CUT

CUT
Densus 88...


__ADS_3

Rendra keluar bersama sang istri dan juga Anugrah tidak lama setelah Iskandar keluar. “Maaf soal ucapan nenek tadi ke kamu ya!” pinta Rendra yang sedang menyetir.


“Ucapan Nenek memang benar. Papa tidak perlu minta maaf.”


Rendra hanya menghela nafasnya kasar. Kepulangan Iskandar seharusnya bisa menjadi ajang untuk mempererat hubungan mereka tapi jutsru sebaliknya. Hari-hari selanjutnya, Iskandar lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya yang juga sedang berlibur untuk menyambut tahun ajaran baru. Sepeda masa kecilnya telah dijual tapi tidak mengurungkan niatnya untuk bertemu teman-teman satu permainannya.


Rumah pertama yang didatanginya dengan berjalan kaki adalah rumah yang berada tepat di depan rumahnya. Setelah dari sana, mereka kembali mendatangi rumah temannya yang lain. Iskandar mengayuh sepeda temannya. Mereka berboncengan dari rumah satu ke rumah yang lain. Setelah itu, mereka kompak berkumpul di taman komplek tempat dulu mereka menghabiskan waktu.


“Is, kayaknya kamu senang tinggal di pondok ya? Kamu tidak pernah pulang walapun libur panjang. Apa kamu sengaja tidak pulang supaya tidak bertemu Anugrah?” tanya salah satu teman.


“Banyak kegiatan di pondok dan aku juga malas untuk pulang. Teman-temanku di sana juga tidak pulang.”


Mereka bertanya banyak hal tentang kehidupan di pondok pada Iskandar. Dan dengan senang hati, Iskandar menceritakan berbagai aktivitasnya selama menjadi santri di sana.


“Aku pikir tinggal di pondok itu menyeramkan. Kalau tahu seperti ini, aku juga mau masuk pondok. Dari pada tingga di rumah lalu berurusan dengan adekku bahkan waktu mainku ikut tersita gara-gara harus menemaninya main saat Mamaku gak ada. Kesal kan?” curhat salah satu teman Iskandar.


“Sama, tiap hari Mamaku merepet karena adikku yang suka berantakin barang-barang. Imbasnya, aku yang harus selalu membereskan perbuatan dia. Kalian percaya, saat itu rasanya aku ingin menarik pipinya sampai merah. Jika tidak takut sama Mamaku. Sudah dari dulu aku lakukan.”


“Dari kita semua, hanya Adit yang akur sama adiknya. Bahkan, dia juga mengajak ikut adiknya main ke sini bareng kita.” Celutuk seorang teman kembali.


“Adik kamu baik, ya?” tanya Iskandar.


“Adiknya baik banget sama kayak Adit. Kalo duduk ya duduk aja gak banyak tingkah kayak adik-adik kita. Kalo minta apa-apa juga tidak maksa.” Jelas seorang teman yang lain.


Sedangkan sang objek hanya bisa memberikan senyum terindahnya. “Adik aku memang begitu. Mungkin karena Mama dan Papaku tidak cerewet jadi dia pun tidak cerewet.” Tukas Adit.


“Si Adit bentar lagi bakal punya adek lagi tuh.” Lanjut seorang teman.


Iskandar yang tidak tahu apa-apa menampakkan ekpsresi terkejut sesaat. “Benar?” tanyanya memastikan. Adit mengangguk pelan lalu kembali ke mode awal.

__ADS_1


“Lalu hubungan kamu sama Anugrah gimana, Is?” tanya teman yang lain.


Teman-teman Iskandar berjumlah sekitar 10 anak yang sebaya dengan mereka. Selama ini, anak-anak komplek tidak pernah bergaul dengan anak lain karena penghuni komplek merupakan anggota TNI semua. Jadi, mereka sudah dibiasakan untuk berteman bahkan jauh-jauh hari saat mereka masih dalam kandungan. Hanya Iskandar yang berbeda karena kehadirannya di komplek tersebut saat ia beranjak balita.


"Karena kami tidak tinggal bareng jadi ya tidak dekat seperti Adit dan adiknya.” Jawab Iskandar.


“Kalian tidak pernah bicara atau cerita gitu?”


Iskandar menggeleng, “Terus orang tua kamu gimana? Mereka gak tanya kenapa kamu tidak bicara dengan Anugrah atau menyuruh Anugrah untuk bicara sama kamu?”


Iskandar kembali menggeleng. Mereka sudah tahu perihal hubungan Iskandar dengan adiknya yang seperti perang dingin.


“Sampai kapan kamu akan membencinya, Is? Dia itu adik kamu juga. Dia lahir dari ibu yang sama hanya ayah kalian saja yang beda.” Adit dalam mode bijak mengikuti ibunya.


“Aku tidak lagi membencinya, Dit. Aku hanya tidak tahu mau bicara apa sama dia dan dia juga sibuk dengan urusannya sendiri. Aku juga tidak berharap dia akan menyapaku lebih dulu. Biar seperti ini sajalah, Dit. Aku dan dia bisa nyaman tanpa harus terpaksa melakukannya.”


“Kamu benar, Is. Apalagi kalian tidak pernah tinggal bersama. Dia ataupun kamu pasti canggung, ya kan?” tanya teman yang lain.


Semua teman Iskandar terkejut menatapnya. “Aku mau lanjut sekolah ke Yaman jalur beasiswa.”


“Apa???” mereka kompak terkejut dan itu sedikit membuat Iskandar terkekeh.


Teman-teman kompleknya memang tidak kalah seru dengan para sahabat till jannah dari pondok. Mereka yang dulu menjadi tempatnya bercerita saat masih mengenyam sekolah dasar.


“Weisss, mantap tenan teman kita satu ini. Pulang-pulang jadi kiyai. Kita nanti bakal punya teman seorang kiyai. Dan kita semua akan dapat khutbah gratis tanpa harus ke mesjid.” Seloroh seorang teman yang membuat mereka tergelak bersama.


“Yaman itu di luar negeri kan? Bukannya itu tempat perkumpulan para pemberontak yang sering bunuh-bunuh orang bule?” tanya salah satu teman.


Mereka yang tadinya tergelak kini berubah ke mode serius. “Kamu tidak akan ikut-ikut organisasi itukan, Is? Aku tidak siap melihat kamu ditangkap densus 88.”

__ADS_1


“Hussss, jangan bilang yang bukan-bukan. Om Rendra tidak akan mengizinkan Iskandar pergi jika tahu dia bakal ikut-ikut ke situ.” Sela satu teman.


“Memangnya kalian yakin jika Iskandar tidak punya niat untuk gabung ke sana? Pokoknya, Is. Kalau kamu sampai gabung sama mereka terus pulang ke sini dan ngajarin yang bukan-bukan. Aku tidak akan menganggap kamu sebagai teman lagi. Dan aku akan jadi orang pertama yang lapor pada polisi.”


Iskandar terkekeh, “Tenang sodara-sodara, jangan terhasut beruta hoax! Sekolah ku di sana itu resmi dan tidak ada hubungannya dengan kelompok itu. Kalian tenang saja.”


“Terus kamu kapan pulang kembali ke sini?”


“Insya Allah, Aku tidak pulang.”


“Apa???” mereka kembali terkejut.


“Benar kan aku bilang kalau dia pasti akan membelot. Sampai di sana diaa akan belajar cara merakit bom dan senjata lalu bergabung dengan kelompok tersebut. Ayahku bilang banyak sekali anak-anak muda yang terpengaruh dengan ajaran mereka sampai siap untuk melakukan bom bunuh diri mengatasnamakan syahid.” Ujar Adit.


“Hahhh?”


Iskandar menghela nafasnya. “Aku tidak pulang karena akan langsung melanjutkan kuliah ke Kairo. Untuk menghemat biaya, aku memilih untuk berangkat dari sana dan pihak sekolah di Yaman sudah sering memfasilitasi keberangkatan para santri dari Indonesia yang akan melanjutkan sekolah ke Kairo.”


“Ooooo.”


“Enak tenan hidupmu ya, Ren. SMA saja ke luar negeri terus kuliah juga ke luar negeri bahkan lebih jauh. Kami hanya SMP dan SMA di sini-sini aja. Setiap hari kami akan melewati jalan dan gang yang sama. Sementara kamu sudah berpetualang jauh ke luar negeri.”


“Om Rendra udah baik banyak duit lagi. Kamu pasti senang karena Papamu mau mengeluarkan biaya mahal untuk sekolahmu.


“Aku tidak memakai uang Papa. Biaya sekolah ditanggung pemerintah dan untuk uang jajan, aku mendapat setoran tiap bulan dari kakek nenekku di Aceh.”


“Soal keluarga ayahmu, apa kamu tidak berencana mencarinya?”


 

__ADS_1


***


__ADS_2