CUT

CUT
Lawan...


__ADS_3

Sebelum pulang, Bang Adi mengajak Reni keluar. Reni malu karena dengan beraninya Bang Adi meminta izin pada kedua orang tuanya disaksikan juga oleh keluarga dari Aceh. Walaupun wajah ayah Reni berusaha mengintimidasi Bang Adi tapi izin itu tetap diberi. Dan itu membuat Reni tidak percaya pada sikap ayahnya.


“Permisi, Pak, Buk. Saya mau minta izin mengajak Reni keluar sekitar satu jam kurang lebih.” Ucap Bang Adi saat itu.


“Mau dibawa kemana putri saya?”


“Saya tidak tahu banyak tempat di sini. Jadi dia yang tahu mau mengajak saya ke mana?” timpal Bang Adi yang membuat Reni ternganga diikuti oleh beberapa anggota keluarga lainnya.


“Akhirnya, si Papa bertemu lawan yang tepat.” Gumam Riko yang ikut terdengar sampai  ke telinga ibunya.


“Ternyata si Papa, muka aja Tuan Takur eh dalamnya Dorami. Ini juga si pria aneh, kenapa membuatku selalu berada diposisi yang tidak enak?” batin Reni seraya melirik kesal pada Bang Adi.


Kekacauan hatinya yang kemarin belum usai kini kembali ditambah dengan yang lain. Setelah mengantongi izin, keduanya berangkat menuju tempat yang sebenarnya tidak begitu jauh dari sana. Bang Adi hanya ingin keluar berdua dengan Reni. Walaupun ia sendiri tidak menyangka rencana yang muncul dadakan itu akan membuat Reni mengikutinya.


Bang Adi tidak mengajak langsung Reni melainkan ia meminta izin terlebih dahulu dan setelah mendapat izin baru Bang Adi menagajak Reni dan tentu saja membuat Reni yang sedari tadi berada di ruang keluarga tersebut harus mengikuti sang pria aneh. Lebih menyebalkan lagi saat Bang Adi tidak menginzinkannya mengganti baju. Reni yang saat itu hanya menggunakan celana jeans Panjang dan baju kaos dengan terpaksa mengikuti permintaan pria aneh.


Drama perdebatan tidak berakhir di situ saja dan pihak keluarga harus kembali melihat drama percintaan secara langsung kembali.


"Aku ambil tas dulu,” ucap Reni yang hendak ke kamar.


“Tidak usah, saya bawa dompet kok.”


Reni semakin kelotot kearah pria itu. Sementara anggota keluarga sudah menahan senyum mendengar perdebatan mereka.


“Saya janji sama Papa kamu kurang lebih satu jam. Belum keluar saja sudah hampir sepuluh menit. Kamu mau pergi sekrang atau tidak sama sekali?”


Dengan bibir maju beberapa senti ke depan, Reni berjalan mengikuti Bang Adi seperti anak kecil mengikuti ibunya. Sementara keluarga Reni yang melihat adegan tersebut hampir tidak percaya jika seorang putri tunggal yang terbiasa diberi imbalan setiap melakukan sesuatu oleh kakaknya itu kini mengikuti pria yang ia panggil aneh dengan begitu saja. Tidak ada perlawanan atau bantahan.


“Akhirnya, Reni juga mendapat lawan yang sepadan bahkan melebihi dirinya.”


Ucapan Riko membuat sang mama menatap tajam sang putra yang hampir tergelak. “Kakak dan adik kamu sudah, kamu kapan?”


“Sabar, Ma. SMA saja dia belum kelar.” Jawab Riko santai seraya menatap ke arah Intan yang sedang bermain dengan Iskandar.

__ADS_1


Ibu Yetti mengikuti tatapan sang putra lalu -, “Kamu menyukai Intan?”


Sontak, pertanyaan Ibu Yetti membuat semua anggota keluarga yang hadir ikut terkejut. Ibu Yetti yang sedikit latah harus tersenyum canggung pada besannya. “Kalau yang dimaksud Nak Riko itu putri kami. Maka, dia harus menunggu lama. Seperti yang tadi Nak Riko bilang jika SMA saja dia belum selesai.” Ucapan bijak dari Pak Cek Amir membuat Ibu Yetti sedikit geleng-geleng kepala.


Intan memang sedang bermain dengan Iskandar tapi telinganya tentu mendengar semua yang Riko ucapakan tadi. “Tapi, Om. Kalau saya lamar duluan boleh? Berhubung Om dan keluarga ada di sini?”


“Riko! Mana sopan santunmu? Papa tidak mengajarkan kamu seperti ini. Kalau kamu ingin melamarnya, maka pergi ke sana seperti yang Kakakmu lakukan. Kamu laki-laki tidak tidak bermodal. Menikah itu tidak cukup bermodalkan senjata bawah saja tapi juga isi dompet. Kalau kamu serius menyukai Intan. Segera kumpulkan uang lalu pergi ke Aceh untuk melamarnya. Jangan nyambi begini. Lihat Adi! Walaupun dia ke mari tapi dia tidak melamar Reni karena dia datang bukan untuk itu. jadi lelaki itu harus seperti dia.”


“Maaf Pak Wicaksono, bukan maksudnya mencampuri urusan keluarga Bapak. Tapi apa yang Riko pikirkan hanyalah pikiran anak muda saja. Mereka cendrung bersikap praktis tidak seperti kita yang terlalu ribet dalam hal apapun. Nak Riko, apa yang Papamu bilang tidak semuanya salah. Kalau kamu menyukai putri kami, maka datanglah ke sana untuk memintanya secara resmi. Bawa juga kedua orang tuamu. Dan saat itu, pastikan isi dompetmu sudah tebal karena cinta butuh modal bukan kata.” Ucapan terakhir Pak Cek Amir mampu mencairkan sedikit kecanggungan di sana.


 


Café Night Camp…


Sepasang anak manusia tengah meminum jusnya masing-masing. Tapi wajah keduanya cukup berbeda. Yang satu dengan mulut dan tatapan kesal dan yang laki-laki jutsru terlihat sedikit tersenyum dan terus menatap sang gadis yang berada di depannya itu.


“Tanpa riasan kamu sudah cantik.”


“Apa harus saya cium lagi supaya mempan?”


Gleg…


Belum habis debaran jantung karena peristiwa kemarin, Bang Adi malah bertanya hal itu lagi tentu saja Reni sangat ingin. Andai tidak ada rasa malu mungkin ia sudah menggangguk pelan atau memulai lebih dulu. Sayangnya, itu hanya ada dalam mimpinya.


“Kenapa diam? Besok saya sudah pulang dan kita tidak akan punya waktu begini lagi. Sekrang katakan apa kamu mau saya lamar atau tidak?”


Gleg…


Reni benar-benar tidak menyangka jika pria aneh di depannya selalu berhasil mengejutkannya.


“Kalau kamu mau maka saya akan datang sekitar sebulan lagi setelah pulang dari sini tapi jika kamu tidak mau maka, kita berakhir malam ini. Saya tidak mau memaksa jika kamu tidak menyukai saya. Lebih baik saya mundur, bukan?”


“Ternyata dia bisa bicara banyak juga?” batin Reni.

__ADS_1


“Jangan bicara dalam hati, saya manusia tidak bisa membaca isi hati manusia lain.”


“???”


 


***


 


Empat hari setelah acara resepsi, keluarga Cut akan kembali pulang ke Aceh termasuk Bang Adi dan Iskandar. Mereka juga telah mengunjungi rumah baru Cut dan Rendra lalu diajak keliling oleh Rendra sebentar seraya mencari oleh-oleh khas Malang untuk keluarga di Aceh. Hari ini, mereka semua mengantar keluarga Cut ke bandara. Rendra yang tidak tahu jika Iskandar telah diberikan kepada keluarga mantan suami dari Cut bingung melihat Bang Adi mengambil Iskandar dalam gendongan Cut.


Sedangkan Cut kambali berurai air mata bahkan sampai terisak melihat sang putra dan keluarganya akan kembali pulang.


“Mak Cek, ini maksudnya apa? Bukankah hak asuh Rendra jatuh ke tangan Cut?” tanya Rendra panik.


Mendengar pertanyaan sang suami semakin membuat Cut terisak dalam pelukan Mak Cek Siti. “Cut sudah memberikannya pada kami, Nak.” Jawab Pak Cek Amir.


Rendra menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau berpisah dengan Iskandar. Walaupun anak itu bukan anak kandungnya tapi dia tidak mau kehilangan bayi itu.


“Mengertilah! Cut sudah membuat keputusannya. Kamu jangan membuatnya semakin bersalah dan bersedih.” Ucap pelan Bang Adi yang membuat  Rendra menatapnya dalam diam.


“Menikahlah, berikan cucu pada orang tuamu! Jangan sampai karena orang tuamu menginginkan cucu malah membuat bayi ini terpisah dengan ibunya hanya karena keegoisan kalian para orang tua."


Jika tidak melihat situasi, Bang Adi pasti akan menghajar suami dari Cut saat ini. Sementara Reni hanya bisa memandang ke segala arah karena rasa sedih yang ia sendiri tidak tahu berasal dari mana.


“Kamu pasti akan merindukannya!” bisikan Riko tentu saja membuat Reni mendeliknya dengan tajam.


“Lihat kisahmu sendiri!”


***


 

__ADS_1


__ADS_2