CUT

CUT
Kehilangan Roh...


__ADS_3

Teuku tersenyum geli melihat calon istrinya seperti orang kehilangan roh. Tatapannya menerawang dengan pikiran yang entah ke mana. Bahkan ibunya berusaha menggoyangkan lengannya hingga kesadaran Anggia kembali.


“Eh, aku tidak mimpi?” tanyanya pada sang ibu.


Anggia baru bereaksi ketika sang ibu menggeleng lalu suara MC mulai memandu acara. Air matanya tiba-tiba luruh saat menyadari jika semua orang telah membohonginya selama ini. Bukannya suasana bahagia yang terjadi, Anggia malah berlari keluar dari tempat acara dengan cepat. Dia tidak benci dibohongi. Dia kesal, marah dan semua perasaan bercampur aduk. Apa yang diharapkan oleh keluarganya? Anggia akan bersikap dewasa lalu berusaha menahan diri di depan semua tamu undangan? Tidak! Anggia tetaplah anak kecil dengan semua sikap yang kekanak-kanakannya. Tapi satu hal yang dilupakan oleh orang tuanya, Anggia benci dibohongi!


Seketika para keluarga dan kerabat panik melihat Anggia lari ke luar ruangan. Lalu dengan meminta izin pada calon mertuanya, Teuku menyusul calon istrinya ke luar. Sementara di dalam, para tamu langsung mendapatkan penjelasan dari panitia sesuai arahan dari pihak keluarga sebelumnya. Ibu Anggia sudah menjelaskan segala kemungkinan yang akan terjadi pada MC untuk mencegah rasa penasaran para tamu dan kerabat.


“Karena ini disiapkan sebagai kejutan jadi kami harap para tamu untuk maklum. Calon mempelai wanita pasti tidak menyangka akan mendapat kejutan tidak terduga seperti ini.” Ucap MC membuat para tamu menggangguk paham. Sementara di area balkon, Anggia sudah menangis sambil menekuk lututnya di lantai. Ia sudah tidak peduli dengan riasannya. Hanya itu tempat sepi yang tidak dilewati orang-orang saat ini.


Teuku menghela nafasnya melihat gadisnya meringkuk di lantai seraya menangis. Teuku berjalan pelan lalu ikut duduk di lantai samping Anggia. Sebelah tangannya menepuk pelan punggung gadis itu mencoba menenangkannya namun justru di tepis dengan siku.


“Pergi! Kakak jahat banget. Aku benci sama Kakak. Kenapa harus berbohong? Kakak kan tahu kalau aku tidak suka dibohongi. Kalau memang acaranya untuk aku, kenapa tidak bilang saja? Walaupun aku belum tentu siap tapi aku akan berusaha siap tapi ini? Aku mempersiapkan sendiri acara lamaran ini dengan penuh perasaan tapi apa? Semua ini justru buat aku sendiri. Aku bingung, Kak. Bagaimana menghadapi pria itu? Kakak kan tahu kalau selama ini aku hanya berhubungan sama Kakak dan sahabat Kakak yang lain. Aku tidak tahu dia itu laki-laki seperti apa? Aku ketakutan setiap kali berada di dekatnya, bahkan kata-katanya membuatku semakin takut. Bagaimana aku harus menghadapinya setelah kami menikah? Setidaknya izinkan umurku bertambah sedikit lagi supaya aku lebih dewasa lagi.” Anggia kembali menangis bahkan setengah menjerit hingga telapak tangan yang tadinya menepuk kini berubah mengusap punggung gadis itu. Dan tampah diduga, Anggia justru memeluk tubuh yang ia kira kakaknya itu lalu kembali menumpah tangisnya dalam pelukan Teuku.


Ari selalu menemui adiknya saat gadis itu menangis hingga Anggia berpikir jika pria itu adalah kakaknya. Apa yang dilakukan oleh Teuku sama persis dengan yang kakaknya lakukan ketika menghiburnya yang sedang bersedih yaitu menepuk punggungnya kemudian jika ia semakin menangis maka telapak tangannya akan mengusap punggungnya tampa kata. Kakaknya akan diam saja mendengar semua keluhannya hingga akhirnya berakhir ketika Anggia memeluk sang kakak seperti yang sedang ia lakukan sekarang pada Teuku.


Cukup lama Anggia memeluk Teuku, entah kenapa ia selalu merasa nyaman dalam pelukan kakaknya sampai sebuah pertanyaan muncul dari mulut gadis itu.


“Pelukan Kakak selalu membuatku tenang. Bagaimana kalau nanti Kakak menikah? Siapa yang akan memelukku lagi?”


“Aku!”


Gleg…


Dengan cepat Anggia mendongak lalu matanya kembali melebar dengan mulut menganga di balik cadarnya menatap wajah pria yang ternyata bukan kakaknya. Belum habis rasa terkejutnya ia kembali mendapat sesuatu yang lain.


Cup…


Teuku mencium pipinya sekilas lalu mengusap air mata gadis itu. “Aku minta maaf kalau sudah membuatmu kecewa, marah dan merasa dibohongi tapi inilah cara teromantis yang terpikir di otakku. Aku tidak pandai membuat kata-kata romantis, aku terbiasa membedah pasien tapi jadi tolong maklumi dengan ide jahilku ingin melamarmu tanpa kamu tahu. Aku ingin memberikan kejutan tapi aku lupa kalau kamu benci dibohongi. Maafkan aku ya!” telapak tangan yang tadinya berada di punggung sang gadis sudah berpindah ke pinggangnya.


Anggia masih berada dalam dekapan Teuku, ia ingin menjauh namun tangan Teuku justru menekan pinggangnya. “Maafkan aku ya!” ucapnya lembut tepat di depan wajah gadis itu. Nafasnya bahkan terasa sampai ke wajah Anggia. Bertatapan dalam jarak sedekat itu membuat Anggia salah tinggkah hingga ingin menunduk namun sebelah tangan Teuku justru menangkap dagunya lalu mengangkat kembali hingga mau tidak mau keduanya kembali berhadapan.


“Maafkan aku ya!” ucapnya lagi dengan sangat lembut.


“Apa aku punya pilihan lain?” Anggia mulai sadar kembali. Ia mencoba menepis rasa gugupnya.


Teuku tersenyum sangan manis dan lembut membuat Anggia tidak tahan berlama-lama dalam dekapan pria itu. “Tidak! Karena aku yakin kamu adalah anak yang berbakti. Kamu tidak ingin membuat malu keluargamu, bukan?”


“Ternyata kamu sangat pemaksa!”


Sebelah tangan Teuku dengan jahilnya menghapus sisa air mata di pipi gadis itu. “Tuh kan, Paman ini pasti sudah pro urusan beginia. Lihat saja cara dia memperlakukanku. Pasti dia mantan playboy dulu.” batin Anggia menatap pria itu.


“Aku ingin menghabiskan masa tuaku bersamamu. Berdoa saja kalau aku mati dengan cepat supaya kamu bisa bebas dariku dengan cepat. Tapi selama aku hidup, kamu hanya akan menjadi milikku!” ucap Teuk tanpa melihat wajah itu. jari jemarinya terus mengusap pipi sang gadis hingga tiba-tibanya matanya bertatapan dengan dengan mata Anggia.

__ADS_1


“Maukah kamu menikah denganku?”


Keduanya bertatapan lama lalu, “Apa aku punya pilihan lain?” tanya Anggia setengah menggerutu membuat Teuku terkekeh lalu ia kembali mencium sekilas pipi sang gadis yang dibalut cadar itu.


“Apa kalian akan melaksanakan acara lamaran di sana?” suara sang kakak di belakang membuat Anggia segera bangkit menjauh dari pelukan sang calon suami.


“Kakak-“ tangan Ari terangkat sebelah. Pria itu tahu apa yang sudah terjadi dengan adik dan calon adik iparnya tapi apa mau dibuat hingga Ari memilih untuk menghela nafasnya melihat tingkah calon suami dari adiknya itu.


“Kalian memang harus menikah secepatnya!” ucap Ari lalu menarik tangan sang adik kembali masuk dalam ruangan acara disusul oleh Teuku. Seketika mereka masuk, para tamu dan hadirin yang hadir di sana tersenyum penuh arti menatap calon mempelai tersebut.


MC kembali membuka acara lalu mempersilakan kedua calon mempelai untuk maju ke tempat yang sudah ditentukan untuk bertukar cincin. Setelah Anggia keluar, acara formal tetap dilanjutkan seperti pembacaan ayat suci Al-quran lalu sambutan dari kedua pihak keluarga.


“Apakah ada kata-kata lagi yang akan diucapkan oleh calon mempelai pria?” tanya MC.


“Kami rasa sudah semuanya tadi, kita langsung ke acara tukar cincinnya saja.” Ucap pihak keluarga membuat kening Teuku dan Anggia berkerut.


Keduanya saling menatap lalu, “Anggia Putri, aku tahu ini diluar dugaanmu. Tapi ini nyata dan aku ingin menghabiskan masa tuaku bersamamu. Maukah kamu mendampingiku sebagai istri, teman dan ibu dari anak-anakku?” ucap Teuku menatap Anggia.


Gadis itu menjawab seraya mengangguk, “Insya Allah.”


Para hadirin bertepuk tangan meriah lalu kedua sejoli itu saling menyematkan cincin ke jari satu sama lain hingga tiba-tiba lampu mati lalu sebuah layar menampilkan lamaran secara langsung di balkon gedung. Mata Teuku dan Anggia terbelalak, “Ini ide kamu juga?” tanya Anggia.


“Ti-tidak! Ini tidak ada dalam rencana.” Ucap Teuku seraya matanya masih tidak berkedip menatap layar. Kedua calon mempelai mendapat tepukan tangan meriah dan tidak banyak menggoda mereka dengan kata-kata nyeleneh.


“Kamu yakin ini bukan ide kamu?” saat layar menunjukkan saat Teuku mencium pipinya.


“Aku ingin menghilang dari ruangan ini sekarang juga!” ucap Anggia.


“Ayo!”


Teuku langsung membawa Anggia pergi dari sana saat mata semua orang masih fokus ke lamaran di atas balkon. Dan ketika lampu dinyalakan kembali, mereka langsung tertawa saat menyadari jika calon mempelai sudah kabur dari ruangan.


Dreet…


Anggia baru memasuki mobil di area parkir. “Assalamualaikum, Om.”


“Kamu di mana?”


“Aku dan Anggia tidak bisa kembali ke ruangan itu, Om.”


“Kalian mau ke mana?”


“Kami mau pulang.”

__ADS_1


“Tunggu akad, Teuku!”


“Aku tahu, Om. Sudah ya! Assalamualaikum.”


Suara orang-orang tertawa mendengar dari pengeras suara saat Rendra menelepon.


“Mereka usil sekali!” gerutu Teuku.


“Kamu juga!”


“Kamu percaya kan kalau itu bukan rencanaku?”


“Iya. Sekarang kita ke mana?” tanya Anggia.


“Kita jalan ya! Selagi aku libur tapi sebelum itu aku antar kamu buat ganti baju dulu.”


Anggia hanya mengangguk lalu sesampainya di rumah, Anggia menuju kamarnya untuk berganti baju sedangkan Teuku memilih ke dapur mengacak-ngacak isi kulkas milik calon mertuanya. Asisten rumah tangganya juga sudah ikut ke tempat acara hingga rumah itu kosong.


Anggia terkejut melihat calon suaminya sedang lahap menyantap buah-buahan dari kulkasnya. “Kamu lapar?” tanyanya mendekat ke meja makan.


“Iya. Aku sudah menghabiskan energi untuk melamarmu.”


“Sayang sekali, padahal menu di tempat acara itu pilihanku dan itu enak-enak semua.” Ucap Anggia ikut mengunyak apel yang sudah terpotong di dalam wadah.


“Telepon Iskandar suruh bungkus buatku.” Titah Teuku membuat Anggia melongo tidak percaya.


“Kenapa? Semua makanan  itu sudah kubayar!” ucap Teuku kesal karena tatapan Anggia seperti mengejeknya.


“Kamu tidak tahu berartinya sebutir nasi saat kamu belum kelaparan.”


“Memangnya kamu pernah kelaparan?” tanya Anggia setengah mengejek. Ia tahu hidup seperti apa yang Teuk jalani jadi kalau membahas kelaparan, Anggia yakin jika calon suaminya itu tidak pernah merasakan apa itu kelaparan.


“Aku memang tidak merasakannya tapi aku pernah ikut misi kemanusiaan seperti yang Anugrah ikut sekarang. Aku melihat dengan jelas bagaimana anak-anak itu menderita busung lapar karena tidak punay uang dan makanan. Dari situ aku belajar untuk menghargai makanan karena di luar sana masih banyak orang yang kekurangan.


Anggia takjub ternyata calon suaminya orang yang sangat???


“Entah.” Batin Anggia lalu kembali mengunyak sepotong apel yang dipotong oleh Teuku.


“Pegang!” Teuku memberikan wadah tersebut ke tangan Anggia. Lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan.


“Kita mau ke mana? Dan kenapa membawa bekal begini?”


“Kita mau tamasya!”

__ADS_1


***


Hai...hai....bagaimana???


__ADS_2