CUT

CUT
Pembantaian...


__ADS_3

Keganasan aparat tidak hanya terjadi di kota Banda. Di beberapa tempat lain juga terjadi aksi serupa bahkan lebih parah. Kemarahan akibat hilangnya banyak anggota tentara yang diculik pihak pemberontak membuat masyarakat menjadi korban pelampiasan mereka.


 


Sebuah persimpangan jalan dekat pabrik di Aceh Utara terjadi penembakan sejumlah orang oleh anggota tentara. Awalnya berkembang kabar kalau ada anggota TNI yang hilang dan diklaim menyusup ke acara 1 Muharam yang diadakan oleh warga di salah satu kampung. Ada warga yang melihat sehingga semakin memperkuat klaim tersebut.


 


Pasukan militer menanggapi hilangnya anggota tersebut dengan melancarkan operasi pencarian yang melibatkan berbagai satuan termasuk Brimob. Aparat menangkap sekitar 20 orang lalu melakukan aksi kekerasan. Setelah kejadian itu, pihak TNI berjanji tidak akan mengulangi kejadian tersebut. Namun, berselang beberapa hari setelah itu satu truk tentara kembali memasuki kampung kembali tapi diusir oleh masyarakat setempat.


 


Warga desa yang tidak terima lalu berunjuk rasa bergerak ke markas tentara untuk menuntut janji yang diberikan oleh komandan sehari sebelumnya. Tepat tengah hari, pengunjuk rasa berhenti di simpang A yang lokasinya dekat dengar markas tentara. Lima orang dipilih oleh warga untuk berdialog dengan komandan dan ketika dialog terus berlangsung, jumlah tentara yang mengepung warga yang berada di simpang A semakin banyak.


 


Warga pun melempar batu ke markas mereka dan membakar dua unit sepeda motor. Setelah itu dua truk tentara dari belakang dan mulai menembaki kerumunan pengunjuk rasa. Setelah kejadian itu, beberapa kantong berisi mayat yang diberi pemberat batu ditemukan di dasar sungai oleh warga.


 


Kejadian di simpang A hampir sama dengan yang terjadi di kabupaten sebelah. Di mana, mayat warga yang mereka siksa lalu bunuh diikat dengan kawat lalu diberi pemberat batu kemudian dilempar ke sungai Kundo. Pembantaian ini merupakan aksi balas dendam pasukan tentara atas penyisiran yang dilakukan oleh sejumlah orang tak dikenal dan berujung pada pembunuhan beberapa anggota tentara. Jenazah para tentara tersebut juga diceburkan ke Sungai Kundo.


 


Suasana duka masih terasa di lingkungan pasar. Satu hari setelah kejadian, pasar masih sepi pembeli. Masyarakat masih takut untuk keluar rumah. Beberapa penjual ikan dan pemilik toko yang dicurigai ikut ditangkap kemarin. Abu beristirahat sejenak di warung kopi dekat rumah sakit. Mak Cek Siti, Umi, Mae dan Rendra sedang menemani Cut di dalam.


 


Setelah kejadian kemarin, Abu semakin takut untuk meninggalkan Mae dan Rendra di ruko. Kondisi Cut sendiri semakin tidak menentu setelah kejadian itu. Tadi malam, Cut bahkan berteriak dalam tidurnya sampai mengejutkan seisi ruko.


 


Hanya helaan nafas yang bisa dilakukan sebagai bentuk keluhan atas yang menimpa hidupnya. Kejadian yang tertulis di halaman depan koran lokal semakin menambah beban pikirannya.


 


Masyarakat selalu menjadi korban setiap kali kedua belah pihak bertikai. Mereka yang hanya mencari sesuap nasi untuk hidup diharuskan menerima beban ketakutan setiap hari. Kesedihan para pemilik ruko yang dibakar oleh aparat masih terbayang jelas di pelupuk mata Abu.


 


Kenapa masyarakat yang tidak mengerti politik selalu menjadi sasaran luapan kemarahan para aparat maupun pasukan pemberontak? Inilah pertanyaan yang tidak pernah menemukan jawabannya.


 

__ADS_1


“Asslamualaikum, Abu.” suara seorang pria datang memberi salam cukup mengagetkan Abu yang masih memandang halaman depan koran. Setelah melihat wajahnya yang samar karena tertutup oleh peci serta janggut, guratan kemarahan dari wajah Abu semakin jelas terlihat.


 


“Walaikumsalam.” Jawab Abu datar.


 


“Apa kabar, Abu? Bagaimana keadaan Cut?”


 


“Seperti yang kamu lihat. Apa yang kamu perbuat dulu kini kami yang menanggungnya.”


 


“Maafkan kesalahan saya dulu, Abu. Saya datang untuk bertanggung jawab. Saya ingin menikahi Cut dan membawanya bersama saya. Saya akan menerima apa pun keadaan Cut. Tolong restui kami, Abu.”


 


“Kamu sungguh bermuka tebal. Setelah kamu menculiknya masih berani kamu menemui saya untuk meminta restu? Selama saya hidup, tidak ada restu untuk kamu. Pergilah! Jangan pernah kamu tampakkan mukamu di depan saya atau anak saya!” suara Abu mulai meninggi sampai menimbulkan perhatian dari para pengunjung warung.


 


“Kalau saya tidak bisa menikahinya maka jangan berharap dia akan menikahi laki-laki lain. Hanya saya yang bisa menikahinya. Apa yang terjadi pada tunangannya serta laki-laki di toko kelontong itu adalah contohnya. Mereka akan mati jika berani berhubungan dengan Cut.”


 


 


Setelah hampir satu jam di warung tersebut, Abu memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Mendengar langsung penjelasan dokter adalah watu yang ditunggu-tunggu oleh anggota keluarga.


 


“Bagaimana, Dokter?” tanya Mak Cek Siti.


 


“Sepertinya kita harus lebih bersabar, Pak, Buk. Apa yang terjadi kemarin di luar dugaan. Mentalnya belum siap menerima apalagi melihat dengan jelas. Saran saya, sebaiknya Cut tidak tinggal lagi di sana. Kejadian kemarin akan selalu muncul jika ia melihat tempat yang sama.”


 


“Kalau begitu, mulai sekarang Cut akan tinggal bersama saya saja. Kakak dan Abang juga ikut. Tidak aman tinggal di ruko. Lagian jarak rumah dan pasar kan tidak jauh.” Jawab Mak Cek Siti.

__ADS_1


 


Abu dan Umi tidak bisa berkata apa-apa. Di satu sisi kesembuhan Cut menjadi yang utama saat ini. Namun ada hal lain yang Abu takutkan jika sampai mereka tinggal di sana.


 


Setelah mendengar penjelasan dokter, mereka langsung kembali dan kali ini menuju rumah Mak Cek Siti.


 


“Bagaimana, Bang?” tanya Pak Cek amir yang baru pulang dari toko.


 


“Mulai sekarang Abang sekeluarga akan tinggal di rumah kita, Yah. Dokter menyarankan supaya Cut tidak melihat tempat kejadian kemarin.”


 


“Alhamdulillah kala begitu. Rumah kita jadi ramai dan kita tidak terlalu takut lagi jika malam.” ucap Pak Cek Amir senang.


 


Selama masa darurat belakangan ini, Pak Cek Amir sedikit takut jika malam tiba. Ditambah dengan kejadian Ridwan, ia semakin takut ke mana-mana. Membuka toko saja kalau sudah terang dan ramai orang di pasar. Ketakutan Pak Cek Amir sungguh beralasan. Pembakaran ruko serta penangkapan beberapa pemuda di kawasan pasar sungguh membekas dalam ingatan orang banyak.


 


“Untung saja si Ridwan tidak masuk kerja. Kalau tidak entah apa yang terjadi sama anak itu.” Ucap Abu.


 


“Alhamdulillah, Bang. Saya sendiri sudah tidak sanggup lagi berdiri saat itu. Melihat mereka memukul juga jeritan para pedagang ikan yang terkena pukulan sungguh menyakitkan. Jika bukan karena untuk mencari nafkah, saya lebih baik di rumah saja. Saya juga tidak tenang jika melihat anak-anak sekolah.”


 


“Abang sudah membaca koran hari ini? Di daerah lain ternyata lebih parah dari pada daerah kita. Saya tidak habis pikir, bagaimana bisa mereka melakukan itu? Apa mereka bisa hidup tenang setelah membunuh orang? Apa jeritan orang-orang tersebut tidak menghantui mereka? Saya semakin membenci mereka. Apa orang tua mereka tidak mengajarkan kebaikan sehingga dengan mudahnya mereka menyiksa dan membunuh orang seperti itu. Para orang tua mereka pasti bangga di Jawa sana karena anaknya tentara. Jika mereka melihat kejadian ini apa mereka masih bangga sama anak-anaknya?” Pak Cek Amir meluapkan emosinya.


 


 


 


***

__ADS_1


LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...


Yang banyak ya....


__ADS_2