
Sepeninggalan Anindita, Cut termenung memikirkan banyak hal sampai kehadiran sang suami terabaikan olehnya.
“Ma, ada apa?” tanya Rendra bingung melihat sang istri yang sedang duduk menghadap jendela.
“Eh, Abang udah pulang.” Cut tersenyum getir.
“Ada apa?” selidik Rendra. Cut menceritakan tentang kedatangan anak yang menurutnya adalah anak Faisal dari Shinta.
“Aku khawatir, Bang.” Lanjut Cut.
“Aku tidak bisa bercerita apa dan kenapa padanya. Aku takut salah bicara.”
“Tapi dia berhak mengetahui ayah kandungnya.”
“Aku sudah menunjukkan foto dan memberikan alamat orang tua Bang Fais di Aceh. Dia bilang ingin bertemu dengan keluarga ayahnya. Dia ingin merasakan kasih sayang nenek dan kakek yang selama ini tidak ia dapatkan.”
“Lalu apa yang kamu khawatirkan?”
“Aku memikirkan Kak Shinta. Bagaimana kalau dia tahu putrinya pergi mencari keluarga ayah kandungnya dan Kak Shinta pasti marah sama aku karena telah memberitahukan soal masa lalunya pada Dita. Aduh, gimana ini Bang? Perasaan aku jadi gak enak banget.”
“Sudah, janga berpikir macam-macam. Kita tunggu saja apa yang akan terjadi lalu hadapi. Hidup memang seperti ini. Kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi. Anak-anak yang kita pikir akan merespon berlebihan saat tahu cerita masa lalu ibunya justru tidak terjadi. Mereka terlihat biasa saja bahkan cendrung senang saat kita ajak bertemu dengan keluarga ayahnya. Mungkin saja masalah dari masa lalu kalian muncul dari Dita. Semua masih abu-abu jadi jangan terlalu dipikirkan. Apa hari ini kamu sudah menghubungi anak-anak?”
Cut menggeleng pelan kemudian Rendra mengambil ponselnya lalu melakukan panggilann video kepada Anugrah dan Iskandar. Dua pemuda tampal tampil di layar ponsel pintar milik sang ayah. Namun ada yang berbeda dari wajah keduanya. Iskandar yang sering terlihat datar dengan sedikit senyum itu seperti sedang resah dan banyak pikiran. Sementara Anugrah seperti biasa, ceria dan penuh senyum.
“Kalian apa kabar?” tanya sang ibu lesu.
“Mama kenapa? Kakak juga kenapa wajahnya seperti habis melihat setan?” Kedua orang tuanya ikut memperhatikan wajah putra sulung mereka dengan saksama.
“Kamu sakit, Is?” tanya sang ayah.
“Is baik, Ma, Pa. Is lagi dalam perjalanan menuju desa. Is tutup dulu ya, nanti Is telepon lagi. assalamualaikum.”
Wajah Iskandar menghilang di layar ponsel. Iskandar tidak ingin membuat orang tuanya resah tapi tindakannya justru membuat mereka bertanya-tanya.
“Kakak seperti kelelahan dan banyak pikiran.” Celutuk Anugrah pada orang tuanya.
“Iya, kamu sendiri bagaimana?” tanya Rendra.
“Aku juga kelelahan dan banyak pikiran, Pa, Ma.” Keluh sang putra.
“Kenapa?” dua orang tua itu panik sementara sang putra dengan santainya menjawab. “Aku lelah dan terus berpikir berapa jumlah deposit yang kakek berikan untuk kakak?”
“Hei, masih juga kamu penasaran sama itu?” suara sang kakek menyahut dari belakang. Jadilah perdebatan antara sang kakek dengan Anugrah berlanjut. Ponsel yang tadinya berada di tangan sang ayah kini berpindah pada ayah yang lebih tua alias kakek.
__ADS_1
Desa Wengi…
Para mahasiswa kini sedang menyusun beberapa agenda sambil berbicara dengan Pak Joko sang kepala desa. Beberapa perangkat desa ikut membantu para mahasiswa dengan mendatangkan para warga yang memiliki kebun dan peternak sapi. Program pertama para mahasiswa adalah pemakaian pupuk kompos yang didapat dengan mudah dari kotoran sapi milik warga. Pupuk tersebut nantinya akan ditaburi di lahan jagung, cabai hingga jenis sayuran lainnya.
Iskandar sendiri hanya berperan sebagai pemantau. Di sini, para mahasiswa lah yang mengambil peran utama dalam setiap program yang mereka jalankan.
“Selamat pagi, Pak.” sapa seorang wanita yang membawa piring berisi kue basah dan segelas teh hangat. Iskandar sedang menyelesaikan beberapa modul untuk bahan kuliah semester depan. Semester ini dia tidak mendapatkan jadwal mengajar karena harus menjadi Dosen Pembimbing Lapangan atau disingkat DPL dalam kegiatan KKN dan akan menjadi dosen pembimbing skripsi setelahnya.
"Pagi." Balas Iskandar lalu melirik pada wanita yang sudah mengambil tempat di depannya ini. Wanita berambut panjang itu tersenyum sangat manis sambil menatap sang dosen yang sangat tampan dan mempesona itu.
“Mas tidak ikut dengan para mahasiswa? Mereka semua sudah berbagi tempat ke kebun dan peternakan sapi milik warga desa.”
“Tidak, itu tugas mereka.” Jawab Iskandar tanpa menatap sang wanita.
“Gendhis, ngapain kamu di sini?” tanya Pak Joko yang baru datang.
“Tidak ada, Mas Joko. Hanya ingin berbincang dengan Pak Dosen.”
“Maaf kalau Gendhis mengganggu pekerjaan, Bapak. Dia ini adik ipar saya.”
Iskandar mengangguk pelan, “Anak-anak sudah berangkat semua, Pak?” tanya Iskandar pada Pak Joko.
“Sudah, Pak.”
Iskandar memilih menghindari wanita di depannya ini dengan memasuki mobil Dodik. Kebetulan, Dodik menitipkan kuncil mobil pada dirinya. Para mahasiswa memilih berjalan kaki menuju lahan warga ditemani pemilik lahan dan peternak sapi.
“Ck, sombong sekali pemuda itu, Mas. Aku yakin tidak lama lagi dia akan takluk di hadapanku.” Gendhis menatap punggung Iskandar seraya menarik ujung bibirnya.
“Terserah kau saja, Gendhis.” Ucap Pak Joko lalu meninggalkan adik iparnya di sana. Gendhis menatap teh dan kue yang masih utuh tanpa disentuh sedikitpun oleh Iskandar. Gendhis mengambil sebuah putik melati yang diselipkan dalam sangulnya lalu mengunyah melati itu seperti mengunyah permen karet.
Sementara di tempat yang berbeda, para mahasiswa yang terbagi dalam dua kelompok masing-masing berjumlah sepuluh orang. Mereka yang sudah berada di kandang sapi milik warga kemudian memeriksa kotoran sapi yang sudah menjadi tanah. Beberapa mahasiswa mengambil tanah tersebut lalu membawa ke lahan warga yang sedang menanam cabai dan sayur-sayuran lainnya. Mereka menaburkan pupuk kompos tersebut pada lahan warga. Mereka juga menggantungkan beberapa keterangan pada batang-batang yang mereka gunakan pupuk kompos. Sebagai bahan pertimbangan ketika hasil anen tiba nanti.
Hari menjelang siang, para mahasiswa telah kembali ke markas mereka yang bertempat di kantor kepala desa. Saat hendak membersihkan diri, mereka yang belum pernah ke kamar mandi dikejutkan dengan kondisi kamar mandi yang sangat jorok dan bau karena tidak ada perawatan.
“Pak kita harus kembali lagi ke kecamatan.” Ucap Dodik pada Iskandar.
“Kenapa?” Is mengernyit heran.
“Kamar mandinya, Pak. sangat kotor dan jorok.” Keluh mereka.
Iskandar menyampaikan niat mereka pada Pak Joko dan tanpa terduga jawaban Pak Joko cukup mengejutkan, “Di rumah saya saja, Pak. Jaraknya juga tidak jauh dari sini.”
Mereka saling melirik namun tidak ada cara lain. Kalau harus kembali ke kecamatan akan membuang-buang waktu apalagi mereka butuh waktu untuk istirahat setelah bertempur dengan kotoran sapi. Istri Pak Joko yang bernama Kahiyang menyambut mereka dengan ramah walaupun mereka datang tanpa membawa buah tangan. Satu persatu mereka mengantri ke kamar mandi. Semua peralatan mandi serta baju ganti sudah disiapkan dari semalam karena tahu agenda mereka yang sangat melelahkan esoknya.
__ADS_1
Pak Joko datang lalu, “Siang ini kita makan bersama dengan menu sederhana di rumah kami. Apa Bapak dan adik-adik semua keberatan?” tanya Pak Joko.
Mereka saling lirik dan tatapan mereka berakhir di suara san dosen. Iskandar merasa tidak enak untuk menolak hingga ia menggangguk pelan pada Pak Joko, “Kami tidak mau merepotkan keluarga Pak Joko.”
“Kami akan senang sekali jika Bapak dan Adik-adik bersedia.”
“Terima kasih, Pak.” ucap Iskandar.
Mereka saling menatap satu sama lain tidak terkecuali Aisyah yang sedikit khawatir pada keadaan sang dosen. Iskandar mengangguk pelan pada Aisyah walaupun wajahnya masih menyiratkan kekhawatiran.
Gendhis muncul dari dapur dengan kembem dan kain batik yang melilit di pinggangnya. Semua mata terpana dengan penampilan Gendhis yang cukup seksi sebagai gadis desa di tambah dengan rambut yang sanggul asal. Jangankan mahasiswa, mahasiswi yang melihatnya juga ikut terpana. Tapi tidak dengan Iskandar, dosen itu justru memikirkan mimpinya. Kenapa gadis dalam mimpinya mirip dengan Gendhis? Dan siapa pemilik tangan lembut yang menariknya dari gadis berkembem itu?
“Pak, Pak.” panggilan Dodik menyadarkan Iskandar dari lamunannya.
Gendhis muncul dengan membawa piring serta beberapa bakul nasi untuk dihidangkan pada tamu yang sudah duduk di atas tikar. Pak Joko melirik sekilas para mahasiswa yang sedang mencuri-curi pandang ke arah adik iparnya. Ia tersenyum kecil lalu kembali menatap satu persatu menu makanan sederhana yang telah dihidangkan oleh Gendhis dan istrinya.
“Silakan dimakan, Pak dan Adik-adik! Maaf hanya seadanya.” Ucap Pak Joko.
“Terima kasih, Pak. Ini juga sudah berlebih untuk kami.” Balas Iskandar.
Pak Joko hendak memasukkan nasi dalam mulutnya tapi suara Iskandar tiba-tiba menghentikannya, “Kita berdoa dulu. Semoga apa yang kita makan diberkahi dan yang memberi makan yaitu keluarga Pak Joko diberkati dengan rezeki yang berlimpah.” Ucap Iskandar sebelum memulai doa.
“Amin…” jawab mereka serentak.
Iskandar kembali membaca doa, hatinya yang risau juga ikut bermunajat memohon perlindungan lebih dari sang pencipta.
“Ya Allah, lindungi kami. Hidup dan mati, kami serahkan kepada engkau.”
Tidak hanya Iskandar, para mahasiswa juga ikut berdoa dalam hati. Sesungguhnya, mereka juga takut apalagi Aisyah. Tidak ada piring atau gelas yang pecah, mereka makan dalam keadaan tenang. Makanan sederhana dari pedesaan cukup mengganjal perut mereka yang lelah setelah bertempur dengan kotoran sapi. Badan segar, perut kenyang dan mata pun meminta istirahat.
Setelah berbincang beberapa saat, Iskandar dan yang lainnya berpamitan untuk kembali ke kantor kepala desa. Rasa ngantuk menyerang dengan dahsyat hingg Iskandar yang jarang tidur siang kini tidak bisa menahan matanya. Ia tertidur bersama para mahasiswa lain di dalam ruangan beralaskan tikar. Tidak ada penyekat atau pembatas karena ruangan itu digunakan untuk berkumpul dan berdiskusi.
Sebuah kecupan lembut terasa di bibir sang wanita. “Kamu menyukainya, Mas?” tanyanya menggoda. Pria itu mengangguk patuh.
Keduanya baru selesai bergulat bibir lalu berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Dada sang wanita naik turun dengan indah apalagi kembem yang dipakai sedikit menampakkan kaki bukit. Wanita berkembem itu tersenyum manis lalu si pria kembali mencium bibir wanita berkembem hingga jeritan seseorang membuat pria itu menoleh ke belakang.
“Pakkkk, ularrrrrr.”
***
__ADS_1
Hai gaeys...maaf baru up lagi. kmren libur sesaat... happy reading....🙃