CUT

CUT
Bertemu Lagi...


__ADS_3

6 bulan kemudian…


Cut berjalan sedikit pincang ditemani dr Guney menuju ruko tempat Mae berjualan bersama Abu dulu. “Pelan-pelan, Ayila. Kamu bisa terjatuh jika berjalan cepat seperti itu.”


Cut mulai memelankan langkahnya, “Maaf, Dokter. Saya lupa.”


Enam bulan pasca gempa dan tsunami menghantam pesisir barat Aceh, kehidupan masyarakat berangsur membaik. Walaupun banyak yang masih tinggal di barak-barak pengungsian sambil menunggu pembangunan ulang rumah-rumah yang terdampak dari pemerintah. Sudah sebulan kondisi kesehatan Cut membaik secara keseluruhan. Hanya kaki sebelah kanannya mengalami kecacatan hingga membuatnya harus berjalan pincang.


Kembalinya Cut merupakan satu dari banyaknya keajaiban yang ditemui oleh para tenaga medis seperti dr Guney. Sulit untuk menjelaskan bagaimana kondisi seperti Cut bisa kembali seperti sekarang dengan keadaannya waktu pertama ditemukan. Saat ini, Cut ditemani oleh dr Guney berjalan menuju area pasar. Cut tidak kehilangan ingatannya walaupun kepalanya mengalami banyak benturan. Ia bahkan protes ketika orang-orang memanggilnya dengan sebutan Ayila.


“Nama saya Cut Zulaikha bukan Ayila!”


Seketika itu seluruh perawat yang mendampingi dr Guney tersenyum lega. Cukup banyak operasi yang dilakukan untuk memperbaik letak tulang di tubuhnya.


“Mae!”


Cut berlari dan hampir terjatuh saat menatap Mae yang sedang melihat ruko pemberian Abu. Air matanya sudah tidak terbendung, “Maeeee…”


Mae yang melihat Cut memanggil namanya tentu sangat terkejut. Selama berbulan-bulan ia terus mencari keberadaan Cut namun belum ada hasil. Hingga, orang yang dicari itu justru mendatanginya saat ini.


“Kak Cut. Ini benar Kak Cut?” tanyanya setelah mengurai pelukan mereka.


Cut mengangguk masih dengan tangisnya hingga beberapa orang di pasar itu turut memperhatikan momen pertemuan dua anak manusia yang dipisahkan oleh tsunami 6 bulan lalu.


“Abu, Umi, Iskandar sama Rendra bagaimana?” tanya Cut penuh harap.


“Abu dan Umi sudah meninggalkan kita, Kak. –“


Belum selesai Mae berkata, Cut sudah histeris lebih dulu. Mae memeluknya erat. Ia tahu, kakak angkatnya pasti tidak akan sanggup menerima berita memilukan seperti ini.


“Yang sabar, Kak. Masih ada Iskandar yang menanti kakak di rumah.”


“Iskandar? Rendra?”

__ADS_1


“Ayo, kita kerumah dulu!”


Mereka sudah kembali tinggal di rumah Mak Cek Siti yang tidak jauh dari pasar. Rumah itu masih kokoh berdiri walaupun retak di sana sini. Lantai dua di pakai untuk tidur sedangkan lantai satu di pakai saat siang hari. Trauma akibat gempa masih terasa hingga sedikit benda bergoyang saja, mereka langsung lari ke luar. Sedangkan di lantai dua mereka memberanikan diri untuk tidur karena gelombang tsunami kemarin tidak sampai ke lantai dua. Jika saat itu mereka memilih tinggal di lantai dua kemungkinan untuk selamat sangat besar.


“Dokter, ayo!”


Dr guney tersenyum lalu mengikuti Cut dari belakang. Cut seperti anak kecil yang baru mendapat mainan saat bertemu Mae. cut menggandeng tangan Mae layaknya pasangan kekasih. Rasa sayang Cut untuk Mae memang besar sama seperti Abu dan Umi.


“Assalamualaikum,”


Penghuni rumah sedang memasak untuk makan siang. “Walaikumsalam,” sahutan itu terdengar biasa bagi penghuni karena tahu jika itu Mae.


“Mak Cek, Intan, -“ suara Cut tercekat ketika menatap sosok bayi dalam gendongan adik sepupunya itu.


Air matanya kembali tumpah begitu juga dengan Intan dan Mak Cek Siti yang melihat Cut kembali dalam keadaan hidup. Mereka berpelukan cukup lama dalam isakan tangis masing-msing. Meluapkan rasa rindu serta rasa syukur di waktu bersamaan setelah dipisahkan oleh bencana.


“Itu siapa?” tanya Mak Cek Siti setengah berbisik.


Cut berbalik menatap dr Guney yang sedari tadi menyaksikan moment haru pertemuan anggota keluarga yang sempat hilang. Selama ini, ia sudah banyak menyaksikan momen seperti ini di rumah sakit. Setiap pasien di foto lalu ditempalkan pada tenda-tenda serta papan informasi orang ditemukan. Dari sanalah, banyak orang yang berhasil menemukan anggota keluarganya lagi. Foto Cut juga ada tapi karena banyaknya luka serta perban yang masih menutup beberapa luka di wajahnya membuat keluarga dari Cut banyak yang tidak mengenali fotonya.


Mereka saling bersalaman sampai suara Pak Cek Amir memberikan salam terdengar sampai ke dapur. Pak Cek Amir mamatung seraya mengucapkan tasbih ketika melihat sang keponakan. Cut mencium tangan pamannya lalu sang paman yang sudah berurai air mata akhirnya tak kuasa membendung rasa kebahagiaan dan kesedihan di waktu yang bersamaan.


“Alhamdulillah ya Allah, kamu masih hidup, Nak.”


Pak Cek Amir juga dikenalkan dengan dr Guney. Pak Cek Amir kemudian meminta dr Guney untuk menceritakan kondisi Cut saat ini. Cut sendiri tidak bisa menggendong Iskandar karena tulang lengannya belum sembuh sempurna setelah operasi. Ia hanya melihat bayi itu dalam pangkuan Instan.


“Hanya butuh waktu sekitar 2 atau 3 bulan ke depan untuk memastikan tulang-tulangnya sudah seperti semula. Tapi saya minta maaf karena tidak bisa mengobati saraf kakinya sehingga Cut harus berjalan sedikit pincang.” Terang dr Guney.


“Alhamdullah kalau begitu, terima kasih banyak Dokter.” Ucap Pak cek Amir tulus.


Mereka bercerita banyak hal termasuk Rendra kecil yang masih hilang. Sesekali Cut menyeka air mata yang terus membasahi pipinya. Ia seperti belum siapa dengan semua keadaan. Orang-orang tersayangnya pergi tanpa pamit. Sedangkan Mak Cek Siti kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang seadanya apalagi ada tamu yang bertandang ke rumah. Sudah menjadi rahasia umum pasca gempa dan tsunami, barang-barang di ibu kota provinsi yang terdampak sangat parah mengalami kelonjakan harga yang membuat masyarakat geleng-geleng kepala.


Bagi pengungsi yang tinggal di barak, mereka masih mendapat makanan bantuan dari pemerintah. Sedangkan yang sudah kembali ke rumah, mereka memilih sendiri apa menerima bantuan pemerintah atau membeli kebutuhan lain sesuai keinginannya.

__ADS_1


Dokter Guney menjadi pendengar ketika Cut dan Pak Cek Amir berbicara panjang lebar yang menurut dr Guney terlalu random tersebut. Dia memperhatikan bayi di pangkuan Intan sambil sesekali tersenyum pada bayi tersebut.


“Dokter mau gendong?” tanya Intan.


Dr Guney terkejut lalu tersenyum, “Boleh?” tanyanya kembali.


Intan menghampiri dr Guney lalu menyerahkan Iskandar dalam gendongan dr Guney. Iskandar menatap mata dr Guney lalu tersenyum khas bayi.


“Dokter pasti merindukan keluarga di Turki ya?” tanya Intan polos.


Pak Cek Amir dan Cut seketika berhenti lalu menatap dr Guney.


Seraya tersenyum kaku, “Saya belum berkeluarga.”


Pembicaraan kembali mereka lanjutkan sampai suara salam dari pintu terdengar tiba-tiba. Seorang pria terlihat tergesa-gesa memasuki rumah Pak Cek Amir lengkap dengan pakaian lorengnya.


Deg…


“Bang Rendra…”


“Cut…”


Seakan lupa di mana mereka, Rendra langsung memeluk wanita yang sudah dicarinya berbulan-bulan itu dengan perasaan haru dan bahagia.


“Abang tidak pernah berhenti mencari kamu. Akhirnya kita bertemu kembali. Abang tidak akan melepaskan kamu lagi.”


“Ehem…ehem…”


Suara deheman Pak Cek Amir menyadarkan Rendra hingga ia melepaskan pelukannya. Sedangkan Cut sedikit meringis, “Di mana yang sakit?” tanya dr Guney tiba-tiba panik.


Rendra melihat dr Guney bertanya begitu ikut panik. Cut menggeleng, “Sedikit sesak dan perih di sini Dokter.” Ucap Cut menunjuk ke arah bahunya.


“Tolong jangan terlalu erat. Ayila masih dalam tahap penyembuhan.” Terang dr Guney.

__ADS_1


“Ayila???”


***


__ADS_2