
Sepasang anak manusia sedang berbahagia hingga keduanya tidak bisa memejamkan mata mengingat kenangan manis yang tertoreh indah di bukit cinta tadi. Keduanya seperti anak remaja yang sedang kasmaran saat pertama kali mengungkapkan cinta. Ya, cut akhirnya memberikan jawaban yang Rendra tunggu-tunggu. Jawaban yang pastinya tidak mengecewakan karena faktanya malam ini dia justru tidak bisa tidur.
“Bawa saja ke KUA dari pada begini. Hidup segan mati tak mau.”
Rendra hanya tersenyum kecil saat Wahid mengganggunya. Sementara Cut juga merasakan hal yang sama apalagi ketika bibir Rendra mendarat di pipi dan keningnya. Sebagai wanita yang sudah menikah tentu saja Cut menginginkan lebih. Namun, dia masih bisa menahan gejolaknya karena iman yang menjaga keduanya dari perbuatan maksiat lebih jauh lagi.
Niat mulia dari keduanya mendapat rahmat dari sang pencipta hingga keduanya dijaga dengan baik sampai hari H. Senyum Cut semakin mengembang saat mengingat bagaimana Rendra bereaksi ketika mendengar jawabannya tadi.
Rendra yang masih berbaring dengan pahanya sebagai bantal dibuat kesal oleh Cut karena memberikan jawaban yang tidak jelas.
“Saya tidak sedang bercanda, Cut Zulaikha!”
“Iya, saya juga tidak sedang bercanda. Saya mau tapi lima tahun lagi.”
“Kenapa tidak sampai saya mati terkena peluru atau bom saja baru kamu mau?” Cut langsung menutup mulut Rendra dengan tangannya.
“Kamu memang tidak berniat menikah dengan saya. Makanya kamu mencari-cari cara untuk menundanya. Sama seperti dulu saat kamu menyuruh saya istikharah.” Wajah Rendra seketika masam karena tingkah Cut yang ingin mengerjainya.
Rendra menarik tangan Cut lalu menaruh di atas dadanya. “Rasakan bagaimana detak jantung saya saat ini. Saat ini saya ingin menelan kamu hidup-hidup karena sudah membuat saya jungkir balik menghadapi kamu. Menahan semua rasa saya supaya kamu tidak terbebani tapi apa yang saya dapat? Kamu malah mempermainkan saya seperti ini. Kamu sangat kejam, benar-benar kejam Cut Zulaikha!”
Cut tergelak mendengar perkataan Rendra yang seperti anak kecil merajuk. Rendra masih dengan posisi semula dan kedua mata mereka saling memandang dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
“Saya mau tapi saya belum siap.”
Tatapan mata Cut sendu, pengkhianatan Faisal terlalu dalam menolehkan luka di hatinya. “Apa yang harus saya lakukan untuk membuatmu siap? Jujur saja, saya takut kehilanganmu lagi. Terima saya kali ini dan berikan saya kesempatan untuk membahagiakan kamu. Saya tidak berjanji tapi saya akan membuktikan jika kalau saya bisa setia hanya padamu. Tolong izinkan saya kali ini untuk menjadi imammu.” Rendra meyakinkan Cut sambil sebelah tangannya menggenggam tangan Cut dan diletakkan di dadanya.
“Kita bertunangan dulu di depan keluargamu sebelum saya pulang. Sesampai di sana, saya akan minta keluarga saya ke sini untuk melamar sekaligus menikah dengan kamu. surat-surat yang kita perlukan akan saya kirim begitu saya tiba di sana, bagaimana?”
Cut tidak bisa berkata-kata lagi. Semuanya sudah Rendra pikirkan jauh-jauh hari dan baru sekarang ia diberi tahu.
Sesampainya di rumah, Rendra langsung menghadap Pak Cek Amir dan Mak Cek Siti untuk menyampaikan niatnya. Tentu saja gayung bersambut karena sudah sejak awal mereka mengetahui niat Rendra tersebut.
“Jadi kapan kalian akan bertunangan?” tanya Mak Cek Siti.
“Besok.” Jawab Rendra tegas.
“Baik. Sekalian saya ingin mengajak Cut mencari cincin tunangan. Kalau tidak keberatan, saya minta ditemani juga sama Mak Cek.”
Mak Cek Siti langsung bersemangat lalu ketiganya pergi mencari cincin untuk pertunangan Cut yang akan diadakan lusa. Mak Cek Siti berkelut dengan berbagai persiapan menuju hari H. Mereka bersemangat ditambah dengan beberapa tetangga yang berdatangan untuk membantu memasak berbagai hidangan. Acara pertunangan nantinya akan dimulai dengan takziah untuk keluarga yang sudah berpulang terlebih dahulu. Setelah itu baru dilanjutkan dengan acara pertunangan.
Di saat Cut sedang berbahagia, kedatangan keluarga mantan suaminya justru menjadi masalah sehari menjelang hari H.
“Kak, Bang, jangan hari ini. kita bisa bicarakan hari lain setelah acara ini selesai.” Pinta Mak Cek Siti pada orang tua Faisal yang merupakan abang kandungnya sendiri.
__ADS_1
“Siti, kami hanya minta Iskandar. Kami tidak melarang Cut menikah. Dia bebas untuk menikah lagi tapi tolong berikan Iskandar pada kami. Dia satu-satunya penerus keturunan kami.”
“Kak, kita bicarakan setelah ini ya! Jangan sekarang, tidak enak dengan tetangga.” Mak Cek Siti masih berusaha membujuk hingga mantan mertua Cut itu menyerah dan kembali setelah dipaksa oleh Kak Julie.
Walau resah, Cut berusaha tersenyum di hari H yang menjadi hari yang pernah dia harapkan dulu. Ada sedih yang menggiringnya di hari bahagia ini. Acara bahagia ini seharusnya ia didampingi oleh Abu dan Umi. Tapi keduanya sudah pergi bersama Bang Ilham. Rendra kecil yang seharusnya bersamanya juga tidak ada. Anak itu hilang tak berjejak.
Rendra tiba di rumah Mak Cek Siti bersama rombongan yang terdiri dari sahabatnya, Wahid. Lalu beberapa anggota yang berasal dari yonis yang sama. Kepala koramil daerah setempat juga ikut mendampingi bersama ibu. Petinggi KODIM juga turut serta bersama ibu. Rendra sengaja membawa mereka yang bertugas di sini untuk menjaga-jaga jika terjadi apa-apa terhadap tunangannya saat ia di Jawa. Dengan begini, ia akan mudah memantau calon istrinya dari kejauhan karena ia sendiri belum yakin pasti kapan proses pengajuan nikahnya akan selesai.
Kemaja putih lengan panjang dengan celana kain berwarna hitam lalu sebuah peci terpasang rapi di kepalanya. Penampilannya tidak kalah tampan seperti saat menggunakan seragam. Sementara rekan dan para pendampingnya kompak menggunakan seragam militer. Setelah beberapa kata sambutan dari imam kampung setempat dilanjutkan dengan takziah. Akhirnya, acara yang ditunggu-tunggu sampai juga.
Cut didampingi Mak Cek Siti duduk di baris depan kelompok ibu-ibu. Sedangkan yang berbicara adalah kelompok bapak-bapak yang diketuai oleh kepala desa setempat. Setelah sambutan, perwakilan dari Rendra yang diwakili oleh salah satu petinggi KODIM mulai menyampaikan tujuan kedatangan mereka ke rumah Pak Cek Amir.
“Saya dipercayakan untuk mewakili salah satu anggota BKO yang sedang bertugas di sini untuk melamar putri seorang gadis bernama Cut Zulaikha untuk menjadi istri dari anggota kami bernama Rendra Wicaksono.”
Kepala desa lalu menanyakan persetujuan Pak Cek Amir, “Saya serahkan keputusan pada putri kami. Bagaimana Cut, apa kamu menerima lamaran Rendra?”
Semua mata tertuju pada Cut yang saat itu tengah menunduk malu. Ia mengangguk pelan lalu semua yang hadir dalam acara tersebut serentak mengucapkan syukur. Kemudian, Rendra dipersilakan untuk memasangkan cincin di jari manis sang calon istri yang masih tertunduk malu. Cut mencium tangan Rendra sekilas lalu segera melepas tangan itu karena malu dan gugub. Sementara Rendra, wajahnya terlihat sangat bahagia hingga ia ingin lansung memeluk wanitanya. Tapi sayang, kondisi tidak memungkinkan untuk membuatnya melakukan itu.
“Aku melihatmu seperti ingin menerkamnya.” Bisik Wahid.
“Tepat sekali.”
__ADS_1
“Sabar! Segera urus administrasi supaya bisa ngamar.” Salah satu petinggi KODIM ternyata mendengar bisikan keduanya dan tanpa disangka ikut menimpali bisikan mereka.
***