
Rendra terkejut melihat pemandangan di depannya saat ini. Anugrah sedang bercumbu liar dengan seorang gadis.
“Waktu kamu hanya 1 jam!” ucap Rendra pada Anugrah saat mengantar anaknya ke pesta.
Ini pertama kalinya Anugrah diberi izin untuk keluar bersama teman-temannya. Karena alasan Anugrah hanya untuk menghargai undangan kakak kelasnya di tim basket, akhirnya Rendra memberikan izin tentunya dengan batas waktu. Dan benar saja seperti dugaannya, belum sampai satu jam, Anugrah sudah terkena jebakan lagi.
Rendra sangat meyakini jika ini adalah jebakan yang sama karena putranya tidak akan melakukan perbuatan seperti ini. Keributan pun tidak terelakkan, saat Rendra dengan lantangnya berteriak sampai membanting meja hingga para penghuni café terkejut.
“Kalian bisa saya tuntut karena menjebak anak saya!” ancam Rendra lalu keluar dari café sembari memapah Anugrah. Di belakangnya sudah ada Doni yang ikut meninggalkan café. Lagi-lagi, Rendra harus membawa Anugrah ke kolam es untuk menetralisir tubuhnya yang panas akibat obat perangsang.
“Maaf, Om. Kalau saya berhati-hati, A pasti tidak akan seperti ini.” Ucap Doni.
Rendra hanya bisa menghela nafasnya, “Sudahlah! Anak-anak itu memang pandai membuat jebakan. Kalian saja yang terlalu polos.”
Menjelang tengah malam, mereka baru tiba di rumah setelah mengantar Doni. Seperti biasa, Cut kembali dibuat terkejut setelah mendengar cerita dari sang suami.
“Apa kita akan membiarkan ini lagi, Pa?”
“Entahlah, Ma. Papa juga bingung. Kalau kita lapor polisi. Mereka semua akan kena dan tentu saja akan membuat masalah baru. Kasihan mereka yang tidak tahu apa-apa. Setelah ini, kakak kelasnya pasti tidak akan mengganggu lagi.”
Sementara di salah satu hotel, Mauren yang gagal mendapatkan keinginannya memilih tidur bersama Arash yang selalu bersedia kapan saja. Mereka yang suka kebebasan akan bertemu dengan orang yang tepat. Seperti Mauren dan Arash yang hidup dalam dunia penuh kebebasan. Menikmati hidup bersama tanpa ikatan menjadi hal yang biasa untuk keduanya bahkan untuk kedua keluarga mereka.
*
2 tahun kemudian…
“Hai, mau jadi pacarku?”
Uhukkkk…
Tiara terbatuk saat berada di kantin sekolah bersama teman-temannya.
“Kamu kesambet jin mana?” tanya Tiara pada Anugrah yang tengah berdiri di sampingnya.
“Aku kesambet kamu. Gimana, mau jadi pacarku?”
Sorak-sorak riuh dari setiap siswa semakin menyemarakkan prosesi ungkapan cinta tersebut. Bukan tanpa alasan, Anugrah mengajak Tiara pacaran. Selama dua tahun terakhir mereka berteman dan Anugrah merasa nyaman bersama Tiara. Banyak hal sudah mereka lalui selama berteman termasuk saat Tiara datang membantu Anugrah mengejar ketertinggalan karena latihan basket. Tiara selalu datang bersama Doni untuk memberikan semangat disela-sela istirahat, mereka akan menjelaskan ulang setiap pelajaran yang dilewatkan oleh Anugrah dengan sabar.
Tiara tentu saja terkejut karena dia tidak pernah memikirkan ini akan terjadi. Apalagi saat mereka berteman, Anugrah selalu berkata jika dia tidak mau pacaran karena takut dengan kakaknya. Nyatanya, saat ini Anugrah tengah mengajaknya pacaran.
“Kamu sehat?” Tiara sudah berdiri berhadapan dengan Anugrah.
Para penghuni kantin mulai menebak-nebak apa kiranya jawaban dari Tiara yang dikenal sebagai kakak kelas pintar dan tidak sombong itu.
Keduanya saling berhadapan menyelami sorot mata masing-masing. “Apa aku tampak sakit?” tanya Anugrah.
“Kamu jangan membuat lelucon seperti ini, A. Kalian jangan terkecoh, dia sedang memainkan drama denganku. Sudah, bubar sana!” Tiara meminta para siswa penghuni kantin untuk bubar begitu juga dengan Anugrah yang masih berdiri di depannya.
“Bentar lagi jam istirahat habis. Kamu jangan ganggu aku, A. Aku lapar!” rengek Tiara.
Seperti itulah hubungan keduanya berjalan. Tiara dan Doni sudah sangat dekat dengan Anugrah selama dua tahun terakhir. Saking dekatnya dengan Anugrah, Tiara bahkan berani merengek saat meminta sesuatu. Tingkah Tiara sudah seperti adik perempuan manja pada Anugrah dan anehnya Anugrah sama sekali tidak mengeluh dengan semua itu.
“Kamu belum menjawabku, Ra.”
“Ya, ya, aku mau. Bukannya selama ini memang kita selalu digosipkan pacaran. Anggap aja kita sedang membenarkan anggapan mereka. Sudah sana! aku mau habiskan makanan dulu.” Usir Tiara.
Tiara tidak tahu jika apa yang sudah ia jawab menjadi awal mula perubahan Anugrah yang semakin dekat dengannya. Dan awal mula sikap posesif Anugrah yang membuatnya semakin malu karena dilihat oleh teman-teman kelas di hari-hari selanjutnya. Sebulan kemudian, Tiara baru menyadari jika Anugrah benar-benar menganggapnya sebagai pacar saat keduanya tengah menghabiskan waktu di perpustakaan tanpa Doni.
__ADS_1
“Kamu jadi daftar di AD?” tanya Tiara saat sedang memilih buku bersama Anugrah.
“Menurut kamu bagusnya apa, AD, AL atau AU?” tanya Anugrah kembali.
“Semuanya bagus dan berisiko. Kita akan sulit bertemu lagi setelah lulus. Kamu akan pendidikan dan aku akan melanjutkan kuliahku.” Ucap Tiara sambil terus menatap jejeran buku yang dipajang di rak pustaka.
“Belum apa-apa kamu sudah merindukanku.” Sebuah pukulan mendarat indah di lengan Anugrah.
“Bukannya rindu tapi kenyataannya memang begitu.”Sewot Tiara.
“Tunggu aku ya! Setelah selesai pendidikan terus lanjut tugas. Tiga atau empat tahun kemudian kita menikah ya?”
Uhuk…
Tiara menatap Anugrah tidak percaya. “Kenapa? Aku serius ingin nikah sama kamu.” Anugrah meyakinkan Tiara kembali.
“Untung jantungku kuat. Mana ada lamaran begini? Gak modal banget.” Gurau Tiara.
“Nanti setelah aku punya gaji sendiri. Aku akan lamar kamu di tempat yang romantis. Kalau sekarang nyicil dulu begini ya.”
Tiara tergelak, pria yang dulu ia kenal pendiam dan datar kini telah berubah 180 derajat. Pria ini telah menjelma menjadi pria dewasa yang layak diperhitungkan olehnya sebagai seorang gadis normal.
“Tapi kayaknya aku harus nunggu Kakakku nikah dulu deh,” lanjut Anugrah dengat guratan sendunya yang justru membuat senyum di bibir Tiara semakin lebar.
“Semoga Kakakmu kuliahnya sampai S3!” Anugrah melotot mendengar ucapan sang kekasih.
Merasa kesal oleh tingkah gadis yang sudah menggoyahkan hatinya itu, Anugrah langsung menarik tangan Tiara untuk mengikutinya.
Cup…
Sebuah kecupan Anugrah berikan di pipi Tiara saat mereka berada di balik Rak buku paling ujung. Tidak ada yang melihat adegan kecupan sekilas itu namun meninggalkan bekas teramat dalam di hati Tiara. Mereka saling bersistatap untuk beberapa saat hingga Tiara sendiri memilih memutus kontak mata keduanya.
“Hei, kamu kenapa?” tanya Anugrah yang melihat Tiara berjalan keluar dari perpustakaan dalam diam serta menunduk bahkan beberapa kali ia hampir menabrak dinding jika Anugrah tidak menariknya.
“Ayo, Anugrah langsung menarik tangan Tiara menuju lapangan pertandingan basket.
“Kamu kenapa?” tanya Anugrah bingung dengan perubahan sikap Tiara.
“Kamu yang kenapa? Kenapa tiba-tiba bilang macam-macam sama aku?” protes Tiara.
“Aku gak bilang macam-macam. Hanya satu macam, Ra. Aku mau jadi pacar kamu! Kenapa, kamu tidak mau jadi pacarku?” selidik Anugrah manatap Tiara. Tentu saja Tiara mau, tapi dia malu. Selama ini dia tidak pernah menunjukkan sedikitpun perasaannya pada Anugrah.
“Kamu serius?” cicit Tiara masih menunduk.
“Jadi, kamu pikir aku becanda? Ya ampun, Tiaraaaa….”
“Jadi gimana, mau kan jadi pacar aku? Atau aku cari adik kelas lain saja?” goda Anugrah melirik sang kekasih yang tanpa sadar sedang mengerucutkan bibirnya. Anugrah tersenyum, gadis di sampingnya memang unik dan menggemaskan.
“Sejak kapan kamu suka sama aku?” tanya Tiara pelan.
“Sejak kapan ya? Aku gak ingat pastinya kapan. Tapi aku baru terpikir untuk pacaran sama kamu baru-baru ini sih.”
“Kenapa?” Tiara masih penasaran dengan perubahan sikap Anugrah yang dirasa tiba-tiba itu.
“Kita sudah berteman lama, aku nyaman sama kamu dan kamu juga sudah tahu baik buruknya aku. Jadi, aku rasa itu sudah lebih dari cukup untuk menjadikanmu pendampingku. Gimana, mau jadi pacarku atau aku-“
“Iya, mau.” Jawab Tiara cepat dan membuat Anugrah tersenyum senang.
__ADS_1
“Makasih ya, Pacar!” ucap Anugrah seraya menundukkan wajahnya di depan wajah Tiara.
“Apa sih, jangan dekat-dekat!” gerutu Tiara lalu pergi meninggalkan Anugrah. Anugrah mengambil ponsel lalu mengetik mengetik sesuatu.
Ting…
“Makasih Pacar. Kamu kok tinggalin aku? Nanti kalau ada adek kelas dekatin aku gimana?”
Tiara berhenti lalu menoleh ke belakang, ia memberikan tatapan maut untuk sang kekasih yang sedang tersenyum ke arahnya.
Tiara tidak mengubris, dia langsung masuk ke kelas lalu bergabung dengan teman-temannya. Beberapa bulan kemudian, mereka akan menghadapi ujian kelulusan. Anak-anak kelas tiga seperti mereka sedang giat-giatnya belajar untuk mempersiapkan semua materi mulai dari kelas satu hingga kelas tiga. Ditambah lagi dengan ujian praktik yang akan dilakukan terlebih dahulu.
“Kenapa sekarang dia ngungkapinnya?” gumam Tiara di depan buku-bukunya.
Otaknya seakan tidak jalan saat begini. Kilasan ciuman yang Anugrah berikan di pipinya semakin membuat otaknya berhenti. Tanpa sadar, Tiara menyentuh lembut pipinya saat kilasan adegan di perpustakaan tergambar jelas diingatan.
“Kamu kenapa, Ra?” tanya Doni.
“E-enggak, Don.”
“Anugrah lihatin kamu dari tadi tuh! Kalian sudah resmi jadian?” tanya Doni kembali seraya menunjukk Anugrah yang sedang berdiri di pintu sambil menatapnya.
“Dia cantik ya?”
“Iya.”
“Imut?”
“Banget.”
“Sudah punya pacar?”
“Sudah.”
“Siapa?”
“Gue!!!”
Bugh…
“Ujian di depan mata bukan Tiara!”
Teman-teman Anugrah tertawa sampaii terpingkal-pingkal melihat anugrah yang berdiri dengan gaya sok kerennya tapi tiba-tiba harus mendapat pukulan dari guru kelas mereka. Wajah Tiara memerah, ia begitu malu saat gurunya ikut mengetahui tentang hubungan mereka.
“Ujian sebentar lagi, jangan mikirin pacaran dulu. Pria idaman itu nilai rata-ratanya 9.” Lanjut guru tersebut yang membuat para siswa dan siswi melirik Anugrah dan Tiara bergantian.
“Dengar, Ra. Pria idaman itu nilai rata-ratanya 9.” Seloroh salah satu teman mereka.
Dreettt…
“Nilai rata-rataku pasti 9! Kamu tenang saja.”
***
PAGIIII....HONEY BUNNY SWEETYYY
__ADS_1
kita balik ke jaman SMA dulu bentar ya...masa cinta2 monyet dan masih berlakunya UAN...