CUT

CUT
Bertemu Masa Lalu...


__ADS_3

Sebagai orang berpendidikan apalagi datang bersama suaminya, Shinta yang hendak membuat kehebohan akhirnya urung dilakukan mengingat beberapa pasein yang sedang mengantri di depan ruang praktek Faisal.


“Bagaimana kalau kita kembali besok, ma?” usul Toni namun Shinta tetaplah Shinta bahkan orang tua kandungnyaa saja sanggup ia lupakan setelah kehamilannya diketahui dan mereka mengusir Shinta dari rumah. Shinta bukan wanita lemah yang akan menyerah pada keadaan apalagi dia menyayangi anak dalam kandungannya. Dita ada karena dia yang mau. Andai saat itu dia meminum pil kontrasepsinya mungkin saat ini Dita tidak akan pernah lahir ke dunia. Tapi, Shinta menginginkan Dita, dia berharap Fais akan memilihnya setelah Dita ada dan ternyata harapannya menjadi sia-sia sampai saat ia diusir, Shinta mengirim pesan ke pada Fais dengan harapan rumah tangganya ikut hancur seperti hatinya yang hancur.


Shinta pergi meninggalkan semuanya lalu kembali meniti karir dari nol berbekal pengalaman dan pendidikannya sebagai dokter. Shinta dengan mudah mendapatkan perkerjaan sampai ia melahirkan dan lalu  mengambil spesialis hingga saat Dita berumur lima tahun, ia bertemu dengan Toni yang saat itu menjadi paseinnya. Hubungan keduanya semakin erat saat Shinta memberitahukan masa lalunya pada Toni. Ia berharap Toni akan mundur tapi ia salah. Toni semakin gencar mendekati Dita yang masih kecil hingga Shinta tidak bisa menolak Toni lagi.


Jadi, ucapan Shinta pada putrinya dulu bahwa Dita adalah hasil cinta satu malam dengan pria yang tidak dikenal nyatanya adalah bohong belaka. Shinta tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun karena Dita. Setiap melihat wajah Dita, ia selalu melihat Fais di sana. Rasa cintanya untuk Fais begitu besar hingga kedatangan Toni mampu membuatnya melupakan Fais secara perlahan tanpa paksaan. Tapi sekarang, di saat ia sudah bahagia dengan Toni, Fais kembali datang dalam hidupnya lalu dengan tidak tahu dirinya dia hendak mengambil Dita. Shinta yang selama ini berjuang sendiri untuk Dita kini malah ditingalkan begitu saja oleh Dita setelah putrinya itu menemukan ayah kandungnya. Shinta tidak akan tinggal diam kali ini.


“Ibu Shinta, silakan masuk!” suara perawat memanggil namanya.


Shinta langsung masuk didampingi Toni. Keduanya manusia yang memiliki masa lalu itu saling tatap. Tidak ada keterkejutan dari keduanya. Faisal sudah memprediksikan jika cepat atau lambat, Shinta pasti akan menemuinya.


“Silakan duduk! Sus, tolong tinggalkan saya sebentar dan tutup pendaftaran untuk malam ini!” suster tersebut mengangguk ramah lalu meninggalkan mereka bertiga di ruangan itu.


“Usir Dita dari rumahmu!” ketus Shinta. Sementara Faisal hanya bisa tersenyum lalu berjabat tangan dengan Toni. Suami Shinta menyambut ramah uluran tangan Fais tapi tidak dengan Shinta. Kebencian dan kemarahan di hatinya membuat Dita enggan berjabat tangan dengan pria di masa lalunya itu.


“Saya minta maaf, Mas Toni harus melihat semua ini. Tapi saya tidak berniat untuk melarang Dita pulang ke rumahnya. Pintu pagar rumah kami bebas untuk ia masuki. Tapi Dita sendiri yang tidak mau-“


“Jangan beralasan, Fais! Aku tahu kamu senang kan berbuat ini padaku? Kamu ingin membalaskan dendammu padaku kan? Aku memang membohongimu tentang kematian Dita saat bayi. Aku sengaja merusak rumah tanggamu yang bahagia dengan Cut. Lihatlah! Tuhan saja merestui rencanaku. Buktinya, setelah kalian berpisah, tuhan langsung memberikan gempa dan tsunami supaya kalian tercerai berai. Dan sekarang, istrimu menikah dengan pria lain dan kamu? Apa kamu bahagia dengan wanita itu? Apa karena wanita itu tidak bisa memberikanmu anak hingga kamu merebut Dita dariku?”


“Shinta!!! Cukup kita yang bermasalah di sini! Jangan libatkan Ayu. Dia wanita baik-baik yang tidak tahu menahu urusan kita. Dia bahkan menerima Dita dan Iskandar dengan baik tanpa protes.”


“Jelas dia tidak protes karena dia tidak memiliki anak. Kalau dia punya anak yang lahir dari rahimnya, dia pasti keberatan kamu menampung Dita dan Anugrah di sana. Peka sedikit Fais. Aku tahu karena kamu juga takut kehilangan anak-anakmu kan? Kamu sudah tua tentu kamu ingin anak-anakmu ada di dekatmu. Kamu sangat tidak tahu malu, Fais. Dulu kamu menolaknya sekarang kamu memintanya tinggal bersamamu!”


“Ayo pulang dan usir Dita dari rumahmu jika perkataanku tadi benar!” tantang Shinta.


Fais menarik nafas dalam-dalam. Ia sungguh tidak menduga jika Shinta akan semarah ini padahal ia ingat sekali jika dulu Shinta ingin dirinya mengakui anak yang dikandung wanita itu adalah anaknya.


“Ada apa, Fais? Apa kata-kataku tadi benar? Aku belum lupa saat kamu mempertanyakan status Dita yang masih dalam kandunganku. Sekarang pulang dan usir Dita dari rumahmu atau aku akan membuat masalah ini lebih besar hingga nama baik rumah sakit dan istrimu ikut tercoreng!”


Tok…tok…


“Masuk!”


Ceklek…


Seorang wanita dengan senyuman lembutnya masuk ke dalam ruangan Fais. Ya, wanita itu adalah Ayu Saraswati.


“Maaf, aku pikir tidak ada lagi pasien.” Ucap Ayu pada suaminya.


“Ayu, kenalkan ini Shinta dan suaminya Toni. Dia ingin kita mengusir Dita dari rumah.” Shinta cukup salut karena Faisal berkata lugas pada istrinya tentang masalah Dita.


“Kalau begitu mari kita bicarakan di rumah, Mas, Mbak.” Ajak Ayu lalu dengan mengendarai mobil masing-masing akhirnya Shinta kembali lagi ke rumah itu dan kali ini ia tidak perlu berteriak-teriak seperti tadi.

__ADS_1


Ayu mempersilakan Shinta dan Toni masuk ke dalam. “Bibik, tolong buatkan minum!” pintanya pada si Bibik yang masih berjaga.


“Mbak, Mas, saya akan panggilkan Dita. Di kamar itu ada Ibuk dan Bapak Mas Fais. Beliau baru keluar dari rumah sakit. Saya minta pengertiannya.” Ucap Ayu lemah lembut membuat Toni merasa tidak enak. Sementara Shinta dengan wajah ketusnya memilih diam.


Bibik datang menyajikan dua cangkir teh di hadapan Shinta, “Maaf, Buk, Pak. Saya hanya menuruti permintaan Non Dita tadi.”


“Tidak apa-apa-“ ucapan Toni langsung disela oleh Shinta.


“Ck, belum apa-apa sudah berlagak jadi majikan di rumah ini. Apa kamu tidak merasa aneh sama dia? Dia bukan majikanmu ngapain kamu menurut padanya?” amarah Shinta nyatanya belum juga reda sementara Toni hanya bisa megusap tengkuknya karena tidak tahu harus menangkan istrinya dengan cara apa lagi.


Sementara di kamar Dita, Fais dan Ayu sedang membujuk gadis itu untuk pulang dengan orang tuanya. “Papa bersalah pada kamu dan ibumu. Saat kamu hadir dalam kandungan Mama Shinta, Papa justru mempertanyakan statusmu padanya. Apa kamu benar-benar anak Papa? Padahal Mamamu hanya mencintai Papa dan Papa juga demikian. Tapi apa daya, Papa tidak kuasa menolak permintaan orang tua Papa hingga akhirnya membuat Mamamu marah dan kami menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi di belakang Mama Iskandar. Papa menyayangimu tapi Papa juga tidak mau Mama Ayu harus menanggung malu akibat perbuatan masa lalu Papa. Kalau kamu menyayangi kami, pulanglah bersama Mama Shinta sekarang. Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu tapi untuk membuatmu tinggal bersama kami selamanya itu tidak bisa kami lakukan. Kamu masih tanggung jawab Mama Shinta dan Papa tidak punya hak atasmu. Mama Shinta bisa memenjarakan Papa jika Papa tetap mempertahankan kamu di sini. Kalau itu terjadi, Nenek dan Kakek lah yang akan terkena dampaknya. Kamu tidak mau kehilangan mereka bukan? Kamu menyayangi mereka, bukan?” Seorang Dita dengan watak hampir sama dengan ibunya itu bisa luluh dengan bujukan lembut dari Fais dan Ayu. Ayu sampai menangis melepas Dita malam itu.


Benar yang Shinta katakan, kehadiran anak di masa tua memang menjadi penyemangat tersendiri untuk mereka. Tapi apa daya, Ayu tidak bisa memiliki anak dari rahimnya sendiri.


Dita menatap kesal pada sang ibu dari mulai turun tangga hingga berhadapan dengan orang ibunya. Shinta menatap tajam pada Dita lalu berkata, “Ayo, pulang!” ia segera balik badan meninggalkan penghuni rumah tanpa pamit. Toni mengambil tas Dita lalu berpamitan pada Fais dan Ayu.


“Terima kasih dan maaf sudah membuat keluarga Mas terganggu.” Toni tetaplah Toni. Dia begitu baik dan ramah hanya sayang, orang tua Toni tidak  menerima Dita sebagai cucu mereka apalagi setelah kelahiran Tiara.


“Aku pulang, Pa, Ma.” Ayu memeluk dan mencium pipi gadis itu. Gadis yang sebenarnya baik tapi kurang kasih sayang dan perhatian.


Setelah melepas kepergian Dita, Fasi merangkul Ayu memasuki ruma mereka. Fais tahu jika istrinya pasti sedang memendam kesedihan tapi apa daya. Ia tidak punya kuasa untuk menahan Dita lebih lama di rumahnya.


Cup…


Cup…


Fais kembali memberika ciuman hangat di  bibir istrinya.


“Sepertinya kita harus bulan madu, Ma. Anak-anak sudah besar, Sudah saatnya kita pergi menikmati hari berdua tanpa ponsel dan rengekan bocah.” Ucap Fais hendak menutup pintu kamar.


“Memangnya bisa, Pa? Mama rasa itu mustahil. Apalag Bapak dan Ibu ada di sini. Kita harus terus memantau mereka. Tidak mungkin kita meninggalkan mereka begitu saja.”


“Tidak akan lama, Bu Direktur.”


“Kemana mau pergi dalam waktu singkat?”


“Bali.” Ayu geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sang suami bak pasangan muda padahal umur mereka sudah melewati kepala empat.


“Kita butuh suasana baru setelah semua yang terjadi.”


“Lalu Aisyah?”


“Biarkan Iskandar yang mengurus. Mereka juga tidak akan menikah dalam waktu dekat.” Jawab Fais santai dengan tangan nakalnya sudah melepaskan jas sang istri secara perlahan.

__ADS_1


“Pa, kita belum bersih-bersih.” Ayu menahan tangan nakal suaminya.


Atas keinginan sang suami, Ayu memasuki kamar mandi lalu membersihkan diri secara bersamaan dan tentunya acara itu akan berlangsung lama dan berakhir di atas ranjang.


Sementara di kediaman Bapak Wicaksono, Rendra dan Anugrah terpaku menatap dua wanita mereka yang tengah terlelap setelah menikmati kue dan minuman kekinian yang Wulan buat hasil dari resep di internet. Minuman sari buah yang membuat peminumnya merasa tenang dan segar. Kue bolu pisang yang Wulan dan Bibik buat telah kandas tak tersisa.


“Apa yang terjadi? Kenapa banyak plastik camilan? Sejak kapan Mama makan camilan? Istrimu pasti memberikan Mama camilan.” Bisik Rendra pada putranya.


“Biarkan saja lah, Pa. Yang penting Mama senang. Ayo, kita keluar! Biarkan malam ini Mama tidur sama menantunya.”


“Terus Papa tidur sama siapa?” Rendra mengikuti putranya turun.


“Tidur di kamarku, mau? Kita bisa nonton bola. Malam ini ada pertandingan bagus.”


Malam itu setelah sekian lama, ayah dan anak itu akhirnya berada dalam kamar yang sama setelah puas menonton bola yang nyatanya hanya ditonton oleh Anugrah sendiri karena Rendra hanya sanggup sampai babak pertama saja. Mereka tertidur berdua dengan Rendra tidur di atas ranjang sementara Anugrah meringkuk di atas karpet dan seperti pemandangan di atas semalam. Kamar itu juga dipenuhi dengan minuman kemasan serta bungkusan camilan yang  berserakan.


“Meraka tidak mirip tentara.”


“Kenapa?” tanya Cut pada menantunya.


“Mana ada tentara jorok begitu?”


“Apa di rumah dinas Anugrah juga begitu?”


“Mana berani. Bisa-bisa kena tegur sama istri komandan saat melihat rumahnya jorok.”


“Baguslah kalau kalian tahu.”


“Terus mereka bagaimana ini?” tanya Wulan pada ibu mertuanya.


“Biarkan saja, kalau lapar pasti bangun.”


“Mama tidak marah Anugrah makan camilan?”


“Kalian sudah besar, nikmati saja hidup ini dengan bahagia. Kalau camilan itu membuat kalian bahagia ya silakan!” Cut menyerah karena pada dasarnya dia juga menikmati camilan itu semalam.


Banyak hal yang mereka perbincangkan semalam. Obrolan dua orang wanita di atas tempat tidur ditemani minuman dan makanan. Itu adalah momen terindah bagi setiap wanita yang sedang butuh teman bercerita. Walaupun saat itu mereka tidak membahas masalah yang sedang mereka hadapi.


“Terima kasih, Ma. Sudah mau menerimaku menjadi menantu di keluarga ini.” Batin Wulan menatap wajah ibu mertuanya yang kelihatan lelah dan sedih.


***


Selamat siangggg...

__ADS_1


Jangan skipp iklan ya...makasih....


__ADS_2