
Anugrah menjalankan misinya dengan benar. Ia tidak memberikan ruang sedikitpun bagi Risma untuk mendekati sang papa. Dia menempel dengan sempurna pada papanya hingga saat neneknya mengajak mencari buku ke stand yang lain. Dia langsung menolak mentah-mentah bila sang papa tidak ikut.
“Papa ke kamar mandi sebentar, kamu cari saja dulu bukunya ya!” Anugrah menganguk kecil kemudian ia kembali melanjutkan pencariannya di stand komik. Sementara Ibu Yetti sedang melihat-lihat buku resep baru tidak jauh dari sang cucu.
“Kamu sengaja melakukan ini? Ck, ternyata kamu pintar dan sedikit licik.” Bisik Risma di telinga Anugrah dengan senyum devilnya.
Anugrah melihat senyuman Risma lalu membalas dengan tatapan sisnisnya. “Tante merasa ya? Baguslah! Itu tandanya, Tante tahu diri!” sarkas Anugrah lalu kembali berjalan pelan sambil memperhatikan satu persatu judul komik yang terpajang di atas rak.
“Apa ibumu yang menyuruh? Licik sekali ibumu sampai menghasut anak kecil untuk membenciku.”
“Hei, Tante! Jangan menghina Mamaku! Dan berhentilah merayu Papaku!” Anugrah menatap tajam ke arah Risma.
“Anugrah!!!” Rendra memanggil nama anaknya sedikit keras hingga menarik perhatian orang-orang sekitar termasuk Ibu Yetti. Melihat aura tidak menyenangkan dari sang anak, Ibu Yetti segera menghampiri cucu dan putranya tersebut.
“Ayo, pulang!” Rendra menarik tangan Anugrah lalu keluar dari toko buku tersebut karena sudah mengundang perhatian orang banyak.
“Papa tidak mengajari kamu untuk berkata tidak sopan begitu. Kamu baru kelas satu SMP sudah bisa berbicara seperti itu. Siapa yang mengajari kamu?”
Rendra tidak menunggu sampai di rumah. Ia langsung menyidang Anugrah di samping mobilnya. Ibu Yetti kelihatan panik saat mengikuti keduanya. “Ada apa ini? Kenapa kamu marah sama Anugrah?” tanyanya kemudian.
“Dia sudah berlaku tidak sopan pada Risma, Ma. Dia menuduh Risma merayuku.”
“Hah??? Benar begitu, Nak?”
Dan dengan beraninya, Anugrah mengangguk.
“Aku tidak suka dia dekat dengan Papa. Yang harusnya ada di samping Papa itu Mama bukan wanita lain. Apa Papa sudah tidak sayang sama Mama sampai Papa tidak mengajak Mama malah meninggalkan Mama sendiri di rumah. Papa jahat, aku benci sama Papa.” Anugrah masuk ke dalam mobil dan yang lebih aneh lagi adalah ia tetap duduk di samping ayahnya.
Dia akan tetap menjaga ayahnya walaupun harus dimarahi seperti tadi. “Kenapa cucu Nenek sampai berpikir begitu? Papa hanya berteman dengan Tante Risma sama seperti nenek dan kakek yang berteman dengan orang tua Tante Risma.” Ibu Yetti menasehati sang cucu yang tampak cemberut sesudah dimarahi oleh sang papa.
Anugrah diam saja tidak menanggapi ucapan neneknya. “Kenapa kamu sampai berpikir Tante Risma merayu Papa? Apa kamu tahu merayu itu seperti apa?” tanya Rendra sambil melajukan mobilnya.
“Pokoknya aku tidak suka Tante itu dekat-dekat sama Papa, titik!”
Mereka sampai di rumah dan Anugrah langsung masuk dengan wajah masam tanpa memperdulikan neneknya. Bahkan, komiknya saja ia tidak hiraukan. Cut yang sedang menonton televisi terkejut saat sang anak tiba-tiba masuk dan langsung merebahkan diri di sampingnya.
“Ren, kamu harus bicara sama istrimu! Mama yakin kalau istrimu ikut andil dalam perubahan sikap Anugrah.” Ucap Ibu Yetti.
“Iya, Ren. aku juga bingung anak seumuran Anugrah bisa mengatakan aku merayu kamu. Aneh!” sahut Risma kembali lalu ia mengambil kunci mobil di tangan Rendra.
Kedua wanita itu akhirnya pulang. Rendra masuk ke dalam dan melihat sang putra sedang berbaring dengan paha ibunya sebagai bantal.
__ADS_1
“Ini komik kamu! Pergi istirahat di kamar jangan di sini!”
Anugrah bangun lalu mengambil komiknya. Cut yang melihat interaksi antara ayah dan anak itu hanya bisa menerka-nerka dalam pikirannya tanpa niat menanyakan pada sang suami. Ia terlalu lelah berdebat maka lebih baik untuknya berbicara seperlunya saja.
Rendra duduk di samping Cut, “Anugrah tadi berlaku tidak sopan pada Risma. Dia menuduh Risma merayuku.”
Cut seketika terkejut dan menatap sang suami. “Jangan mengajarkan Anugrah yang tidak-tidak. Dia masih SMP tapi sudah tahu kata-kata merayu.” Kali ini Cut lebih terkejut mendengarnya. Sang suami jelas-jelas sudah menuduhnya mengajarkan yang tidak-tidak pada Anugrah.
Cut yang semula memilih diam kali ini mulai merasa emosi, “Abang menuduhku?”
“Bukan menuduh tapi kenapa dia sampai berpikir begitu kalau dia tidak mendengar dari mulutmu. Selama ini kamu kan yang sering cemburu dan berpikir jika aku dan Risma ada hubungan? Aku itu tidak ada hubungan sama Risma. Kami hanya berteman. Sampai kapan kamu akan mencurigaiku? Apa kamu bosan denganku Cut? Sampai kamu mencari-cari alasan begini?”
“Pertanyaan itu lebih cocok untuk Abang sendiri? Semua istri akan berlaku sama pada suami mereka yang masih berhubungan baik dengan mantan istrinya apalagi sampai bertemu di café. Tidak ada anak antara kalian jadi untuk apa harus bertemu berdua?”
“Kamu cemburu?” tanya Rendra pada sang istri.
“Iya.” Rendra tersenyum lalu memeluk sang istri erat.
Itulah mereka, saat seperti ini Rendra bisa membuat Cut terombang-ambing dengan sendirinya. Saat Cut merasa pernikahannya sudah tidak wajar tapi dengan sebuah pelukan bisa membuat Cut kembali goyah.
“Sayang, berapa kali harus Abang bilang. Abang itu tidak punya perasaan apa-apa sama Risma. Dia hanya teman tidak akan pernah lebih. Kalau kami sampai bertemu di luar itu pasti tidak sengaja.” Rendra berbicara pelan masih memeluk Cut.
“Abang pernah mengajak dia bertemu atau bicara di telepon kan?”
“Apa aku tidak cukup untuk menjadi teman bicara untuk Abang sampai harus meminta mantan istri Abang?”
“Bukan begitu. Hanya saja Abang tidak mau membebani pikiran kamu lagi. Kamu sudah capek dengan semua urusan rumah tangga jangan sampai pikiran kamu juga capek. Apalagi waktu Abang bicara sama dia itu sudah larut malam. Kamu sudah tidur dan dia juga butuh teman bicara.”
“Jangan cemburu lagi ya! Kita sudah sejauh ini apa kamu masih meragukan Abang? Ingat Dek, untuk menikahi kamu itu butuh perjuangan gak cukup modal cinta. Perjuangannya saja tidak main-main, nyawa taruhannya.” Cut meleleh. Sebagai seorang istri dia pasti senang dan luluh dengan perkataan manis sang suami.
Cup…
Rendra menghadiahkan berbagai kecupan di kepala sang istri yang masih setia terbenam dalam pelukannya.
“Sudah tidak cemburu kan? Lagian kita sudah pernah membahas ini bahkan sudah berulang kali tapi kamu masih saja curiga.”
“Bagaimana kalau dia yang punya rasa sama Abang?” Cut mengurai pelukannya lalu menatap sang suami.
Rendra menghela nafasnya, “Abang gak bisa melarang perasaan orang. Kalau dia menyukai Abang ya itu urusan dia. Abang kan gak bisa mengatur perasaan orang. Satu hal yang pasti, Abang tidak bisa kembali sama dia karena ada aturan di kesatuan yang mengatur secara ketat. Bukan kamu saja yang akan Abang hadapi, beberapa petinggi Abang juga akan marah kalau sampai Abang kembali. Jadi, sangat tidak mungkin untuk kami kembali. Risma juga pasti malu kalau harus jadi ibu persit kembali. secara dari kantor, namanya sudah tercoreng.”
“Tapi aku tetap cemburu. Dia juga dekat dengan Mama.”
__ADS_1
Cup…
“Cemburu tanda sayang tapi kalau berlebihan juga bahaya untuk pernikahan kita. Bisa-bisa, Abang ketemu ibu tukang sayur di depan juga kamu cemburui. Hadeuhhh, Abang sudah tua, Sayang.”
“Tapi Abang masih tampan.”
“Ouh…itu memang sudah dari lahir.”
Awww….
Cut mencubit gemas pinggang sang suami. Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang mengawasi tingkah keduanya seraya tersenyum senang.
“Pasti Kakak senang kalau tahu mereka baikan.” Gumam Anugrah.
“Sayang, tapi Abang penasaran. Dari mana Anugrah berpikiran seperti itu? kamu sungguh tidak mengajarkannya kan?” tanya Rendra memastikan.
“Tuh kan, Abang tuduh aku lagi. Aku beneran tidak ngajarin dia, Bang.”
“Terus dari mana dia tahu? Jangan-jangan dia punya pacar di sekolah?”
“Kamu harus siap-siap, Bang. Putramu sudah mulai remaja.”
“Apa tidak sebaiknya kita memasukkan dia ke pondok tempat Iskandar berada?”
Cut mengernyit, “Di sana anak laki-laki semua. Dia akan aman dari cinta-cintaan yang gak jelas.” Ucap Rendra kembali.
“Tanyakan dulu sama Anugrah!” Cut bersuara.
“Dulu kita memasukkan Iskandar tanpa bertanya, kenapa sekarang harus tanya?”
“Tanyakan Mama juga, aku yakin Mama tidak akan setuju.” Jawab Cut.
“Dulu Mama yang menyarankan supaya Iskandar masuk pesantren. Kalau Anugrah kita masukkan juga pasti Mama senang.” Ucap Rendra yakin.
“Mama menyarankan begitu karena Iskandar bukan cucunya. Kalau Anugrah ini kan cucu kesayangannya. Coba saja Abang bilang sama Mama! Aku yakin Mama tidak akan setuju.”
Di balik pintu, senyum Anugrah tiba-tiba hilang saat mendengar perkataan ibunya.
“Kakak bukan cucu Nenek?”
***
__ADS_1
UP jam 04.17 pagi, vote dong gaeyyssss....