CUT

CUT
Sang Prajurit Kembali...


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian…


Seorang pria berpakaian loreng berjalan memasuki kediaman orang tuanya dengan senyum mengembang. Ia akan membuat keluarganya terkejut hari ini karena kepulangannya kali ini sengaja disembunyikan untuk memberi kejutan pada mereka. Seharusnya ia bisa menginap di markas karena kedatangan mereka ke Indonesia sudah hampir tengah malam tapi karena ingin memberi kejutan jadi Anugrah tetap pulang supaya kejutannya berjalan lancar.


Rumah dalam posisi terkunci dalam keadaan gelap yang bertenda jika pemilik rumah sudah terlelap. Anugrah yang memegang kunci cadangan dengan mudah membuka pintu lalu memasuki rumah dan langsung menuju kamarnya. Ia menyimpan rensel lalu membersihkan diri kemudian pergi ke dapur. Sebelum pulang, ia mampir ke supermarket terlebih dahulu untuk membeli mie instan. Setahun di belahan bumi yang lain, ia sangat merindukan mie instan yang penuh penyedap dengan irisan bawan dan cabe rawit lalu telur setengah matang di dalamnya.


Dari dalam pesawat, dia sudah membayangkan makanan sejuta umat itu hingga air liurnya menetes. Bibik tertidur cukup pulas hingga tidak mendengar suara di dapur tapi tidak dengan sang ayah yang memiliki jiwa intel. Telinga dan hidungnya mampu mendengar dan mencium aroma bumbu penyedap dari mie instan dari dapur.


Rendra membuka mata lalu secara perlahan turun dari kamar lalu berjalan pelan keluar dari kamarnya yang sekarang sudah pindah ke lantai bawah. Ia mengambil senjata angin dari dinding lalu kembali berjalan ke arah dapur. Seorang pria dengan rambut sedikit basah tengah menikmati mie instannya dengan lahap. Bukan hanya sebungkus melainkan dua bungkus ia membuat mie instan malam ini untuk melepas rasa rindunya. Rendra tersenyum menatap anak laki-lakinya lalu kembali ke kamarnya tanpa menyapa sang anak.


Pagi itu, seperti biasa Cut akan membangunkan suaminya untuk salat berjamaah. Setelah melaksanakan salah subuh berjamaah, Cut yang hendak beranjak dari sajadah tiba-tiba dihentikan oleh sang suami.


“Ada apa, Bang?” tanya Cut bingung.


“Anak nakal kita sudah pulang. Dia sepertinya ingin mengagetkan kita.” Ujar Rendra.


“Lalu kita harus bagaimana?” tanya sang istri bingung.


“Gagalkan aksinya!” ucap sang ayah bersemangat.


“Kok begitu? Kasihan kan dia.” Si ibu justru tidak tega.


“Biar saja! Pokoknya gagalkan aksinya.


Mereka keluar kamar seperti biasa dan justru tidak menemukan kejutan yang seperti diduga. Sampai menjelang siang hari, suami istri itu justru tidak mendapatkan kejutan dari sang putra. Dengan kesal, Rendra akhirnya melangkah kakinya menuju kamar sang anak.


Ceklek…


“Tidak ada orang.” Ucap Rendra pada istrinya.


“Abang benar-benar lihat Anugrah?”


“Abang ini sudah tua tapi mata Abang masih bagus. Buktinya kamu masih tetap cantik di mata Abang.” Sebuah cubitan mendarat di perut sang suami.


“Jadi ini anak sudah pulang atau belum?” tanya Cut.

__ADS_1


“Sebentar!” Rendra masuk lalu mencoba mencari sesuatu namun sayangnya tidak ia dapatkan.


“Kenapa?” tanya Cut melihat Rendra kebingungan.


“Tapi Abang benar-benar lihat dia tadi malam lagi makan mie, Ma. Bahkan bau bumbu mie itu sampai ke kamar kita.”


“Kalau gitu ayo cari di dapur!” ajak sang istri.


Sesampai di dapur, mereka kembali kecewa. Setelah memeriksa tempat sampah dan tidak menemukan apa pun, “Berarti semalam Abang bermimpi. Kalau Abang rindu, kenapa tidak telepon saja?” Cut meninggalkan suaminya lalu melanjutkan rutinitasnya seperti biasa. Sementara Rendra memilih ke halaman belakang untuk memberikan pakan ikan-ikan di kolam. Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya. “Apa semalam mimpi? Kenapa jelas sekali?”


Sementara di dapur, Cut yang sedang membuat kopi terkejut saat ada tangan yang memeluknya. Dari baunya jelas ini bukan suaminya sehingga,


“Aaaaaaa” jeritan itu berhasil menyadarkan Rendra hingga ia buru-buru ke dalam dan begitu melihat ternyata istrinya sedang memukul sang anak dengan sapu sendok nasi. “Kamu mau buat Mama jantungan? Nakal kamu! Beraninya kamu mengagetkan Mama! Mama malah tidak percaya sama Papa gara-gara ulah kamu!”


“Ampun, Ma! Namanya juga kejutan!” celutuk sang anak tanpa dosa seraya berlindung di belakang sang ayah.


“Sudah, Ma. Yang penting Mama sudah tahu kalau Papa tidak berbohong dan Papa tidak bermimpi. Semalam itu nyata dan anak nakal ini memang harus dikasih pelajaran. Hajar terus, Ma.” Rendra dengan lantang membuat Cut berhenti karena kelelahan. “Ini, sekarang giliran Papa!” dia malah memberikan sendok nasi itu pada suaminya.


“Pa, aku bisa laporkan Papa ke Provos karena melakukan kekerasan terhadap anak.” sahut Anugrah yang sudah memeluk ibunya dari belakang.


“Istri Papa juga Mamaku.”


Anugrah dengan isengnya mencium pipi sang ibu. Bibik yang baru keluar dari kamar terkejut melihat sang tuan muda yang baru pulang.


“Aden,” panggilnya lalu Anugrah langsung memeluk si bibik hangat. Ia juga merindukan wanita paruh baya itu.


Kakek Wicaksono yang sudah sepuh berjalan pelan dari kamarnya menggunakan tongkat. Anugrah langsung memapah sang kakek menuju sofa lalu memeluk kakeknya pelan. “Sudah pulang ternyata. Kamu sehat?”


“Tidak Kek! Mama memukulku. Badanku sakit semua.”


Mereka duduk bersama menikmati pagi setelah kepulangan sang putra. Anugrah bertanya banyak hal pada mereka terutama momen-momen yang sudah ia lewati sebelumnya. Menjelang siang, sebuah pesan masuk ke ponsel Anugrah. Pesan yang membuat raut wajah pria itu kembali sendu.


“Besok malam ada acara penyambutan untuk pasukan yang baru pulang. Ada penyanyi terkenal yang akan manggung, Wulan!”


Anugrah meletakkan ponselnya lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia ingin menutup mata sejenak tapi isi pesan tersebut membuatnya kesulitan untuk tidur kembali sampai suara riuh terdengar dari luar.

__ADS_1


Tok…tok…


“Dek, aku masuk ya!”


Ceklek…


Anugrah tersenyum lalu bangun dari tidurnya. Mereka berpelukan sekilas untuk melepas rindu. “Ayo keluar temui kakak iparmu!” Anugrah mengikuti sang kakak lalu menemui kakak iparnya yang memakai cadar. Ia sudah pernah melihat Aisyah tanpa cadar hingga tidak penasaran lagi seperti apa wajah kakak iparnya itu.


“Apa kabar, A?” tanya Aisyah basa-basi.


“Baik, Kak. Sudah berapa bulan?” tanya Anugrah melihat perut kakak iparnya membuncit.


“Baru lima.” Jawab Aisyah.


Tidak berselang lama, Teuku datang bersama Anggia. “Apa kabar pengantin baru?” tanya Anugrah memeluk sepupunya.


“Tidak baru, sudah lima bulan.” Jawab Teuku.


“Belum, kami masih ingin pacaran.” Ucap Teuku saat melihat lirikan mata Anugrah ke arah perut istrinya. Anugrah mengangguk paham. Lalu para laki-laki memilih berbicara di belakang seraya meroko sementara para wanita memilih duduk di dalam bersama ibu mertua.


“Ada apa?” tanya Iskandar melihat raut berbeda dari wajah adiknya. Anugrah menghela nafasnya, “Wulan! Dia menjadi pengisi acara penyambutan kepulangan kami besok malam.” Teuku melirik Iskandar. Setelah pulang ke keluarga Cut, dia sudah mengetahui banyak tentang kondisi sang sepupu hingga bisa langsung paham dengan masalah yang sedang Anugrah pikirkan.


“Kalau menurut pendapatku, hadapi ini seperti laki-laki. Kamu temui dia lalu pastikan perasaanmu padanya, selesai!” saran dari Teuku membuat Anugrah tersenyum getir.


“Sepertinya Mama sudah cerita banyak padamu, Bang.”


“Mau bagaimana lagi, suka tidak suka, aku bagian dari keluarga ini. Walaupun harus dihajar dulu oleh sepupu tidak berakhlak sepertimu. Tapi aku sangat berterima kaih karena tanpa dihajar aku masih menjadi pria tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih.” Ucap Teuku membuat ketiganya terkekeh.


“Semua kembali padamu! Apa perasaanmu padanya? Jika kamu menyimpan rasa maka perjuangkan!” ucap Iskandar tegas.


"Lalu apa kabar Dokter itu?" tanya Iskandar kembali. Hanya helaan nafas yang keluar, "Tidak untuk berumah tangga!" ucapnya.


***


Up jam 03.52 pagi.... Apa kabar dunia???

__ADS_1


__ADS_2