
“Kamu di mana, Bang?” tanya Cut dengan gelisah.
Bagaimana tidak gelisah jika saat berbicara dengn sang suami di telepon. Ia justru mendengar suara wanita asing.
“Abang lagi di rumah Mama. Rencana mau jemput Anugrah tapi ternyata di sini lagi ada temannya Papa ya sudah Abang ngobrol-ngobrol dulu. Ada apa, Sayang? Apa kamu mau aku jemput?”
“Tidak usah. Ya sudah, aku tutup dulu ya?”
Tuttt….
Rendra mengernyit heran. Tidak biasanya sang istri berbicara dengan begitu ketus secara tiba-tiba. Sementara di rumah, Cut kembali berseluncur di dunia maya untuk melihat sejauh mana sang suami dan mantannya bermain. Dadanya cukup panas hingga berulang kali ia harus membuka kulkas untuk mengambil air dingin.
“Apa yang sudah kamu mulai, Bang? Apa kamu tidak memikirkan perasaanku? Apa karena aku belum bisa memberikanmu anak lagi? Ya Allah, kenapa suamiku tiba-tiba berubah?” Cut mengungkapkan kekesalannya.
Sementara di rumah sang mertua, Rendra terlibat pembicaraan yang menurutnya sangat random. Sesekali ia melirik mantan istrinya yang sedang bermain dengan Anugrah. “Kamu sudah bisa mencari suami, Sayang. Mama lihat kamu sudah cocok jadi ibu.” Ucap Ibu Yetti.
“Belum, Ma. Ini karena anak orang saja. Coba kalau anak sendiri mungkin tidak akan terurus begini.” Jawab Risma.
“Jadi Anugrah kapan punya adik?” tanya Ibu Risna.
“Belum tahu, Jeng. Padahal sudah banyak obat herbal yang saya bawa ke dia. Tapi belum ada yang berhasil.” Keluh Ibu Yetti.
“Belum rezeki, Ma.” Sahut Rendra kemudian.
“Rezeki juga harus dicari, diusahakan bukan diam-diam saja. Memangnya ada orang tidur ketiban rezeki?” sindir Ibu Yetti.
“Iya, Ma. Anak itu kan Anugrah sama seperti suami. Walaupun kita mencari sekuat tenaga tapi kalau belum jodohnya ya mau gimana?” sahut Risma.
“Jeng percaya jika wanita cantik seperti dia tidak ada yang tertarik?” tanya Ibu Risna pada temannya.
“Tidak mungkin. Saya yakin banyak pria di luar sana yang tertarik pada kamu, Nak.” Imbuh Ibu Yetti.
“Hanya batu kerikil yang banyak di luar sana. Untuk apa? Untuk masuk ke jurang yang sama? Lebih baik Risma sendiri kalau harus kembali ke dasar jurang. Hanya keledai yang akan masuk dalam lubang yang sama.” Tegas Risma seraya melirik Rendra.
Risma menggendong Anugrah lalu mengajaknya ke taman belakang. “Jangan dibawa ke luar nanti dia masuk angin.” Larang Ibu Risna.
“Sudah, biarkan saja. Semoga saja dia segera ingin menikah dan punya anak setelah berdekatan dengan Anugrah.” Ujar Ibu Yetti.
Mereka terus berbincang sementara Rendra memilih untuk mengikuti Risma ke belakang. Dia ingin mengambil Anugrah karena hari sudah malam. Rendra melihat Risma sedang memangku Anugrah di dekat kolam ikan.
“Hai, Ren.” Sapanya.
“Anak kamu suka ikan ternyata.” Ucap Risma kembali.
“Orang tuamu sepertinya sudah tidak sabar melihatmu menikah lagi?”
“Ya ampun Ren, jangan merusak moodku dengan topik menjengkelkan itu lagi. Dari pada kamu bahas itu, lebih baik foto aku saat sedang bersama Anugrah. Aku mau unggah di akun media sosialku.”
“Bukannya kamu bilang ingin menutup akun itu?” tanya Rendra.
“Tidak jadi. Biarkan saja pria-pria itu penasaran. Aku ingin melihat sejauh apa reaksi mereka. Cepat foto! Tapi wajah Anugrah jangan terlihat jelas. Samar-samar saja seperti biasa.”
Ceprettt…
__ADS_1
“Gini juga, ya Ren? Biar mereka panas.” Pinta Risma.
Lalu Risma memegang jari telunjuk Anugrah dan Rendra memegang jari kelingking Anugrah.
Ceprett…
“Kamu gendong Anugrah biar aku foto.” Rendra menerima Anugrah lalu Risma mengambil sisi miring sehingga wajah Rendra dan Anugrah tidak terlihat.
“Kita???”
Sebuah keterangan yang Risma sematkan di bawah foto jari kelingking tadi dan –
“Kalian.” Dengan lambang hati diberikan pada foto Rendra yang sedang menggendong Anugrah dalam keadaan menyamping.
Berbagai komentar langsung menyerbu unggahan Risma termasuk akun bernama Toni.
“Wah, pasangan yang serasi. Btw, kapan nikahnya kok udah punya anak aja? Fix, pria itu suami orang atau duda. Makanya kamu malu menampakkan wajahnya.”
“Senang lihat pasangan ini. Tidak semua orang suka pamer pasangan mereka di dunia maya. Aku salut sama Mbak Risma. Karena dia tidak mempertontonkan wajah suami dan anaknya di sini. Walapun aku penasaran banget. Insting aku mengatakan jika suami Mbak Risma adalah pria yang tampan dan gagah. Lihat saja postur tubuhnya, dari samping saja, wajahnya sudah kelihatan tampan.”
“Aku setuju. Mbak Risma pasti takut suaminya banyak yang naksir sampai tidak mau memperlihatkan pada kita. Semoga bahagia Mbak cantik.”
Risma dan Rendra membaca begitu banyak komentar seraya terkikik kecil. Begitu saja sudah membuatnya bahagia.
“Kamu senang sekali mengerjai mereka.”
“Amin…” ucap Risma mengaminkan doa-doa baik yang ditulis di kolom komentar.
“Andai mereka tahu kalau kita sudah bercerai. Apa yang akan mereka katakan?” ucap Risma sendu.
“Maafkan aku ya, Ren. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Walaupun kita sekarang berteman tapi entah kenapa aku masih merasa belum siap berbaikan dengan kamu. Kamu terlalu baik atau aku yang terlalu pemaksa. Memaksa kamu berteman denganku, meminta kamu menolongku padahal aku tahu kamu pasti membenci dan jijik dengan wanita murahan sepertiku.”
“Sudahlah, semuanya sudah masa lalu. Aku tidak merasa seperti yang kamu bilang tadi. Orang tua kita saja bisa melupakan dan berteman kembali kenapa kita tidak? Tidak ada larangan untuk berteman dengan mantan kan?”
Risma tersenyum getir. “Tapi bagaimana kalau istrimu tahu? Apa dia akan mengizinkanmu berteman denganku? Wanita itu mahkluk pencemburu, Ren. Aku tidak mau rumah tangga kalian retak gara-gara aku.”
“Aku tidak masalah dan aku yakin istriku juga bukan wanita berpikiran pendek.”
“Terima kasih, Ren.”
Keduanya mengakhiri perbincangan karena Anugrah yang sudah menguap beberapa kali. Rendra meminta izin untuk membawa pulang Anugrah karena sudah terlalu malam. Para orang tua kembali melanjutkan pembicaraan mereka sementara Risma segera memasuki kamar milik Rendra yang ia gunakan sebagai kamarnya saat mereka menginap di sana.
Mobil memasuki are komplek hingga sampailah di depan rumahnya. Rendra menggendong Anugrah yang sudah tertidur lalu membawa masuk ke dalam rumah. Setelah membaringkan Anugrah di tempat tidurnya, Rendra langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Perlahan, ia menaiki ranjang dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan sang istri yang sudah tertidur lelap.
Cup…
Sebuah kecupan Rendra berikan di bibir sang istri. Ia usap pelan pipi sang istri namun Cut tetap terlelap tak bergeming.
“Sayang, bangunlah!” mesra Rendra di telinga sang istri. Cut tidak bisa menahannya. Ia sedikit bergeming dan membuat Rendra kembali melancarkan aksinya untuk membangunkan sang istri. Apalagi, senjatanya sudah bangun lebih dulu saat merasakan kulit tubuh sang istri yang malam ini menggunakan baju tidur seksi berwarna merah menyala.
Cut membalikkan badan namun langsung ditahan oleh Rendra. “Sayang,”
__ADS_1
Cup…
Rendra kembali mencium sang istri dan kali ini sedikit lama. Tidak ada balasan yang Rendra terima hingga ia kembali melakukannya. Rendra menyibakkan selimut lalu mulai bergerilya di tubuh sang istri yang malam ini membuatnya sangat bergairah. Sementara Cut dalam cahaya lampu yang temaram hanya bisa merasakan sakit dan pedih yang menyayat hatinya.
Ia ingin memberikan pelayanan terbaik untuk sang suami ternyata sang suami malah berfoto ria dengan mantannya. Cut sudah melihat semua unggahan foto dan berbagai komentar yang tertera di sana.
Ingatan Cut kembali ke masa lalu. Di saat ia menyerahkan segala rasa dan tubuhnya tapi yang dia dapatkan malah pengkhianatan. Cut menggigit bibirnya untuk menahan ******* yang mungkin meluncur dari mulutnya akibat panasnya permainan sang suami.
Rendra sendiri begitu bersemangat melakukannya malam ini. Pikiran liarnya terus bermunculan saat melihat sang istri pertama kali dalam selimut.
“Sayang, mana suaramu? Keluarkanlah!”
Cut tetap menyembunyikan suaranya bahkan air matanya sudah berurai pelan dari ujung mata. Ingatannya tentang masa lalu membuatnya merasa sakit yang amat sangat.
“Apa aku harus gagal kedua kalinya?” batinnya menjerit.
“Apa yang sudah lakukan dengan mantanmu, Bang?”
“Sejak kapan kamu bermain kembali dengan mantanmu?”
Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya sampai ia lupa menikmati percintaan panas sang suami. “Terima kasih, Sayang. Tidurlah! Kamu pasti lelah.”
Rendra mengecup kecing dan bibir sang istri sekilas lalu membaringkan tubuhny yang masih polos seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
Pagi hari yang harusnya hangat, cerah dan ceria tapi kali ini malah sebaliknya. Cut bangun lalu membersihkan diri. Pagi masih terlalu dingin dan langit juga masih gelap seperti hati seorang istri yang ikut gelap setelah melihat foto suaminya bersama sang mantan.
“Bang, bangun salat subuh!”
Cut membangunkan sang suami dengan sedikit kasar. Ia tidak peduli lagi dengan sifat lembut yang selama ini ia tunjukkan. Air matanya sudah mengering dan dadanya sudah panas sedari kemarin.
“Emm,,,Sayang.” Rendra menarik tangan sang istri dan langsung jatuh ke atas tubuhnya.
“Mandi bersama yok! Kalau sendiri takut kedinginan.” Ajakan mesra yang Rendra berikan.
“Aku sudah mandi, Bang. Lepas, aku mau ke dapur.”
Dalam keadaan masih sedikit mengantuk, Rendra merasakan perubahan pada sang istri. Namun, karena ia lelah dan ngantuk. Ia melepaskan Cut yang hendak ke dapur. Dengan penuh emosi, Cut bergelut di dapur untuk membuatkan sarapan untuk suami dan putranya.
Cut memotong wortel dengan kasar hingga bentuknya menjadi aneh. Rendra yang sudah mandi dan salat subuh berjalan menuju dapur. Ia melihat raut wajah sang istri yang begitu muram dan tak bersahabat.
“Sayang, wangi sekali. Kamu masak apa?”
“Masak yang aku bisa.”
“Apa aku masukkan saja racun tikus biar masakan ini lebih enak?” gumam Cut namun masih terdengar oleh telinga Rendra.
Setelah selesai masak, Cut menghidangkan makanan di atas meja tanpa banyak kata. Rendra memperhatikan wajah sang istri dengan saksama.
“Sayang, ada apa?”
***
__ADS_1