
“Ada apa dengan Risma? Sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja?”
Wajah kedua orang tua Risma langsung sendu mendengar pertanyaan dari Ibu Yetti. “Maaf, kalau kalian tidak bisa cerita. Tidak apa-apa.” Lanjut Ibu Yetti seraya menggenggam tangan Buk Risna.
“Seperti yang aku bilang tadi, anak itu sudah mendapat karmanya. Dia menghianati suaminya lalu setelah bercerai. Dia malah ditinggal dengan alasan pria itu tidak sanggup berpisah dengan calon istrinya. Sungguh miris nasib Risma. Sekarang dia sudah pindah lagi kemari setelah tinggal selama setahun dengan pria itu."
"Apa mereka sudah menikah?” tanya Ibu Yetti ragu.
Menurutnya selaku orang dengan adat ketimuran. Tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan itu adalah dosa dan aib bagi keluarga.
“Mereka menikah di bawah tangan dan bercerai juga begitu. Apa yang mau diperbuat, Yet. Semua sudah berlaku.” Jawab Ibu Risna.
“Apa Risma hamil?” tanya Ibu Yetti kembali. Sebenarnya, Ibu Yetti merasa tidak enak untuk bertanya lebih lanjut tapi jiwa ingin tahu khas ibu-ibu apalagi mereka sering bercerita bersama membuat Ibu Yetti tetap nekat bertanya.
“Aku bersyukur itu tidak terjadi, Ris. Apa kata orang-orang jika mengetahui Risma hamil tanpa suami. Untungnya mereka sama-sama tidak menginginkan anak jadi sampai berpisah pun Risma tidak hamil.”
“Syukurlah kalau begitu. Yang sabar ya, Na. Kita punya ujian masing-masing. Aku sendiri sangat menginginkan cucu malah Rendra menikahi wanita dengan masalah di rahimnya. Apa boleh buat, tekadnya sudah bulat. Kami hanya mengikuti saja dari pada dia berbuat nekat dengan merusak hidupnya.”
“Sudahlah, zaman semakin canggih. Banyak cara untuk mendapatkan anak. Banyak program yang bisa kita ikuti. Jadi, kalian tidak perlu takut. Biarkan mereka bahagia jangan tambahkan lagi dengan keinginan kita.” Nasehat bijak keluar dari mulut Bapak Wahid.
Sepasang suami istri itu pun menganggukkan kepala. Tanpa mereka sadari, sepasang telinga sedang mendengar pembicaraan mereka dibalik jendela. Wanita itu menatap langit dengan sorot mata penuh arti.
Rendra mengajak Cut jalan-jalan kembali menikmati suasana indah sore hari. Mereka berkeliling lalu berhenti di tempat penjual makanan atau camilan. Cut menyukai bakso hingga Rendra membawanya ke sebuah warung bakso langganannya. Setelah puas berkeliling sambil mencicipi berbagai camilan yang baru pertama kali Cut temui. Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Dan sesampainya di depan rumah mereka dikejutkan dengan kedatangan dua orang yang tidak disangka-sangka.
“Kenapa? Apa kami mengganggu bulan madu kalian?”
“Ti-tidak sama sekali, Ma. Hanya kaget saja karena kalian tidak memberi kabar lebih dulu.” Jawab Rendra.
Kedua suami istri itu masuk diikuti oleh Cut. Ia segera ke dapur untuk membuatkan teh untuk mertuanya.
“Kami baru pulang dari rumah Hasyim lalu mempir ke sini karena kami belum pernah mengunjungi kalian setelah kalian pindah kemari. Ini ada titipan dari Ibu Risna untuk kalian.”
__ADS_1
Ibu Yetti menyerahkan paperbag berisi beberapa kotak makanan kepada Cut. “Apa kamu betah di sini, Cut?” tanya Bapak Wicaksono.
“Alhamdulillah. Betah, Pak.”
“Bagus kalau begitu. Kamu harus sering-sering keluar untuk beradaptasi. Bagaimanapun kamu akan menetap lama di sini dan jika nanti Rendra tugas. Kamu tidak akan kebingungan di sini.”
“Iya, Pak.”
“Cut gak akan bingung, Pa. nanti juga ketemu sama ibu-ibu persit lain yang dari Aceh juga ada. Anggota Rendra banyak juga yang menikah sama gadis Aceh.”
Mereka berbincang hampir setengah jam lalu kedua orang tua Rendra memilih pulang.
Sebelum pulang, Ibu Yetti membisikkan sesuatu ke telinga sang putra. “Tadi Mama jumpa Risma. Kondisinya menyedihkan sekali. Kalau kamu ada waktu, coba bicara sama dia. Mungkin dia bisa sedikit terbuka dengan kamu.”
Rendra menatap ibunya, “Hubungan kami sudah selesai, Ma. Tidak baik untuk rumah tangga kami jika Rendra masih berhubungan dengan dia.”
Kedua orang tua itu pun pergi. Sementara Cut langsung berbalik memasuki rumah setelah mengantar mertuanya.
Hmmmppp…
Rendra memeluk Cut dari belakang yang sedang mengelap gelas dan piring. “Ada apa?” bisiknya di telinga sang istri.
“Tidak ada.”
“Jangan menyimpan keraguan dalam hati. Lama-lama bisa menjadi masalah besar. Kita sudah pernah mengalaminya kan? Jadi apapun yang kamu rasakan saat ini, bicarakan sama saya.”
Cut menghentikan aktifitasnya. “Maksud ucapan Abang tadi sama Mama, apa?”
Rendra tersenyum lalu menceritakan semua yang mamanya bisikkan. “Apa sekarang sudah tenang?” tanyanya lembut masih memeluk sang istri dari belakang.
Cut mengangguk kecil lalu –
__ADS_1
Aaaaa……
Rendra menggendong Cut tiba-tiba membuat Cut terkejut hingga tanpa sadar menjerit. Rendra membawa sang istri ke kamar. Hari sudah malam dan besok adalah hari pertama dia kembali dinas. Mereka duduk berhadapan, “Apa sudah siap untuk besok?” tanya Rendra seraya menatap sang istri lembut penuh senyum.
Cut mengangguk, “Tapi sedikit takut.” Lirih Cut.
“Tenang saja, besok saya temani sebentar lalu kamu akan cepat berbaur dengan mereka. Yang penting kamu harus berani dan bersikap seperti biasanya saja. Mengerti?”
Cut kembali mengangguk, “Kalau sekarang, saya minta kamu tidak malu-malu bisa?”
Pertanyaan Rendra membuat Cut bingung. Ia menatap sang suami yang sedang tersenyum sembari menaik-turunkan sebelah alisnya. Walaupun pernikahan mereka baru dalam hitungan hari tapi Cut paham maksud dari sang suami tersebut. Walaupun pernikahan ini bukan yang pertamaa tapi tetap saja setiap Rendra memberikan kode. Dia selalu malu untuk memulai lebih dulu.
Cup…
“Ternyata kalau kamu yang mulai lebih dulu rasanya lain, Sayang.”
Cut menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Untuk pertama kali, ia berani mencium pipi sang suami.
“Kamu tahu, Sayang? Kamu itu istimewa untuk saya. Jangan minder menghadapi orang-orang di luar sana. Cukup untuk saya saja tidak perlu untuk siapapun di luar sana. Jadi, tegakkan kepalamu mulai besok jangan lagi menunduk. Kamu pantas untuk saya dan saya yang harus bersyukur untuk mendapatkan kamu. Jadi, percaya dirilah mulai besok. Jangan menjadi lemah. Kalau kamu lemah, kamu akan mudah ditindas. Seorang istri parajurit harus kuat dengan segala situasi dan kondisi.”
“Iya, saya paham.”
“Ada atau tidaknya saya di sisi kamu nanti. Kamu harus tetap kuat dan berani. Janji sama saya kalau kamu harus kuat dan berani.”
Cut menatap sang suami lekat, “Kenapa Abang berkata begitu?” lirihnya.
“Kamu kan sudah diingatkan sebelumnya. Saya hanya mengingatkan kembali jika seperti inilah kehidupan menjadi istri parajurit. Saya bisa mati di medang perang atau saat latihan. Tidak ada yang tahu. Saya hanya mau kamu bersiap untuk semua kemungkinan yang bisa terjadi kapan saja. Makanya, rumah ini saya beli atas nama kamu.”
“Haaahhh??”
***
__ADS_1