
Dua hari mereka habiskan di kampung Dika sambil bersuka cita merayakan berkumpulnya kembali mereka dalam formasi lengkap sekaligus merayakan pesta lajang untuk Iskandar versi mereka. Setelah menempuh perjalanan dua jam setengah, Iskandar lebih dulu mengantar Dita ke rumah Papa Faisal sementara Dika akan menginap di mess bersama mereka.
Sebelum pulang, mereka sempat mampir sebentar untuk memberikan oleh-oleh dan memperkenalkan Dika pada keluarga Iskandar. Setelah dari sana, Iskandar juga mengajak mereka ke rumah Rendra. Dengan alasan memberikan oleh-oleh, Iskandar juga melakukan hal yang sama seperti di ruma Faisal. Cut dan Rendra menyambut hangat sahabat putranya itu dengan tangan terbuka.
“Bahagia sekali hidupmu, Is.” Ucap Dika saat mereka dalam perjalanan pulang ke mess.
“Iya, aku juga pasti bahagia memiliki orang tua akur begitu.”
“Kebahagiaan mereka hasil dari kesedihan di masa lalu.” Teman-temannya ikut mengangguk tanda setuju. Mereka sedikit banyak tahu tentang kehidupan sahabatnya itu di masa lalu.
“Hanya Mama Dita yang belum bisa menerima masa lalu.” Ucapnya lagi.
“Tidak semua orang memiliki kelapangan hati untuk memaafkan dan melupakan, Is.” Sahut Dika.
“Kamu menyukai Dita?” selidik Iskandar. Para sahabat yang lain ikut menatap Dika yang hanya membalas dengan gedikan bahu. Dika perlu memastikan sesuatu dulu dengan hati dan perasaannya sebelum mengutarakan pada mereka.
Lain di mess lain pula di ruangan dokter. Teuku yang hendak bersiap setelah jadwl prakteknya selesai tiba-tiba melihat postingan seseorang yang membuatnya mengurungkan niat untu pulang. Untuk menyelami dunia Anggia, Teuku sampai membuat sebuah akun media sosial yang lain dengan memasang foto profil aktor di drama Turki.
Teuku melihat video yang diunggah oleh Anggia berisi seorang pria sedang melamar seorang gadis. Dari bahasa yang digunakan oleh pria di dalam video tersebut langsung menunjukkan jika pemeran dalam video tersebut berasal dari negeri jiran dengan logat melayu yang kental. Anggia menambahkan keterangan di bawah video tersebut dengan kalimat ‘Rindu Awak 200%’
“I love you 3000!” komentar Teuku di bawah unggahan Anggia lengkap dengan gambar hati.
“Wah, Selim dari Turki saja bisa cinta kamu 3000. Apa lah aku yang SEADANYA.”
“I love you Mr. Pilot saja karena aku pramugari.”
Dan berbagai komentar kocak menghiasi akun media sosial Anggia.
“Hai,” Teuku mengirim DM pada Anggia.
“Hai juga.”
“Lagi ngapain?”
“Lagi merindukanmu!” balas Anggia tidak mau kalah.
“Sama! Sama-sama rindu. Kapan kita bertemu?”
“Entah!”
“Kamu kok cuek begitu?”
“Lalu maumu?”
“I love you!”
“I love you too Iron Man!”
“Ah, aku ingin terbang ke tempatmu!”
“Silakan! Jendela kamarku terbuka lebar untukmu.”
“Kalong dong.”
__ADS_1
“Bisa jadi.”
“Kalau aku kalong, boleh dong terbang ke hatimu.”
“…”
Anggia tidak lagi membalas membuat Teuku uring-uringan. “Ngebaso yok!” tulisnya.
Dreet…
“Maaf, Paman. Aku lagi diet.” Balas Anggia membuat Teuku mengerutkan keningnya.
“Tidak perlu diet badan kamu sudah seperti artis Korea.”
“Tapi kan cantik.”
“Oplas!”
“Sudah ya Paman. Aku mau tidur dulu. Jangan mengajak anak gadis orang keluar malam-malam. Apa Paman tidak tahu aturan?”
Teuku kesal untuk kalimat terakhir itu tapi sayanganya Anggia langsung mematikan ponselnya hingga membuat wajah Teuku semakin kesal menahan emosi. Ia yang tadinya akan menelepon Anggia tapi ponsel gadis bercadar itu malam mati.
Sesampainya di rumah, ia sudah disambut oleh tatapan aneh dari dua orang pengganti orang tuanya. “Om sama Tante kenapa melihatku begitu?”
“Kamu yang kenapa? Wajahmu sudah seperti pria berumur 50 tahun.” Sahut Rendra.
“Ada masalah di rumah sakit?” tanya Cut.
“Anak kecil?”
“Siapa?”
“Anggia?” tanya Cut lagi.
“Kok Tante tahu?”
“Buk Ayu sudah cerita tentang Anggia sama Tante dan Tante juga menyukainya. Kapan kamu akan melamarnya?”
“Nanti dulu. Kita selesaikan dulu pernikahan Iskandar. Setelah itu baru aku itupun kalau aku tidak berubah pikiran.” Cut dan Rendra menatap pria muda di depannya penuh tanya.
“Dia terlalu muda untukku. Apalagi untuk diajak berumah tangga. Jalan sama dia berasa jalan sama adik perempuan. Mungkin aku akan berpikir ulang tentang dia. Aku tidak mau setelah menikah justru semakin sakit kepala. Sudah pusing di rumah sakit sampai di ruma tambah pusing lagi dengan tingkahnya yang masih kekanak-kanakan.”
“Buk Ayu bilang kamu menyetujui perjodohan itu.”
“Aku menyetujuinya tapi kami sendiri tidak saling menyukai. Bagaimana mau menikah jika dia lebih mendamba Iskandar sebagai suaminya dari pada aku.” Mata Cut dan Rendra membola mendengar perkataan Teuku.
“Dia menyukai Iskandar sudah lama tapi Iskandar tidak membalas perasaannya malah jatuh cinta sama mahasiswa lain.”
“Terus ini bagaimana? Kamu tidak menyukainya?” tanya Cut memastikan.
“Tante, Om, aku ini pria dewasa. Aku ingin menikah dan hidup tenang setidaknya setelah lelah di rumah sakit aku bisa bahagia di rumah bukan sebaliknya. Jadi aku lebih baik mempertimbangkan kembali untuk menikahinya. Aku juga sudah membicarakan ini dengan orang tuanya.”
“Kamu sudah menolaknya?”
__ADS_1
“Bukan menolak, Tante. Aku hanya tidak mau muluk-muluk dalam menjalin hubungan. Kalau nantinya kami berjodoh berarti ya itu sudah jalannya.”
Cut dan Rendra kehabisan kata-kata. Keponakanya memang luar biasa dewasa hingga keduanya tidak pperlu terlalu memikirkan tentang masa depan Teuku yang entah seperti apa nantinya.
“Besok aku akan menjemput Aisyah. Bagaimana persiapan pernikahan Iskandar?”
“Sudah beres. Tingga menunggu Aisyah dan menjalankan rencana Iskandar dengan baik agar tidak ketahuan.”
Setelah lelah berbincang, Teuku memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Dia butuh istirahat untuk menempuh perjalanan menjemput Aisyah esok hari. Sepeninggalan Teuku, wajah Cut mendadak muram. Ia menatap sang suami lekat. “Kenapa?”
“Apa sikap Teuku itu wajar? Papa laki-laki tentu bisa menilai dari cara dia bicara tadi. Mama hanya khawatir kalau dia terlalu menyepelekan kehidupan rumah tangga. Bagaimana ini, Pa?”
“Tenang, Ma. Biarkan semua berjalan dengan tenang. Jangan terlalu memaksanya nanti dia malah tidak nyaman. Ayo ke kamar. Sudah malam, jangan begadang! Sebentar lagi bakal jadi nenek.”
“Amin,”
“Tidak disangka kita akan sampai ke titik ini ya, Pa.”
“Dan kita akan menunggu waktu sampai maut memisahkan.”
“Pa,”
“Mati itu pasti, Ma. Yang pasti itu cinta Papa untuk Mama.”
“Pa, ingat umur.”
“Ingat, Ma. laki-laki itu makin tua makin jadi, Ma. Seperti malam ini. Tiba-tiba Papa ingin merasakan malam pertama lagi. Apa Mama siap?”
“Kemana, Pa?” Cut pura-pura polos.
“Bertempur, Ma.”
“Aceh sudah damai, Pa.”
“Ini pertempuran tidak berdarah, Ma. Hanya ada cinta dan sayang.”
“Lusa kita akan menikahkan anak kita jangan sampai encok gara-gara bertempur, Pa.”
“Tidak akan! Papa masih kuat bahkan untuk nambah istri lagi Papa masih sanggup.”
Sebuah cubitan sayang mendarat di kulit perut Rendra. Keduanya tergelak bersama lalu kembali memasuki alam cinta seperti saat-saat pertama mereka berumah tangga.
Keesokan harinya, setelah sarapan Teuku langsung berpamitan pada Cut dan Rendra. “Hati-hati! Jangan ngebut! Kalau ngantuk istirahat!”
“Baik ibunda ratu!” jawab Teuku lalu mencium pipi tante dan memeluk Rendra sekilas sebelum menaiki mobilnya.
Selepas kepergian Teuku, Iskandar tiba di rumah bersama Dita dan teman-temannya. Mereka akan menginap di sana malam ini. Sedangkan Aisyah akan diantar ke rumah Faisal oleh Teuku setelah tiba dari rumah yatim.
“Show time!”
***
__ADS_1