
Acara intat dara baro atau ngunduh mantu di rumah Faisal akhirnya tiba. Keluarga besar Cut maupun para warga pasar tempat Abu berjualan serta para tetangga Mak Cek Siti juga ikut mengantar Cut ke rumah mempelai pria. Sepuluh talam yang sudah dihias ikut mewarnai barisan begitu mereka sampai di kampung Faisal.
Jika saat mengantar linto atau mempelai pria, keluarga dari mempelai pria akan membawa talam berisi perlengkapan dara baro atau pengantin wanita. Berbeda halnya dengan isi talam yang dibawa oleh pihak keluarga dara baro. Keluarga dara baro atau mempelai wanita akan membawa talam berisi kue-kue khas Aceh yang sudah dihias berbagai bentuk.
Dodol, meuseukat, halwa, wajeb, bolu, keukarah, boi, bungong kaye adalah kue wajib pengisi talam bagi setiap hantaran mempelai wanita.
Rombongan turun dari bus lalu berjalan kaki sekitar 30 meter menuju rumah acara. Cut sudah berdiri paling depan diapit oleh Mak Cek Siti dan Intan sebagai pemegang payung. Diiringi selawat nabi, para rombongan berjalan pelan menuju rumah acara setelah melihat Faisal yang didampingi oleh Adi dan Juli datang menjemput.
Acara ritual adat tidak berbeda jauh dengan yang diselenggarakan di rumah Cut. Setelah acara adat, makan-makan bagi rombongan mempelai wanita juga sudah usai. Para rombongan termasuk keluarga besar Cut memohon diri pada pihak keluarga mempelai pria. Kedua mempelai menerima tamu di pelaminan setelah sesi foto dengan keluarga.
“Kalian...”
“Ya, kami. Kenapa, apa kamu pikir kami tidak akan datang? Walaupun hujan petir bahkan peluru mengiringi perjalanan kami tapi demi sahabat sejati kami tetap lewati dengan penuh ikhlas.” ucap Wira dengan gaya dibuat-buat.
“Kamu lebih cocok jadi pujangga dari pada dokter, minggir! Aku mau kenalan sama istri Fais. Halo, kenalkan! Namaku Hendri asal Padang. Mak-bapak asli melayu jadi saya juga keturunan melayu. Oh ya, kami sudah berteman selama-"
“Lamanya-“ sambung Wira memutus perkataan Hendri yang sedang berpikir berapa lama mereka sudah berteman.
Di belakang kedua laki-laki tersebut berdiri seorang wanita yang dari tadi hanya berdiam diri.
“Selamat ya Fais dan Cut, semoga kalian bahagia sampai kakek nenek.”
“Sin-“
Cut tersenyum ramah saat tangan hangat Shinta mengulur padanya. “Terima kasih,” ucap Cut lalu mereka berfoto bersama.
Para lelaki terus berbincang sementara Shinta memilih keluar dari sana. Cut sendiri merasakan ada yang berbeda dengan Shinta dan suaminya namun ia memilih diam.
“Kalian jangan pulang dulu!” larang Fais ketika kedua temannya menyusul Shinta ke luar. Sedangkan Fais harus menerima tamu kembali bersama sang istri hingga jam dua siang.
“Kamu istirahat saja, aku keluar dulu mau ketemu sama teman-temanku. Tidak apa-apa kan?”
“Tidak apa-apa.” ucap Cut singkat saat mereka sedang berada di kamar.
Cut membaringkan badannya yang terasa lelah di kamar pengantin mereka di rumah sang suami. Kelelahan yang menderanya semakin terasa hingga matanya terpejam tanpa ia sadari. Sementara itu di sebuah kamar hotel yang terletak tidak jauh dari kediaman Faisal. Sepasang mantan kekasih tengah duduk berhadapan dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Aku tidak menyangka kamu akan datang hari ini.” ungkap Faisal.
“Aku hanya ingin berkenalan dengan istrimu, apa aku salah?”
__ADS_1
“Tidak. Aku hanya tidak ingin menyakiti hatimu.”
“Tidak ada yang bisa menyakiti hatiku. Kita berpisah karena iman yang berbeda. Orang tua kita tidak akan pernah merestui kalau pun kita bersama. Dia bisa memiliki ragamu tapi belum tentu dia bisa memiliki hatimu semudah itu kan?” ucap Shinta lalu menggenggam tangan sang mantan yang sudah berstatus suami wanita lain.
Faisal menatap Shinta seperti sebelumnya. Tatapan yang sangat Shinta sukai, tatapan yang mampu membuatnya tersipu malu.
Cup...
Sebuah kecupan mendarat di bibir Shinta dengan penuh kelembutan.
“Aku sangat merindukanmu.” ucap Faisal.
“Aku juga, tapi sekarang kamu sudah memiliki istri. Kurangi rasa rindumu." ucap Shinta namun kedua tangannya malah melingkar indah di leher Faisal hingga jarak keduanya cukup dekat.
Keduanya larut dalam ciuman penuh hasrat serta kerinduan yang dalam hingga Faisal tersadar begitu wajah Cut terlintas dalam pikirannya.
“Kenapa?” tanya Shinta begitu Faisal menyudahi aksi cuman mereka.
“Kenapa? Bukannya kita sudah biasa melakukannya?”
“Aku pulang dulu. Orang tuaku pasti sedang mencariku sekarang.”
“Sayang, tunggu dulu! Bagaimana kalau kalian tinggal di Medan saja. Kita bisa terus bersama tanpa berdekatan dengan orang tuamu.” usul Shinta.
“Aku pikir dulu. Sudah ya.”
Cup...
Faisal mengecup sekilas kening Shinta lalu keluar dari kamar hotel tersebut dengan tergesa. Satu hal yang ia hindari saat ini adalah nafsunya yang sulit dikontrol saat bersama Shinta tadi.
Cut bangun dari tidurnya begitu mendengar suara ketukan pintu.
__ADS_1
Ceklek...
“Iya, Kak. Maaf tadi ketiduran.” ucap Cut pada kakak iparnya.
“Tidak apa-apa. Maaf ya kalau Kakak sudah mengganggu tidurmu. Kakak cari Fais, apa dia di dalam?”
“Tidak, Kak. Tadi bilangnya mau keluar tapi tidak tahu ke mana.”
“Ya sudah, kakak cari dia dulu.”
Cut memilih mandi untuk menyegarkan diri. Untuk pertama kalinya ia memasuki kamar mandi sang suami yang sangat bersih dan rapi. Cut memulai ritualnya dengan sabun mandi yang ia bawa dari rumah. Ia sangat menikmati mandinya sampai tidak sadar jika sepasang mata sedang menatapnya.
Aw....
Cut berteriak karena terkejut dengan tangan yang melingkar di pinggangnya tiba-tiba.
“Ini aku.”
Suara bisikan itu mampu membuat Cut terdiam seketika lalu mereka menikmati mandi bersama untuk pertama kalinya dan tentu saja pengalaman pertama dalam hidup Cut. Dulu, saat di kampung dia pernah mandi bersama almarhum Ilham di kali atau bersama teman-temannya yang lain selesai membantu Abu dan Umi di sawah. Sekali waktu, ia bahkan mandi bersama kerbau yang baru selesai membajak sawah.
Kali ini, ia mandi bersama sang suami bahkan kain yang ia pakai untuk menutupi setengah badannya sudah hilang entah ke mana.
Cut terkejut mendapati perlakuan Faisal padanya kali ini. Entah kenapa Cut merasa Faisal begitu ganas saat menjamahnya di kamar mandi. Ia bahkan merasa kesakitan di area intimnya karena perlakuan Faisal yang sangat liar.
Cut memandang wajah Faisal yang sudah terlelap di ranjang mereka. Wajah yang membuat Cut ingin lebih mengenal sang suami. Kilasan percintaan panas mereka sering membuat Cut tersipu sendiri apalagi dengan kejadian yang baru pertama kali Cut rasakan.
“Kenapa aku mengingat itu terus?” batin Cut.
Cut memeluk badannya sendiri lalu kedua matanya terpejam, ia seperti merasakan embusan nafas sang suami di lehernya. Tanpa sadar, tangannya juga ikut menyentuh bibir saat ingatan akan ciuman lembut sang suami begitu nikmat hingga bulu kuduknya meremang.
***
LIKE...KOMEN...SHARE...
__ADS_1