CUT

CUT
Rabiah...


__ADS_3

Kedua pengantin baru keluar dari kamar menjelang azan zuhur. Mereka sepakat untuk menunaikan salat berjamaah di mesjid bersama para tetua. Beberapa anggota keluarga lainnya juga mengikuti mereka.


 


“Suami Kak Cut sangat tampan, aku jadi ingin punya suami kayak Bang Faisal.” ucap sepupu Cut dari kampung bernama Rabiah.


 


“Insya Allah, kamu juga akan mendapat jodoh terbaik. Teruslah berdoa supaya keinginanmu terkabul.” jawab Cut bijak.


 


“Sepertinya aku harus tinggal di kota biar dapat suami seperti Bang Faisal. Di kampung sudah tidak ada lagi pemuda yang tersisa hanya tentara dan pemberontak. Keduanya tidak bisa membahagiakan kita.”  lanjut Rabiah sementara Cut tidak lagi membalas perkataan sepupunya karena ia sendiri sangat memahami bagaimana perasaan Rabiah saat ini.


 


Begitu sampai di rumah, mereka menyantap makan siang bersama dengan kehadiran para anggota keluarga yang lengkap. Pasangan pengantin baru juga memilih bergabung bersama keluarga besar kali ini.


 


“Mak Cek, setelah ini Fais izin pulang ke rumah sebentar ya!” ucap Fais setelah menyelesaikan makan siangnya.


 


“Iya. Tapi, nanti malam kamu pulang kan?” tanya Mak Cek Siti kembali.


 


“Iya.”


 


“Kamu jangan bawa Cut dulu, ya! Kita belum antar dara baroe.” pinta salah satu kerabat Cut dari kampung.


 


“Iya, Mak Wa.” sahut Fais pelan.


 


Faisal memang tidak berniat mengajak Cut ke rumahnya. Ia juga mengerti adat istiadat walaupun tidak terlalu peduli. Sementara itu, Rabiah sang sepupu Cut justru diam-diam mencuri pandang pada sang suami dari sepupunya itu. Para keluarga memang tidak ada yang menyadari tapi tidak bagi Faisal. Ia seorang laki-laki normal dan terbiasa menemui gadis seperti Rabiah di luar sana. Sehingga, dengan ekor matanya saja ia mampu menangkap tatapan mendamba Rabiah padanya.


 


Di dalam kamar, Faisal membereskan baju kotornya yang hendak ia bawa pulang ke rumahnya. Namun, tangan sang istri lebih dulu menahannya.


 


“Biar saya saja yang cuci di sini.” ucap Cut lembut.


 


“Istirahat saja! Jangan banyak bekerja, kamu sudah capek di kamar jangan tambah lagi di sumur.” goda Faisal yang berhasil membuat Cut menunduk malu.


 

__ADS_1


“Biar saya saja, Cuma baju tidak akan membuat saya capek. Tidak enak dilihat orang tua Abang kalau baju di sini Abang cuci di sana.” pinta Cut kembali.


 


“Tenang saja! Di sana ada yang cuci. Sudah ya, aku pamit dulu. Ops... sepertinya payah ubah, Abang pamit dulu. Sampai jumpa nanti malam.” Faisal meraup bibir sang istri dengan lembut dengan sedikit rakus.


 


“Nanti malam lanjut lagi, kalau diteruskan sekarang bisa-bisa keterusan.” ucap Faisal lalu mencium kening sang istri sekilas.


 


Setelah berpamitan pada seluruh anggota keluarga, Faisal keluar dari rumah diikuti oleh sang istri.


 


“Abang pergi dulu, ya.” Cut menyalami tangan sang suami dan alangkah terkejutnya Cut ketika Faisal tiba-tiba menariknya hingga mereka berpelukan di depan rumah. Cut begitu malu sedangkan Faisal tersenyum santai seolah sengaja memperlihatkan kepada semua mata yang melihat termasuk Rabiah.


 


Selepas kepergian sang suami, Cut bergabung bersama dengan para kerabat yang tengah sibuk menyiapkan berbagai keperluan serta balasan hantaran yang akan mereka bawa saat acara mengantar dara baroe beberapa hari lagi.


 


“Nyak Mah, bagaimana kalau Cut Putro tinggal bersama kalian di sini? Siapa tahu dengan tinggal di sini, dia bisa segera menemukan jodohnya seperti anakmu.” tanya Cut Dawiyah, kakak dari Umi Cut Fatimah ibunya Cut.


 


Mendapat pertanyaan berisi permintaan seperti itu tentu saja membuat Umi Fatimah bingung. Selain karena kondisi mereka yang masih tinggal di toko, Umi juga harus bertanya terlebih dahulu pada Abu tentang segala sesuatu.


 


 


“Tidak apa, Mak Cek. Saya bisa tidur di mana saja. Mak Cek tidak perlu khawatir.” sahut Rabiah penuh semangat.


 


“Iya, Putro. Di atas ruko sangat sempit. Kamar aku saja sangat kecil dan sekarang sudah dipakai Mae. Tidak mungkin kan kamu tidur di luar?” jawab Cut pelan.


 


Cut Putro Rabiah mengerucutkan bibirnya seraya berkata, “Kak Cut enak sudah nikah. Aku sampai kapan tunggu perang berakhir biar bisa nikah. Itu pun kalau para pemuda tidak kena tembak semua. Teman-temanku yang lain juga masih menunggu jodoh di kampung kita. Kalau aku terus di sana yang ada nasibku akan sama seperti mereka. Menjadi perawan tua atau menikah tapi janda gara-gara kawin sama pemberontak.” Rabiah mulai menerawang nasibnya di depan para kerabat.


 


“Kenapa tidak tanyakan sama istri si Amir? Siapa tahu dia punya calon untuk Rabiah.” usul Cut Da Syaribanun, kakak tertua Umi Fatimah.


 


Mak Cek Siti yang tengah sibuk mencatat berbagai keperluan yang dirasa masih kurang tiba-tiba terkejut namanya ikut terseret dalam perkara mencari jodoh.


 


“Bagaimana Siti, apa ada calon lain untuk Rabiah?”

__ADS_1


 


Dengan senyuman getir Mak Cek Siti hanya bisa menggelengkan kepala. Ia belum terpikirkan untuk menjadi agen biro jodoh kembali setelah berhasil menikahkan kedua keponakannya.


 


“Kalau tidak salah, Faisal punya abang yang masih lajang. Bagaimana kalau Siti saja yang menjodohkan mereka?” ujar ibu Rabiah.


 


Semangat Rabiah yang tadinya mulai sirna kini kembali cerah berbalut senyum mengembang di wajahnya. “Si Adi sama kakaknya satu lagi itu jangan ditanya. Sudah jadi rahasia umum keluarga bahkan orang-orang kantornya jika mereka tidak berniat untuk menikah.” jelas Mak Cek Siti.


 


Jika para sanak keluarga sedang bergelut dengan persiapan acara antar dara baro di rumah Mak Cek Siti. Hal serupa juga terjadi di kediaman Faisal yang sudah dipenuhi oleh berbagai barang serta perlengkapan menyambut calon menantu mereka.


 


Faisal yang baru tiba di rumahnya langsung masuk ke dalam setelah menyapa beberapa kerabat yang sudah mulai berdatangan untuk membantu orang tuanya. “Kamu sudah makan?” tanya sang ibu?


 


“Sudah, Ma.”


 


Beruntung karena kedua saudaranya yang sudah tidak muda lagi tidak berada di rumah. Jika ada mereka mungkin langkah kaki Faisal masih tertahan oleh keduanya. Faisal langsung merebahkan badannya di atas ranjang begitu ia memasuki kamar.


 


Ketika Faisal memilih tidur di rumahnya, di seberang pulau seorang laki-laki tengah beradu dengan panasnya matahari yang menyinari pulau. Ia tengah memanjat pohon kelapa yang ke sekian batang di kebun milik sang mertua.


 


“Abang pasti lelah sekali ya?” tanya sang istri dengan nada manja dan lembut.


 


Seraya tersenyum manis, sang suami pun menjawab “Iya, makanya kamu pijit nanti ya?”


 


“Sekarang juga boleh.”


 


“Jangan, badan Abang berkeringat.”


 


“Tidak masalah, aku suka.” kata-kata menggoda terus mereka ucapkan di kebun kelapa milik Keuchik Banta tanpa menyadari jika ada sepasang mata yang terus mengawasi keduanya dari balik pepohonan.


***


LIKE....KOMEN....SHARE

__ADS_1


__ADS_2