
Suasana tempat kursus kembali stabil setelah pengakuan Razi yang berstatus tunangan Cut. Begitu juga dengan Winda yang merasa bersalah karena menuduh Cut sebagai perebut pacarnya. Feri sendiri masih mengajari Cut, namun kini dia lebih profesional.
Razi mengantar Cut hanya satu kali seminggu karena jadwal kuliahnya yang padat. Sudah sebulan mereka melakoni adegan kekasih pura-pura dan tidak ada kendala apa-apa. Pernah satu sore, mereka kepergok oleh Feri dan Winda yang sedang menikmati waktu di taman kota. Kebetulan Razi dan Cut juga tengah jalan bersama melewati mereka.
Hal tersebut semakin menambah keyakinan Winda dan Feri jika mereka memang bertunangan. Ditambah adegan Razi yang tiba-tiba memegang tangan Cut. Beberapa langkah di belakang mereka ada Intan dan Faris yang ikut terkejut. Namun keterkejutan keduanya sirna saat Intan dipanggil oleh Feri.
“Kami kaget sekali waktu lihat Abang tarik tangan Kak Cut. Sebenarnya kalau sepupu kayak kita boleh nikah tidak?” tanya Intan saat mereka sedang istirahat setelah olahraga sore.
“Tidak tahu juga, Abang. Karena kalau secara hukum Islam. Abang adalah wali Kak Cut kalau misalnya Pak Wa sudah meninggal. Kalaupun boleh tapi rasanya aneh jika menikahi sepupu sendiri.” jawab Razi.
“Iya juga sih.” jawab Intan kembali.
Suasana yang tadinya santai tiba-tiba berubah dengan kehadiran truk-truk yang dipenuhi oleh tentara bersenjata lengkap. “Tinggalkan taman kota secepatnya!” seru salah seorang dari mereka dengan menggunakan pengeras suara.
Sore itu, taman kota yang biasanya dipakai untuk olahraga atau bersantai di waktu sore berubah mencekam setelah dipenuhi oleh ratusan tentara bersenjata lengkap. Dalam sekejap mata keadaan berubah dan membuat panik warga. Para pengunjung meninggalkan taman kota dengan raut wajah ketakutan.
Hal tersebut juga dialami oleh Cut. Kejadian tersebut kembali mengingatkannya pada kenangan buruk dulu. Seluruh toko yang masih buka langsung disuruh tutup. Para tentara berhamburan ke berbagai sudut kota. Wajah sangar dengan senjata lengkap semakin menambah ketakutan di sore itu.
Setelah mengantar Cut, ketiga sepupunya langsung kembali ke rumah mereka. “Kalian hati-hati di jalan ya!” Abu mengingatkan ketiganya sebelum meninggalkan toko.
“Ada kejadian apa, Abu? Kenapa banyak sekali tentara yang berjaga?” tanya Cut.
“Kamu tidak dengar? Ada pergerakan warga dari berbagai kabupaten menuju kemari untuk menuntut referendum. Di depan taman kota ada rumah dinas pangdam, RRI, rumah dinas kapolda, kantor Walikota dan gedung pemerintahan lainnya. Mulai malam ini banyak orang dari kampung yang berangkat kemari. Kamu jangan pergi ke tempat kursus dulu, tadi Pak Cek juga sudah mengatakan sama Abu untuk melarang kamu keluar rumah. Sepupu kamu juga dilarang keluar. Kita tidak tahu bagaimana kondisinya.”
“Jadi Abu akan menutup toko?” tanya Umi.
“Kita lihat kondisi dulu, Mi. Amir juga mengatakan seperti itu. Kamu juga, Mae. Jangan ikut-ikut berdemo. Kalau kamu tidak dengar, Abu kembalikan kamu ke kampung.”
“Iya, Abu. Besok Mae di toko saja main sama Dek Rendra.”
__ADS_1
Sejenak Abu menatap Rendra yang tengah bermain mobil mainan dengan raut wajah sendu. Raut wajah sendu sekaligus rindu pada sang putra yang telah lama pergi.
“Malam ini setelah magrib kita tahlil bersama untuk Ilham, istri dan abangnya Rendra, ya!”
“Iya, Abu.” jawab Umi dengan raut wajah sedih.
Suara senjata sesekali terdengar namun tidak ada yang tahu dari mana asal suara atau kejadian apa yang sedang terjadi di luar sana. Satu-satunya sumber informasi bagi mereka yang tidak memiliki televisi di rumah adalah koran. Harian Serambi Indonesia selalu menjadi sumber informasi bagi masyarakat yang ingin mengetahui tentang kondisi Aceh saat ini.
Kedua belah pihak selalu memberikan informasi kepada redaksi jika ada kontak senjata atau yang berhubungan dengan perundingan untuk memperoleh kata damai. Gejolak referendum mencuat tatkala keinginan Aceh untuk merdeka tidak kunjung sampai sehingga tercetuslah referendum.
Mesjid raya Baiturrahman menjadi saksi bisu sekaligus tempat di mana aksi yang dihadiri oleh beribu orang dari berbagai daerah tumpah ruah dalam menyuarakan referendum. Doa, zikir serta orasi ikut mewarnai aksi tersebut.
Kotq Banda sepi, setiap mata terpusat ke Mesjid Raya. Tidak hanya di dalam negeri, di luar negeri juga ikut menyoroti aksi tersebut.
Jauh di pulau Jawa sana, beberapa orang pemuda juga tengah menonton berita di layar televisi. Para pemuda yang masih berbaju loreng tersebut ikut memperhatikan dengan saksama sambil sesekali berkomentar.
“Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda yang masih suka ikut aksi-aksi begitu untuk keseruan semata.” Sahut yang lainnya.
“Aku yakin dari mereka itu ada anggota pemberontak. Ini adalah kesempatan bagus untuk mereka bersembunyi.” sela yang lainnya.
Dari beberapa pemuda hanya satu yang masih tetap diam dengan pikiran berkecamuk. dia adalah Rendra. Laki-laki itu masih saja memikirkan Cut padahal hari-harinya sebelum kembali ke markas selalu ditemani oleh Risma.
Baru seminggu Rendra kembali ke markas untuk latihan setelah masa liburnya selesai. Hari-hari bersama Risma masih segar di ingatan namun sepertinya sosok Risma belum mampu menembus dinding yang ia bangun untuk Cut.
Mereka menikmati waktu sebagai teman. Risma sendiri tidak mencoba untuk menghancurkan dinding hati Rendra. dia cukup mengerti dengan keadaan Rendra sehingga hari-hari yang mereka jalani selama seminggu sangat bebas tanpa rasa canggung ataupun paksaan. Semua berjalan sangat alami tanpa niat lain.
“Mas, kamu tidak harus mengikuti permintaan Tante Yetti. Aku bisa menikmati liburanku sendiri. Jangan memaksakan diri, itu tidak baik untuk kesehatan hati. Hati kamu harus sehat sampai suatu hari kamu bertemu dengan Cut.” ucap Risma saat mereka sedang menikmati pemandangan indah di kebun bunga.
Sesekali Risma mengambil gambar jika menemukan sudut yang menarik. “Saya tidak merasa terpaksa. Kamu tenang saja. Saya hanya ingin keluar dan kebetulan kamu juga ingin jalan-jalan. Teman-teman saya sudah menikah jadi tidak mungkin saya mengajak mereka kan?” jawab Rendra dengan sedikit senyum di bibirnya.
__ADS_1
“Tindakan kamu ini justru memberi harapan pada Om dan Tante untuk menjodohkan kita. Apa kamu tidak khawatir?” tanya Risma sambil mengarahkan bidikan kamera ke arah Rendra.
Cekrek...
“Maaf ya, Mas. Aku ambil foto tiba-tiba. Mas berdiri di posisi yang bagus untuk di foto. Sayang kalau tidak di potret.”
“Wajah saya tidak gratis, lho.”
“Saya harus bayar berapa kira-kira?”
“Secangkir kopi di sore hari kayaknya cukup.”
“Oke. Apa kita pergi sekarang? Saya tidak biasa berhutang terlalu lama.”
“Oke.”
Puk....
Sebuah pukulan mengejutkan Rendra yang tengah melamun. “Jangan bilang kamu lagi melamun gadis Aceh itu.” ucap Wahyu.
“Kalau iya, kenapa?”
“Kamu itu lucu. Seminggu yang lalu kamu bersama gadis lain. Saat lihat berita tentang Aceh kamu jadi ingat gadis itu lagi. Jadi kenangan selama seminggu bersama gadis itu belum mampu menghapus kenangan bersama gadis Aceh?”
***
__ADS_1
LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...