Pak Cek Amir setelah mencuci tangan dan mengambil piring.
“Kalian tidak ingin menyapa Cut?”
Kak Julie dan Bang Adi yang semula tidak terlalu menghiraukan kehadiran orang baru di sana apalagi posisi duduk Cut dan dr Guney membelakangi mereka. Ditambah dengan rasa tidak sukanya pada manusia berbaju loreng yang mereka lihat pertama kali begitu masuk ke sana.
“Cut?” keduanya serentak bertanya lalu mengikuti tatapan mata Pak Cek Amir dan –
“Cut?”
Keduanya ingin berhamburan memeluk sang adik ipar namun, “Maaf, Ayila masih tahap penyembuhan.”
Kak Julie tersenyum haru lalu mengusap pelan lengan sang mantan adik iparnya. “Aku senang kamu kembali. Kami terus mencarimu.”
__ADS_1
“Terima kasih, Kak, Bang. Semoga Cut bisa bertemu dengan Ibu dan Bapak juga nanti.” Pak Cek Amir sudah bercerita tentang mantan mertuanya yang selamat hari itu.
“Mereka ada di rumah. Katakan pada kami jika mau ke sana biar kami yang mengantar.” Sela Bang Adi.
Cut menatap Kak Julie dan Bang Adi ragu. “Fais belum ketemu, Cut. Kamu berdoa saja semoga dia baik-baik saja dan kita akan bertemu dengannya lagi” ucap Bang Adi seperti tahu apa yang ada di kepala mantan adik iparnya ini.
Deg…
Perasaan Rendra seperti diaduk-aduk berada di sana. Ia berusaha meminimalisir seminimal mungkin supaya rasa cemburunya tidak sampai melukai Cut. Bagaimanapun, dia adalah orang yang datang di kemudian hari. Rendra harus siap menerima semua masa lalu Cut.
Rendra tidak bisa berada di sana sampai sore. Setelah makan dan berbincang sebentar bersama dr Guney tentang keadaan Cut. Ia meminta izin untuk kembali ke posko. Ia juga menawari diri untuk mengantar dr Guney kembali ke rumah sakit. Bukan tanpa alasan Rendra menawari diri untuk mengantar dr Guney. Sama seperti istilah ‘No Free Lunch’ itu juga berlaku untuk Rendra dan dr Guney sadar betul akan hal itu.
“Kamu cemburu saya dekat dengan Ayila?” tanya dr Guney dengan senyuman kecilnya.
“Kalian memang sehati. Dia juga mengatakan hal yang sama saat saya memanggilnya Ayila.”
Dr Guney seperti tidak takut pada sosok pria di sampingnya ini. “Dokter belum menjawab pertanyaan saya. Saya pernah gagal menikahinya. Dan sekarang saya tidak mau gagal lagi dengan kehadiran Dokter.”
Kali ini dr Guney tertawa kecil, “Seorang tentara seperti kamu bisa takut sama saya? Ayila itu punya hati sendiri. Saya memang menyukainya.” Dr Guney mengakui perasaannya sendiri.
Seketika itu juga raut wajah Rendra berubah. “Tapi saya tahu di hati Ayila tidak pernah ada saya.”
__ADS_1
Wajah yang tadinya memerah kini berubah seperti semula dengan senyum kecil tersungging di ujung bibirnya. “Tapi kamu harus tetap cemburu pada saya karena saya adalah orang yang paling Ayila butuhkan dari pada kamu.”
Dr Guney kembali tertawa lepas dengan suara yang cukup keras hingga Rendra tiba-tiba menginjak rem dan dr Guney sedikit terhuyung ke depan hampir mendekati dashboard. Dan saat itulah, Rendra membalas tertawaan Dr Guney.
Cut yang masih tahap pengobatan masih harus kembali ke rumah sakit dan Pak Cek Amir berjanji pada dr Guney untuk mengantar Cut ke sana setelah ashar. Mereka bercerita ringan tapi lagi-lagi kesedihan muncul di wajah Cut. Ia tidak bisa membohongi perasaannya karena Rendra kecil belum juga ditemukan.
“Pak Cek, Cut gagal menjaga amanah almarhum Bang Ilham. Abu dan Umi juga pasti kecewa sama Cut.” Isak Cut dalam dekapan Mak Cek Siti.
“Jangan menangis lagi. Dr Guney bilang kamu harus tenang supaya cepat sembuh. Insya Allah kita pasti bertemu di kemudian hari sama Rendra. Yang penting untuk saat ini kamunya sehat supaya bisa menggendong Iskandar lagi lalu kita juga akan mencari Rendra.” Cut hanya menganggukkan kepala saat Mak Cek Siti memberi nasehat.
“Iya, Nak. Kamu yang tenang. Pak Cek sama Mae akan terus mencari Rendra.”
Sebenarnya, mereka tidak mau menceritakan hal yang berat-berat pada Cut. Tapi, Cut sendiri yang ingin mendengarkannya. Dia terus bertanya tentang banyak hal. Mau tidak mau mereka harus menceritakan apa yang Cut inginkan.
Tepat setelah ashar, Pak Cek Amir dan Mak Cek Siti mengantar Cut kembali ke rumah sakit. Dr Guney menerima mereka di ruangannya. Beliau juga memperlihatkan hasil x ray kondisi tulang Cut seperti yang diminta sebelumnya oleh Pak Cek Amir.
Dr Guney menatap lekat dua pasangan yang tidak lagi muda itu lekat. Tatapannya yang berubah tentu membuat Pak Cek Amir dan Mak Cek Siti paham. Saat in hanya ada mereka bertiga di ruang tersebut. Cut sendiri sudah diajak ke tempat tidurnya kembali oleh seorang perawat.
“Apa ada yang belum kami tahu, Dokter?” tanya Pak Cek Amir serius.
“Seperti yang kita semua tahu jika banyak tulang di tubuh Cut yang mengalami retak dan patah. Tulang yang cukup parah sudah kami operasi dan yang ringan sudah kami tangani dengan baik. Untuk retakan-retakan kecil akan membaik dengan sendirinya kalau rajin minum obat, vitamin dan istirahat. Tubuh dengan kondisi seperi Cut ini akan sulit untuk mengangkat barang-barang berat termasuk hamil karena tulang sebagai tumpuan badan sedang tidak baik.”
__ADS_1
“Ya Rabbi...”
***