
Ketenangan ini hanya sesaat. Para petinggi masih mempertahankan ego masing-masing. Situasi politik di pusat semakin bergejolak dengan pemakzulan presiden. Aksi demo mahasiswa di usat semakin mempersulit dalam pengambilan keputusan untuk Aceh. Sementara itu, kesabaran pihak pemberontak di Aceh juga semakin menipis. Alhasil, suara senjata kembali berbunyi di Aceh. Jerit malam kembali terdengar memecah kesunyian. Tidak ada yang berani keluar untuk menolong, hanya malaikat pencabut nyawa yang sudah bersedia sesuai takdir yang sudah ditetapkan untuk ajal seorang manusia.
Truk TNI kembali mendapat serangan di jalan menuju sebuah kecamatan tepat seminggu lagi menjelang enam bulan. Waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak untuk memutuskan bagaimana nasib Aceh ke depan. Permainan politik dari pusat mulai dicurigai oleh petinggi pemberontakan Aceh sehingga kabar tersebut dengan cepat menyebar di kalangan para pemberontak. Hal tersebut memicu amarah mereka sehingga penyerangan demi penyerangan kembali terjadi. Mereka yang berperang mempertaruhkan nyawa seakan tidak ada harganya di mata petinggi negeri. Akal bulus ditunggangi unsur politik mampu membuat mereka menutup mata dengan banyaknya nyawa yang menjadi korban perang di daerah ini.
Bahkan setelah aksi massa enam bulan yang lalu, kini perhatian dunia kembali tertuju ke Aceh. Di mana pertempuran kali ini cukup sulit sampai pihak pusat harus menerjunkan pesawat untuk menyerang dari atas. Hancur, rata dengan tanah, apa pun yang terkena serangan dari udara tidak ada yang selamat. Baik manusia maupun bangunan ataupun kebun warga.
Pelantikan wakil presiden menjadi presiden setelah pemakzulan pada presiden sebelumnya semakin memperburuk kondisi Aceh. Di mana, presiden yang baru dilantik secara terang-terangan menyerukan peperangan terhadap para pemberontak. Jumlah tentara yang dikirim ke Aceh semakin bertambah. Penyerangan demi penyerangan kembali terjadi di berbagai daerah di Aceh. Haruskah masyarakat diam? Berapa banyak lagi air mata yang mengalir dari setiap wanita yang anaknya mati dan suaminya pergi tanpa kembali?
Berita gugurnya seorang wartawan yang selama ini di sandera oleh pihak pemberontak menjadi topik utama di berbagai surat kabar dan layar televisi. Wartawan senior dari sebuah stasiun TV swasta di ibukota meninggal dalam pertempuran sengit. Sementara itu, rekannya masih bersama para pemberontak. Semua mata tertuju pada berita itu. Bagaimana mereka bisa melupakan sosok yang kerap berwara-wiri dari satu pos ke pos lain. Sosok yang begitu berani menempuh lebatnya hutan untuk menemui para petinggi pemberontak.
Jenazah almarhum Bang Siregar yang dulu sempat bertemu dengan Cut akan diterbangkan ke Jakarta. Cut memandang halaman depan koran yang terletak di depannya tanpa sepatah kata pun. Cut menatap dalam diam. Sudah tujuh hari kepergian Razi dan yang ia lakukan adalah duduk diam di kamarnya. Tatapannya kosong, wajahnya lelah oleh tangis, bibirnya kering.
Tujuh hari berlalu tapi dia enggan keluar dari ruko. Abu dan Umi tidak bisa berbuat banyak. Abu tidak bisa menceritakan masalahnya pada sang adik karena kondisi keluarga Pak Cek Amir juga tengah berduka. Dibanding masalah Cut, keluarga mereka jauh lebih sedih mengingat putra mereka yang meninggal karena ditembak oleh orang tidak dikenal.
Selama tujuh hari itu juga Abu dan Umi pulang pergi ke rumah mereka. Membantu apa yang bisa dan dengan terpaksa meninggalkan Cut. Ia selalu diam saat diajak ke rumah Pak Aceh Amir membuat Abu dan Umi menyerah. Hanya Mae dan Rendra yang menemani Cut.
Ia bahkan sudah tidak peduli dengan Rendra. Setiap Rendra mengajaknya main atau pun meminta gendong selalu ia abaikan. Dia larut dalam kesedihan dan diamnya menjadi penyembuh.
“Bagaimana keadaan Cut?” tanya Pak Cek Amir sesaat setelah tahlilan selesai.
__ADS_1
“Baik. Maaf ya, Mir. Cut tidak bisa datang kemari. Abang sudah mengajaknya berulang kali tapi dia terus diam di kamarnya.”
“Sudahlah, Bang. Tidak apa-apa. Mungkin dia belum siap menerima kepergian Razi yang begitu mendadak. Kita semua tidak ada yang siap tapi cara kita menerima mungkin berbeda-beda.” Abu hanya bisa menghela nafasnya yang terasa berat.
Sejujurnya, Abu merasa khawatir melihat kondisi putrinya. Namun, beliau enggan bercerita lebih lanjut.
hari-hari berlalu tanpa terasa sudah sebulan kepergian Razi. Awan duka seperti enggan beranjak dari setiap penghuni rumah. Mak Cek Siti masih di rumah. Beliau seperti enggan keluar dari rumah. Intan dan Faris juga tidak pernah lagi pergi ke kolam renang atau ke taman kota seperti biasanya. Mereka keluar hanya saat sekolah selebihnya mereka akan duduk diam di rumah.
Hidup harus terus berjalan. Begitulah dengan Pak Cek Amir. Beliau kembali menjalankan usahanya yang baru ia buka kembali setelah musibah yang menimpanya. Gurat wajahnya memang tidak berseri seperti dulu. Guratan kesedihan jelas tergambar di wajahnya. Suasana rumah yang ikut berubah semakin menambahkan kesenduan di mata Pak Cek Amir.
“Jangan dibiarkan begitu, Pak, Buk. Dia harus diperiksa oleh orang yang ahli di bidang kejiwaan. Maaf bila menyinggung perasaan Bapak dan Ibu. Saya tidak bermaksud mengatakan Cut gila. Kita juga tidak berharap itu terjadi tapi Cut tetap harus mendapat penanganan yang tepat supaya tidak terlambat. Ini semua untuk kebaikan Cut sendiri.” ucap salah satu pegawai kantor sosial tersebut.
“Begini saja, kapan Bapak dan Ibu ada waktu? Biar saya temani ke sana.” lanjutnya.
“Besok pagi saja, bagaimana?” tanya Abu.
__ADS_1
“Baiklah. Besok saya kemari lagi biar kita sama-sama ke sana.”
Abu dan Umi akhirnya merasa sedikit lega setelah mendapat masukan dari pegawai kantor tempat Cut bekerja. Selama ini, Abu dan Umi memendam sendiri kegelisahan hati menyangkut kondisi sang putri yang selama ini dikira hanya perubahan sesaat. Lama kelamaan perubahan itu tidak kunjung hilang dan bahkan semakin parah. Cut sudah jarang mandi serta tidak lagi mengerjakan salat.
Ia tidak lagi menjawab apa yang ditanyakan oleh kedua orang tuanya. Dia bahkan tidak bicara sepatah kata pun kepada siapa saja. Teman-teman remaja mesjid yang datang mengunjunginya juga harus menelan pil pahit karena diabaikan.
Tidak ada lagi Cut yang ceria. Senyuman manis serta sifatnya yang ramah sudah pergi beriringan dengan kepergian Razi. Kala malam menjelang, dia akan menangis sendirian. Tidak jarang Umi dan Abi mendengar ia menangis namun mereka hanya bisa diam. Sesekali tangan kanan Umi mengusap air matanya dan tangan kiri Umi mengusap air mata di wajah sendiri.
Abu sendiri menangis dalam doa. Di sepertiga malam, saat Cut menangis dalam tidurnya, Abu juga menangis di atas sajadah. Hatinya hancur namun ia tahan demi menguatkan sang istri.
“Ya Allah, kuatkanlah hamba, istri dan anak hamba. Segala macam cobaan yang Engkau berikan semoga menjadi ladang amal untuk kami. Hamba serahkan hidup keluarga hamba hanya pada-Mu. Engkaulah yang maha mengetahui dan maha mengabulkan segala doa.”
Di sisi lain, sang ibu yang tengah memeluk anaknya juga tidak pernah berhenti berdoa di dalam hati. Anak yang ia kandung sembilan bulan, ia susui dengan segenap cinta kasih selama dua tahun. Anak yang ia besarkan dengan penuh perhatian kini berubah layaknya mayat hidup.
“Ya Allah. Begitu banyak dan berat cobaan yang dihadapi oleh putri hamba. Beri dia kekuatan supaya batinnya kuat menghadapi semua ini. Ya Allah, lindungi dia dari segala penyakit. Kembalikan dia seperti sedia kala. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Hanya kepada-Mu kami berserah diri. Sembuhkanlah putri hamba, berikanlah dia kehidupan yang indah. Hapuskanlah segala ingatan buruk di masa lalu. Berikan ia kebahagiaan di dunia ini. Ya Allah, kabulkanlah permintaan hamba.”
***
LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...
__ADS_1