
“Sepertinya suamimu pria yang baik, ya?” tanya Ibu Murni.
“Alhamdulillah, Buk. Bang Rendra sangat menyayangi anak-anak walaupun sedikit tegas.”
“Tentara memang begitu.”
Cut menatap mantan mertuanya sedikit ragu, “Buk, Pak, sebenarnya ada yang mau Cut sampaikan.”
Kedua orang tua itu pun menatap penasaran apalagi melihat raut wajah Cut seketika berubah serius. “Ada apa, Nak?”
“Cut bertemu dengan Kak Shinta, Ibu sama Bapak masih ingat kan?”
Orang tua itu kaget, mereka tidak mungkin melupakan wanita yang sudah menghancurkan anaknya. Lalu Cut menceritakan kronologi kejadian di mana ia hampir berbesanan dengan mantan dari mantan suaminya terdahulu. Ibu Murni dan Bapak Fahri hampir tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya apalagi fakta bahwa Anugrah hampir menikahi anak dari wanita itu.
“Apa mereka sudah menikah?” lirih Ibu Murni.
“Apa Faisal sudah menikah dengan Shinta?” kali ini Bapak Fahri yang bertanya.
“Tidak, Pak, Bu. Kak Shinta menikahi laki-laki lain. Itu berarti Bang Fais tidak ke sana malam itu. Dan anak Kak Shinta bersama Bang Fais sudah meninggal sebelum Bang Fais ke sana.” jelas Cut.
“Berarti Fais kita sudah pergi, Pak. Dia sudah meninggalkan kita selamanya.” Pecahlah tangis Ibu Murni.
Keberadaan Shinta menjadi sebuah petunjuk yang menegaskan bahwa anak mereka tidak bertemu dengan Shinta.
“Assalamualaikum,” Kak Julie datang bersama Bang Adi.
Cut dan Bang Adi sama-sama terkejut. “Kapan kamu pulang ke Aceh? Kenapa tidak kasih kabar. Tahu gitu kita bisa pulang sekalian.” Ucap Bang Adi.
“Ibu kenapa menangis?” tanya Kak Julie yang sedang memeluk ibunya.
“Fais tidak bertemu dengan wanita itu. Adik kalian sudah meninggal. Ini semua salah Ibu. Andai malam itu Ibu melarangnya pergi pasti sekarang dia masih hidup.” Keluh Ibu Murni menyalahkan dirinya sendiri. Sementara Cut jadi serba salah saat melihat kondisi mantan ibu mertuanya.
Di saat yang sama, Faris sudah pulang dengan menenteng kresek berisi sate. Anugrah juga membungkus martabak telur yang belum pernah ia makan bersama Iskandar. Bang Adi dan Kak Juli tidak menyangka akan bertemu dengan mereka. Terutama Kak Julie yang memang tidak pernah pergi ke luar Aceh lagi semenjak Bang Adi menikah dan punya rumah sendiri.
“Kamu kapan sampai?” tanya Rendra pada adik iparnya.
“Baru aja, Bang. Di jemput Kak Julie. Reni sama anak-anak masih di sana. Abang kenapa gak bilang mau pulang ke Aceh? Kita kan bisa pulang bareng.”
“Rencana dadakan. Orang rumah juga tidak ada yang tahu.” Jawab Rendra.
“Nenek kenapa?” tanya Iskandar melihat neneknya bersedih sambil memeluk Tante Julie.
Pak Fahri menceritakan apa yang Cut katakan pada mereka sebelumnya. Bang Adi dan Kak Julie ikut terkejut mendengarnya.
“Jadi, anak Fais sama dia itu udah meninggal? Kenapa waktu meninggal dia baru kasih kabar? Wanita itu sengaja membuat rumah tangga kalian rusak dan dia berhasil melakukannya.
Rendra dan Anugrah merasa berada di tempat asing saat keluarga tersebut justru membahas masa lalu dengan wanita yang sudah menjadi masa depan mereka. “Papa harus sabar. Menikahi wanita yang punya masa lalu itu memang tidak mudah.” Bisik Anugrah.
Rendra mendelik sang putra yang terlihat santai, “Lalu kamu apa kabar? Sudah tidak galau lagi?” sindir sang ayah. Namun Anugrah tetap santai bahkan tersenyum gaya pasta gigi menghadapi sindiran ayahnya.
Melihat drama keluarga ini sepertinya belum akan berakhir, Anugrah yang kepalang penasaran dengan rasa dari martabak telur serta roti cane itupun segera menuju dapur. Di sana Kak Wati sedang menyiapkan piring untuk makan malam mereka.
“Buk, pinjem pirin sama tempat untuk cuci tangan dong.” Ucap Anugrah tersenyum pada wanita seumuran ibunya itu.
__ADS_1
“Tempat cuci tangan di situ, piringnya saya taruh di meja ya.”
Anugrah tidak mengindahkan drama keluarga yang tengah berjalan. Ia dengan santainya menyantap makanan di meja makan sambil sesekali melirik ke arah ruang keluarga. Faris dan Rendra yang melihat kelakuan anaknya hanya bisa menggelengkan kepala.
“Is, cucu Nenek. Is tinggal di sini ya! Nenek ingin dekat terus sama Nenek. Nenek sudah tua, Nenek ingin tinggal dekat cucu kesayangan Nenek, boleh ya?”
Nah, Anugrah mulai terganggu. Dia tidak rela Kakaknya akan tinggal di sini. “Nek, Kakak sudah ada kerja di sana. Gimana kalau Nenek aja yang pindah ke sana?” semua orang tercengang mendengar perkataan yang keluar bukan dari mulut Iskandar sang cucu kesayangan tapi dari Anugrah.
Anugrah datang menghampiri sang nenek lalu duduk di lantai dengan piring masih di tangan. “Nek, pindah aja ke sana! kami juga tidak punya nenek lagi. Di sana juga ada Tante Reni dan cucu-cucu Nenek yang lain. Keren kan ideku?” tanya Anugrah tanpa dosa.
Ibu Murni tampak berpikir. “Kalau Nenek ke sana, Kakek gimana?” celutuk Pak Fahri.
“Kakek ikut juga. Kakekku pasti senang karena ada temannya. Rumahnya juga besar kalau hanya buat Nenek dan Kakek itu lebih dari cukup. Om Adi juga bisa pindah ke sana kalau mau jadi Kakek gak akan keseppian karena Tante Reni akan menemani Kakek terus.” Sahut Anugrah kembali.
Entah ia kesurupan hantu martabak atau hantu kambing yang baru disembelih lalu dijadikan sate yang mereka beli. Dia sangat banyak bicara padahal posisinya di sana bukan cucu keluarga tersebut.
“Om tidak bisa pindah, aset Iskandar Om yang kelola. Om juga terikat pekerjaan tetap di sini bukan pengangguran yang bebas pergi kemana saja.” jawab Bang Adi pada ponakannya yang dinilai sangat cerewet begini.
“Buk, Pak, satenya sudah siap. Kalau tidak di makan sekarang nanti dingin.” Ucapan Kak Wati dari meja makan membuyarkan perdebatan mereka. Iskandar dan Anugrah tampak menikmati makanan mereka. Ini pertama kalinya mencicipi sate matang yang terkenal di Aceh.
Selesai makan, mereka masih lanjut berbincang. Bang Adi juga ikut menginap di sini karena ada Keluarga dari istrinya.
Dreettt…
“Hallo, Bang. Abang ketemu sama Kak Rendra?” tanya Reni di seberang telepon.
“Iya, nih mereka nginap di rumah Ibuk. Abang juga nginap di sana. Kenapa?”
“Tidak ada, hanya ingin tahu saja. Ya udah, aku tutup ya!”
Reni tampak kesal tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Keesokan harinya, keluarga Rendra kembali ke rumah Mak Cek Siti. Dan drama si nenek belum juga habis, Ibu Murni menahan Iskandar untuk pergi tapi Rendra dan Cut tidak mungkin meninggalkan putranya di sana. Is sendiri lebih memilih ibunya. Setelah Ibu Murni dan Pak Fahri tertidur, Cut, Kak Julie, Bang Adi, Rendra serta Iskandar dan Anugrah duduk bersama. Malam itu begitu sial untuk Anugrah karena perkataanya tadi sore justru membuat Kak Julie marah.
“Bukannya aku melarang Ibu dan Bapak pergi, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk pergi jauh apalagi naik pesawat. Lain kali jangan memberikan saran apa-apa sebelum tahu kondisinya. Niat kamu sudah baik tapi salah waktu. Kalau dulu mungkin bisa tapi sekarang sudah terlambat. Aku tidak bisa menyalahkan kamu, Cut karena sudah menceritakan tentang Shinta. Mereka berhak tahu walaupun akan berpengaruh pada kesehatannya. Mereka harus bahagia di masa tuanya tapi penyesalan terhadap Fais begitu membekas. Kalau bisa kejam, mungkin lebiih baik mereka tidak bertemu lagi dengan Iskandar. Karena kehadiran Iskandar akan membuat Ibu dan Bapak semakin bersalah dan ujug-ujungnya menurunkan kesehatan mereka. Maaf, bukan maksudku mengusir, tapi lebih baik besok kalian langsung pergi. Aku tidak mau, Ibu dan Bapak akan semakin berharap dengan Iskandar. Iskandar sendiri tidak bisa untuk tinggal di sini. Jadi kalau hanya untuk singgah sesaat lebih baik tidak usah.”
Semua terdiam, apa yang Kak Julie katakan memang menyakitkan tapi kenyataanya memang seperti itu. Kak Julie tidak mau memberikan harapan palsu pada orang tuanya. Selama ini, dialah yang merawat ibunya sementara sang adik bekerja mengelola berbagai aset yang mereka miliki termasuk milik Iskandar.
“Is, apa kamu mau melihat warisanmu? Karena kamu sudah dewasa dan ada di sini jadi sekalian saja Om urus kepemilikannya atas namamu.”
“Wuih, Kakak pulang kampung mendadak tajir. Nah aku?” keluh Anugrah.
“Kamu juga ada di Jawa sana!” balas Iskandar.
Semua mata tertuju pada Iskandar tapi yang lebih kaget dari semua itu adalah Rendra. Dia sebagai anak saja tidak tahu kalau putranya mendapat warisan. “Kamu tahu dari mana?” tanya Rendra menatap serius manik mata Iskandar.
“Saat acara akikah dia, Nenek mengatakan sama teman-temannya kalau akan mewariskan beberapa lahan untuk Anugrah karena dia cucu kesayangan Nenek.”
Anugrah tergelak, “Jadi karena itu Kakak tidak suka aku dari kecil? Kakak cemburu karena aku jadi cucu kesayangan Nenek atau karena Kakak gak dikasih warisan sama Nenek?”
“Aku gak marah karena itu. Aku marah karena nenek -, sudahlah!” Iskandar hampir kelepasan bicara.
“Maaf, Kak Julie. Ini semua karena aku yang tidak tahu situasi. Seharusnya aku tidak cerita apa-apa tentang Kak Shinta.”
Gleg…
__ADS_1
Raut wajah Anugrah langsung berubah masam. “Untung kamu tidak menikahi putri dari wanita yang sudah merusah rumah tangga ibumu dulu. Kalau kalian jadi menikah, pasti ibumu tidak akan tenang sampai hari tuanya.” Sindiri Kak Julie.
“Kalau ibunya Tiara tidak ada maka aku takkan lahir, Tante.”
Skakmatt…
Kak Julie kalah dengan pemuda berusia 25 tahun itu. Rendra, Adi dan Faris berusaha menahan tawanya.
“Is pulang dulu ya, Nek.” Ucap Iskandar berjongkok di depan sang nenek.
Berulang kali Ibu Murni mendekap sang cucu tapi sesuai yang Kak Julie bilang semalam, jika tidak bisa tinggal lebih baik jangan singgah! Walau berat, mereka meninggalkan sang nenek lalu kembali ke rumah Mak Cek Siti. Setelah sampai di sana, ternyata Mae sama istrinya sudah berada di sana menunggunya. Mereka semua bersalaman penuh haru. Mae sampai menitikkan air mata saat melihat kakak dan bayi yang dulu ia temukan sudah dewasa.
“Mae, ini bayi yang nenek-nenek itu kasih ke kamu. Bayi yang tidak mau lepas dalam gendongan kamu.” Ucap Pak Cek Amir seraya menunjuk Iskandar.
“Kami panggilnya apa, Ma?” tanya Iskandar saat bersalaman dengan Mae.
“Pak Cek Mae.” Jawab Mae cepat.
“Adik dari Mama berarti Pak Cek.” Ucap sang ibu membenarkan perkataan Mae.
Mereka duduk di ruang tamu. Anak-anak Mae sedang berlari-lari bebas di rumah Mak Cek Siti di jaga oleh ibunya.
“Pak Cek, Mae, kalau pulang ke kampung aman tidak?” tanya Cut.
“Cut ingin berziarah ke kuburan Bang Ilham, Pak Cek.” Lanjut Cut.
“Aman, Kak. Kapan mau pulang? biar Mae temani.”
“Kalau hari ini bisa?” tanya Cut.
Jarak dari kota Banda ke kampung Cut hanya sekitar 3 jam perjalanan menggunakan mobil pribadi. Jika melalui bus angkutan umum akan lebih lama lagi karena harus menunggu penumpang di terminal sampai penuh baru bus berangkat.
“Ini daerah tugas Papa dulu waktu pertama dikirim ke Aceh.” Jelas Rendra saat mereka dalam perjalanan menuju gampong Sagoe. Sepanjang perjalanan, Rendra terus bercerita banyak hal saat mereka bertugas di sana pada sang putra.
“Mama benar-benar dari kampung ya?” gurau Anugrah.
Mereka tiba di depan lahan yang hanya terlihat kuburan, batang mangga dan batang rambutan. Air mata Cut menetes saat melihat tanah kosong yang dulunya ada rumah mereka di atasnya. Setelah di bakar, rumah itu tidak pernah dibangun lagi.
Mereka mendekati makam yang terlihat tidak terurus itu. penuh rumput ilalang yang menutupi pondasi kubur.
“Mae, tolong pinjami parang di rumah tetangga!” pinta Cut.
Setelah Mae kembali dengan sebuah parang, para warga kampung mulai berdatangan menghampiri mereka. Kabar kepulangan Cut membuat gempar satu kampung dan alhasil mereka langsung menuju tanah tempat rumah Abu dibakar dulu.
Rendra sedikit panik tapi dia tidak punya pilihan lain selain mencoba memantau pergerakan para warga.
“Dek, Waspada!”
***
VOTE dong Gaiesss...
Bantu CUT dengan TIDAK SKIPP IKLAN...
__ADS_1
makasih...