CUT

CUT
Puing...


__ADS_3

Langit mulai menggelap bertanda malam akan segera datang. Para penduduk yang lolos dari amukan tsunami berjalan tertatih menuju ke tempat penampungan sementara yang dibuat oleh para tentara di kawasan markas latihan mereka di kaki bukit. Beberapa tenda juga dibangun di halaman stasiun TVRI. Banyak warga mencoba memasuki pusat kota Banda Aceh untuk melihat keadaan sanak keluarga. Bahkan, begitu berita tsunami disiarkan di televisi baik dalam maupun luar negeri. Sejumlah bandara dipadati oleh orang yang ingin terbang ke Aceh.


Walaupun beberapa pihak justru mengambil kesempatan untuk mendapatkan banyak keuntungan dari musibah tersebut dengan menaikkan harga tiket menuju Aceh. Mata mereka tidak lepas dari layar televisi serta pikiran yang dipenuhi dengan berbagai pertanyaan ‘apakah mereka masih hidup?’


“Mae, nenek bayi ini kemana?”


Mae berjalan mengikuti Pak Cek Amir dan keluarganya ke tempat pengungsian yang terletak di stasiun TVRI. Jika hari biasa perjalanan ini akan terasa jauh namun, di saat seperti ini berbagai keluhan rasanya tidak lagi tersisa di hidup mereka. Bisa selamat saja sudah sangat bersyukur tidak perlu harta benda atau sebagainya. Meskipun tidak jarang saat mereka berjalan melewati mayat-mayat yang berserakan. Cincin, gelang, kalung dan anting dalam jumlah banyak cukup menyilaukan dengan warna kuningnya.  Hanya segelintir orang yang masih silau dan serakah dengan semua itu walaupun sudah melihat betapa dahsyatnya gempa dan tsunami yang telah merenggut banyak korban jiwa.


“Tidak tahu, Pak Cek. Mae juga tidak terlalu perhatian lagi. Mae teringat Abu, Pak Cek. Apa tidak sebaiknya kita cari mereka?”


Seorang tentara mendekat lalu bertanya, “Apa bayi ini terluka?”


“Kayaknya tidak, Pak.” Jawab Mae memperhatikan bayi tersebut tertidur di pangkuannya.


Gempa dan tsunami telah memadamkan Aceh hingga malam terasa mencekam bagi mereka yang masih hidup. Rumah sakit militer dipenuhi oleh pasien yang luka namun masih bisa berjalan. Tentara BKO yang sebelumnya bertugas untuk mengamankan wilayah dari para pemberontak kini beralih fungsi menjadi tim relawan pertama yang menyelamatkan warga dari puing-puing bangunan. Sebagian dari mereka yang bertugas di pos-pos yang berada di pesisir pantai ikut menjadi korban ganasnya air laut yang menghantam daratan.


Beberapa kabupaten mulai mengirim relawan untuk membantu sebisanya sampai bantuan dari pusat datang. Tangis dan air mata tidak cukup menggambarkan kesedihan di wajah setiap orang. Tatapan mereka kosong menyiratkan hati mereka yang dipenuhi lara mengingat sanak keluarga yang belum diketahui keberadaanya.


“Dek, bayi ini kita pindahkan ke sana supaya tetap hangat.”

__ADS_1


Saat Mae hendak menyerahkan bayi tersebut kepada seorang tentara, “Oeekkkk…”


Tentara yang hendak mengambil bayi itu terkejut lalu Mae langsung mengambilnya lagi dan seperti ada ikatan batin antara keduanya hingga bayi tersebut langsung terdiam begitu sampai dalam pelukan Mae.


“Apa dia adikmu?”


Mae bingung lalu menatap bayi ini dengan saksama, “Dia seperti keponakan saya, Pak.”


Pak Cek Amir dan Mak Cek Siti datang bersama Faris dan Intan, “Ada apa, Mae?”


“Mak Cek, coba lihat anak ini! Dia mirip Iskandar, bukan?”


“I-ini Iskandar. Ya Allah, alhamdulillah. Ayah, ini Iskandar anak Cut dan Fais. Mamak tahu sekali tanda lahir ini. Mamak sering melihat ini waktu memandikannya dulu.”


“Ini cucu saya, Pak. Namanya Iskandar. Tapi bagaimana dia bisa bertemu dengan kita? Bagaimana ibunya?” Mak Cek Siti langsung histeris begitu tahu bayi itu adalah Iskandar dan dia mulai terisak memikirkan nasib keponakan serta iparnya yang belum diketahui.


“Tenang, Mak. Kalau Iskandar selamat, Insya Allah Abang dan keluarga juga selamat. Kita harus semangat dan optimis untuk mencari mereka.”


Mak Cek Siti membawa Iskandar ke tenda yang sudah disiapkan khusus menampung bayi dan anak-anak.

__ADS_1


Sementara di beberapa tempat yang tidak terkena tsunami, ratusan warga yang sedang tertidur dikejutkan dengan suara deburan ombak yang sang sangat kuat seperti tsunami. Di tengah malam buta yang gelap, semua orang panik berhamburan keluar rumah. Mereka berlari menuju perbukitan atau tempat tinggi lainnya. Bahkan ibu dan bayi yang baru melahirkan ikut berlari menaiki bukit karena takut akan tsunami.


Di dalam sebuah pesawat milik TNI, seorang pria tetunduk diam memikirkan nama seorang wanita yang sudah lama tertera di hatinya. Wanita yang beberapa tahun lalu berhasil merebut hatinya namun kandas oleh keadaan.


Kini, ia berharap dapat kembali memperjuangkan keinginnanya yang sempat kandas dahulu tapi ia juga harus siap jika harus menerima kenyataan yang sulit ia bayangkan nantinya. Di saat konflik masih terus bergejolak, akhirnya sang pencipta memberikan peringatan yang cukup dahsyat untuk menyedarkan manusia yang masih setia mempertahankan egonya.


Namun, di saat semua mata sedang tertuju pada musibah. Segelintir orang yang masih tetap bertahan dengan keegoisan malah melakukan tindakan tidak terpuji dengan menghadang beberapa truk berisi bantuan yang akan diantar ke pusat provinsi melalui jalur darat. Sementara di pusat provinsi, berbagai bantuan sangat dibutuhkan saat ini. Selimut, pakaian, makanan, obat-obatan serta tenaga medis menjadi kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan dalam waktu segera. Menjelang subuh, pesawat angkut milik TNI mendarat di bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar.


Pesawat demi pesawat mulai berdatangan keesokan harinya hingga beberapa hari kemudian. Bantuan dari dalam maupun luar negeri terus berdatangan ke Aceh. Evakuasi dan pencarian masih tetap dilakukan. Mayat yang ditemukan langsung dimasukkan ke dalam plastik mayat dan yang masih selamat langsung dilarikan ke pusat medis darurat yang banyak dibangun oleh para relawan dari luar negeri.


Para relawan memiliki banyak peran dalam menghadapi bencana seperti ini. Beberapa di antara mereka ada yang menjadi penghibur bagi anak-anak yang kehilangan orang tua mereka. anak-anak itu hanya bisa termenung melihat semua hiburan yang para relawan siapkan. Mereka sedih dan hancur namun tidak bisa mengungkapkannya dengan jelas. Hanya selembar kertas dan pensil warna yang mampu mengungkapkan bagaimana kondisi kejiwaan mereka dalam menerima kenyataan ini. Kehilangan orang tua, kakak, adik di depan mata. Terpisah dan berharap mereka bisa bertemu kembali walaupun kesempatan itu mustahil namun mereka hanya bisa berharap. Air laut telah memisahkan mereka seperti seorang wanita yang terbaring dengan kondisi mengenaskan.


Tubuhnya penuh luka dengan mata terpejam. Jarum infus serta alat pendeteksi irama jantung terpasang sempurna di tubuhnya. Ia ditemukan terhimpit dalam puing-puing dengan badan penuh luka hingga kepala. Wajahnya hampir tidak terlihat karena tertutupi lumpur namun sang pencipta masih memberikannya kesempatan untuk hidup hingga sedahsyat apapun tsunami menerjang tubuhnya. Ia masih tetap hidup.


“Bangunlah, Nak. Iskandar membutuhkanmu!”


***


 

__ADS_1


__ADS_2