
Isak tangis mengiringi kepergian sang nenek kepangkuan ilahi. Iskandar meminta izin pada ustad di kelurahan tersebut untuk menjadi imam pertama dan terakhir untuk sang nenek. Ia juga turut serta mangangkat tandu yang membawa jasad sang nenek menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Iskandar juga turut mengazankan serta mendoakan jasad sang nenek yang sudah tertutup tanah. Kenangan bersama sang nenek memang tidak banyak tapi hari ini ia mengikhlaskan kepergian sang nenek dengan sejuta maaf tulus dari hatinya.
Hari sudah malai sore, tamu-tamu masih terus berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa. Keluarga Risma datang menjelang magrib karena mereka akan mengikuti tahlian yang akan berlangsung setelah magrib.
"Kalian ganti baju di kamar Papa sana!” pinta Rendra.
Iskandar mengikuti sang adik menuju kamar ayahnya. Mereka mandi bergantian lalu membaringkan badannya sesaat di tempat tidur. Mereka belum sempat beristirahat dari tadi dan tanpa terasa, mata keduanya langsung terpejam.
Rendra yang hendak mandi dan berganti baju terkejut menatap pemandangan indah di depan matanya saat ini. Ke dua putranya sedang terbaring di satu ranjang. Pemandangan yang tidak pernah mereka dapatkan selama ini.
“Pa, -“ Jari telunjuk Rendra langsung diletakkan pada bibirnya.
Cut yang penasaran ikut mengintip dan hatinya seolah sedang disiram oleh air yang menyejukkan. Bahkan air matanya sampai berurai melihat pemandangan indah dan langka ini.
“Papa mau foto dulu.”
Ditengah kesedihan yang sedang mendera mereka ternyata takdir berkata lain. Kebersamaan kedua putranya menjadi pelipur lara bagi mereka. Beberapa lembar foto berhasil Rendra dapatkan dengan ponselnya lalu ia segera mebgirim ke nomer ponsel sang istri serta ke dua putranya yang masih lelap. Setelah melihat adegan penuh haru itu, Cut segera turun untuk melihat persiapan untuk acara tahlilan nanti malam.
“Pa, mau makan sekarang?” tanya Cut lembut pada Bapak Wicaksono yang masih kelihatan syok.
“Nanti saja, Nak.”
“Makanlah! Supaya kamu kuat. Kita ini sudah tua butuh energi yang banyak. Ayo, aku juga sudah lapar. Tolong siapkan ya, Nak!” pinta Pak Wahyu.
Cara Pak Wahyu memang jitu, Bapak Wicaksono langsung berdiri mengikuti sahabatnya menuju meja makan. Sementara di dapur sudah ada Bibik yang sedang menyiapkan sejumlah makanan untuk para penghuni rumah.
Cut mengambil piring lalu meletakkan di meja. Ia seperti yang punya rumah saja sementara Reni selaku anak perempuan dari Ibu Yetti dan Riko sedang menerima tamu yang merupakan kerabat jauh mereka.
“Senang kan kamu sekarang? Tidak ada lagi yang mengaturmu di rumah ini.” Cut menatap tak percaya pada ucapan yang baru saja keluar dari mulut mantan besan mertuanya.
“Mama tidak lihat kalau anaknya saja selalu tampil di depan seolah dia adalah cucu kandung keluarga Wicaksono.” Risma menimpali.
“Maaf, kami masih berduka. Tolong hargai kami!”
“Cih, aktingmu meyakinkan juga rupanya. Sekedar mengingatkan, saya tahu betul perhiasan mertuanya. Jadi jangan coba-coba mengambilnya! Itu semua milik Reni bukan kamu!”
“Astagfirullah, Buk. Saya tidak terpikir sejauh itu. Saya memang dari kampung tapi saya bukan pencuri.”
“Ya, saya hanya mengingatkan. Siapa tahu kamu khilaf. Sekarang kan begitu, alasan maling kalau ketahuan ya, ‘saya khilaf’ padahal memang sengaja.”
“Mana ada maling ngaku, Ma.” Sahut Risma kembali.
Mereka meninggalkan Cut dengan tatapan sinisnya. Sementara Cut hanya bisa menangis dalam hati sambil menghidangkan makanan untuk papa pertuanya.
“Yang sabar ya, Buk!” hanya itu yang bisa si Bibik katakan setiap kali mendengar hinaan yang keluar dari mulut almarhum majikan atau teman-temannya itu.
Menjelang magrib, kedua kakak beradik sudah terbangun dari tidurnya. Mereka melaksanakan salat magrib berjamaah di mesjid yang tidak jauh dari rumah. Tamu-tamu sekitar sudah mulai berdatangan untuk menyumbangkan doa-doa mereka untuk almarhum Ibu Yetti. Tahlilan berjalan lancar sampai menjelang isya. Sebagai perwakilan dari keluarga, Pak RT memberikan sepatah dua patah kata untuk para pelayat yang sudah datang.
Hari sudah mulai malam, keluarga Risma memutuskan untuk menginap di sana karena permintaan dari Bapak Wicaksono. Rendra juga menginap di sana untuk menemani sang ayah bersama istri dan kedua anaknya. Setelah tahlil, Bapak Wicaksono memilih untuk beristirahat ke kamarnya. Beliau terlalu lelah karena dari semalam berjaga menemani sang istri yang sulit tidur. Tidak disangka jika kegelisahan sang istri semalam menjadi pertanda jika itu adalah tanda-tanda terakhir menjelang ajal menjemput. Beberapa kerabat juga sudah mulai kembali ke kediaman masing-masing.
“Ren, Tante mau ingatin sama kamu. Kamar almarhum mama kalian lebih baik di kunci. Kita tidak pernah tahu hati orang, Mama kamu punya banyak perhiasan. Jangan sampai hilang tanpa kamu sadari.” Ibu dari Risma mengingatkan Reni di depan Cut yang sedang membereskan ruang tamu.
“Baik Tante, makasih juga sudah mengingatkan.” Jawab Reni.
__ADS_1
“Baiklah, kami istirahat dulu ya. Kamu juga lebih baik istirahat. Biar urusan rumah menjadi tugas pembantu. Buat apa juga kita bayar mahal-mahal kalau kita masih berberes juga.” Reni mengangguk kecil lalu pergi meninggalkan ke dua ibu dan anak itu.
Kedua wanita berbeda usia itu menatap Cut dengan ekor matanya. Sementara di luar, Anugrah dan Iskandar yang masih segar karena telah tidur tadi sore masih berjaga sambil bercengkrama dengan beberapa tetangga.
“Assalamualaikum, aku ikut berduka cita ya, Is. Maaf karena belum bisa berkunjung. Aku baru sampai di ruman satu jam yang lalu.” Ucap Reski.
Iskandar sudah mengabarkan tentang meninggalnya sang nenek pada sahabat till jannahnya. Hanya Ari dan keluarganya yang akan berkunjung besok karena jarak mereka cukup dekat dibanding yang lain.
Dering ponsel kembali berbunyi.
“Hallo,” ucap Anugrah masih melirik sang kakak yang sedang berbalas pesan di ponselnya.
“Aku turut berduka cita ya. Maaf karena besok baru bisa melayat ke sana.”
“Kamu mau ke sini?” tanya Anugrah kaget.
“Iya, besok aku mulai cuti dan besok pagi langsung terbang ke sana.”
“Aku jemput ya!” pinta Anugrah.
“Tidak perlu, Mamang yang akan jemput. Kamu tunggu saja di rumah. Aku langsung ke sana sama Mamang. Eh, ada Doni juga.”
“Doni cuti juga?”
“Iya, dia pengen pulang kampung juga.”
“Oke, hati-hati. Besok aku tunggu di rumah nenek ya!”
“Salam untuk orang tuamu.”
Tuttt…
Keesokan paginya…
Suasana rumah duka masih ramai dengan kehadiran sanak keluarga yang setia mendampingi Bapak Wicaksono menjalani hari-hari baru tanpa seorang istri.
“Waktu berdua kami merasa kesepian. Saat rumah ramai begini, Papa justru merasa sepi.” ucap Bapa Wicaksono saat di meja makan. Anak dan cucunya semua hadir di rumah. Tapi hatinya tetap merasa sepi tanpa seorang istri.
“Sudahlah, kita semua akan mengalaminya juga. Hanya saja kita tidak tahu siapa yang lebih dulu mengalami dan ditinggali. Setidaknya, kamu masih punya kesempatan untuk melihat cucumu menikah. Anugrah sudah besar dan sudah bisa menikah lalu memberikanmu seorang cicit.”
Anugrah kesal karena selera makannya terusik dengan ucapan sahabat dari kakeknya itu. Bukan perkara menikah yang membuat Anugrah jengkel tapi perkara namanya yang disebutkan sementara kakaknya juga berada di sana.
“Apa mereka tidak menganggap Kakak sebagai cucu dari keluarga ini?” batin Anugrah.
“Kenapa harus aku yang menikah, Tante Risma yang jauh lebih tua dari aku juga belum menikah.” Balas Anugrah tidak kalah tajam.
Skakmatt…
Kedua orang tua Risma tidak berani lagi menyebut soal pernikahan. Risma sendiri terlihat marah karena Anugrah sudah membawa-bawa namanya. Suasana menjadi canggung sampai suara orang memberi salam menyudahi suasana canggung tersebut. Mereka adalah keluarga Ari yang datang berkunjung. Rendra dan Cut langsung menyambut tamu mereka dengan senyum merekah. Cut sendiri sampai takjub melihat ketiga anak kembar yang sekarang sudah beranjak remaja. Apalagi si bungsu Anggia. Dia sangat imut seperti boneka dalam balutan pakaian gamisnya membuat Cut terkesima.
Bapak Wicaksono ikut bergabung dengan para tamu yang baru datang. Iskandar mengajak Ari bersama ke tiga adiknya duduk di taman belakang. Anugrah datang membawa nampan berisi minuman dan sepiring kue yang disiapkan oleh ibunya.
Si bungsu Anggia diam-diam mencuri pandang pada dua sosok yang sudah ia lihat kemarin di rumahnya.
__ADS_1
“Kamu suka yang mana?” bisik Angga sang saudara kembar yang mengikuti kemana lirikan sang adik tertuju.
Anggia membuang mukanya saat menyadari sang kakak kembar telah menangkap basah dirinya. Di saat Ari sedang berbincang dengan Iskandar dan Anugrah tiba-tiba seorang wanita cantik datang berdampingan dengan seorang pria.
“Tiara, Doni!” Anugrah tersenyum menyambut mereka.
Anugrah memperkenalkan Ari dan adik-adiknya serta Iskandar yang belum pernah mereka temui sebelumnya.
“Kak, kami permisi dulu ya!” Iskandar mengangguk lalu mengajak Tiara dan Doni untuk duduk di ruang keluarga. Ia juga mau bertemu dengan Mamang.
“Mamang, makasih sudah datang jauh-jauh kemari.” Ucap Anugrah menghampiri Mamang yang sudah bergabung dengan keluarganya.
“Sama-sama, Nak. Kamu sudah lebih tinggi sekarang dan tambah ganteng.” Puji Mamang.
“Terima kasih, Mang. A tinggal dulu ya!”
“Silakan,”
Anugrah kembali ke ruang keluarga di mana ada Doni dan Tiara sedang minum teh yang disajikan oleh bibik.
“Makasih ya udah datang jauh-jauh kemari. Kalian kayaknya betah banget kerja di perusahaan penjajah ya?” seloroh Anugrah.
“Gajinya gede, A. Pabrik penjajah lebih menggiurkan dari pabrik pribumi.” Ucap Doni.
“Eh, kalian kalau gak nyaman sama aku, aku gabung sama Mamang aja.” Ucap Doni kembali.
“Santai, Don. Kita sadar tempat kok.” Balas Anugrah.
“Eh, itu kakak loe ganteng ya?”
“Loe gak suka pisang kan?”
Tiara tertawa mendengar Doni dan Anugrah bergurau seperti biasanya. “Gua masih normal. Tapi selama kerja di tempat penjajah susah dapat cewe, A. Pulang kerja dah cape, malam abis makan langsung tidur. Kapan gue cari cewe ya? Cewe yang gue temui tiap hari hanya tiga. Salah satunya ya Tiara.” Doni tiba-tiba curhat.
“Pindah aja kalau gitu.” Saran Anugrah.
“Susah move on sama gaji ya kan, Ra?”
“Iya, teman-teman kita satu angkatan malah ingin masuk di situ tapi gak bisa. Mereka hanya menerima lulusan terbaik dan fresh graduted.” Jawab Tiara.
“Wah, pacarmu cantik juga ya, Anugrah. Lebih baik segera kamu nikahi dari pada ditikung orang. Menurut pengalaman Tante, banyak karyawan yang jatuh cinta pada teman kantornya dari pada setia pada pasangannya di luar sana. Apalagi kamu jauh, pasti cewe kamu butuh pria yang selalu ada saat dia butuh bukannya menunggu cuti kamu yang setahun sekali itu. Hubungan macam apa itu yang ketemu setahun sekali?”
Anugrah mengerang kesal mendengar ocehan Risma yang muncul entah dari mana. Setelah puas memprovokasi mereka, Risma melanggeng indah meninggalkan Anugrah yang sedang menahan kesal.
“Sudahlah, tidak perlu diladeni.” Ucap Tiara mengelus pelan tangan Anugrah.
“Tapi yang dibilang itu ada benarnya juga. Kalian sudah lama pacaran apa gak sebaiknya kalian menikah saja?" usul Doni yang membuat Tiara dan Anugrah bersitatap dalam diam.
“Sampai kapan kalian terus pacaran? Aku tidak mau lagi jadi juru bicara kalian pada cowo-cowo itu. Ra, elo mau kan kalau Anugrah mengajak nikah?” tanya Doni bergerak cepat.
“Hah???”
***
__ADS_1
Rasa bersalah dan penyesalan adalah hukuman yang paling menyakitkan melebihi apa pun...