
Risma memang jadi duri dalam daging tapi itu justru membuat hubungan Cut dan Rendra semakin harmonis. Setelah ungkapan hati sang suami kemaren, Cut sudah mulai kembali ke mode awal. Dia percaya pada instingnya sebagai seorang istri. Ia tidak akan menyerah pada pernikahan mereka seperti yang suaminya inginkan.
“Kita harus berjuang untuk sampai pada usia itu berdua, Sayang. Mempertahankan rumah tangga kita sampai titik darah penghabisan dan itu hanya bisa terwujud jika kita sama-sama berjuang. Bukan hanya satu pihak karena itu takkan berhasil. Abaikan Risma atau siapapun yang berniat tidak baik pada kita. Sebelum menikah, kita berjuang untuk bisa menikah dan setelah menikah, kita akan berjuang untuk mempertahankannya sampai kita berhasil menua bersama.”
Cut sangat tersentuh dengan setiap kata yang Rendra ucapkan dan saat itu juga dia berjanji dalam hatinya untuk berjuang mempertahankan rumah tangga bersama Rendra dari orang-orang semacam Risma. Namun, satu hal yang tidak Cut katakan pada sang suami yaitu tentang ibu mertuanya. Ia tidak ingin membebani sang suami dengan perkara lain. Di saat satu perkara sudah selesi, dia ingin menikmatti dulu masa-masa manis hubungan mereka yang hampir kandas dengan kehadiran mantan.
Hari ini, Rendra meminta waktu untuk bertemu dengan Risma. Dan dengan senang hati, Risma menerima ajakan tersebut. Dia sudah berdandan cantik untuk bertemu dengan Rendra berhubung malam ini adalah malam minggu. Tempat yang Rendra janjikan adalah sebuah café yang sering dijadikan tempat untuk para muda-mudi bercengkrama amereka yang sedang berkencan.
Jam delapan malam, Risma tiba di sana sesuai dengan waktu yang Rendra tentukan. Dengan penuh percaya diri, Risma melenggang menuju meja di lantai atas beratapkan langt yang dipenuhi bintang-bintang.
Risma langsung menghampiri sang mantan yang sudah menunggunya. Rendra tersenyum seperti biasa lalu mempersilakan Risma untuk duduk.
“Ada apa, Ren? Apa kamu tidak takut istrimu marah karena mengajak aku keluar malam minggu?” tanya Risma.
Rendra yang berniat menjawab langsung disela oleh suara lain, -
“Hai, Mbak. Maaf aku baru dari toilet. Aku ngasih izin karena perginya bareng aku, Mbak. Tapi kalau Bang Rendra pergi sendiri pasti aku marah. Wanita mana yang rela ditinggal malam minggu oleh suaminya dengan alasan bertemu teman. Kalau Mbak jadi aku pasti Mbak marah juga kan?” tanya Cut pada rivalnya itu.
Rendra menggenggam tangan sang istri lembut lalu menatap Risma yang sedang menahan marah dalam dadanya.
“Maaf, Ris. Karena kita hanya teman jadi aku mengajaknya juga. Ini untuk membuktikan bahwa kita memang murni berteman. Dan aku juga ingin memberikan kepastian pada Cut kalau kita tidak mungkin untuk kembali apalagi sampai menikah. Apa kata orang-orang kantor kalau mereka tahu kita menikah kembali. Apa kamu tahu, Sayang? Risma sangat kesal dengan para ibu-ibu persit di asrama. Mereka sangat suka bergosip satu sama lain dan Risma selalu mengeluh tidak akan pergi tiap ada arisan.”
“Oh ya? Tapi tidak semua ibu persit begitu kok, Mbak. Ada beberapa yang baik seperti teman-temanku.”
“Jadi, ada apa kamu mengajakku bertemu?” tanya Risma ketus.
“Selama ini kalian kan belum bertemu secara langsung dan berbicara panjang lebar. Nah, aku ingin memperkenalkan secara resmi dan kalian bisa saling bicara setelah ini. Kalau begitu aku turun dulu ya! Kalian silakan mengobrol, aku mau ngerokok sebentar. Sayang, aku turun sebentar ya!”
Cut mengangguk seraya tersenyum manis. Sementara Risma hanya menatap jengah pada mereka yang sedang memamerkan kemesraan di depannya.
“Melihat sikap Rendra, aku yakin kamu belum bilang padanya tentang kedatanganku ke rumah kalian?”
“Tenang saja, aku bukan wanita pengadu.”
“Ck, jadi apa tujuanmu bertemu denganku? Ingin pamer kemesraan?”
Cut menatap wanita di depannya lalu tersenyum kecil, “Suamiku menerima Mbak sebagai teman. Jadi, aku pun akan menerima Mbak sebagai temanku. Tidak masalah jika Mbak ingin menikungku. Kita lihat saja sejauh mana langkah Mbak itu?”
“Kamu mencoba mengancamku? Tidak perlu repot-repot. Walaupun dalam tubuhku tidak mengalir darah pemberontak tapi aku bukan wanita penakut hanya gara-gara gertakanmu yang tak jelas.”
__ADS_1
“Aku tidak sedang mengancam kok, Mbak. Aku tidak selicik itu, hanya saja kalau Mbak menjual aku pasti akan beli. Aku tidak mengganggu orang tapi kalau orang itu mengganggu aku jelas aku akan membalas bahkan lebih dari yang dia lakukan. Itu hukum alam, Mbak.” Kedua wanita tersebut menatap satu sama lain dengan sorot mata tajam.
Hawa seakan mengalahkan sejuknya udara malam saat itu. Kedatangan Rendra menyadarkan mereka untuk kembali ke kondisi semula. Kondisi dimana sang mantan dengan sikap elegannya dan sang istri dengan sikap sabarnya. Rendra sengaja memberi waktu untuk keduanya bisa berbicara dari hati ke hati dengan harapan setelah ini tidak ada lagi kecemburuan yang menghinggapi hati sang istri. Serta menegaskan pada sang mantan bahwa ia sudah menjadi suami dari wanita lain.
Setelah berbincang hal-hal yang random cendrung tidak berguna. Mereka sepakat untuk berpisah karena hari sudah terlalu malam. Rendra segera melajukan mobil menuju kediaman orang tuanya untuk menjemput Anugrah. Sesampai di sana, sang ibu yang sedang bermain dengan Anugrah langsung mencecar Rendra dengan pertanyaan –
“Bagaimana Risma? Apa dia baik? Sudah lama dia tidak kemari.”
“Dia baik, Ma. Dia juga titip salam untuk Mama dan Papa. Dia juga minta maaf karena belum bisa ke sini karena banyak pekerjaan di kantor.”
“Cut, bagaimana kondisi kamu? Apa kalian masih berusaha untuk memberikan Anugrah adik?”
“Iya, Ma. Doakan saja semoga bisa segera mendapatkan hasil.” Jawab Rendra kembali.
“Ren, Mama ketemu sama teman kemarin. Putrinya begitu juga sulit hamil malah ini anak pertama. Terus teman Mama ini bawa putrinya ke tempat pengobatan gitu. Ada seorang Mbah, beliau terkenal sebagai dukun beranak di kampungnya. Nah, beliau ini bisa melihat apakah ada sel telur atau tidak dalam rahim Cut hanya dengan memegang perutnya. Terus tuh ya, ada juga letak rahimnya mereng sama si Mbah ini bisa dibetulin lagi. Mama pengen ajak Cut ke sana, mau gak?”
“Gimana baiknya saja, Ma. Asalkan jangan sampai menyakiti Cut.”
“Kamu bisa ikut kalau mau. Kita bisa pergi bersama biar kamu lihat langsung pengobatannya.”
“Baiklah, nanti Rendra cari waktu dulu kapan kita bisa pergi.”
“Bang, apa kamu sangat ingin punya anak kembali?” tanya Cut saat mereka dalam perjalanan.
“Kenapa? Apa kamu tidak mau?”
“Bukan begitu. Hanya saja Cut lelah dengan semua pengobatan selama ini. Rasanya Cut sudah tidak sanggup lagi untuk meminum obat-obat herbal itu.”
“Kita harus tetap mencoba, Sayang.”
Cut kembali pasrah. Suaminya ternyata sangat menginginkan anak. Sementara tubuh Cut seakan tidak sanggup lagi kalau diharuskan meminum berbagai ramuan yang entah berasal dari apa.
Beberapa hari kemudian, mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat pengobatan bagi wanita yang kesulitan mendapatkan anak. Dari hasil rekomendasi yang diberikan oleh salah satu teman Ibu Yetti. Maka, tibalah mereka di sebuah pekarangan rumah sederhana. Di sana ada pondok kecil tempat yang digunakan oleh si mbah untuk mengobati pasiennya.
Mereka masih menunggu giliran karena sesampainya di sana, sudah banyak orang yang mengantri. Suara jeritan seorang wanita mengagetkan Cut dan Rendra. Wanita itu sampai berteriak berkali-kali dan tentu saja semakin membuat Cut ketakutan. Ia memegang lengan sang suami dengan harapan supaya sang suami mengajaknya pulang tapi sayangnya,-
“Tidak apa-apa. mungkin kasusnya sedikit parah makanya sampai menjerit begitu.” Suara ibu mertua seakan menjawab kegelisahan yang sedang Cut rasakan. Setelah menunggu beberapa saat, wanita tadi keluar dari pondok dipapah oleh suaminya. Terlihat jelas bagaimana wajah wanita itu yang sembab serta menahan sakit di perutnya dengan sebelah tangannya sedang memegang perut.
Tibalah giliran Cut, “Bang, Cut takut!” lirih Cut namun masih terdengar di teling Rendra.
__ADS_1
“Jangan takut, Abang temani.”
Ibu Yetti ikut mendampingi anak dan menantunya masuk ke dalam pondok pengobatan. Tampak seorang wanita tua yang dengan kembem bunga-bunga khas jaman dulu. Cut disuruh berbaring lalu-
“Ada masalah apa?” tanya si Mbah.
“Menantu saya ini ingin hamil lagi, Mbah. Anak pertamanya juga telat, Mbah. Setelah empat tahun menikah baru mantu saya hamil.”
“Sekarang usia anak itu berapa?”
“Lima tahun, Mbah.” Jawab Ibu Yetti kembali.
Terlihat jelas jika yang sangat bersemangat di sini adalah Ibu Yetti sedangkan Cut hanya diam saja menatap si Mbah yang membuatnya ketar ketir. Suara teriakan wanita tadi terus menghantui Cut hingga dia terus menggenggam tangan sang suami erat.
Saat-saat seperti ini, Rendra merasa de javu. Ia seperti sedang mengulang masa lalu saat menemani sang istri melahirkan Anugrah. Hanya lingkungannya saja yang berbeda. Saat itu, mereka di rumah sakit dan sekarang, mereka sedang berada di sebuah kampung yang jauh dari pusat kota.
“Aaaawwwww.”
Cut menjerit saat tangan si Mbah menekan lalu mendorong perutnya dengan lembut namun sangat menyakitkan untuk Cut.
Air matanya jatuh tak tertahankan lagi. Ia mengginggit bibirnya saat tangan si Mbah kembali mengaduk-ngaduk perutnya seperti sedang mengaduk adonan tepun.
“Bang, Cut udah gak kuat.”
“Sabar sebentar lagi, jangan cengeng begitu!” sela Ibu Yetti.
“Rahimnya sedikit bergeser tapi sudah saya benarkan. Nanti, setelah selesai berhubungan angkat kakinya dulu ke atas supaya benihnya bisa lancar mencapai telur.”
“Berapa lama, Mbak? Maksudnya mengangkat kaki.”
“Sekitar 15 menit kurang lebih.”
Si Mbah melepaskan tangannya dari perut Cut sebagai tanda bahwa pengobatan sudah selesai. Berbeda dari sebelumnya, kali ini pengobatan Cut tidak membutuhkan obat karena si Mbah tidak memberikan obat. Pengobatannya hanya untuk membenarkan letak rahim supaya mudah untuk hamil.
Sepanjang perjalanan Cut hanya diam saja di dalam mobil. Bahkan, ia memilih untuk tidur. Bibirnya hampir putus saat dia menahan diri untuk tidak menjerit. Dia kecewa, sedih dan entah apa lagi yang hatinya rasakan.
“Mungkin benar kata Mbak Risma kalau aku hanya mesin pencetak cucu untuk mertuaku. Apakah mereka akan membuangku setelah mendapat keinginan mereka? Atau aku akan berperan sebagai pengasuh untuk cucu-cucu mereka? Ya Allah, kehidupan apa yang sedang aku jalani saat ini? Kuatkan hamba Ya Rab.”
__ADS_1
***