CUT

CUT
Wanita Penghuni Gua...


__ADS_3

Boom......


Boom....


Dor...dor....dor......


Dor....dor....dor....


Boom....


 


Menjelang subuh aku dan Rendra dikejutkan dengan suara bedil serta ledakan yang aku yakini berasal dari bahan peledak milik aparat pemerintah. Aku sudah pernah mendengar ini sebelumnya. Para pemberontak itu tidak memiliki bahan peledak seperti aparat pemerintah.


“Cari di semua tempat!” suara dari luar terdengar nyaring senyaring tangis Rendra yang pecah karena terkejut. Suara bedil dan bom masih saja terdengar begitu juga dengan suara kaki-kaki manusia. Aku mencoba menenangkan Rendra namun sepertinya gagal. Kenapa dia bisa seperti ini? Sebelumnya dia tidak terlalu kaget dengan suara-suara bedil atau bom. Apa karena ini terdengar sangat dekat serta jangka waktu yang cukup lama.


Aku tidak memiliki lagi kekuatan untuk mendiamkan Rendra. Badanku sudah remuk, kakiku seakan mati rasa. Sudah lebih seminggu aku di dalam gua ini. Kakiku tidak pernah diajak untuk berjalan. Aku ingin menangis seraya meminta tolong tapi belum sempat kata-kata itu terucap pintu gua terbuka dan cahaya menyerang mataku untuk pertama kalinya setelah seminggu lebih.


“Tandu...tandu, bawa mereka ke ambulans!” hanya itu yang terdengar sebelum aku menutup mata.


 


Jam 9 pagi...


Rumah sakit daerah militer kota L...


“Bagaimana keadaannya, Dok?”


“Pasien mengalami dehidrasi dan urat saraf yang tidak bekerja sehingga menyebabkan pasien tidak bisa berjalan. Untuk sekarang, kita hanya bisa menunggu sampai pasien siuman. Baru setelah itu secara pelan-pelan kita bisa memberikan terapi untuk kakinya supaya bisa berjalan lagi.” ujar sang dokter.


“Bagaimana dengan bayinya?”


“Sepertinya dia mendapat nutrisi lebih karena ibunya lebih memilih berpuasa. Anak itu dalam kondisi baik dan sehat. Para suster juga sudah memandikannya serta mengganti pakaian dengan yang baru. Anak itu sangat kuat, makannya juga banyak. Dan dia sangat suka bermain dengan para anggota di sini.”


“Ini sudah 2 hari. Kenapa dia belum sadar juga?”

__ADS_1


“Kita tidak tahu apa yang membuat pasien enggan untuk bangun. Cerita apa yang ada dibalik gua tersebut kita juga tidak tahu jika pasien belum sadar. Tubuhnya sedang mengisi daya, saat ini vitamin dan beberapa nutrisi sudah kita masukkan ke tubuhnya. Mudah-mudahan besok pasien sudah sadar. Kalau begitu saya permisi dulu.”


Aku bisa mendengar semua pembicaraan itu tapi kenapa aku tidak bisa membuka mata? Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak bisa bergerak? Kenapa badanku sangat lemah seperti mau mati. Apakah ajalku sudah dekat ya Allah? Jika iya, izinkan aku untuk menyebut nama-Mu diujung usiaku. “La...Ila haillallah....La...Ila haillallah...” aku bisa merasakan air mata menetes di sudut mataku. Dan tangan seseorang sedang mengusap air mata ini.


“Mimpi buruk apa yang sedang kamu alami? Jangan menangis, bangunlah! Kita sudah lama tidak bertemu. Saat bertemu, saya malah melihat kamu dalam kondisi seperti ini. Bangunlah, Sayang! Saya merindukanmu. Bangunlah! Kedua orang tuamu sedang kemari untuk melihat putri cantik mereka yang sudah lama dirindukan. Bangunlah! Rendra terus saja memanggil Cheche. Dia bahkan tidak mengenal saya. Apa kamu tidak pernah memperlihatkan foto saya pada Rendra kecil? Kamu sungguh tega. Padahal, saya setiap saat selalu melihat foto kalian saking beratnya rasa rindu saya.”


Aku mencoba mendengar suara itu yang terdengar cukup dekat. Siapa dia? Kenapa dia seperti mengenalku? Kenapa hanya suaranya saja? Di mana pria itu? Aku merasakan tanganku dalam genggamannya.


Pelan...pelan...aku kembali terlelap dan tidak mendengar apa-apa lagi.


 


Jam 12 siang...


Masih di tempat yang sama tapi kali ini aku mendengar suara yang lain. Aku mendengar suara Abu membaca surah Yasin di telinga kananku. Aku juga mendengar suara isak tangis dari Umi. Apa mereka ada di sini? Tapi di mana? Kenapa hanya suaranya saja. Aku tidak melihat Abu dan Umi.


“Ya Allah, jika engkau berniat mengambilnya maka kami ikhlas. Dia anak saleh yang sangat berbakti pada kami. Lapangkan jalannya jika memang ini waktunya dia menghadap-Mu, Ya Allah.” Air mataku kembali mengalir di sudut mataku. Aku merasakan tangan Umi mengusap air mata ini dengan lembut. “Cut, anak Umi yang saleh. Umi ikhlas jika Cut mau pergi. Pergilah, Nak! Insya Allah surga Allah menantimu.” suara isak tangis Umi terdengar cukup dekat.


“Che..Che...”


“Che...che...mam”


“Mamaammm”


Aku mendengar suara Rendra, aku juga bisa merasakan tangan mungilnya yang sedang memegang tangan kiriku.


“Muaahhh....” Rendra mencium pipiku seperti biasa.


“Syun Cheche...”


“Bilang sama Cheche supaya cepat bangun! Kalau tidak nanti Rendra bakal ikut sama Om ke Jawa. Kita tinggalkan saja Cheche di sini, ya?” suara laki-laki itu lagi. Dan apa yang dia katakan? Dia mau membawa Rendra ke Jawa? Berani sekali dia membawa anak orang tanpa ijin. Aku marah. Dan seketika semuanya kembali hilang, senyap dan sunyi. Aku tidak mendengar apa-apa lagi.


 


Jam 10 malam...

__ADS_1


Perlahan mataku bisa terbuka. Aku melihat cahaya lampu serta dinding yang berwarna putih. Aku haus, tenggorokanku terasa sangat kering. Terdengar suara orang mengaji namun orangnya tidak ada hanya suara.


“Abu....Umi...” lirihku dengan suara yang masih tercekat.


“Abu...Umi....”


“Abu...Umi....”


Aku bisa melihat mereka kembali dan kali ini nyata. Mereka berdua ada di depanku saat ini. Aku masih hidup, Allah masih memberikanku kesempatan untuk hidup. “Alhamdulillah akhirnya kamu bangun juga, Nak” ucap Umi seraya menahan tangisnya.


“Abu panggilkan dokter dulu!” Abu terlihat berlari menuju pintu. Tidak lama dokter bersama beberapa perawat sudah sampai di ruangan ini. Dan satu lagi pria yang memakai pakaian loreng itu. “Aku seperti pernah melihatnya.” Gumamku.


Dokter memeriksaku dengan telaten. Aku belum sanggup untuk bicara. “Semuanya bagus, dan saya rasa nutrisinya juga sudah mencukupi untuk membuatnya bangun dari tidur panjang. Sepertinya kamu terlalu lama di dalam gua itu, ya?” tanya sang dokter dan aku hanya menganggukkan kepala.


“Jangan diajak bicara dulu. Biarkan pasien istirahat kembali malam ini. Besok pagi akan kita coba untuk memulai terapi ringan terutama pada kaki. Apa ada yang sakit?” aku menggeleng. Dokter juga memeriksa mataku dan semuanya juga normal.


“Ini berapa?” Dokter menanyakanku berapa jumlah jarinya.


“D-dua.” Dokter mengangguk lalu tersenyum. “Kamu sungguh wanita yang kuat. Teruslah begitu karena sangat jarang ada wanita sekuat kamu. Istirahatlah! Besok kita akan memulai terapi. Bapak, Ibu, untuk saat ini biarkan putrinya istirahat kembali, ya? Saya permisi dulu.”


“Terima kasih, Dokter.” Dokter itu mengangguk lalu keluar dari ruanganku.


"Kamu mau minum?” aku mengangguk pada Umi.


Pelan-pelan aku menyesap sedotan dari dalam gelas yang berisi air putih. Rasanya sangat menyegarkan. Aku sangat haus, aku juga merasa lapar sekarang. Tapi...”Rendra.”


Aku panik karena tidak melihat anak itu dari tadi. “Umi, Abu, Rendra...”


“Tenanglah! Rendra sudah tidur di ruang anak-anak. Dia tidak boleh di sini karena kamar untuk anak-anak lebih nyaman dan steril.” suara laki-laki berpakaian loreng tersebut mulai mendekati tempat tidurku.


“Aku menatapnya yang juga tengah menatapku. Tapi bedanya, dia tersenyum sementara aku tidak. Aku mencoba mengingat wajahnya namun dari suaranya aku seperti mengenal pria ini. “Apa kamu sudah tidak mengenali saya lagi? Padahal baru setahun kita tidak bertemu. Sudahlah! Sekarang kamu istirahat. Masih ada esok untuk kamu bertanya dan saya dengan senang hati akan menjawab pertanyaan kamu.” Dia mengusap kepalaku sekilas lalu pergi.


Selepas kepergiannya aku menatap Umi dan Abu. “Apa kamu tidak mengingatnya? dia Rendra yang dulu bertugas di kampung kita.”


***

__ADS_1


LIKE...LIKE...LIKE...


__ADS_2