CUT

CUT
Pak Dos...


__ADS_3

Aisyah duduk termenung di teras belakang rumahnya. Entah kenapa pikirannya terus memikirkan perdebatan yang mereka alami kemarin sore. Jujur saja, Aisyah sedikit takut melihat perubahan wajah Iskandar saat itu.


“Hem, lagi ada masalah sama Pak Dosen kesayangan?” tanya Dokter Rendra menghampiri sang adik.


“Masalah sih gak ada, Kak. Hanya saja kemarin kami sempat berdebat lalu untuk pertama kalinya aku merasa takut melihat reaksinya.” Aisyah sangat dekat dengan Kakaknya. Dia selalu bercerita banyak hal pada sang kakak yang menurutnya sangat bijak dalam menasehati.


“Memangnya apa yang kalian perdebatkan?” Aisyah menceritakan topik yang membuat ia dan Iskandar terlibat ketegangan kemarin. Setelah mendengar penuturan sang adik, Dokter Rendra mulai menanggapi keresahan yang menyelimuti sang adik dengan kata-kata bijak.


“Yang dikatakan pacarmu memang benar. Makanya rumah tangga itu tidak cukup dengan cinta. Harus ada pondasi yang kuat untuk membangunnya. Soal perubahan Iskandar yang membuatmu terkejut menurut Kakak justru bagus untukmu. Berapa banyak pasangan yang jaim-jaim tapi setelah menikah baru menampakkan aslinya. Alhasil, kalau pasangannya mau menerima berari pernikahan itu masih dibisa diselamatkan. Nah, kalau tidak? Ya pisah. Lebih baik terkejut sekarang dari pada terkejut nanti, ya kan? Kalau sekarang kamu masih bisa lari tapi kalau nanti? Gadis bukan lagi, apa lagi yang berharga dari diri seorang wanita selain kegadisannya? Nah, kalau sampai itu terjadi setelah menikah akan susah untuk kamu mencari pria lain. Kalau sekarang, kamu masih bisa dapat yang lebih dari Pak Dos itu. Bagaimana, mau Kakak carikan?”


Aisyah mencibir menatap sinis sang kakak. “Sok-sokan nyari buat aku. Nah, Kakak sendiri malah dijodohkan. Apa Kakak gak memutar kata-kata tadi buat diri Kakak sendiri?”


“Kamu itu kalau diingatkan selalu begitu. Soal Anggia, itu biar Kakak yang urus. Kamu cukup tonton saja bagaimana Kakak membuat gadis itu menjadi istri Kakak.” Dokter Rendra tampak percaya diri.


“Tapi dia tidak suka sama Kakak. Apa Kakak sanggup hidup dengan gadis yang hati dan pikirannya ada orang lain?”


Dokter Rendra menghela nafas memandang sang adik. “Gadis seperti Anggia itu berbeda. Dia itu gadis yang terlalu banyak membaca novel dan menonton drakor. Dia terlalu lama hidup dalam dunia hayalnya. Maka dari itu, Ibunya meminta langsung sama Kakak untuk menikahinya. Supaya dia kembali ke dunia nyata. Apa kamu tahu alasan dia bercadar?”


Aisyah menggeleng, “Dia baca novel di mana seorang dosen jatuh cinta pada mahasiswa bercadarnya. Dia ingin memiliki kisah seperti itu. Anggia itu labilnya tingkat akut.”


“Apa Kakak sanggup menghadapi sikap labilnya? Sekarang saja Kakak sudah mengeluh.”


“Kakak bukan mengeluh tapi menceritakan sebagai pelajaran untukmu nantinya. Jadi kapan Pak Dos itu mau menemui Papa-Mama?”


“Siapa yang mau menemui Papa-Mama?”


Gleg…


Aisyah melotot ke arah sang kakak. “Kenapa tidak ada yang jawab? Siapa Pak Dos dan buat apa dia menemui Papa-Mama?” tanya sang ayah.


“Insya Allah Pak Dos itu calon mantu ayah.” Jawab Dokter Rendra santai.


Ayah dan ibu dari Aisyah terkejut lalu tersenyum senang. “Bagaimana kalau kita menikahkan mereka bersamaan, Ma?” tanya sang ayah.


“Tidak. Ai tidak mau, Pa, Ma. Ai mau menikah setelah wisuda.” Protes Aisyah.


“Hem, baiklah. Tapi sebelum itu, suruh dia datang menghadap kami. Kami perlu tahu siapa laki-laki yang sudah berani menyukai gadis kecil kami.” Pinta sang ayah.


“Nanti Aisyah bilang sama dia, Pa.”


“Tenang saja, Pa. Aku sudah bertemu sebelumnya sama Pak Dos itu. Dan ternyata Pak Dos itu teman akrab Ari, kakak dari Anggia.”


“Wah, dunia memang kecil ya.” Celutuk Ibu Ayu.


“Berarti dia juga lulusan Kairo ya?” Aisyah menganggukkan kepalanya.


“Alhamdulillah, akhirnya kita punya menantu setaraf ustad, Pa.”


“Memangnya aku tidak ya?” celutuk Dokter Rendra.


“Kamu itu ustad versi lain. Gak usah cemburu, semua orang sudah punya porsinya masing-masing termasuk dalam karir.” Nasehat bijak sang ibu.


“Kenapa tidak suruh sekarang saja dia kemari?” tanya sang ayah kembali.

__ADS_1


“Dia lagi sama nenek dan kakeknya.” Orang tua dari Aisyah manggut-manggut. “Kalau begitu, sabtu depan suruh kemari, ya!” Aisyah menjawab dengan menganggukkan kepala.


Rumah Dinas TNI AD…


Anugrah menurunkan Wulan dari dalam mobil lalu menggendongnya menuju bangku di teras rumah. Setelah itu baru menurunkan kursi roda lalu membuka pintu rumah. “Aduh, mesranya pasangan baru.” Celutukan dari tetangga mereka.


Wulan dan Anugrah hanya membalas dengan senyum, “Kami masuk dulu, Buk. Istri baru pulang terapi.” Ucap Anugrah sopan lalu kembali menggendong Wulan ke dalam.


“Iri deh Pak lihat pasangan muda itu.” keluh si ibu pada suaminya.


“Kalau ibu lumpuh begitu, Bapak belum tentu sanggup menggendongnya.”


“Kenapa? Hem, pasti Bapak mau cari istri muda kan? Hayo ngaku!”


“Buk, yang jadi masalah itu bukan istri muda walaupun itu pasti Bapak lakukan. Masalahnya, lihat saja badan Ibu sama Buk Anugrah. Beda jauh atuh, Buk.”


Bugh…


“Bapak jahat banget ngatai ibu gendut. Dulu saja Bapak maksa-maksa supaya Ibu terima. Giliran sekarang bilang Ibu gendut. Bapak jahat, malam ini tidur sana sama Mbak Kunti!” Si Ibu marah, Bapak lah yang kena getahnya.


Di dalam rumah, Anugrah tengah membantu Wulan untuk mandi dan berganti pakaian. Walaupun sudah terbiasa tap hari ini berbeda dari biasanya. Saat mandi tadi pagi, Anugrah dibuat terkejut karena darah yang keluar dari inti Wulan. Namun keterkejutan Anugrah langsung sirna saat menyadari jika Wulan memang sedang datang bulan.


“Kamu datang bulan?” ia bertanya untuk memastikan.


Wulan mengangguk kecil seraya menunduk. Ini pertama kalinya ia datang bulan dan diurus oleh Anugrah. Sebelumnya ada Bibik dan ibu mertuanya.


“Punya pembalut?”


Wulan melihat Anugrah membilas celana berdarah itu dengan tangannya setelah menyiram terlebih dahulu darah yang masih menempel di sana. Di depan Wulan, Anugrah menyabuni dan menyikat celana itu tampa risih ataupun jijik.


“Aku jemur ini dulu, Kalau sudah selesai panggil ya!”


“Iya.” Anugrah keluar dari kamar mandi lalu menuju belakang rumah untuk menjemur. Dan sore ini, peristiwa tadi pagi kembali terulang. Selama merawatnya, Anugrah tidak pernah mengatakan kata capek padahal Wulann tahu jika Anugrah kadang pulang dari kantor terlihat capek. Sudah seminggu ini, dia rutin terapi di rumah sakit militer dan Anugrah selalu mengantar jemputnya tepat waktu.


Anugrah sudah memasang pembalut di celana Wulan, kini tinggal memakaikannya. Ia mengangkat Wulan dengan tangan Wulan melingkar di lehernya dan kedua tangan Anugrah menaikkan celana itu sampat di tempat yang seharusnya. Jika laki-laki lain berlomba-lomba menurunkan celana istri mereka maka hal itu tidak berlaku untuk Anugrah.


“Mau makan apa?” tanya Anugrah setelah mereka keluar dari kamar ganti.


Anugrah sudah memakai appron lalu membuka kulkas untuk mengolah bahan makanan yang akan mereka santap malam ini.


“M-mie ayam.” Lirih Wulan. Ia tidak yakin akan mendapatkannya. Sudah lama sekali, Wulan ingin makan mie ayam.


“Mau makan di tempat atau bungkus?” Wulan langsung sumringah, “Kalau makan di tempat apa-“


“Tunggu setelah magrib kita pergi.” Anugrah melepas appronnya lalu mendorong kursi roda Wulan menuju ruang tamu. Begitu Azan berkumandang, Anugrah langsung bergegas mengambil air wudhu lalu melaksanakan salat dengan khusuk.


Dari balik pintu, Wulan menatap sendu sosok yang sedang khusuk dalam salatnya tersebut. Ia teringat almarhum ibunya. Dulu, mereka kerap melaksanakan salat bersama ke mesjid terdekat sambil bercerita banyak hal. Semua begitu indah hingga saat sang ibu mulai sakit-sakitan.


Anugrah memakai baju kaos putih dengan sarung dan peci. Ia menengadahkan tangan dalam diam memohon doa yang hanya dia dan Allah SWT yang tahu. Tanpa Anugrah tahu, Wulan juga melakukan hal yang sama dibelakangnya. Keduanya larut dalam doa masing-masing hingga tanpa sadar air mata keduanya ikut mengalir membasahi pipi.


Anugrah kembali mengganti sarung dengan celana jeans lalu memakai jaket. Sementara Wulan yang tadinya memakai baju tidur kini harus berganti dengan pakaian gamis terusan yang sengaja Anugrah pilihkan. Dengan memakai gamis itu, Wulan tidak perlu membuka baju tidurnya. Dan Wulan tidak masalah dengan itu. Justru dia senang karena Anugrah tidak perlu membantunya lagi untuk membuka pakaian.


Anugrah kembali melajukan mobilnya keluar dari komplek rumah dinas. Ia membawa Wulan ke sebuah kedai mie ayam yang sukup terkenal di sana karena sudah berjualan puluhan tahun. Setelah mencari tempat parkir, Anugrah menggendong Wulan ke atas kursi roda lalu mendorongnya memasuki warung. Suasan warung cukup ramai padahal ini baru magrib. Jika pengunjung lain saling bercengkrama satu sama lain tapi tidak dengan mereka. Setelah memesan mie ayam, Anugrah dan Wulan hanya duduk diam tampa bicara sepatah kata pun. Wulan sendiri hanya bisa menunduk sambil memainkan jari jemarinya.

__ADS_1


“Maaf, Mas. Adiknya sakit apa?” pertanyaan itu terlontar dari mulut salah satu pengunjung yang berada satu meja dengan mereka.


“Kecelakaan, Pak. Ini lagi dalam masa terapi.”


“Ouh begitu. Semoga cepat sembuh ya, Dik.” Ucap pria itu ramah.


Mie yang mereka pesan akhirnya sampai. Wulan terlihat antusias, ia segera menyambar saus, cabai dan kecap lalu mengaduk-ngaduk seperti anak-anak baru mendapat mainan.


“Jangan banyak-banyak nanti sakit perut.” Larang Anugrah tapi diacuhkan oleh Wulan.


Wulan menikmati mie ayamnya seorang diri dalam kenikmatan tiada tara. Ia tidak peduli orang-orang menatapnya dengan berbagai pandangan. Toh, inilah kebahagiaanya saat ini.


“Pelan-pelan aja, Dik. Mienya tidak akan direbut orang kok.” Gurau pria itu kembali tapi tetap Wulan abaikan.


“Mas, adiknya cantik ya! Sudah punya pacar?”


Anugrah mulai jengah, pria itu sepertinya menyukai Wulan.


“Saya sudah punya suami.” Jawab Wulan ikut jengah dengan tingkah pria itu.


“Lho, kalau sudah punya suami kenapa ndak diajak?”


“Saya suaminya, Mas.” Jawab Anugrah menatap dingin ke arah pria tersebut.


“Owalah, maaf kalau begitu. Saya pikir masih lajang karena dari tadi saya lihat Mas sama Mbaknya diam-diam aja. Tidak kelihatan seperti suami istri. Lagi ngambekan ya?”


Tap…


Anugrah meletakkan sendok cukup kuat di atas meja hingga menimbulkan suara yang menyita perhatian pengunjung lain.


“Bisakah saya dan istri saya makan dengan tenang?” penjual mie ayam sampai harus menghampiri mereka karena takut terjadi perkelahian.


“Ayo, pergi! Aku sudah selesai.” Ajak Wulan lalu mendorong kursi rodanya ke luar. Anugrah membayar mie tanpa banyak kata walaupun si penjual terus meminta maaf. Ia mengabaikan lalu menyusul Wulan yang sudah menunggu di pintu keluar.


“Ada lagi yang kamu mau?” tanya Anugrah saat hendak  melajukan mobilnya.


“Minuman dingin!”


Anugrah menghentikan mobilnya di sebuah supermarket. “Mau turun?” Wulan menggeleng. Ia langsung turun untuk membeli minuman dingin dan di dalam tanpa sengaja ia justru bertemu dengan Tiara dan Doni.


“Nongki yok, A. sudah lama kita gak nongki bareng.” Ajak Doni.


“Sorry, Don, Ra. Aku lagi sama Wulan. Dia di nunggu di mobil.” Anugrah berusaha mengghindar.


“Ajak aja sekalian. Plis, A. Jarang-jarang kita ketemu begini.” Doni memelas hingga akhirnya mereka keluar dari supermarket.


“Ketemu mantan sama suaminya.”


***


Bantu CUT DENGAN TIDAK SKIPP IKLAN YA...


Makasih....🙃

__ADS_1


__ADS_2