CUT

CUT
Abang...


__ADS_3

“Bagaimana keadaan Abu dan Umi?” suaraku tercekat saat kini berhadapan dengan orang tua dari Kak Limah.


“Alhamdulillah kami baik. Mereka memperlakukan kami dengan baik di sini. Terima kasih karena kamu masih mau menemui kami. Padahal kami juga tahu pasti hidup kamu lebih sulit dari kami.”


“Tidak, Abu, Umi. Alhamdulillah Cut baik-baik saja walaupun kami tidak bisa kembali ke kampung dulu. Umi dan Abu menitipkan salam untuk kalian.”


“Walaikumsalam. Sampaikan salam kami kembali untuk mereka. Jadi kamu sekarang kamu tinggal di mana?” tanya Umi Kak Limah.


“Ada rumah sementara yang disediakan untuk Cut sekeluarga. Jujur saja, Cut masih takut untuk pulang ke kampung lagi, Umi. Cut takut kejadian itu terjadi lagi.”


Umi Kak limah menggenggam kedua tanganku. “Hati-hatilah, Cut. Umi selalu mendoakanmu sama seperti Umi mendoakan Halimah yang entah berada di mana dia sekarang. Masih hidup atau sudah meninggal. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan mereka. Apa kamu baik-baik saja setelah lama tinggal di gua itu? Umi minta maaf tidak bisa menjaga kamu dan bayi itu dengan baik.”


“Tidak Umi, Umi berjasa besar dalam hidup Cut. Jika Umi tidak menyembunyikan Cut di sana entah apa yang akan terjadi pada Cut saat ini. Mungkin Cut lebih memilih mati dari pada bersama lelaki itu. Dia sangat kasar dan menakutkan, Umi.”


Terlihat Abu Kak Limah menghela nafasnya. “Kami juga menyesal telah salah memilih menantu. Bukannya bahagia yang didapatkan oleh Limah tapi malah sebaliknya.”


Dari ucapannya jelas terdengar seperti ada penyesalan dari diri Abu Kak Limah. “Kita tidak pernah tahu bagaimana hidup kita di masa depan. Tapi kita punya pilihan dan Cut memilih untuk tidak menerima lamaran Khalid karena Cut tidak mengenalnya dan tidak menyukainya. Abu jangan merasa bersalah. Setidaknya Kak Limah menyukai dan menyayangi suaminya sehingga baginya itu saja sudah cukup dan Kak Limah menerima suaminya sepenuh hati.”


“Cut, apa kamu menyukai pria lain? Atau ada pria yang menyukaimu?” pertanyaan Umi Kak Limah membuatku gelagapan. Apa yang harus aku jawab? Jika tidak berati aku berbohong pada mereka dan jika iya, mereka pasti menanyakan siapa.


“Saya calon suaminya, Pak, Buk.”


“Hah???”


Rendra tiba-tiba datang menghampiri kami. “Waktunya sudah habis.” bisiknya di telingaku.


Deg...


Kenapa dia begitu berani bertingkah seperti ini di depan orang tua Kak Limah. Benar-benar tidak tahu sopan santun. Aku menggerutu dalam hati melihat semua tingkahnya hari ini. Rasanya aku sangat malu dan bingung menghadapi kedua orang tua di depanku.


“Jadi ini calon suami kamu? Umi mendukung. Semoga kamu bahagia selalu.” Umi Kak Limah memelukku.


“Dia sangat tampan, sekarang Umi tahu kenapa kamu menolak Khalid.” Bisik Umi padaku.


Wajahku memerah dengan rasa malu membuncah. Kami berpamitan lalu keluar dari ruangan orang tua Kak Limah.


Apa yang dia lakukan sekarang? Lagi-lagi dengan beraninya dia memegang tanganku saat kami berjalan menuju mobil.

__ADS_1


“Tolong dilepaskan. Ini dosa.”


“Kalau begitu, ayo kita jadikan dosa ini jadi pahala!” aku berhenti seketika dan membuatnya ikut berhenti.


“Yang namanya dosa saat ini tetap dosa dan apa yang kita lakukan nanti setelah halal itu baru pahala. Dosa sekarang tidak akan hilang walaupun nantinya kita menikah.”


Aku menatapnya dengan tajam dan penuh amarah tapi apa yang aku lihat sekarang. Pria ini malah tersenyum menatapku. Senyuman merekah terbit di bibirnya dan aku terpaku di tempat menatapnya.


Untuk pertama kalinya aku melihat dia tersenyum begitu merekah terhadapku. Aku gelagapan tatkala langkah kakinya mendekatiku. Refleks, aku memundurkan langkahku ke belakang.


“Kamu menerima lamaran saya?” aku melongo.


“Tadi kamu bilang dosa sekarang tetap jadi dosa walaupun nantinya kita menikah dan Itu artinya kamu menerima lamaran saya.”


“Hah???” aku gelagapan. Apa aku salah bicara atau dia yang melebih-lebihkan?


Ah....aku bingung harus menghadapi manusia aneh ini seperti apa. Dia sangat pemaksa. Tapi senyumnya itu benar-benar manis.


Apa aku menyukainya sekarang?


Ah....lagi-lagi aku bingung dengan perasaanku sendiri.


“Eh...” aku terkejut karena dia sudah berada lebih dekat denganku.


Beberapa suara siulan serta deheman dari tentara yang lewat membuatku semakin malu dengan apa yang Rendra lakukan.


“Ayo, kita pulang!” Rendra menarik tanganku lalu kami kembali berjalan meninggalkan beberapa tentara yang terus bersiul dengan sesekali mengeluarkan kata-kata yang aku tidak mengerti karena itu bukan bahasa Indonesia.


Rendra menatapku sesaat sebelum melajukan mobilnya. Aku membuang muka tidak mau menatapnya.


“Saya akan melamarmu kembali pada Abu dan Umi.” seketika aku kembali menoleh ke arahnya. Dia tersenyum kembali. “Kenapa Bapak ingin menikahiku? Aku tidak bisa meninggalkan kedua orang tuaku serta Teuku.”


“Pertama, jangan panggil saya ‘Bapak’ karena saya bukan Bapak kamu. Yang kedua, saya tidak minta kamu untuk meninggalkan mereka karena mereka juga akan ikut dengan kamu. Bagaimana?”


“Kenapa dia protes aku panggil Bapak? Itu kan bentuk rasa hormat.” batinku.


“Jangan mengatai saya dalam hati. Katakan di depan jika kamu ingin mengatai saya." aku tersentak. Lagi-lagi dia membaca pikiranku.

__ADS_1


Aku tidak lagi menjawab. Batin dan pikiranku lelah menghadapi manusia aneh ini. Mobil kembali berjalan meninggalkan markas besar tersebut.


Sepanjang perjalanan pikiranku terus berkelana. “Abang sungguh ingin menikah denganku?”


Aku terkejut ketika mobil tiba-tiba oleng ke kiri jalan dan berhenti.


“Bisa kamu ulang lagi?”


Aku menatap pria di sampingku dengan bingung. “Abang sungguh ingin menikahiku?” dia tersenyum dan itu membuatku takut. Apa pertanyaanku lucu sampai pria aneh ini tersenyum manis?


Dia benar-benar aneh dan tidak terbantahkan.


“Abang, saya suka panggilan itu.”


“Apa saya terlihat main-main saat mengajak kamu menikah?” pandangan kami bertemu.


Untuk pertama kalinya aku menatap mata itu secara jelas bukan di sebuah foto atau sekilas.


“Kita tidak saling mengenal. Keluarga kita juga tidak saling mengenal. Saya dari kampung dan Abang dari mana, saya tidak tahu. Bagaimana kita akan menikah? Bukankah untuk menikah kedua keluarga harus saling mengenal?”


Rendra terdiam tapi mata kami masih saling bertemu. Aku tersenyum kecil lalu memutuskan kontak mata kami. Tidak ada lagi yang kami bicarakan sampai ke depan rumah. Dia turun sebentar lalu langsung pergi.


“Bagaimana keadaan mereka, Cut?” tanya Umi yang sudah berdiri di pintu kamarku.


Perjalanan ini menguras tenaga fisik dan mentalku. Merebahkan badan rasanya sangat menyenangkan saat ini. Umi duduk di sampingku.


“Alhamdulillah mereka sehat Umi. Mereka juga menitip salam kembali untuk Abu dan Umi.”


“Walaikumsalam.”


“Apa ada yang kamu pikirkan?”


Firasat seorang ibu memang tajam. Tanpa perlu aku beritahu Umi sudah bisa menebaknya. Apa yang harus aku beritahukan pada Umi? Aku bingung harus memulai dari mana untuk bercerita.


“Umi, Bang Rendra ingin melamar Cut lagi.”


***

__ADS_1


Minta LIKE yang banyak ya....


 


__ADS_2