
Hari berlalu hingga jadwal bertemu dengan dokter Widia pun tiba. Mereka ditemani oleh para orang tua namun, kejadian janggal terjadi ketika yang seharusnya bicara di ruang terapi hanya Cut dan Dokter Widia tapi Cut malah meminta untuk ditemani oleh sang suami. Seorang perawat keluar lalu memanggil nama Faisal.
“Ibu meminta ditemani oleh Bapak, silakan!”
Faisal mengikuti perawat tadi sampai ke ruang terapi. Lagi-lagi, Faisal merasa tidak enak ketika kedua tangan Cut langsung memeluk lengannya. “Sepertinya Cut tidak mau jauh dari suaminya ya?” ucap Dokter Widia penuh senyum pada Faisal yang terlihat canggung.
Faisal menceritakan semua kejadian yang menimpa mereka ketika perjalanan menuju Medan. Sesekali, Dokter Widia melirik Cut yang tanpa canggung bersandar di lengan sang suami. Faisal tidak bisa berbuat apa-apa, walaupun dirinya merasa tidak enak tapi sebagai seorang dokter, dia berusaha membiasakan diri.
“Ada rasa aman ketika Cut berada di samping Bapak, itu sebabnya ia berperilaku seperti ini. Butuh kesabaran dalam menghadapinya untuk saat ini. Saya harap, kasih sayang Bapak untuk Cut tidak terbatas sehingga proses kesembuhannya akan cepat berjalan.” ungkap Dokter Widia.
“Dok, -“ Faisal terlihat ragu-ragu untuk bertanya.
“Mau tanya apa? Silakan, jangan ragu-ragu!” balas Dokter Widia masih dengan senyum yang terus melekat di bibir mungilnya.
“Em....apa traumanya berpengaruh pada hubungan suami istri?”
“Apa Cut tidak mau disentuh oleh Bapak?” tanya Dokter Widia terkejut.
“Ti-tidak, Dok. Justru sebaliknya.” jawab Faisal sedikit gelagapan.
Dokter Widia tersenyum kecil lantas menjawab, “Apa yang Cut rasakan dalam dirinya hanya bisa kita lihat dengan apa yang ia tunjukkan melalui tingkah lakunya. Begitu juga kalau ia selalu ingin berdekatan dengan suaminya. Itu bertanda bahwa ia merasa aman berada di samping Bapak.”
Beberapa saran diberikan oleh Dokter Widia pada Faisal sebelum terapi berakhir. Dokter Widia juga menjelaskan pada keluarga Cut tentang kondisi sang putri termasuk perubahan sikapnya saat ini.
“Bapak dan Ibu harus bersyukur karena Cut menikahi orang yang tepat sehingga bisa mengerti tentang keadaan Cut saat ini.” ucap Dokter Widia sebelum berpisah dengan keluarga Cut.
Sebulan kemudian...
Oeekkk....oeekkkk....
Cut yang sedang berada di dapur bersama Wak Nur yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga Faisal berlari ke kamar mandi.
Wak Nur, seorang janda paruh baya yang bekerja di rumah Faisal sebagai pembantu menyusul Cut ke kamar mandi. Ia memijat pelan tengkuk Cut yang terus mengeluarkan muntah berupa cairan.
__ADS_1
“Cut kenapa, Nur?” tanya Ibu Faisal yang baru keluar dari kamar bersama sang suami.
“Sepertinya ada kabar bahagia, Buk.” ucap Wak Nur seraya tersenyum dengan tangan yang masih memijat tengkuk Cut.
Ibu Murni yang mengerti maksud dari ucapan sang pembantu langsung memanggil putranya yang masih berada di kamar.
“Bukkk, ketok dulu kalau masuk. Fais udah menikah.” keluh sang anak saat ia yang tengah mengancing kemejanya dibuat terkejut dengan kehadiran sang ibu.
“Cut hamil ya?” tanya sang ibu tanpa basa basi.
“Hah??? Ibu tahu dari mana?” Faisal lebih terkejut lagi mendengar pertanyaan sang ibu.
“Itu dia lagi muntah-muntah di bawah.”
Ibu dan anak tersebut langsung turun menuju lantai bawah. Cut duduk di meja makan dengan segelas teh hangat bikinan Wak Nur. Wajahnya lesu dan pucat, “Kamu kenapa? Ibuk bilang kamu muntah, iya?” Faisal menaruh sebelah tangannya di dahi sang istri lalu berpindah ke tangan Cut untuk memeriksa denyut nadi.
“Perut saya tidak enak saat mencium bau nasi goreng Wak Nur tadi.” ungkap Cut pada sang suami.
Faisal tampak berpikir sesaat lalu ia menatap kedua orang tuanya seraya mengangguk kecil.
“Ada apa pagi-pagi sudah rame kayak film India mau habis.” tanya Adi yang baru datang bersama Juli.
“Cut hamil!”
“Cut yang hamil kenapa Wak Nur yang semangat?” ejek Juli yang membuat Wak Nur langsung terdiam. Juli yang dikenal ketus dan sedikit arogan membuat orang di sekitarnya tidak berani mendekat.
“Kamu bawa Cut ke dokter biar lebih pasti ya, Is?” titah sang ibu.
Faisal mengantar Cut ke kamarnya lalu meminta Wak Nur untuk membuatkan bubur buat Cut. “Wak, tolong jaga Cut ya! Fais kerja dulu.” setelah menitipkan Cut pada Wak Nur, Fais langsung bergegas ke rumah sakit. Sudah dua minggu dia bekerja di sebuah rumah sakit milik provinsi.
Selepas kepergian Fais, Cut kembali bolak balik kamar mandi karena muntah. Rumah sudah kosong, hanya Wak Nur yang menemaninya.
“Mau makan apa? Biar Wak Nur yang buat. Kamu harus makan, buburnya udah keluar lagi jadi perut kamu perlu diisi kembali.” tanya Wak Nur menatap kasihan pada Cut yang terbaring di ranjang.
__ADS_1
“Lincah U groh kayaknya enak. Wak Nur bisa buatkan?” Wak Nur yang seorang janda dan tinggal di kota Banda tampak berpikir lama.
“Maaf ya Cut, bukannya Wak Nur sok jadi orang kota tapi Wak Nur belum pernah makan Lincah U groh. U groh itu kelapa yang masih muda sekali kan? Kalau memang itu, di mana Wak Nur bisa mendapatkannya? Tidak ada yang tanam kelapa di daerah sini.” ujar Wak Nur panjang lebar.
"Kalau begitu, Cut minta sama Abu saja. Abu sama Umi tahu cara buatnya. Tolong antarkan Cut ke sana, boleh?”
“Wak Nur tanya Ibuk dulu ya?” Wak Nur bergegas ke bawah untuk menelepon Buk Murni yang sudah berangkat kerja.
Setelah mendapat jawaban dari Buk Murni, Wak Nur kembali menemui Cut di kamarnya. “Ternyata dia sudah tidur.”
Wak Nur kembali ke bawah lalu melanjutkan pekerjaannya di dapur. Sementara di pasar, Abu yang diberitahukan oleh Pak Cek Amir tentang keinginan Cut langsung meminta Mae untuk mengambil kelapa yang masih sangat muda di rumah salah satu pelanggan Abu. Ketika Pak Cek Amir mendapat telepon dari kakak iparnya, ia langsung pergi ke kedai Abu untuk menyampaikan pesan kakak iparnya.
“Sama saya ada. Suruh Mae untuk mengambilnya!” sela salah satu pelanggan yang tidak sengaja mendengar ucapan Pak Cek Amir.
“Terima kasih, Tengku Haji.” ucap Abu pada bapak-bapak yang sedikit lebih tua darinya.
Mae mengambil becak lalu mengikuti Teungku Haji tersebut sampai ke rumah beliau yang tidak jauh dari pasar.
“Nah, ini kelapanya. Bisa kamu panjat?” tanya Tengku Haji.
“Itu sudah biasa buat saya, Tengku.” jawab Mae lalu ia bergegas memanjat pohon kelapa yang tingginya hanya sekitar delapan meter.
“Tengku, berapa buah saya petik?”
“Kamu kira-kira saja buat rujak seberapa cukup. Tolong kamu petik juga yang tua buat saya dua buah, ya?”
Setelah mengucapkan terima kasih karena Tengku tersebut tidak mau menjual kelapanya, Mae menghidupkan becaknya lalu kembali ke ruko.
***
Maaf ya baru datang...banyak hal di dunia nyata yg menyita waktu... makasih buat kalian yang masih setia menunggu.
selamat berpuasa bagi yang menjalankan. maaf lahir batin...🙂🙂🙂
__ADS_1