CUT

CUT
Akhir Dari Perjalanan Panjang...


__ADS_3

Matahari mulai meninggi, Rendra sudah terbangun dari tidurnya. Keadaan seperti ini ternyata tidak berpengaruh untuk Rendra. Kehidupan bersama mendiang orang tuanya dulu mungkin masih membekas padanya. “Mandikan dia di anak sungai itu! Biar segar, kamu bisa menjemur bajunya sebentar sebelum kita melanjutkan perjalanan.


“Sebenarnya kita mau ke mana?” Aku memberanikan diri untuk bertanya. Aku memang tidak terlalu mengenal keluarga Jannah. Tapi untuk apa aku takut sekarang? Takut atau tidak aku akan tetap berhadapan dengan kematian.


“Kita akan ke kabupaten sebelah.” Jawab Ayah Jannah.


Aku terkejut, ternyata perjalanan ini sudah sejauh itu. Aku tidak lagi bertanya karena akan sia-sia saja. Aku memandikan Rendra yang terlihat bahagia dengan air sungai yang jernih dan sejuk. Berbekal sehelai kain gendong aku membungkus badannya sambil menunggu bajunya kering.


Setelah satu jam berhenti, kami kembali melanjutkan perjalanan. Jangan tanyakan apa yang aku makan. Perut kami hanya di isi oleh buah pisang yang Ayah Jannah petik di batang tak bertuan dalam hutan.


Langit mulai kembali redup bertanda malam akan menyapa. Kami menyusuri tepian anak sungai dan perjalanan ini entah kapan akan berakhir. “Ya Allah, jika ajal hamba datang menjemput. Izinkan Abu dan Umi untuk bisa melihat jasad hamba yang terakhir kalinya. Ya Allah, jika hamba boleh serakah. Hamba ingin dimandikan oleh Umi dan diazan oleh Abu. Hamba ingin dikubur di dekat rumah Abu. Hamba ingin kuburan hamba memiliki nama, bukan kuburan yang hanya terdapat batu atau sebatang pohon sebagai penanda. Ya Allah, wujudkanlah keinginan hamba.”


Doa-doa terus kupanjatkan dalam hati. Bukankah kita bisa berdoa kapan saja tidak terbatas tempat maupun waktu? “Ya Allah, berkat anak yatim dalam gendongan hamba, selamatkanlah kami dari segala mara bahaya.” Tanpa terduga, sebelah tangan Rendra mengusap air mata yang jatuh dengan sendirinya tanpa bisa ditahan.


Anak ini mungkin bisa merasakan kesedihan dan ketakutanku saat ini. Dari umur 3 bulan dia sudah bersamaku sedikit banyaknya dia pasti memiliki keterikatan batin denganku. Aku melihat langit yang disinari cahaya bulan. “Sepertinya ini sudah tengah malam.” Batinku. Rendra sudah kembali tertidur dan tebakanku sepertinya tepat. Waktu tidur Rendra adalah jam sepuluh malam.


Kami berhenti di pinggir sungai. Cuaca malam sangat dingin tapi Rendra sedikit pun tidak terusik. Kakiku sudah mati rasa. Hampir dua malam satu hari aku berjalan bersama mereka. Aku ingin sekali menangis saat ini. Dadaku sesak, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku terisak menahan suara serta sakitnya badanku saat ini. “Apa yang Jannah lebih sakit dari yang kamu rasakan saat ini.” Kata Ibu Jannah yang dari kemarin banyak diam. “Kenapa Mak Wa melakukan ini padaku? Keluargaku tidak pernah menjahati keluarga Mak Wa.”


“Komandan yang meminta kami membawa kamu. Kami hanya melaksanakan tugas.”

__ADS_1


“Mak Wa dan Pak Wa, semua ini tidak benar. Kalian tidak akan bisa kembali ke kampung jika mengikuti pemberontak.”


“Kami memang tidak berniat kembali ke kampung terkutuk itu. Kampung yang isinya orang-orang biadab yang mengatakan anak kami seorang cuak dan membuatnya meregang nyawa di penjara para kafir itu.”


“Mak Wa, tidak ada warga kampung yang mengatakan Jannah seorang cuak. Tapi Jannah sendiri yang bertingkah seperti itu. Bukannya dia juga yang melaporkan Miftah pada para pemberontak sampai Miftah harus meninggal dengan cara yang mengenaskan. Apa salah Miftah pada Jannah?”


“Jaga mulutmu, Cut! Kami tidak mengasarimu karena mengingat Ilham. Jika bukan karena Ilham, dari kemarin aku sudah menghajarmu.”


“Siapa yang ingin bertemu denganku, Mak Wa?”


“Komandan pengganti Abangmu. Khalid!” Aku terkejut, ada perlu apa lagi dia denganku. Apa yang kemarin Abu sampaikan belum jelas? Sepertinya aku harus menyiapkan mental lebih untuk bertemu dengannya.


Kami melanjutkan lagi perjalanan yang entah kapan akan sampai. Menjelang sore, kami pun sampai di sebuah tempat yang berada di balik rawa-rawa di kaki bukit. Keinginanku tidak muluk-muluk. Aku hanya ingin beristirahat dan berhenti untuk berjalan. Aku sangat lelah, badanku terasa remuk redam. Aku ingin tidur walau hanya sebentar namun, sepertinya keinginanku akan sulit tercapai. Melihat bagaimana tempatku berada saat ini sungguh di luar dugaan. Tempat ini jauh lebih besar dari markas almarhum Bang Ilham. Di sini tidak ada anak-anak. Aku juga melihat beberapa tawanan yang terikat di pohon.


“Apa kabar, Cut.” Sapa Khalid dengan senyum tanpa dosa dan itu membuatku semakin jijik melihatnya.


“Tidak baik.” Jawabku ketus tanpa menoleh padanya.


“Fikri, sini sama Cek Lid!” Dia mengambil paksa Rendra dari gendonganku.

__ADS_1


“Fikri?” Dia menatapku seraya tersenyum. “Ini anak Ilham kan? Teuku Muhammad Fikri.”


“Jadi nama Rendra, Teuku Muhammad Fikri.” Batinku. Aku tidak membantah lagi. Biarkan saja dia memanggil nama tersebut. “Kenapa membawaku kemari?” Aku bertanya dengan nada ketus tanpa takut. Aku sudah menyiapkan mental jika dia akan memukulku atau membunuhku sekalian.


Dia tersenyum, “Fikri, Cecek menyeramkan ya kalo lagi marah? Cek Lid jadi takut.” Dia menyindirku pada Rendra yang sedang berada di gendongannya.


“Ayo, Abang antar ke tenda! Kamu pasti capek. Kaki kamu juga terluka.” Sambil menggendong Rendra, sebelah tangannya menarik lenganku dan itu menjadi tontonan gratis buat teman-temannya yang berada di sana. “Istrimu datang juga, Khalid.” Seloroh salah satu dari mereka.


Dia terus berjalan menatap ke depan sambil menarik lenganku. Sekilas kulihat wajahnya dari samping dan ternyata dia cukup tampan namun kurang terurus. Kulitnya coklat dan untuk ukuran para pemberontak yang hidup di hutan. Bentuk badannya lumayan bagus dan terlihat seperti para tentara.


Kami sampai di sebuah tenda paling ujung. Tenda yang beratapkan terpal dan batang pohon sebagai tiang. Aku duduk di atas rumput beralaskan tikar seadanya. Kakiku perih dan badanku remuk. Dia mendudukkan Rendra di sampingku kemudian keluar. Setelah dia keluar, aku langsung merebahkan badanku di samping Rendra. Aku memeluk pinggangnya agar dia tidak ke mana-mana. Rasa kantuk mendera amat sangat, sungguh rasa ini tidak mengenal tempat dan waktu. Padahal aku sedang berada di ujung ajalku namun rasa kantuk justru datang sebelum ajal menjemput. Dan aku terlelap menuju alam mimpi dengan tenang.


“Apa kamu tidak merindukanku, Cut?"


***


LIKE...LIKE...LIKE..


 

__ADS_1


 


__ADS_2