
“Hei…pria aneh, berhenti di situ!” teriak Reni setelah ia melihat tempat mereka berada cukup sepi.
Bang Adi berhenti tapi tidak berbalik. Dia menarik sedikit sudut bibirnya. Reni melangkah cepat penuh kemarahan lalu –
Grep…
Saat Reni hendak berdiri di depan Bang Adi, tiba-tiba sebelah tangan pria itu langsung mendorong Reni ke di dinding lorong tersebut. Untuk pertama kalinya, Reni melihat mata pria itu yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Selama ini, Bang Adi memang jarang menatap Reni secara khusus. Tatapan keduanya bertemu.
“A-apa yang kau lakukan?” ketus Reni.
“Kenapa? Bukankah ini yang kau inginkan? Sama seperti yang dilakukan pria tadi padamu.”
Gleg..
Reni menelan salivanya dengan susah. “Lepaskan aku atau aku akan teriak dan kamu akan dipukul oleh Papaku?”
“Teriak saja toh Papamu sendiri jengah melihat atraksimu tadi.”
Reni masih menatap pria itu dengan emosi yang membuncah sementara Bang Adi sedang menjahili sang wanita tanpa dia sadari. Sebelah tangan Bang Adi masih mencengkram kuat kedua tangang Reni dan sebelahnya lagi ia pakai untuk membelai anak rambut sang gadis yang mulai berjatuhan.
“Aku tidak menyentuh wanitaku sebelum kunikahi tapi kalau kamu mau sekarang, dengan senang hati kuberikan. Katakan dimana aku harus memulainya?”
Reni sedikit gemetar, dia tidak pernah menghadapi pria seperti ini sebelumnya. “A-apa kamu lupa dengan tulisan yang terselip dalam buku yang kau berikan?”
“Laki-laki yang dipegang kata-katanya bukan janjinya.” Sindir Reni kembali.
“Em… “
Bang Adi memandang wajah Reni dalam diam, “Aku ingin mengenalmu lebih dekat, apa kamu mau?”
Reni mengulang kata-kata yang ditulis oleh Bang Adi dalam buku yang dia berikan padanya. “Katanya kau mau mengenalku lalu apa? Sekalipun kamu tidak menyapaku atau memperhatikanku? Bukan salahku jika mencari pria lain yang mau memperhatika-“
__ADS_1
Cup…
Reni terkejut dan terdiam dalam detik itu juga. Kecupan sekilas di bibir seakan meruntuhkan dunianya. Reni yang selama ini tidak pernah merasakan rasanya dicium kini seperti orang linglung. Bang Adi bukan pria bodoh karena selama ini dia tidak menikah jadi tidak mengerti akan yang begituan. Hanya saja, dia tidak seperti pria lain yang menjajal diri dengan sembarang wanita. Dia yang pernah tinggal di kota besar tentu tahu bagaimana pergaulan di luar sana tapi dia tetap menjaga diri.
Terkadang dia harus mengajak Kak Julie untuk berkoloborasi ketika keadaan mendesak dan tidak bisa dihindari. Hingga akhirnya, Kak Juli harus menahan pil pahit susah bertemu dengan pria lain karena sudah dianggap sebagai pacar dari Bang Adi.
Bang Adi menarik sedikit ujung bibirnya lalu secara perlahan melonggarkan cengkramannya. “Aku tidak suka milikku disentuh pria lain, camkan itu!” ucap Bang Adi seraya membelai lembut pipi sang gadis lembut kemudian meninggalkannya dalam kebingungan seorang diri.
Bang Adi kembali masuk ke dalam tempat acara mengambil segelas air sambil menatap sekilas wajah calon mertuanya. Walaupun dia sudah ke Jawa tapi sebagai pria dia tidak akan melakukannya dengan sebutan ‘nyambi’. Dia akan ke sana khusus untuk menghadap calon ayah mertuanya bukan seperti saat ini.
Reni masuk dengan muka ditekuk. Antara kesal dan senang menjadi satu. Pria yang sudah mencuri ciuman pertamanya malah pergi begitu saja setelah itu. Reni yang berharap jika Bang Adi akan menggenggam tangannya lalu mengajaknya masuk kembali ke tempat acara harus menerima kenyataan jika angannya akan tetap menjadi angan semata.
Semua tingkah laku Reni tidak luput dari perhatian Bapak Wicaksono yang duduk di sisi pelaminan. Sementara itu dari sudut yang sedikit jauh, sepasang mata sedang menatap ke arah pelaminan. Ia pergi setelah satu menit berada di sana dengan tujuan untuk melihat mempelai yang sedang duduk di atas pelaminan.
Pesta telah usai dan semua anggota keluarga telah kembali ke rumah tidak dengan Rendra dan Cut. Setelah mereka membereskan riasannya, Rendra meminta izin pada orang tuanya dan keluarga Cut untuk membawanya ke rumah pribadi Rendra. Walau tidak ingin terpisah tapi mereka harus mulai membiasakan diri untuk berpisah dengan Cut. Sementara, Iskandar malah tertidur dalam gendongan Riko. Bayi itu gampang sekali tertidur jika kenyang dan yang anehnya adalah dia mudah tertidur dalam gendongan laki-laki. Seakan ia sangat merindukan sosok ayah.
“Assalamualaikum.” Ucap kedua anak manusia yang baru meniti masa depan bersama.
Rumah berlantai dua dengan model minimalis dengan tiga kamar, satu ruang tamu, satu ruang keluarga dan dapur serta kamar mandi di setiap kamar serta satu kamar mandi di bawah tangga. Rendra menggenggam tangan sang istri lalu memasuki rumah tersebut.
“Ini tempat rumah kita, bagaimana? Apa kamu suka? Maaf, saya hanya bisa belikan kamu rumah kecil begini.”
Cut menggeleng cepat, “Ini sudah lebih dari cukup bahkan lebih dari cukup untuk saya.”
Rendra tersenyum lalu mengecup sekilas kening sang istri. “Untuk kamu, saya selalu merasa kurang.”
Keduanya lalu berjalan menaiki tangga. Walaupun kondisi Cut cacat tapi untuk menaiki tangga, ia masih bisa. Tangan keduanya masih saja terpaut sampai mereka sebelah tangan Rendra membuka pintu kamar di lantai atas.
Ceklek…
Sebuah kamar yang sudah dirias entah kapan Rendra melakukannya namun cukup membuat Cut malu dan bahagia.
__ADS_1
“Bagaimana, apa kamu suka?”
Bisikan di telinganya tentu saja membuat pikiran dan hati Cut tidak terkontrol. Dadanya naik turun apalagi sudah pernah melakukannya bersama sang suami hingga pikiran kotor itu kembali muncul.
Cut tidak menjawab, ia malah me;lenguh tatkala kecupan demi kecupan diberikan oleh sang suami di tengkuknya dengan menyingkap sedikit kain penutup kepala milik Cut.
“Banggghhh, geli.”
“Kamu lapar tidak?” tanya Rendra pada sang istri yang masih dalam pelukannya.
Cut mengangguk pelan, istirahatlah! Nanti saya panggil kalau sudah siap.”
“Bang,-“
Rendra menghentikan langkahnya saat sebelah tangan Cut menahannya. “Abang mau masak? Biar saya saja. Yang jadi istri kan saya.”
Rendra tersenyum lembut, “Seorang suami juga bisa memasak untu istri saya. Istirahatlah, nanti saya bangunkan.”
Cut sangat menyukai riasan kelopak bungan mawar yang begitu wangi dalam kamarnya hingga ia memilih merebahkan diri di sofa yang terletak di dekat jendela. Cut memandang langit senja. Berbagai ingatan akan masa lalu kembali melintas di alam bawah sadarnya hingga air matanya berjatuhan dan tanpa sadar ia terlelap.
Hari mulai menggelap dan Rendra baru menyelesaikan masaknya. Semua isi kulkas sudah ia lengkapi kemarin. Masakan sudah tersaji dengan rapi di atas meja lalu ia segera menaiki tangga untuk memanggil sang istri.
“Sa-“
Rendra menunduk lalu memperhatikan wajah sang istri yang sedikit basah bekas air mata.
“Apa yang membuatmu menangis seperti ini, Sayang?”
***
__ADS_1