
Insiden kotak misterius masih menjadi perbincangan hangat di kalangan para warga. Setelah tiga hari berlalu namun si pengirim kotak tersebut masih menjadi tanda tanya bagi mereka yang penasaran kecuali pihak keluarga. Dua malam menjelang akad nikah, rumah Mak Cek Siti sudah terlihat ramai oleh sanak keluarga yang mulai berdatangan baik dari keluarga Abu maupun dari keluarga Umi.
“Ma, sepertinya rumah kita sedang diawasi intel.” bisik Pak Cek Amir saat mereka di dalam kamar.
Mak Cek Siti menatap suaminya dengan perasaan resah. Pak Cek Amir mengangguk kecil penuh keyakinan.
“Bagaimana ini, Bang? Jangan sampai ada yang menghalangi pernikahan Cut.” balas Mak Cek Siti.
“Amin. Kita doakan saja semoga pernikahan Cut berjalan lancar.”
“Pasti karena kiriman itu.” terka Mak Cek Siti.
“Ayah rasa juga begitu.”
Malam ini acara boh kacaa atau dalam bahasa Indonesia disebut malam Henna di mana jari hingga telapak tangan begitu juga dengan jari kaki sampai telapaknya akan dibubuhkan daun pacar dengan berbagai bentuk ukiran. Daun pacar yang sudah digiling halus akan membuat si pemakainya terlihat cantik karena warna merah yang ditinggalkan oleh daun inai.
“Kak Cut, Pida juga ingin punya suami dokter kayak Bang Fais. Kak Cut bilang ya sama Bang Fais kalau Pida juga siap menikah. Siapa tahu ada kawannya yang lagi cari istri.”
Cut menggeleng kepala seraya tersenyum kecil. Pida si gadis cerewet penjual gorengan di pasar ikut hadir pada malam ini. Tentu saja dengan berbagai topik pembicaraan yang tidak pernah habis.
“Kak Pida jangan begitu nanti Bang Mae cemburu.” sela Intan membuat Pida mengerucutkan bibirnya sesaat lalu mulailah ia berceramah panjang lebar tentu saja membuka aib Mae.
“Kak, benci dan cinta itu jaraknya sangat tipis. Hati-hati saja. Jangan sampai Kak Pida menelan ludah sendiri.” Intan mengingatkan namun yang namanya Pida si gadis cerewat tetap saja tidak terima jika ia dijodoh-jodohkan dengan Mae.
__ADS_1
Malam inai berakhir dengan lancar. Di sinilah semua keluarga besar berkumpul. Sebuah mesjid kebanggaan warga. Mesjid yang menjadi sejarah dari masa penjajahan Belanda tempo dulu. Akad nikah akan diadakan pagi ini sekitar jam 9. Semua keluarga besar dari kedua mempelai sudah berkumpul untuk menyaksikan acara sakral tersebut.
“Kamu sudah siap bertempur nanti malam?” Faisal tidak menanggapi pertanyaan yang dianggap konyol dari abangnya itu.
“Kalau perawan pasti lebih sulit ditaklukkan.” tukasnya kembali namun Faisal tetap tidak menanggapi.
Cut memasuki mesjid didampingi Mak Cek Siti dan juga Intan. Kebaya putih dengan bawahan kain songket menambah kecantikan Cut sebagai mempelai wanita dengan aura yang terus memancar.
Selanjutnya kedua mempelai didudukkan di tempat masing-masing lalu acara pun dimulai. Diawali dengan pembacaan Al-Quran kemudian khotbah nikah yang disampaikan oleh salah satu ulama.
Acara yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Abu menjadi wali dipersilakan duduk berhadapan dengan Faisal.
“Saya terima nikahnya Cut Zulaikah binti Teuku Salahuddin Nur dengan mas kawin emas seberat 20 mayam dibayar tunai.”
“Bagaimana saksi?”
“Sah...”
“Alhamdulillah.”
Mak Cek Siti memapah Cut menemui Faisal yang sudah resmi menjadi suaminya. Untuk pertama kalinya, ia mencium penuh takzim tangan seorang laki-laki selain Abu. Setelah acara akad, mereka mengambil foto bersama anggota keluarga yang hadir kemudian masing-masing mempelai meninggalkan mesjid untuk melanjutkan rangkaian acara tueng linto baroe yang akan dihelat di rumah Mak Cek Siti.
__ADS_1
Tueng lintoe baroe merupakan acara puncak ke dua setelah akad nikah di mana, mempelai pria akan diantar ke rumah mempelai wanita. Mempelai pria akan membawa barang berupa perlengkapan pribadi mempelai wanita seperti pakaian, alat salat, segala jenis riasan hingga beras, satu tandan pisang, satu ikat batang tebu yang masih ada daunnya. Dari semua barang yang dibawa, sirih junjung yang dirangkai sedemikian rupa menjadi pengantar paling utama.
Kedua mempelai sudah berganti pakaian. Jika saat nikah Cut menggunakan kebaya dengan bawahan kain songket. Acara tueng lintoe baroe, Cut menggunakan pakaian adat Aceh selaras dengan Faisal yang memakai pakaian khas Tungku Umar jaman dulu.
Faisal tiba di kediaman Mak Cek Siti bersama seluruh keluarga dan kerabat serta para tetangga di sekitar rumahnya. Tidak lupa kakak dan abangnya si pembuat onar ikut mengantar sang adik ke pelaminan. Keduanya bertugas sebagai pendamping Faisal. Bang Adi memegang payung khusus pengantin berwarna kuning yang sudah dihias dengan berbagai pernak pernik.
“Kak, si Fais kayaknya udah siap lahir batin ya?” celutuk Bang Adi pada Kak Juli iseng.
“Jelas. Dia kan sudah biasa. Ya kan Dek Fais?” sindir Kak Juli yang enggan ditanggapi oleh Faisal.
Mereka disambut oleh perwakilan kampung Mak Cek Siti yang dituakan. Kedua orang tua tersebut saling bertukar batee ranup. Batee ranup sendiri merupakan sebuah wadah kecil yang terbuat dari tembaga. Pada zaman dulu, batee tersebut benar-benar terbuat dari batee atau dalam bahasa Indonesia disebut batu. Batu yang dipahat berbentuk mangkuk kecil kemudian di dalamnya diisi dengan sirih yang sudah diisi dengan pinang manis, kapur, seruas pinang yang sudah dibelah lalu dibungkus menggunakan sebutir bunga cengkeh sebagai pengaitnya.
Cut dibawa keluar untuk menjemput sang suami. Ia didampingi oleh istri kepala dusun dilingkungan Mak Cek Siti serta Intan yang bertugas memayungi Cut. Sesampai di depan, kedua pendamping yang bertugas memegang payung diminta untuk saling bertukar payung sebagai tanda kedua keluarga sudah saling menerima.
Cut mengikuti arahan dari para tetua untuk mencium tangan sang suami setelah itu keduanya berjalan berdampingan menuju halaman depan yang sudah disambut oleh para penari ranup lampuan sebagai sambutan untuk tamu yang mulia. Setelah selesai acara sambutan dari penari, selanjutnya seorang kepala desa dari lingkungan Faisal memberikan salam serta beberapa patah kata.
“Asslamualaikum warahmatullah wabarakatuh,” ucap sang kepala desa atau yang sering disebut Pak Keuchik.
“Alhamdullillah, segala syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang mana telah memberikan kita semua kesehatan dan kemudahan hingga kami sebagai pihak lintoe baroe merasa bersyukur telah sampai ke kediaman bapak ibu pada hari yang berbahagia ini. Selawat beserta salam tidak lupa kita panjatkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW. Pada hari ini, kita telah melaksanakan salah satu Sunah Nabi yaitu pernikahan dan walimah. Pada kesempatan ini, saya mewakili keluarga lintoe baroe mengucapkan terima kasih karena sambutan yang sangat meriah ini. Kami mengantar anak kami kepada bapak ibu yang berada di kampung ini dengan harapan supaya bapak ibu dapat membantunya jika ia kesusahan dalam menjalankan rumah tangga. Anak kami masih muda masih banyak yang harus ia pelajari. Sudi kiranya bapak ibu mengarahkan, mengingatkan karena mereka akan tetap menjadi anak-anak dimata kita para orang tua. Semoga anak kami bisa menjadi imam yang baik untuk putri ibu dan bapak. Sekali lagi saya ucapkan ribuan terima kasih kepada bapak ibu sekalian. Wabilla hitaufik walhidyah, assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.”
“Walaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,” ucap para tamu yang hadir serentak.
***
LIKE...KOMEN...YANG BANYAK...BIAR AKU SEMANGAT...
__ADS_1