
Cut mengabaikan pesan yang masuk dalam akunnya itu. Dia tidak berniat menjalin komunikasi dengan siapapun di dunia maya. Kehadirannya di sana hanya untuk memantau sang suami dan mantan dari suaminya serta mencari berbagai pendapat cara menangani wanita perebut suami orang seperti yang sedang ia alami. Cut menghentikan aktivitas di dunia maya saat suara salam dari sang mertua terdengar di depan pintu.
“Walaikumsalam, Ma.”
Cut membuka pintu lalu terlihatlah sang ibu mertua yang sudah berdiri di depan pintu seraya menenteng sebuah rantang kecil lalu sebuah kantung kresek.
“Mana Anugrah?” tanya Ibu Yetti saat hendak masuk.
“Ada, Ma.”
“Ini Mama bawa bubur untuk Anugrah dan ini obat untuk kamu. Lekas minum selagi hangat!”
Ternyata kresek yang dibawa oleh ibu mertuanya adalah termos kecil berisi minuman yang harus Cut minum untuk segera hamil.
Cut mengangguk lalu membawa termos itu ke meja makan. Ia menuangkan minuman itu dalam gelas dan dari baunya saja langsung membuat Cut mual. Ia segera berlari menuju ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang tiba-tiba bergejolak.
“Baunya memang tidak enak tapi tetap harus diminum. Mama sudah capek-capek membuatnya sesuai anjuran tabib. Minumlah dan tutup hidungmu jika tidak tahan dengan baunya!”
Kepala Cut sedikit pusing dan dia harus meminum ramuan yang sudah sekian kali masuk ke perutnya dengan berbagai jenis. Ada yang enak dan ada juga yang sangat tidak enak seperti yang sekarang. Belum meminumnya saja sudah mual apalagi kalau harus masuk dalam mulut. Bentuknya saja seperti lendir berwarna coklat bening seperti teh.
Ibu Yetti menyiapkan piring untuk menyuapi sang cucu dengan bubur buatannya. Dengan memencet hidungnya kuat-kuat, Cut menengak ramuan herbal itu lalu belum habis satu gelas, Cut kembali berlari menuju kamar mandi. Dia kembali memuntahkan isi perutnya dan mencuci mulutnya berulang kali.
Ibu Yetti menghela nafasnya lalu kembali menuangkan ramuan tersebut ke dalam gelas tadi. Cut kembali dengan keadaan pusing lantaran banyak mengeluarkan cairan. dia meminum air putih yang cukup banyak untuk menetralisir rasa mualnya.
“Bagaimana caranya harus kamu habiskan, Cut. Ini sangat ampuh untuk kamu. Mama banyak melihat wanita yang berhasil setelah mengonsumsi herbal ini.” Ucap Ibu Yetti sambil menyuapi sang cucu.
“Mulut dan perut Cut tidak sanggup menerimanya, Ma. Rasa dan baunya sangat menyengat.”
“Tapi kamu tetap harus meminumnya.”
“Ma, tolong kali ini Cut udah gak sanggup. Tubuh Cut gak sanggup menerimanya. Cut mohon!”
“Apa kamu tidak menghargai apa yang saya lakukan? Saya sampai jauh-jauh mencari obat untuk kamu tapi kamu malah menyianyiakan seperti ini. Apa kamu pikir herbal ini murah? Kamu sudah membuangnya dengan alasan muntah. Kamu tidak menghargai usaha saya. Padahal saya cuma minta kamu untuk meminumnya bukan mencri dan mengolahnya. Tapi apa balasan kamu?”
Cut lelah berdebat dengan keadaannya badannya yang mulai lemah karena mual ke dua kali. Ia kembali menengak minuman itu dan kembali terjadi. Cut muntah dan akhirnya ia tergeletak tak sadarkan diri. Ibu Yetti panik lalu menelepon suaminya. Bapak Wicaksono menghubungi ambulans lalu Cut dibawa ke rumah sakit.
“Ada apa ini, Ma?” tanya Rendra yang baru sampai dengan wajah panik.
“Cut tadi muntah-muntah lalu pingsan waktu Mama datang.”
Ibu Yetti menatap sang mantu yang tengah terbaring lemah. Mata Cut sayu tapi hatinya sakit. Ia baru tahu jika ibu mertuanya sampai segitu teganya sama dia.
“Apa istri saya hamil, Dok?” tanya Rendra.
Dokter yang sedang memeriksapun tersenyum, “Tidak, Pa. mungkin ibu salah makan hingga membuat ibu muntah begini.”
Rendra menatap istrinya, “Kamu makan apa, Sayang? Kok sampai seperti ini?”
Cut tersenyum getir, “Semua Cut makan, jadi lupa entah apa saja yang sudah masuk.” Jawab absudr yang membuat Rendra tersenyum kecil.
“Istirahatlah! Anugrah biar Mama yang bawa. Rendra, kamu jaga Cut. Mama mau ambil pakaian untu Cut di rumah.”
“Baik, Ma. Terima kasih.”
Sesampai di rumah, Ibu Yetti langsung membuang ramuan herbal itu dari sana. Beliau juga menyiram kamar mandi dan memberi pewangi untuk mengusir bau-bau dari herbal itu yang masih tersisa.
“Disuruh minum ini saja sampai harus masuk rumah sakit, dasar memang dia tidak niat memberikan kamu adik. Ibumu lemah sakali, coba saja Papamu bisa menikah lagi. Sudah Nenek suruh Papamu untuk cari istri lain. Menantu tidak menghrgai usaha mertua. Sudah baik Nenek mencari obat untuk Ibumu eh, malah ini balasannya. Bikin kesal saja.”
Ibu Yetti mengambil satu lembar baju dan handuk untuk Cut lalu memasukkannya ke dalam tas.
Ting…
Suara pesan masuk dalam akun jejaring pertemannya. Cut tidak terlalu peduli dengan ponsel atau media sosialnya hingga tiap kali bermain. Ia selalu lupa untuk keluar dari aplikasi tersebut.
__ADS_1
Ibu Yetti mengambil lalu membaca isi pesan tersebut.
“Hai, kenapa tidak membalasku? Apa kamu sibuk? Bagaimana kalau kita bertemu di dunia nyata? Aku rasa mungkin kita bisa saling mengenal lebih jauh.”
“Cih…ternyata begini permainanmu dibelakang anakku.”
Ibu Yetti memasukkan ponsel tersebut ke dalam tas. Ia segera berangkat ke rumah sakit sementara Anugrah sudah dibawa oleh sang suami ke rumah mereka. Raut muka Ibu Yetti sedikit berubah. Kekesalannya semakin bertambah dengan isi pesan dari ponsel Cut. Sesampainya di ruang rawat inap Cut, Ibu Yetti melihat ada sang putra yang tengah mengusap pelan lengan sang istri yang terbaring lemah.
“Ren, Mama mau bicara sebentar. Mama tunggu di luar ya?”
“Tidurlah, Abang keluar sebentar.”
Rendra meninggalkan Cut yang hampir terlelap. “Ada apa, Ma?” tanya Rendra saat menghampiri sang ibu yang di bangku depan ruang rawat Cut.
“Ini! Tadi bunyi lalu Mama membukanya. Kamu lihat sendiri!”
Rendra menerima ponsel itu lalu membukanya. “Siapa dia? Apa kamu mengenalnya? Ingat Nak, kamu pernah gagal karena perselingkuhan. Jangan sampai kamu gagal kembali dengan sebab yang sama. Mama muak menjadi bahan perbincangan para ibu-ibu karena kegagalan kamu. Kamu itu tentara kenapa tidak tegas pada istrimu? Boleh dan tidak itu harus kamu tegaskan supaya istrimu tahu. Perceraian kamu dengan Risma harus menjadi pelajaran bahwa memberi keleluasaan pada istrimu justru membuat dia bertingkah lain di belakang kamu.”
Rendra masih membuka akun sosial milik si pengirim pesan tersebut. Ada beberapa foto pria milik akun tersebut.
“Sepertinya ini baru dibuat.”
“Lalu?” tanya Ibu Yetti tidak mengerti.
Rendra menceritakan tentang Cut yang baru bermain sosial media setelah kejadiannya dengan Risma mencuat dikalangan ibu-ibu persit lain. Setelah itu barulah Cut mulai bermain di sana.
“Tapi kamu harus tetap memantaunya, Ren. Jangan kamu biarkan! Lebih baik tidak usah bermain media sosial. Untuk apa bermain itu? lebih baik dia fokus untuk program hamil dan mengurus Anugrah.”
“Nanti Rendra bilang ke Cut, Ma.”
“Ingat, kamu itu laki-laki. Harus tegas jangan Cuma dimedan perang saja kamu begitu. Di rmah juga harus begitu. Istri itu kalau terlalu dimanjakan suka kelewatan.”
“Iya, Ma.”
Wajah Rendra berubah sedikit memerah, dengan ponsel Cut yang masih ditangannya. Ia segera membalas pesan dari akun tersebut.
“Kamu tentukan saja waktu dan tempatnya!” balas Rendra.
Akun Cut tidak pernah tertutup hingga membuat semua orang yang berteman denganya melihat akun tersebut selalu aktif. Begitu juga yang dipikir oleh si pemilik akun bernama Andi. Begitu melihat balasan dari akun Cut, pria yang sedang berbaring malas di kamar kosnya tersenyum puas.
“Besok di café Sake jam 2 siang, bagaimana?”
“Oke.”
Rendra kembali masuk ke dalam dan di sana istrinya sedang terlelap. Ia kembali duduk di sisi brangkar sang istri lalu membuka aplikasi pertemanan itu lagi.
“Apa kamu memang sedang menantang saya, Cut? Saya tidak mau mengikuti pemberontakanmu. Saya lelah menghadapi pemberontak apalagi itu kamu. Saya hanya ingin hidup tenang dengan kamu dan anak-anak. tanpa perang tanpa peluru bahkan bom. Sebelum menikahi kamu, saya bahkan minta pengalihan tugas karena tidak mau meninggalkan kamu seperti dulu saat pernikahan pertama saya. Saya takut gagal lagi. Walaupun saya tentara tapi saya juga manusia biasa yang bisa kecewa atau terluka jika belahan hatinya berkhianat. Jangan melakukan hal yang sama, Cut. Atau saya akan benar-benar hancur kali ini.”
Rendra mencurahkan isi hati pada sang istri yang sedang terlelap. Setelah mendapat suntikan obat, Cut memang dibuat tertidur oleh dokter untuk membuatnya beristirahat dengan tenang. Menjelang siang, Cut mulai menggeliat. Matanya terbuka perlahan dan wajah pertama yang dilihat adalah suaminya. Rendra tersenyum manis dan tentu saja disambut dengan hal yang sama oleh sang istri.
Cup…
Rendra mengecup kening sang istri lembut. “Apa kamu bangun karena lapar?” goda sang suami.
Cut mengangguk pelan. Semenjak muntah-muntah tadi pagi dia sudah mengeluarkan semua isi perutnya hingga menjelang siang. Perutnya langsung berontak minta diisi.
Rendra meyuapi sang istri dengan lembut hingga piring itu kosong. “Kapan Cut bisa pulang, Bang?” lirihnya.
“Emm, mungkin nanti sore sudah bisa pulang. Nanti Abang tanyakan lagi kapan pastinya.” Cut mengangguk.
“Oh iya, Anugrah mana?”
“Di rumah Mama. Kamu tenang saja. Dokter bilang kamu salah makan, memangnya apa yang kamu makan?”
__ADS_1
Cut terdiam mendengar pertanyaan sang suami. Ia bingung harus mengatakan apa. Sementara ibu mertuanya saja berusaha menutupi. Apa jadinya jika ia memberitahukan Rendra apa yang membuatnya sampai masuk rumah sakit.
“Kenapa kok diam? Kamu lagi mikirin apa, hem?”
Melihat sang istri yang termenung, Rendra jadi mengingat dan menghubung-hubungkan dengan pria yang menghubunginya. Sementara yang Cut pikirkan justru berbanding terbalik dengan pikiran sang suami.
“Cut…”
“Eh, iya. Cut makan semua yang ada. Mungkin lagi masuk angin saja makanya sampai muntah.” kilah Cut. Ia tidak mungkin mengatakan kebenarannya pada sang suami. Sudah cukup ibu mertuanya mengamuk gara-gara obat herbalnya tidak berhasil masuk dalam perut Cut. Ia tidak mau menambah kekesalan ibu mertua dengan menjadi istri pengadu yang akan membuat hubungan ibu dan anak merenggang.
Selepas zuhur, dokter kembali masuk untuk memeriksa keadaan Cut dan dari hasil pemeriksaan, Cut diperbolehkan untuk pulang siang itu juga. Karena tidak ada masalah yang serius yang terjadi padanya. Rendra membereskan pakaian sang istri lalu mengantri obat di apotik rumah sakit. Setelah mengurus administrasi, Rendra memapah Cut perlahan meninggalkan rumah sakit.
Sesampai di rumah, Cut kembali beristirahat sementara Rendra bergulat di dapur untuk menyiapkan bubur supaya perut Cut menjadi lebih baik.
Ting…
Suara pemberitahuan dari ponsel Cut yang berada di dalam kantongnya bergetar. Rendra sengaja mengubah volume dering menjadi getar supaya Cut tidak mengetahuinya. Rendra ingin membuktikan sendiri apa yang terjadi di belakangnya selama ini.
“Hai, sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Lagi ngapain?”
“Aku juga. Sedang memasak.” Balas Rendra.
“Oh, wow. Istri idaman. Apa kamu mau memasak untukku? Aku ingin sekali merasakan masakan yang kamu buat. Apalagi jika saat kamu memasak, aku memelukmu dari belakang. Pasti romantis sekali.” Balas akun itu lagi.
Rendra menggenggam erat ponsel itu. ingin rasanya ia melempar ponsel itu jika tidak mengingat itu milik istrinya. Rahangnya mengetat dengan geretakan gigi yang kuat. Wajahnya memarah menahan marah.
Ting..
Pesan dari pria itu kembali masuk.
“Kenapa tidak balas? Kamu malu ya karena aku goda? Tenang saja, aku bukan penggoda sembarang wanita. Hanya kamu yang aku goda, sumpah!”
Rendra menyimpan kembali ponsel ke dalam saku lalu melanjutkan kembali memasaknya. Seraya mengaduk buburnya, Rendra terus memikirkan siapa pria pemilik akun tersebut. Dari mana mereka bertemu dan kenapa dia sangat ingin bertemu dengan Cut padahal dalam akun tersebut Cut sama sekali tidak mengunggah foto apapun. Hanya beberapa foto pemandangan tanpa sosoknya yang ada di sana. Rendra mengurungkan niatnya untuk bertanya walau rasa penasarannya semakin membuncah.
Keesokan harinya…
Kondisi Cut mulai membaik. Rendra meminta ibunya untuk menemani Cut di rumah walaupun Cut sudah melarangnya. Cut tidak mungkin mengatakan apa yang terjadi pada sang suami. Hari ini adalah hari sabtu dan seharusnya Rendra akan menghabiskan waktu selama satu hari penuh bersama anak dan istrinya.
“Abang mau kemana?” tanya Cut yang sudah duduk di sofa ruang tamu.
“Abang mau ketemu Wahyu sebentar ada urusan.”
“Jangan begitu sama suami! Rendra pergi karena ada perlu kalau tidak dia mana pernah pergi hari libur begini." Sela sang ibu.
Rendra tersenyum manis pada sang istri. “Saya pergi sebentar saja. Jangan marah ya?” bisiknya lembut.
“Bukan untuk ketemu sama mantan kan?” Cut berbalas bisik.
“Rencana sih tidak tapi kalau tidak sengaja ketemu bukan salah saya dong.” Goda Rendra membuat Cut memanyunkan bibirnya dengan tatapan tajam menghunus kearah Rendra.
“Jangan pikir macam-macam. Sini saya buktikan!”
Rendraa mengambil ponsel lalu, -
“Hallo, Yu. Istriku tidak percaya aku mau ketemu sama kamu.” Ucap Rendra lantang. Dia juga menghidupkan pengeras suara supaya Cut ikut mendengarnya juga.
“Ibu Rendra, saya mau pacaran dulu sama bapak Rendra. Tolong diberi izin ya! Tidak lama kok, hanya dua sampai tiga jam. Penting ini, menyangkut hubungan kami ke depannya. Ia kan Pak RW?”
“Mas, bisa-bisa kalian dikira gay gara-gara bicara begitu.” Celutukan istri Wahyu membuat Cut sedikit tenang. Akhirnya, Rendra keluar menggunakan mobil menuju tempat pertemuannya dengan Wahyu.
“Oke, permainan segera dimulai.”
__ADS_1